13 Agustus 2016

Lagu JKT48 yang Cukup Sensual, Fulgar, dan Penuh Kedewasaan

PERINGATAN:

  •         Artikel ini mengandung banyak pembahasan dewasa dan tidak memiliki maksud terselubung seperti melecehkan atau menghina, bahkan menjatuhkan martabat orang lain. Artikel ini tak lebih dari sekedar guratan iseng dari sang penulis artikel.
  •          Artikel ini ditujukan pada Wota dan orang awam terhadap JKT48 yang berumur di atas 18 tahun. Disarankan untuk yang berusia di bawah umur tersebut tidak lanjut membaca artikel ini lebih jauh.

Introduction dulu, ya.
Kenapa bisa ada artikel seperti ini? Beberapa alasannya karena; pertama, belum ada artikel semacam ini di blog dan website kepunyaan wota lainnya (manapun). Kedua, karna dari telingaku, sering banget dengar orang asal ngomong tentang JKT48 tanpa benar-benar tahu seperti apa JKT48 sebenarnya. Kerap kali aku dengar komentar pedas tanpa landasan dari orang-orang di sekitar, dan yang paling pengin aku sangkal itu saat mereka ngomongin lagu JKT48. Terakhir, aku sempat debat dengan kakak laki-lakiku sendiri, dia membingungkan kenapa aku suka lagu JKT48, dia bilang tema lagu JKT48 terlalu monoton dan cuma ngebahas perasaan cinta yang nggak tersampaikan. Lalu, satu tahun yang lalu mungkin, ada yang bilang (dia temannya temanku) “Apaan, lagu JKT48 itu lagu anak kecil.” What the!? Mau kusangkal, tapi aku nggak cukup punya banyak keberanian karena aku sendiri nggak mengenal orang itu. Rasanya aneh juga kalau ada pendapat yang bilang lagu JKT48 kayak gitu. Lalu alasan ke tiga kenapa aku bikin artikel kayak gini karena, aku udah lama nggak update blog. Tau deh, aku nggak suka ngebahas topik-topik umum tentang JKT48. Itu terlalu monoton.
Setelah dari sini, mungkin bahasaku bakalan berubah menjadi lebih formal, bahkan kaku. Mari, lanjut!

Kita mulai dari lagu yang biasa-biasa dulu dan unsur sensual, kefulgaran dan sisi kedewasaannya nggk begitu terasa. Eits, tapi sebelum dilanjutkan lebih jauh, jangan berpikir berikut yang kutulis adalah fakta mutlak, ini hanyalah hasil buah pemikiranku sendiri, dan mungkin nggak sepenuhnya menjadi analisis yang benar.

Oke, let’s reading!


Virgin Love
                Virgin Love, jangan salah sangka, tak seperti judulnya yang fulgar dengan kata “virgin”, sebenarnya lagu ini tak begitu menunjukkan sisi sensualitas. Lagu Virgin Love yang dibawakan oleh team KIII ini hanya bercerita tentang seorang gadis remaja yang beranjak dewasa. Selama masa remajanya, dia hanya bisa bersikap sok dewasa tanpa memiliki pengalaman apapun, termasuk pengalaman dalam percintaan penuh kedewasaan. Bagian ini tersirat dari lirik yang ada di reff pertama; “Gadis yang menjadi dewasa. Berbicara, berbicara dan pamer saja. Tapi tak ada pengalamannya. Dan hidup sok berlagak dewasa.”

Si gadis ini adalah seorang yang populer di sekolahnya. Tak terhitung berapa banyak laki-laki yang menyatakan cinta tapi dia menolak karena dia meragukan perasaan tak jelas dari para lelaki itu.
Suatu hal yang pasti, dia sedang menunggu seorang laki-laki muncul yang mampu memikat hatinya. Jika memang ada laki-laki seperti itu, dia rela memberikan sesuatu yang penting baginya sebagai seorang gadis, yaitu, kesucian atau bahasa kerennnya, virgin. Kebetulan, dia merasa bahwa dia sudah cukup dewasa untuk melakukan hubungan seintim itu. Fakta tersebut jelas diungkapkan dengan lirik “Seseorang cepatlah karebut” yang dilantunkan sebanyak tiga kali dan diakhiri dengan sepenggal lirik “Kau datang, datang, datang, virgin love.”
Lalu, bagaimana dengan pembuktian bahwa dia merasa bahwa dia merasa sudah cukup umur untuk melakukan hal yang cukup intim dengan seorang lelaki? Pembuktiannya ada pada lirik verse kedua setelah reff pertama berakhir; “buah yang terlalu matang teramat banyak. Anak dibawah umur dikejar privacy,” sebuah pengakuan bahwa orang dewasa itu sudah umum dan banyak, tapi remaja yang baru dewasa dan siap melakukan hal intim sepertinya sangatlah jarang.
Terakhir, pembuktian bahwa dia menunggu seorang laki-laki yang dicintai dan bisa dipercaya, lalu memberikan semua kesuciannya adalah dari lirik-lirik berikut;
“Kalau hanya cium, ditertawakan. Menyamakan omongan dengan sekitar,” Mungkin, selama ini dia selalu berpura-pura sok dewasa pada teman-temannya dengan dalih sudah melakukan hubungan dengan laki-laki lebih dari sekedar berciuman saja. “... tapi tak sabar menunggu pertemuan khusus. Kalau hanya menjaga percuma” tapi sebenarnya dia belum pernah dan ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar berciuman dengan seorang lelaki. Baginya, percuma saja untuk menjaga ke-virgin-an, tak ada keuntungannya. Dar ipada menjaga, lebih baik memberikannya pada seseorang dan mendapatkan sisi kedewasaan yang sebenarnya, bukan sekedar kedewasaan penuh kebohongan yang selama ini dia umbar pada teman-temannya (menurut si gadis, tingkat kedewasaan itu di ukur dari pernah atau tidaknya melakukan hubungan intim tersebut).
                “Karena serius, boleh saja, kan? .... Itu sudah pasti hal yang teramat penting. Karena mencintai kuberi pun tak apa. Telah kuputuskan saat kita bertemu, pasangan pertama itu indah.” Semakin jelas bukan? Dia sangat tidak sabar untuk menanti laki-laki itu dan melakukan sebuah hubungan. Kesucian yang amat penting pun akan dia berikan, karena baginya hubungan bercinta pertama bersama pasangannya nanti akan menjadi pengalaman yang sangat indah.



Kinjirareta Futari (Dua Orang Yang Terlarang)
                Tak seperti lagu-lagu lainnya yang dibahas pada artikel ini, Kinjirareta Futari tak menunjukkan unsur sensual yang jelas. Kinjirareta Futari ini adalah lagu yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang sedang berada di ambang perpisahan. Seperti judulnya, dua orang terlarang ini adalah kisah cinta terlarang, dimana keduanya berjenis kelamin perempuan.
                Kinjirareta Futari ini menggambarkan suatu keputusasaan di mana mereka berdua bertemu di suatu tempat untuk terakhir kalinya. Di tempat sepi di mana hanya ada mereka berdua, tidak ada orang-orang yang selama ini menentang hubungan mereka.
                “Pepohonan, embun pagi, bagaikan desahan seseorang. Danau yang tidak ada di peta, airnya tenang bagaikan tertidur.” Penggalan lirik pertama ini menceritakan tentang keberadaan mereka di suatu danau, tempat di mana sebelumnya mereka sering menghabiskan waktu berduaan. “Kehialangan kata-kata, kesedihan yang terlalu sepi. Diujung akhir kenangan ini tempat yang dahulu ingin kudatangi.” Di tempat ini, mereka mengenang masa saat mereka masih bisa bersama, dan di saat terakhir sebelum berpisah seperti ini, hanya rasa sedih dan takut akan kesepian yang dirasakan.
                “Sampai mana pun, dirimu kucinati. Sampai kapan pun, dirimu dicintai. Saling mempercayai keabadian. Dosanya, pertemuan kita.” Mereka sangat sadar, apa yang telah mereka jalin selama ini bukanlah hal yang benar. Mereka harus berpisah. Tapi, tak peduli di mana pun dan sampai kapan pun, mereka akan tetap saling mencinta.
“Janganlah kamu salahakan diri sendiri, janganlah kamu menangis sendirian. Saling memahami kebahagiaan, ciuman ikatan yang erat.” Salah satu di antara mereka yang saat itu sangat tegar sedang menenangkan kekasihnya sambil seolah berkata “tak perlu menyalahkan diri sendiri. Menangis saja, tapi tak perlu sendirian, karena aku akan ikut bersamamu menanggung semua kesedihan ini. Tak perlu mengkhawatirkan perpisahan yang terjadi, karena ciuman yang dulu pernah kita lakukan, itu sudah cukup untuk mengikat kita, kan?”
“Jikalau dahulu aku tidak terlahir seperti ini, tak akan pernah terpisah. Jikalau dahulu aku tidak terlahir seperti ini, kita berdua ‘kan terikat.” Ada penyesalan yang tergurat di hati si kekasih yang sedang berusaha tegar itu. Seolah menyalahkan takdir, dia tak ingin terlahir seperti ini, dia tak ingin terlahir sebagai perempuan agar mereka bisa tetap saling mencinta tanpa seorang pun yang melarang.
“Ayo naik kapal ke danau. Kalau kau lelah mendayung, tidurlah dalam dekapanku. Karena di dalam mimpi, kita akan terus mencinta.” Lagi, dia mencoba menghibur kekasihnya dengan mengajak untuk naik ke kapal (mungkin maksudnya sampan atau kapal kecil) di danau. Kalimat ini seperti sebuah ungkapan yang seolah mengatakan, jika tak bisa di dunia nyata sekalipun, mereka masih tetap bisa bertemu dan saling bercinta di dunia mimpi.

Lirik Kinjirareta 


Kurumi to Dialogue (Dialog dengan Kenari)
Kurumi to Dialogue atau yang berarti “Dialog Dengan Kenari” ini ada sebuah couple song dari single Papan Penanda Isi Hati. Pada dasarnya, aku sempat berpikir berulang kali apakah untuk mencantumkan lagu ini atau tidak. Menurutku lirik lagunya terlalu samar dengan banyaknya penggunaan kalimat ungkapan. Contohnya, kenari. Kenapa harus buah kenari? Kenapa harus berdialog (berbincang) dengan buah kenari? Baiklah, lupakan itu!
Setelah mengkaji lirik ini beberapa kali, aku meyakini lagu ini berbicara tentang (lagi-lagi) kesucian seorang perempuan. Menurutku, kurang tepat jika arti dari judul lagu ini adalah “Dialog Dengan Kenari” tapi lebih tepatnya “Dialog Tentang Kenari”. Karena apa? Karena si perempuan tidak sedang berbicara dengan buah kenari, tapi berbicara dengan seorang laki-laki membahas tentang kenari, dan sebenarnya bukan kenari yang dibahas, kenari hanyalah sebuah kata ganti untuk sesuatu yang lain.
Lirik lagu Kurumi to Dialog ini berisikan kalimat percakapan seorang gadis pada seorang laki-laki yang mungkin adalah kekasihnya. Dia dan kekasihnya sama-sama belum pernah melakukan hubungan intim. Mereka sangat penasaran tentang kegiatan apa itu, dan seperti apa rasanya.
“Apa yang kau mau bila memecahkan cangkang kulit kenari?” Si perempuan bertanya pada sang kekasih tentang keinginan mereka untuk melakukan hubungan intim yang pertama kalinya. “Ada apakah di dalam itu? Bila membuka hati pasti yang terjadi selanjutnya kau pun tahu,” bahwasannya mereka sama-sama tak mengerti apapun. Mereka pikir, mereka harus melakukannya jika ingin tahu.
“Bila membuka kenari akan terdengar, sebuah suara yang telah tersimpan. Jika tahu kebenaran tak akan pernah bisa kembali seperti dulu.” Jika mereka sampai melakukan dan melepaskan kesucian sang perempuan, mereka akan mengetahui apa yang selama ini ingin mereka mengerti. Jika mereka melakukan semua itu, tak mungkin suara desahan bisa ditahan. Jika mereka sudah benar-benar melakukan dan mengetahui rasanya, sebuah kesucian tak akan bisa kembali lagi. Itulah yang si perempuan pikirkan.
“Didekap dalam genggamanmu. Lalu perlahan kudipermainkan. Bagaikan cinta yang bergetar. Aku tidak bisa diam saja.” Tak begitu jelas tersirat, tapi sepertinya lirik ini menceritakan saat mereka melakukan hubungan intim tersebut. “Tanpa peduli lagi. Jikalau dipaksakan aku pun tidak bisa menahannya. Yes...” Ada apa dengan kata “yes”? Aku sendiri tak begitu yakin, tapi biasanya kata “yes” dan “no” adalah dua kata yang sering terdengar pada adegan film dewasa.
Kalau ditinjau dari lirik pada reff kedua, berarti adegan yang diceritakan pada paragraf di atas hanya sebatas fantasi si perempuan, dan mereka belum benar-benar melakukan hubungan intim tersebut. Berikut lirik pada reff ke dua; “Apa yang kau mau? Kurahasiakan dari mama-papaku. Karena katanya itu tak boleh” jelas saja, jika mereka sampai melakukannya, tak mungkin si perempuan akan membeberkan kejadian tersebut pada orang tuanya. “Kalau itu hanya mimpi tak apa-apa,” sudah menjadi hal umum, kalimat seperti itulah yang sering menjadi petuah dari orang tua untuk anak gadisnya. “Apa boleh kuhancurkan?” si perempuan masih meragukan, apa dia akan melakukannya atau tidak, lirik tersebut menunjukkan bahwa adegan pada paragraf di atas masih berupa fantasi dan angan-angannya bersama sang kekasih.

Lirik Kurumi to Dialogue


Seifuku ga Jama wo Suru (Seragam Ini Sangat Menggangu)
                Lagu Seifuku ga Jama wo Suru dari setlist demi seseorang ini bercerita tentang sepasang kekasih yang masih berstatus anak sekolah. Mereka sering melakukan dating atau kencan di sebuah mall sepulang sekolah tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengganti pakaian.
                Entah, tak seperti biasanya, mereka berdua tak langsung pulang ke rumah setelah berkencan. Pada saat itu hari sudah mulai gelap, dan mungkin si laki-laki dengan mobilnya berhenti di suatu tempat yang tak begitu ramai.
                Mereka saling berciuman dan berpelukan, sementara orang-orang yang lewat bisa dengan jelas melihat apa yang sedang mereka lakukan. Si perempuan tak begitu peduli, dia hanya ingin menikmati waktunya dengan sang kekasih. Dan di saat seperti itu, ada perasaan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang lebih.
                “Orang-orang lewat, meski tampak ingin melakukan sesuatu. Dilihat terus pun insting cinta tak bisa dihentikan” si perempuan mungkin sudah tak bisa menahan hasratnya, sehingga dia tak peduli dengan keadaan di sekitar. “Meski memeluk pundak dan menaruh tangan dipinggang. Berdua, kita tidak melakukan suatu hal yang buruk” itulah yang sedang mereka lakukan. Si perempuan berpikir, masih terbilang hal wajar jika mereka hanya sekedar berpelukan atau berciuman.
                Pada bagian bridge lagu sebelum reff kedua, mereka masih sekedar melakukan hal-hal yang wajar. Tapi sesuatu yang lebih mulai terjadi, si laki-laki semakin bersikap panas dan si perempuan menerima tanpa penolakan perlakuan kekasihnya itu. Lalu, hal yang selanjutnya terjadi mungkin menjadi adegan yang lebih panas dan menggairahkan. “Dirikiu ini telah memeluk perasaan untuk menerima. Dirimu semakin meningkat dan terjadi begitu saja.
                “Buka dan buang seragam ini. Kuingin bermain lebih bebas lagi. Diapakan juga tak mengapa, ingin tahu kesenangan dewasa.” Si perempuan mulai merasa risih dengan seragam sekolah yang ia kenakan, baginya itu sangat mengganggu. Dia ingin melepaskannya. Apapun yang akan dilakukan sang kekasih selanjutnya dia tak akan menolak, karena dia sangat ingin merasakan kesenangan yang selama ini ia bayangkan, sebuah kesenangan yang sering dilakukan oleh sepasang kekasih dewasa.

Seifuku ga Jama wo Suru


Blue Rose
                Blue Rose atau yang artinya mawar biru adalah sebuah gambaran untuk sesuatu yang bersifat tidak mungkin. Maksudnya? Lagu ini menceritakan tentang dua orang yang berstatus mantan kekasih, mereka pernah saling mencintai dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak mereka lakukan dalam menjalin hubungan berpacaran. Suatu ketika, si laki-laki mengajak si perempuan untuk kembali menjadi sepasang kekasih, tapi si perempuan menolak ajakan tersebut. Entah apa alasannya, lagu ini tak menceritakannya dengan jelas. Beberapa alasannya adalah si perempuan menyadari kesalahan yang telah perbuat mereka yang dahulu, dan ia tak ingin kembali melakukan dosa tersebut. Itulah alasan kenapa lagu yang banyak berisikan flashback ini berjudul Blue Rose.
                “Memang benar, dulu kumemang mencinta.... Lupakan saja, bunga mawar biru itu hanya ilusi mimpi.... Lupakan saja, semua tentang diriku. Rasa cinta itu hanyalah rasa ragu naluri sesaat” ini adalah jawaban si perempuan untuk permintaan sang mantan kekasih. Penolakan itu juga diceritakan pada penggalan lirik lainnya, “itu tak mungkin. Bagaikan mawar yang biru pada suatu malam. Keajaiban pun hanya terjadi satu kali. Blue rose.”
                “Bagaikan remaja di kasur warna putih. Takut akan sesuatu dan berdoa, memohon cinta datang.” Si perempuan mulai membayangkan masa lalunya. Baginya, apa yang mereka lakukan dulu tidak berdasarkan cinta, melainkan hanya sebuah nafsu belaka, jika saja saat itu si laki-laki benar-benar mencintainya, dia tak mungkin mengajak si perempuan sampai melakukan hubungan intim seperti itu.
                “Itu tak mungkin, jawaban dari Tuhan, penyesalan sang cinta. Lupa adalah pintu keluar rasa sayang.” Dalam penyesalannya, si perempuan berpikir perpisahan mereka adalah takdir yang sudah Tuhan berikan sebagai jalan terbaik. Jika memang sayang, lebih baik laki-laki itu melupakan masa lalu mereka dan berhenti untuk memintanya untuk kembali menjadi seorang kekasih.



Innocence
                Innocence, yang berarti kemurnian, kepolosan, dan keluguan ini bercerita tentang gadis SMA (mungkin) yang begitu mencintai kekasihnya. Sebagai seorang gadis SMA, dia sangat ingin melakukan hal-hal sensual bersama kekasihnya. Baginya, melakukan hal tersebut di umurnya yang masih menduduki bangku sekolah adalah hal menakjubkan. Semua hasrat tersebut muncul dikarenakan dia sangat mencintai kekasihnya tersebut. Dan lagu ini menceritakan tentang pertama kalinya dia meminta sesuatu yang lebih dari sang kekasih.
                “Sebelum aku mengganti seragamku, sekali lagi saja bilang suka padaku” si gadis meminta kekasihnya untuk mengatakan sesuatu yang sering kekasihnya ucapkan, yaitu kata “suka.” Entah dengan alasan apa, si gadis merasakan sensasi yang sangat hebat jika sang kekasih mengatakan itu saat ia masih mengenakan seragam sekolah.
                “Peluklah aku, peluklah aku. Sambil mencium bibir ini perlahan. Seperti sedang mengupas buah ara, belaian yang lembut dengan jari sihirmu.” Si gadis meminta agar mereka segera memulainya. Memulai sebuah adegan percintaan yang diawali dengan ciuman lembut dan belaian dengan jari, lalu perlahan melepaskan seragam sekolah sang gadis.
                “Pada malam hari itu semua bagai dalam mimpi. Buka pintu kedewasaan. Kata kuncinya tak menyesal.” Si gadis berpikir tak akan menyesal jika mereka melakukan adegan percintaan yang terlalu jauh, karena hal seperti inilah yang sudah ia imingkan sejak lama, melakukan hubungan intim bersama kekasihnya.
“Hancurkan saja, hancurkan saja. Tidak perlu tembok kesucian itu. Seperti suara kaca yang terpecah, benar-benar kasar suara yang terucap.” Si gadis meminta agar kekasihnya tidak ragu-ragu melakukannya. Ambil saja kesucian yang ia punya, si gadis tak memerlukan sesuatu yang bernama kesucian, yang ia mau hanyalah ingin mengeluarkan kata-kata kasar yang terucap bersama suara desahan.
“Berwarna merah Innocence. Di saat gadis pun terjatuh, tutup erat kolopak mata cinta. Getaran di hati pun ‘kan terhenti.” Seperti yang sudah dijelaskan di awal, innocence adalah kesucian, lalu maksud dari “berwarna merah innocence” adalah, darah yang mengalir saat kesucian si gadis dilepas. Lirik selanjutnya menjelaskan bahwa, saat itu si gadis terbaring sambil menutup matanya, menikmati apa yang sedang sang kekasih lakukan padanya, membuat keresahan yang selama ini ia tahan terhapuskan.
“Berwarna merah Innocence. Di saat gadis pun menagis, bukan air mata dari kesedihan, tapi air mata kebahagiaan.” Saat semua itu terjadi, si gadis menangis. Dia merasa bahagia bisa melakukannya dengan sang kekasih.
“Bagai tangisan pertama dari diriku yang lainnya. Di dunia yang baru ini telah mengajarkan kekuatan dari cinta. Teruslah seperti ini. Crazy for you!” Si gadis merasa telah terlahir menjadi dirinya yang baru. Dengan melepas kesuciannya, ia merasa telah tumbuh dewasa. Dia ingin bisa terus melakukan hal seperti ini, melakukannya dengan penuh rasa cinta. Ia sangat menyadari, dia adalah orang aneh dengan bertingkah diluar keadaan. Ia bertingkah gila karena kekasihnya, seorang kekasih yang begitu ia cinati.

Lirik Innocence


—ooo—

Huargh! Akhirnya selesai juga. Waktu selesai ngetik ini, aku langsung kepikiran, jangan-jangan kalian baca ini sambil berfantasi yang nggak-nggak, apa lagi sambil ngebayangin memeber. Oops!
In the end, lagi-lagi aku cuma mau kasi tau, ini Cuma buah pemikiranku ya, jangan dengan mudahnya menganggap ini semua benar. Karena apa? Karena aku sama sekali nggak kenal dengan Yasushi Akimoto si penulis lirik lagu ini.
                Oo, guys! Domo arigatou, terima kasih udah berkunjung, apa lagi baca sampai selesai. Kalau suka, mohon komentarnya ya. Hehe...
Sebenarnya makin lama makin malas update blog karena aku ngerasa jarang ada yang baca. Jadi kalau kalian suka dan berharap aku bakal update artikel yang lain, mohon komentarnya sebagai sebuah dukuang.
                Oke, right. Ini aja. Sayornara...


Lyrics source; www.jkt48.com & www.stage48.net