19 Mei 2015

Lanjutan Cerita milik Ratu Vienny Fitrilya

Viny, ini lanjutan cerita dari challenge  #AkuLanjutinYa yang Viny buat. Mungkin ini nggak habis dalam sekali duduk karena ada  3000 kata dalam cerita yang aku buat... Aku harap ini tetap bisa di terima sama Viny, dan semoga ini cukup menarik untuk dibaca. Mohon maaf, atas berlebihnya kata...

Note: Paragraf-paragraf bercetak miring di bawah ini adalah cerita yang dibuat oleh Ratu Vienny Fitrilya, lalu di lanjutkan dengan cerita yang ku buat.


 
Inilah Awalnya.

Pukul 10 pagi , di atas hamparan pasir pantai putih.

Di sanalah ia berdiri. Di antara celah-celah mentari. Sinar mentari kala itu sedikit menghalangiku melihat wajahnya. Tapi aku yakin ia sedang tersenyum.

Dia.
Dia yang selalu aku lihat ketika jam istirahat sekolah. Sudah hampir 3 tahun senyumnya menemaniku ketika beristirahat.

Hey, aku tidak bilang aku jatuh cinta. Aku tidak tahu lebih tepatnya. Aku hanya suka melihat senyumnya. Lagi pula terlalu aneh bagiku untuk jatuh cinta pada orang yang tidak aku kenal.

Seketika pikiranku melayang pada Kamis minggu lalu. Itulah kali pertama aku mengetahui namanya dan senyumnya tertuju pada diriku!

Saat itu jam makan siang. Dia iseng sekali menukar ayam goreng miliknya dengan teman sebangkunya ketika lengah. Aku lihat jelas ia tertawa lebar saat temannya meneriakan namanya sambil mengoceh saat sadar bagiannya ditukar oleh gadis itu.

Oh, itu dia namanya… akupun masih belum melepaskan tatapanku padanya.

Saat itulah ia melihatku.
Ia melihatku.

Atau mungkin ia sadar ada seseorang yang menatapnya tanpa henti siang itu.
Dan ia tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya.

Ah, aku merasakan detak jantungku berhenti sesaat.

Hari ini adalah saatnya aku mengucapkan selamat tinggal dengan kenangan yang kumiliki saat berseragam putih abu-abu. Tapi apakah aku harus mengucapkan selamat tinggal padanya juga?

Akhirnya aku memutuskan untuk mengucapkan satu kata yang selalu aku simpan.

Alih-alih selamat tinggal, inilah yang aku ucapkan.

“Ha.. halo”

Sekarang atau terlambat. Aku ingin berkenalan denganmu…

Pukul 1 siang, di hari yang kutunggu-tunggu.

Hari ini.
Akhirnya datang juga.

Aku kira “halo” yang aku ucapkan kala itu hanya akan menjadi sebuah awal sekaligus akhir dari sebuah cerita…

Tapi, aku salah.

Di sinilah aku terduduk di salah satu sudut Kafe menunggu kedatangannya.

Apakah aku sudah terlihat rapih?

Menatap bayanganku yang terpantul di jendela Kafe. Hm, semoga saja sudah. Berkali-kali aku mengetukan jari-jemariku ke meja. Menutupi kegugupanku dan fakta bahwa ini kali pertama aku pergi berdua saja dengan seorang wanita.

Dia datang!

Aku melihat sosoknya sedikit berbeda dari gambaran yang terakhir terekam di ingatanku. Oh iya, ini pertama kalinya aku melihat dia dengan pakaian yang kasual bukan seragam. Tapi aku suka perasaan ini. Aku jadi sedikit mengenalnya bukan sebagai gadis yang senyumnya aku… ehm, sukai selama SMA.

Kali ini dia yang menyapaku duluan,

“Hey! Sudah lama ya?”

Oh, ternyata dia suka baca buku.

aku meneliti sedikit novel yang sedari tadi ia tenteng. Namun pikiranku teralihkan oleh lagu yang sayup-sayup terdengar di Kafe siang itu.

I’ve got a picture of your house…
And you’re standing by the door…

Aneh, perasaan tadi tidak ada lagu apapun. Apa aku saja yang tidak sadar ya?
Terbangun dari lamunan sesaatku. Ternyata dia lagi menutup mata sambil bersenandung kecil.

Eh, Warrant? Dia suka lagu seperti ini?

Terlepas dari panasnya siang itu. Dan tak seberapa banyak kata yang terlontar dari mulutku.
Fakta bahwa senyumannya kali ini hanya tertuju padaku.

Aku belajar untuk mengenalnya sedikit demi sedikit.




Ini kali pertama aku melihat dia dengan mimik wajah yang seperti ini setelah tiga tahun aku memperhatikannya. Aku masih saja terus diam terpaku menatap wajahnya, mendengar senandung kecil yang dia nyanyikan seirama dengan lagu yang saat ini kami dengar. Winy, dia terlihat semakin manis saat aku melihatnya sedekat ini. “Eh?” Dia sedikit kaget saat membuka matanya dan mendapati ku sedang memperhatikannya. Melihat eksprisinya, aku hanya melemparkan senyum kecilku kepadanya. “Ogi? Ada apa?” Dia yang baru saja menyadari aku memperhatikannya, langsung menyuguhkan pertanyaan padaku. “Eh, nggak kok Win... Nggak ada apa-apa...” Aku gugup menjawab pertanyaannya. Jelas saja, semenjak pertama berkenalan dengannya kemarin, ini kali pertama dia menyebut namaku. “Oh, aku pikir ada sesuatu yang aneh dari aku.” “Emm, nggak kok. Aku nggak ngerasa ada yang aneh dari kamu.” “Syukurlah, kalau begitu... Oh ya, aku suka banget lagu ini. Apa kamu pernah mendengarnya sebelum ini?” Winy mencoba menimbulkan topik baru di antara kami. “Aku? Belum, sih.” “Emm, lagu ini bagus loh, apa lagi kalau kamu ngerti artinya. Liriknya penuh ungkapan-ungkapan yang jarang ada di lagu lain...” Dengan penuh antusias Winy menjelaskannya padaku, sedangkan aku hanya mengangguk-anguk kecil menyimak tutur katanya.

Argh! Kenapa aku jadi bersikap garing seperti ini? Aku terlalu gugup di hadapannya, lidahku kelu untuk ku mengucapkan sepatah kata meski bekali-kali aku memikirkannya. Aku tak boleh terus seperti ini. Bukankah ini kesempatan pertamaku untuk bisa sedekat ini dengannya? Aku tak boleh merusaknya, aku harus buat ini berkesan. “Gi?” Suara lembut Winy menyadarkanku dari lamunan. “Kenapa diam?” Lanjutnya lagi. Ayolah, buat suatu poin! “Ah, nggak... Itu... Winy, bulannya indah ya?” Argh tidak, apa yang aku katakan? Ini kan, siang hari. “Ha? Bulan?” Winy terlihat bingung dengan ucapanku. “Ah, maaf. Aku ngelantur.” “Phft... Ehehe...” Winy yang tersadar dengan tingkah konyolku, mengeluarkan tawa kecilnya yang terlihat sedikit ditahan. “Apaan sih kamu, Ogi? Kamu lucu, tau nggak?” Tutur Winy yang masih saja tertawa. “Ah, udah dong, Winy. Aku malu...” Aku tersipu malu dengan tingkah bodohku di hadapannya. Tapi di samping itu, aku senang bisa membuatnya tertawa. Entah kenapa, semenjak melihatnya tertawa aku merasa jarak di antara kami semakin menghilang. Sekarang aku sudah sedikit lebih berani untuk mengucapkan sesuatu padanya.

Sudah sekitar setengah jam kami duduk mengobrol di tempat ini. Winy yang beberapa saat lalu pergi ke toilet, baru saja kembali. Winy duduk di hadapanku, tepat seperti sebelum ia pergi tadi. Winy terlihat berbeda. Raut wajahnya tak seriang sebelumnya, seperti ada sesuatu yang membebani pikirannya. “Kamu kenapa, Winy? Kok cemberut gitu?” Mendengar pertanyaanku, Winy hanya menganggukkan kepalanya menandakan bahwa dia baik-baik saja. Tatapan matanya tertuju ke suatu tempat yang ada di belakangku. Rasa penasaran tercipta dibenakku, aku sedikit memutar tubuh dan mengedar pandanganku ke belakang. Tak ada siapapun yang terlihat di belakangku. Ada apa dengan Winy? Apa yang mengganggunya? Tunggu... Aku melihat sebuah mesin permainan di salah satu sudut kafe. Sebuah mesin dengan tumpukan boneka terlihat di dalamnya. Aku mengembalikan pandanganku pada Winy yang masih terlihat kusut. “Apa karena itu?” Tanyaku sambil sedikit menunjuk mesin itu dengan jari jempolku. Masih dengan raut wajah yang sama Winy mengangguk kecil. “Iya, Gi... Di situ ada tiga boneka kesukaanku. Aku mau itu..” Winy terlihat seperti anak kecil yang sedang merengek. “Hufft...” Aku menghela nafas melihat tingkah Winy yang menggemaskan.

 “Ayo...” Aku beranjak dan menarik tangan kiri Winy untuk menghampiri mesin permainan itu. Sesampainya di depan mesin itu, aku kebingungan dengan cara mengoperasikan mesin itu, tak ku jumpai slot untuk memasukkan koin dan sebagainya. “Eh? Nggak ada?” Syukurnya kebingunganku tak berlangsung lama karena ada salah seorang pelayan kafe yang menghampiriku dan memberitahu cara pengoprasiannya. Ternyata ini tak seperti yang ku bayangkan, aku harus membuat logincard, sebuah kartu  untuk mengakses mesin itu. Akhirnya setelah membuat dan memilikinya aku bisa memulai permainan. Aku memasukkan kartu ke dalam tempat yang tersedia di mesin itu. Sebuah LCD digital menunjukkan saat ini aku memiliki sepuluh poin, yang artinya aku memiliki sepuluh kali kesempatan untuk bisa mengeluarkan boneka dari dalam mesin. Ya, aku mulai menarik tuas di mesin itu, mencoba menggerakkan sebuah lengan besi di dalam mesin, memfokuskan pikiran pada boneka berwarna kuning yang Winy inginkan. Aku berhasil mencengkram boneka itu dan pada saat aku mencoba menariknya keluar, boneka itu terlepas. Ah, aku gagal pada kesempatan pertama, ternyata ini lebih sulit daripada yang aku bayangkan. “Yah, lepas. Padahal tinggal dikeluarin.” Tutur Winy yang sedang serius memperhatikanku. Baiklah, aku harus mencoba lagi. Kesempatan kedua, aku mencengkram boneka itu dan berhasil mengeluarkannya... “Akhirnya...” “Ye... Dapat satu...” Winy terlihat senang melihat keberhasilan pertamaku. Tanpa menunggu lama, Winy langsung menyambar boneka yang baru saja keluar dari mesin.

Aku terus mencoba untuk mendapatkan boneka lain yang tersisa. Saat ini Winy telah memeluk dua boneka yang dia inginkan. Masih ada satu boneka kuning lainnya di dalam mesin menunggu untuk ditarik keluar. Sementara, aku hanya memiliki satu kesempatan lagi. “Ini yang terakhir, Winy...” Tuturku pada Winy yang sedang menatap ku penuh harap. “Nggak apa kok, kalau yang terakhir ini gagal. Dua boneka ini udah cukup membuatku senang. Tapi, aku yakin kamu bisa...” Winy mencoba meyakinkanku, seolah dia tak ingin aku memiliki beban pikiran. Aku hanya tersenyum dan kembali fokus pada mesin dan boneka itu. Lengan besi itu berhasil mencengkram bonekanya lagi, aku menariknya dengan penuh kehati-hatian. Semoga bisa, semoga bisa... Kalimat itu terus terulang dipikiranku, berharap aku bisa menyempurnakan kebahagiaan yang Winy inginkan. Pluk... Bingo! Usaha terakhirku berhasil mengeluarkan boneka untuk ketiga kalinya... “Ye...” Winy terlihat lebih gembira dibanding sebelumnya. “Makasih, Gi.. Kamu hebat! Sekarang aku punya tiga bonekanya...” Ucap Winy sambil memeluk erat ketiga boneka itu. Ya, melihatnya bisa sebahagia ini membuat ku sangat senang.


Pukul 7 malam...

Di atas hamparan tempat tidur ini ku rebahkan tubuhku. Bersama datangnya gelap malam, rasa lelah di tubuhku berkumpul. Entah kenapa hari ini terasa sangat panjang, aku ingin secepatnya memejamkan mataku untuk bersiap menemui hari esok. Tapi ada sedikit rasa gelisah yang mengusik ku. Bukan, sepertinya ini bukan kegelisahan. Aku hanya teringat kembali akan senyuman gadis itu, Winy. Rasanya masih melekat jelas lekuk senyum dibibirnya, suara lembut yang memanggil namaku. Terus terulang adegan-adegan siang tadi dimana dia terlihat bahagia saat aku bisa memenuhi keinginannya. Tapi... Setelah sekian lama aku melihat senyumnya, aku baru menyadari ada sesuatu yang dia coba tutupi. Ya, siang tadi di kafe itu. Beberapa saat sebelum kami berpisah, tepatnya sesaat setelah dia tersenyum bahagia karena aku berhasil memberikannya boneka-boneka itu. Dia mulai bercerita dan terbuka pada ku tentang kondisi keluarganya saat ini. “Makasih, Gi... Kamu udah buat aku ngerasa senang hari ini. Setidaknya, walaupun hanya sebentar kamu udah buat aku lupa dengan masalahku?” Wajah Winy terlihat sedikit muram. “Eh? Maksudmu, Win?” “Keluargaku... Papa mama aku baru cerai beberapa hari yang lalu. Sejak saat itu, aku agak sedikit susah untuk tersenyum?” Deg! Betapa terkejutnya aku saat itu menyadari dirinya yang sedang dalam kondisi hati yang tidak baik. Aku tak pernah menyadari sebelumnya, dia memilik masalah seperti ini. Ternyata, dibalik senyum seindah itu masih bisa tercipta kesedihan. Winy, dia perempuan yang kuat.

Tiit... Suara dering kecil terdengar dari handphone yang ada di sebelah bantalku. Hanya sebuah email tidak penting yang masuk. “Eh?” Tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu yang sangat penting. Aku lupa untuk meminta alamat email milik Winy sebelum kami berpisah tadi. Ah, kenapa aku bisa seteledor itu? Bagaimana aku bisa bertemu lagi dengannya nanti. Jangankan tempat tinggalnya, namanya saja aku baru mengetahuinya kemarin. Begitu bodohnya aku melupakan hal sepenting ini...


4 bulan kemudian, Pukul 10 pagi

Aku pikir, saat waktu senggang seperti ini aku lebih ingin menghabiskannya di kamar saja. Hari ini tak ada jam kuliah, sepenuhnya aku bebas menghabiskan waktuku untuk melakukan apapun. Ya, sudah dua minggu tepatnya aku resmi menjadi seorang mahasiswa di suatu sekolah tinggi swasta. Pakaian putih abu-abu penuh kenangan itu sekarang hanya tergantung di dalam lemari pakaian, dan diam menyimpan erat bukti kesaksiannya melewati hari bersama ku di sekolah, memperhatikan seorang gadis di jam istirahat. Winy... Empat bulan berlalu tanpa melihat senyumnya. Terakhir, aku melihatnya di dalam taksi melambaikan tangan kepadaku sambil memeluk tiga boneka kuningnya. Sudah cukup lama, tapi aku masih bisa mengingat saat-saat itu dengan jelas... Apa yang sedang dia lakukan saat ini, ya?

Aku mengambil sebuah novel yang ada di meja belajarku. Sebuah novel milik Winy yang dia titipkan padaku di kafe siang itu sesaat sebelum kami berpisah. Saat itu kedua tangan Winy sudah penuh untuk memeluk boneka-bonekanya. Jadi aku putuskan untuk membantu membawakan novelnya. Entah apa penyebabnya, saat Winy mulai masuk ke dalam taksi, kami malah melupakan novel yang ada di genggamanku. Konyol sekali.

Aku selalu membaca novel ini di setiap waktu senggangku. Bahkan, aku sudah selesai membacanya berulang kali dan aku belum merasa bosan sedikitpun. Novel ini sangat menarik, kalimat-kalimatnya terangkai rapi seolah penulisnya ingin menciptakan suatu puisi tanpa adanya akhir dengan novel ini. Selain itu, banyak pelajaran yang bisa ku petik dari dalamnya. Dan, ada satu kalimat yang kurang begitu ku mengerti maksudnya, tapi aku begitu menyukainya. “Kebetulan itu adalah sekenario Tuhan yang belum kita ketahui. Jika seseorang selalu bisa menemukan mu di suatu tempat, dia adalah orang yang mencintai mu, karena dia selalu mengerti tentang apa yang kamu pikirkan.”

Meskipun sampul dan kualitas cetakannya tak begitu baik seperti novel pada umumnya, aku tetap menyukainya. Aku membolak-balik novel itu, memperhatikan gambar sampul depan dan belakangnya. Mataku terhenti pada bagian samping novel itu, di sudut pangkal sampul dimana terdapat sebuah tulisan kecil yang belum pernah ku baca sebelumnya. “Winy Witri Widya.” Aku terkejut membacanya. Nama ini... Mungkinkah ini nama seorang Winy yang aku kenal? Apa Winy adalah penulis Novel ini?

Aku membuka Novel itu kembali, membuka lembar demi lembar menuju halaman yang ada di sekitar halaman akhir, dan aku menemukan sebuah kolom yang berisi profil penulis. Aku tak menemukan kepastian bahwa itu adalah Winy yang ku kenal dengan melihat profil ini. Tapi di profil ini tercantum sebuah nama akun sosial media yang dimiliki penulis. Mungkin aku harus mengeceknya jika ingin mendapatkan jawaban. Terbuka beberapa akun dengan nama yang hampir sama, dan aku membuka salah satunya. Saat aku melihat foto yang tertera, aku yakin ini adalah akun milik Winy. Berarti, penulis novel ini juga seorang Winy yang aku kenal. Tapi sayangnya, status terakhir yang dibuat oleh Winy “aku kangen papa” sudah tiga bulan yang lalu. Berarti akun ini sudah lama tak dia sentuh. Meskipun begitu, aku tetap mengirimkannya pesan, berharap dia akan membaca dan membalasnya nanti.


Esok hari jam dua siang di kantin kampus

Aku mengecek akun sosial mediaku, mengecek kotak masuk. Tapi kecewa, tak ku dapati balasan dari Winy. Padahal, kemarin aku merasa senang karena ku pikir masih ada harapan untuk bisa bertemu dia kembali. Oh, saat ku gulir halaman sosial medianya ke bawah, aku menemukan status lamanya “pagi ini siap-siap untuk tes di Da Vinci High School.” Emm, apa dia sekarang kuliah di sini ya? Tapi mungkin saja dia tak lulus tesnya. Ah, aku tak harus perduli akan hal itu. Jika tak dicoba, aku tak akan mengetahuinya.
Siang itu juga aku pergi ke sekolah tinggi Da Vinci. Meski belum pernah ke sana tapi aku tahu lokasinya terletak di daerah pesisir.

Aku sudah tiba, dan baru saja melewati gerbang kampusnya. Ternyata banyak mahasiswa yang kuliah di sini padahal di kampus ini hanya ada fakultas seni dan budaya saja. Ah, aku pasti akan sangat sulit menemukan Winy di sini. Terbukti, sudah lebih dari satu jam aku berkeliling di kampus ini, tapi tak ku temukan sosoknya. Rasanya cukup lelah mencari sesuatu yang tak pasti seperti ini. Tapi entah kenapa aku begitu berharap bisa menemukannya di sini. Aku ingin melihat senyumnya lagi. Aku tahu, aku sangat merindukannya. Tapi tidak berarti aku menaruh rasa cinta padanya. Rasanya aku belum punya alasan yang pasti untuk mencintainya.

Sekarang, aku sedang berada di sebuah koridor lantai dua, tepatnya di depan ruangan theater. Aku mengedarkan pandanganku ke bawah sana, menelusuri wajah demi wajah yang lalu-lalang. Di kejauhan aku melihat seorang perempuan sedang berjalan menuju gerbang keluar kampus. Seorang perempuan dengan rambut pendek sebahu sedang berjalan sambil membaca buku yang ada di tangannya. Dia... Winy, kah? Aku bergegas lari menuruni tangga mengejar keberadaan itu. Aku terus memacu kecepatanku, khawatir akan kehilangan jejaknya. Sosoknya mulai terlihat... “Winy!” Aku meneriakkan namanya, berharap dia mendengar aku memanggil namanya. Perempuan itu menghentikan langkahnya dan perlahan membalikkan tubuh menoleh kepadaku yang semakin mendekat. Ternyata benar, itu Winy.

“Winy...” Aku memanggil namanya sekali lagi sesaat sebelum aku berhenti di hadapannya. “Hosh... Hosh...” Aku terengah-engah di hadapannya, nafasku hampir habis setelah berlari cukup jauh. Winy yang saat itu terkejut melihat keberadaanku sempat terdiam. Matanya terbelalak, menarik nafas paksa dari mulutnya yang terbuka kecil. “O... Ogi... Kamu, kamu kenapa bisa ada di sini?” Terlihat dari mimik wajahnya Winy masih belum percaya aku muncul di hadapannya tiba-tiba. “A, aku... Hosh... Hosh...” Nafasku masih terengah-engah, sampai sulit rasanya untuk berbicara. Winy yang menyadari kondisiku langsung mengambil air mineral dari dalam tasnya. “Ini... Minumlah!” Aku menerima sebotol air mineral itu dan meneguknya sampai hampir setengah botol. “Gi... Apa yang kamu lakukan di sini?” Winy yang melihatku sudah baikan kembali bertanya. “Winy... Dari tadi aku mencari mu.” Jawabku dengan nafas yang belum sepenuhnya kembali normal. “Mencari ku?” “Ya, sudah dua jam aku di sini. Akhirnya, dari atas sana aku bisa menemukanmu.” aku menunjuk koridor lantai dua tempat dimana tadi aku berada. “Di sana? Jadi kamu berlari sejauh itu? Bagaimana bisa kamu mengenali ku dalam jarak sejauh itu?” Dengan penuh heran Winy melontarkanku banyak pertanyaan. “Entahlah, meski nggak begitu jelas, aku yakin kalau yang ku lihat itu kamu, dan ternyata dugaanku benar.” “Hufft...” Winy menghela nafas berat sambil membuang pandangannya kesamping. “Ada apa, Winy?” Dia masih belum mengembalikan pandangnya padaku. “Aku pikir kita nggak akan bisa ketemu lagi. Aku sangat menyesal telah lupa mengajakmu bertukar kontak?” Tutur Winy. Sekarang pandangannya telah kembali, tapi terbesit sedikit rasa bersalah di raut wajahnya saat dia menatap mataku. “Sudahlah, Winy. Aku pun sama denganmu. Semenjak hari itu aku selalu berpikir bagaimana caranya bertemu denganmu, sementara aku nggak tau apapun tentang kamu. Tapi pada akhirnya, di tempat ini kita dipertemukan lagi.” Aku mencoba mengucapkan sesuatu untuk menghibur hatinya. “Kenapa kamu sampai melakukan semua ini untuk bertemu denganku? Kenapa kamu bisa tau kalau aku kuliah di sini?” “Entahlah, bagaimana aku bisa sampai di sini, ceritanya cukup panjang. Daripada itu, apa sekarang kamu sudah mau pulang?” Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Emm, belum. Aku baru saja berniat untuk pergi ke suatu tempat. Bagaimana dengan kamu? Kamu juga mau pulang? Atau kamu mau ikut dengan ku?” “Ha? Kemana? Ngapain?” Tanyaku penasaran. “Tuh...” Winy mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk sebuah menara mercusuar di luar sana. “Pergi ke sana... Itu tempat favorit aku untuk menghabiskan waktu soreku. Kamu mau ikut?” Winy tersenyum saat menawari ku.

Tinggi dan tua. Itu kesan pertama saat aku sampai di bawah menara ini. “Ayo, naik ke atas...” Winy menggait lengan kiriku dan mengajakku masuk ke dalam menara, sama seperti saat aku menarik tangan kirinya di kafe hari itu untuk memainkan mesin permainan. Di dalam ruangan cukup gelap, hanya bias cahaya matahari yang masuk melalui jendela yang menerangi ruangan ini. Cukup sekali melihatpun, aku langsung tau. Menara ini adalah sebuah mercusuar yang sudah lama tak terpakai... Winy masih menggandeng tanganku, menuntunku untuk menaiki tangga dan akhirnya kami sampai di puncak menara. Dari sini, aku bisa melihat keadaan pantai dengan jarak pandang yang lebih luas. Wush... Angin laut menerpa Winy, dan saat itu aku melihat dia sedang memejamkan matanya menikmati terpaan angin ini. Ekspresi tenang yang sama seperti saat dia menikmati lagu di kafe waktu itu. “Apa kamu menyukai tempat ini?” Winy membuka matanya dan bertanya padaku tiba-tiba. “Eh, itu... Aku, aku suka.. In, indah...” Aku tergugup menjawabnya. “Indahnya bukan karena ada bulan, kan? Hihi...” Winy tersenyum mengejek ku. “Ah, itu...” Aku hanya bisa tersipu malu, ternyata Winy masih mengingat tingkah konyolku waktu itu.

“Emm, Winy... Ini milikmu. Maaf, waktu itu aku lupa untuk mengembalikannya.” Aku  menyodorkan novel yang sedari tadi ada di dalam tasku. “Oh... Kamu masih menyimpannya? Terima kasih...” Winy terlihat senang saat melihat novel itu lagi. “Kenapa kamu membawanya ke sini, Gi?” “Aku memang selalu membawanya, karena aku tau kita pasti bertemu lagi.” Winy hanya diam menatap ku heran. “Winy... Novel itu, apa kamu sendiri yang menulisnya?” “Emm, itu... Begitulah...” Winy tersipu malu, dia langsung membalikkan badannya dan menghadap pagar pembatas menara, mencoba menyembunyikan wajahnya dari ku.

Tak terasa sudah cukup lama kami berada di sini. Haripun mulai gelap. “Hei...” Seorang laki-laki berteriak dari bawah menara sambil melambaikan tangannya pada kami. Winy melambai kecil ke arah laki-laki itu dengan ekspresi yang datar. “Maaf, Gi... Aku harus pulang sekarang.” “Emm, ya Winy... Nggak apa-apa kok. Kamu pulang dengannya?” Tanyaku sambil sedikit memicingkan mataku pada laki-laki itu. Winy hanya mengangguk kecil lalu bertanya padaku “kamu juga mau pulang?” “Eh, emm... Aku masih ingin di sini sebentar lagi.” “Emm, baiklah. Kalau begitu, hati-hati nanti pulangnya. Jangan terlalu lama di sini.” Winy tersenyum dan mulai turun untuk menjumpai laki-laki itu.

Mereka bejalan berdua sambil bergandengan tangan. Terlihat semakin menjauh dari menara tempat aku memperhatikan mereka. Tapi, sempat sekali Winy menoleh ke belakang melambaikan tangannya padaku. Tersenyum indah seperti sedang mengatakan sampai jumpa... Ah, siapa yang menyangka... Laki-laki yang sedang menggandeng tangannya saat ini adalah teman yang bersamanya saat aku melihat dia pagi itu di atas hamparan pasir pantai putih. Laki-laki itu juga teman sebangku yang waktu itu meneriakkan nama Winy saat menyadari ayam gorengnya telah ditukar. Bertahun-tahun aku memperhatikan Winy, baru hari ini aku mengetahui tentang hubungan mereka.


Minggu Sore, di dalam kamarku...

Sudah empat hari berlalu semenjak pertemuanku dengan Winy di menara itu, dan setelah saat itu aku sempat bertemu dengan Winy di kafe sekedar duduk ngobrol biasa. Disamping itu, aku juga setiap hari bertukar cerita dengannya melalui email. Ternyata bukan sekedar dugaanku, tapi memang sejak SMA Winy sudah menjalin hubungan khusus dengan laki-laki itu. Ada sedikit rasa kecewa mengetahuinya, tapi aku mencoba untuk bersikap biasa saja dan tak berubah di hadapan Winy. Sampai hari inipun aku masih tetap mengirim email padanya. Tapi semenjak semalam aku tak mendapat balasan sekalipun darinya. Aku sedikit khawatir karena siang tadi di sosial media aku melihat dia menuliskan sesuatu yang menunjukkan bahwa dia sedang dalam kondisi tidak baik.

Aku beranjak pergi ke kafe, mungkin aku bisa menemukannya di situ. Tapi ternyata nihil, tak dapat ku jumpai sosoknya di sini. Wini baru saja menulis di sosial medianya lagi. “Apa orang-orang yang aku sayangi hanya ilusi?” Ada apa dengan Winy? Apa ini ada hubungannya dengan orang tuanya lagi. Atau mungkin, karena laki-laki itu? Ah, iya... Aku baru ingat kemarin aku sempat melihat Laki-laki itu bersama seorang perempuan di dalam mobilnya. Memang tak begitu jelas karena dia hanya terlihat sekilas dan berlalu. Tapi aku yakin itu dia.

Aku bergegas pergi ke kampus Winy. Mencarinya ke berbagai tempat, tapi tak kunjung aku menemukannya. Padahal keadaan kampus sudah cukup sepi karena hari sudah semakin sore. Sementara, winy menulis lagi “Angin... Aku ingin merasakannya di sini. Setidaknya aku ingin melihat matahari senja itu sekali lagi.” Winy... Apa yang kamu lakukan? Dimana kamu? Aku mulai terserang rasa cemas setelah membaca tulisan yang Winy tulis. Aku harus cepat menemukannya.

Aku membaca lagi berulang kali tulisan itu. Mencoba mencerna apa yang Winy tuliskan... “Angin... Merasakan... Ingin... Melihat...” Angin? Tunggu, aku mengingatnya kembali, sosok Winy yang memejamkan matanya dengan tenang saat angin menerpanya. Saat ini, dia pasti ingin melihat mentari senaja, untuk yang terkahir kalinya di suatu tempat, di tempat itu. Ya, menara... Dia pasti ada di sana... Aku bergegas lari sekuat tenaga setelah menyadari keberadaan Winy. Cukup jauh jika hanya berlari, menara itu terletak hampir tiga ratus meter dari kampus ini. Aku tak perduli, aku terus berlari. Ku lihat langit semakin gelap, cahaya matahari mulai menghilang dari mega. Aku harus lebih bergegas sebelum semuanya terlambat.

Dari bawah aku melihat sosok Winy yang berdiri di atas pagar pembatas menara. “Winy!” Aku berteriak memanggilnya. Winy hanya menoleh ke arahku dengan tatapan kosongnya. Menangis? Aku melihat ada sisa air mata yang telah diseka di pipinya. Aku panik dan langsung berlari menaiki menara. Berharap sesuatu yang buruk tak terjadi. “Winy! Jangan Lakukan!” Saat aku sampai di atas, Winy melompat menjatuhkan dirinya kebawah. Brukk!!! Dadaku keras menghantam pagar pembatas itu. Tapi aku berhasil menangkap tangan Winy sesaat sebelum dia benar-benar terjatuh. Aku memegang erat tangannya yang tak membalas genggaman tanganku. Dia masih bergantung dan aku tak ingin melepaskannya. “Winy! Kenapa kamu lakukan ini?” Aku masih terus berusaha menarik tangannya. “Lepaskan Gi! Lepaskan aku!” Winy memberontak, berusaha membuat tanganku melepaskannya. Aku masih saja terus bersikukuh tak ingin melepas. “Jangan Winy!” “Aku bilang, lepaskan! Aku nggak mau lagi hidup seperti ini...” Aku menatap matanya yang kini kembali meneteskan air mata. Tak ku dapati lagi sosok Winy yang kemarin, sosok Winy yang selalu tersenyum manis. Yang ada hanyalah raut kesedihan dan rasa putus asa.

Aku semakin kehabisan tenaga, dadaku terasa sakit karena menahan beban tubuh Winy, dan genggamanku perlahan semakin mengendur. Apa ini saat-saat terakhir aku bisa melihat Winy? “Winy... Aku mohon, genggam tanganku...” Suaraku lirih terdengar kecil, tapi cukup untuk bisa terdengar olehnya. Winy menatapku dalam, dengan air matanya yang terus mengalir. Saat itu entah apa yang dia pikirkan, Winy membalas genggaman tanganku. Inilah kesempatanku, disisa tenaga terakhirku, aku memaksakan untuk mengeluarkan tenagaku. “Arggh!!!” Aku menggeram saat mengeluarkan semua tenagaku. Aku berhasil menarik Winy ke atas dan kami terlempar. Tubuhku menabrak dinding yang ada di belakangku, dan aku terduduk lemas. Sedangkan Winy, dia terjatuh tepat di atas tubuhku. Semuanya terjadi begitu cepat hingga aku menyadari bahwa aku tak kehilangan Winy.

Aku langsung memeluk Winy erat. Air mataku mengalir untuk pertama kalinya untuk dia. “Jangan lakukan, ini lagi...” Suaraku sedikit tersendat saat membisikkannya di telinga Winy. “Kenapa kamu datang? Kenapa kamu selalu bisa menemukanku?” Tutur Winy yang masih menangis dalam pelukkanku. “Jangan bodoh... Kamu sendiri yang mengatakan ‘kebetulan adalah rencana Tuhan yang belum kita ketahui. Jika seseorang selalu bisa menemukan mu di suatu tempat, dia adalah orang yang mencintai mu, karena dia selalu mengerti tentang apa yang kamu pikirkan.’” Hening... Aku dan Winy tak berucap sesaat setelah aku mengucapkan itu. Winy semakin memeluk tubuhku erat. “Dari awal aku selalu memperhatikanmu. Tak perduli dimanapun kamu menangis sendirian, aku tetap akan menemukanmu. Meski seluruh dunia memusuhi mu pun, aku tetap di pihakmu. Itu karena, aku mencintaimu, Winy...” Winy hanya diam tak menjawab apapun, yang aku rasakan hanyalah pelukannya yang semain erat mendekap tubuhku dan isak tangisnya yang semakin menjadi.


Kamis, dihadapan mentari senja...

Angin laut dan mentari senja... Apa mereka tahu tentang apa yang aku rasakan? Suatu gejolak manis setelah adanya tangisan. Sebuah perasaan indah yang mengalun meninggalkan sepi. Perasaan yang aku rasakan bersama pemilik senyuman itu. Senyum yang selama tiga tahun selalu ku lihat saat jam istirahat sekolah, dan sekarang lekukan manis itu tercipta hanya untuk ku.
“Aku ingin selamanya seperti ini. Jangan pernah tinggalkan aku...” Bisikkan lembut itu terdengar dari seorang gadis yang memeluk punggungku dari belakang. Gadis pemilik senyum di jam istirahat itu. Aku telah berjanji pada diriku sendiri akan selalu menjaga senyuman indah dan pemiliknya itu.
Karena aku... Mencintaimu, Winy...