22 Mei 2015

Lanjutan Cerita dari Viny di #AkuLanjutinYa



Ini lanjutan cerita yang Ratu Vienny Fitrilya buat di blog-nya. Cerita yang Vienny buat bisa dilihat di jkt48.com/blog/viny

Untuk Vienny, maaf, agak terlambat, aku mulai menulisnya jam 9 malam tadi dan baru saja menyelesaikannya dan langsung ku publis. Aku harap kamu bisa memaklumi sedikit keterlambatanku... Terima kasih...


~SAAT KAMU MERUBAH KU~

Bagaimana cara dia berbicara, bagaimana dia menatap dan tersenyum padaku, hingga hal-hal kecil yang dia sukai. Semua hal tentang dia, aku ingin mengenalinya lebih dekat. Mungkin hal-hal seperti inilah yang membuatku tertarik untuk terus memperhatikannya selama bertahun-tahun. “Ikki... Apa kamu tau? Aku sangat suka lagu ini.” Setelah beberapa saat terhanyut dalam alunan lagu, Viny memulai percakapan baru di antara kami. “Emh, ya. Aku juga berpikir sama. Meskipun aku baru pertama kali mendengarnya, tapi aku langsung bisa menikmatinya.” Aku mencoba bertutur sebisa mungkin tentang apa yang aku pikirkan, terlepas dari rasa gugup yang sebenarnya menekan batinku. Meskipun sebenarnya aku pemalu dan terlalu takut untuk berucap, aku berusaha sebisa mungkin untuk tak menunjukkannya di depan Viny.

“Eh, benarkah? Apa kamu suka lagu-lagu semacam ini?” Tanya Viny padaku. “Entahlah... Aku sangat jarang mendengarkan lagu-lagu seperti ini. Bukan karena aku nggak suka, sih...” “Lalu?” Viny memotong omonganku, seolah ia tak sabar untuk mendengar kelanjutannya. “Mungkin karena genre musikku yang berbeda.” “Oh ya? Apa kamu seorang pemusik, Ikki. Musik seperti apa yang kamu suka?” Viny memandang ku lekat tak sabar dengan jawaban apa yang akan ku keluarkan. Sedangkan aku, aku hanya menundukkan kepala mencoba menghindari tatapan matanya langsung. “Hip hop rapp... Tapi, aku bukan pemusik seperti yang kamu pikirkan.” “Lalu?” Tanyanya lagi. “Aku hanya pembuat lagu. Aku merekamnya, lalu membagikannya geratis di website yang aku punya. Itu saja, nggak lebih.” “Sepertinya itu keren. Aku jadi ingin mendengar mu membawakan lagu yang kamu buat sendiri.” Mendengar ungkapan dari Viny, aku sedikit terkejut mengetahui dia yang memiliki rasa penasaran padaku. “Boleh aku mendengarmu bernyanyi?” Ah, sesuatu yang ku khawatirkan terjadi, dia memintaku untuk bernyanyi di hadapannya. Aku hanya menggelengkan kepala untuk menolak permintaannya. “Kenapa? Kamu malu?” Tanyanya sambil tersenyum. Aku mengangguk pelan, tapi dia semakin menunjukkan senyumnya. “Ya, walaupun bukan sekarang. Aku ingin mendengarnya suatu saat nanti.” Aku tak bisa menjawab apa-apa, hanya tersenyum kecil dihadapannya.

Beberapa jam telah berlalu, aku masih saja jadi sosok pendiam di hadapannya. Termasuk sekarang di depan kafe ini, saat kami menunggu taksi untuknya. Aku hanya berdiri di smapingnya tanpa banyak mengajaknya berbicara. Tapi, semakin membisu mulut ini, semakin terukir penyesalan di dalam hati. Rasa sesal karena tak bisa menjadi seseorang yang menyenangkan baginya. “Viny...” Suaraku pelan memanggilnya yang sedang sibuk memperhatikan lalu lintas di jalanan. “Emh?” Viny hanya berucap kecil sambil menatap ku dan mengangkat kedua alisnya. “Entah kenapa, sejak duduk di dalam kafe tadi hingga kita berdiri menunggu taksi di sini, aku merasa kita sedang berada di dalam cerita fiksi.” Viny mengkerutkan dahinya, tak bisa mengerti tentang apa yang baru saja aku katakan. “Ya, rasanya aneh... Dua orang yang bertahun-tahun sudah bertemu, akhirnya memutuskan untuk bertemu di akhir tahun ketiga...” Aku berhenti sebentar dengan kalimatku, menahan rasa canggung yang sedang ku rasakan. “Lalu, berdiri menunggu taksi untuk sang perempuan seperti ini... Atau jangan-jangan, kita memiliki ending yang sama dengan cerita-cerita fiksi yang selama ini ku baca. Hanya pertemuan kecil yang berkesan, lalu berakhir begitu saja tanpa lanjutan karena salah satu di antara kita akan pindah ke luar kota.” Aku menundukkan kepala, mencoba menghindari tatapan matanya. “Eh? Hehe...” Viny tersenyum dan langsung menutupi bibirnya dengan novel yang sedari tadi ada di genggamannya. Melihatnya berusaha menahan tawa seperti ini, membuatku malu dan merasa bodoh karena telah mengucapkan kalimat aneh di hadapannya. “Kenapa kamu berpikir aneh seperti itu, Ikki? Jelas saja itu nggak terjadi... Aku tetap melanjutkan sekolahku di kota ini kok. Bagaimana denganmu?” “Aku? Mungkin aku juga sama dengan mu. Aku tetap melanjutkan sekolah di kota ini.” Syukurlah ku pikir, aku masih bisa bertemu dengannya di lain waktu.

Taksi yang kami tunggu masih belum datang, sementara kami masih berada di tempat yang sama menantinya. Angin yang bertiup menerpa helai rambutnya, membuat dia terasa cantik meski hanya berdiam diri. Ah, tiba-tiba saja aku ingin mengatakannya. “ Vin..” “Ikki...” “Eh?” Tiba-tiba kami memanggil satu sama lain dengan waktu yang bersamaan. “Kamu duluan aja yang ngomong.” Tuturnya tersipu malu. “Emh, aku?” “Iya, Ikki, kamu... Kamu mau ngomong apa?” Tanya Viny. “Ah, itu... Sebenarnya, aku mau bilang kalau aku selalu ingin melihatmu tersenyum... Sejak aku melihatmu pertama kali di kantin sekolah, aku merasa ingin terus memperhatikanmu.” Ah, kenapa aku mengucapkannya? “Eh?” Viny memasang ekspresinya yang terkejut, lalu menggantinya dengan senyuman yang biasa kujumpai darinya. “Ternyata kamu berani mengungkapkannya padaku.” Masih dengan senyumnya, kali ini Viny yang mengejutkanku, jangan-jangan selama ini dia selalu tau jika aku memperhatikannya. “Ikki... Apa setelah kamu mngungkapkannya, kamu ingin mengajakku menjalin hbungan khusus?” Aku yang belum sempat berkata apa-apa lagi, sudah harus menjawab pertanyaannya. “Emh, kalau itu... Mungkin aku akan memintanya...” Dengan setengah gugup aku mengakuinya. “Apa kamu mencintai ku, Ikki?” Viny tersenyum menanti jawabanku. Sedangkan aku hanya terdiam, seolah tak mampu menjawab pertanyaan yang ia suguhkan. 


Sabtu, jam tujuh malam...
Aku menutup novel yang sedari tadi ku baca. Ya, novel yang penulisnya adalah seorang Viny yang seminggu lalu ku jumpai di kafe itu. Bagimana bisa novel ini ada di tanganku? Ceritanya cukup panjang. Saat itu, saat aku mengungkapkan perasaanku padanya dan dia bertanya pada ku apakah aku mencintainya... Aku menjawab, aku tak tau tentang perasaanku yang sebenarnya terhadapnya. Tapi yang aku yakini, aku memang benar-benar menyukainya. Viny yang mengakui dirinya juga sangat menyukai ku pun berpikir dan memutuskan untuk kami menjalani hubungan yang seperti ini saja. Dia menyukaiku, sangat menyukaiku. Tapi, dia bilang aku masih terlalu penakut. Menatap matanya terlalu lamapun aku tak memiliki keberanian. Bahkan, dia berkata aku masih terlalu ragu untuk mengakui apa yang ada di dalam diriku sendiri.

Aku meletakkan novel itu di atas meja belajar. Aku beranjak untuk bersiap pergi ke kafe malam ini. Menemui dia, kah? Entahlah, dua hari yang lalu kami bertemu dan dia memintaku untuk datang ke kafe itu lagi malam ini. Apa alasannya memintaku seperti itupun, aku tak tau. Oborolan-obrolan yang terjadi saat itu terbilang biasa, tak banyak hal yang spesial. Yang berbeda hanyalah saat dia bertanya padaku, “jika suatu saat nanti aku menhilang. Apa kamu tetap menyimpan perasaan yang sama terhadapku?” Awalnya aku tak ingin menjawabnya, tapi ku pikir aku harus. “Kalau kamu tiba-tiba menhilang, aku akan tetap menjaga perasaan yang saat ini ku rasakan pada mu.”

Di dalam Kafe yang cukup besar itu, terlihat banyak pelanggan yang berdatangan. Terlihat lebih ramai dari biasanya, kondisi yang benar-benar membuatku merasa tak nyaman. Salah seorang pelayan kafe yang memperhatikanku dari jauh datang menghampiriku yang baru saja mengambil posisi duduk di salah satu sudut kafe. Pelayan itu bertanya apa aku yang bernama Iki. Setelah memastikan kebenarannya, dia memberiku sebuah amplop yang aku sendiri belum tau apa yang berada di dalamnya. Pelayan itu pergi, tapi aku tak langsung membuka amplop itu. Aku masih menunggu kedatangan Viny.

Setengah jam sudah aku menanti kedatangannya, tapi tak kunjung ku temui sosok Viny datang menghampiriku. Akhirnya, tanpa menunggu Viny aku membuka amplop itu... Apa ini? Sebuah surat? Aku membukanya. Tak banyak tulisan yang tertulis di dalamnya. “Aku tahu kamu bukan laki-laki lemah. Kamu hanya tak memiliki cukup keberanian untuk menghadapi sesuatu... Jika kamu tak mempercayai dirimu sendiri, siapa lagi? Cobalah sesuatu yang baru malam ini. Jika kamu tak bisa, yang kamu hadapi selanjutnya akan semakin berat... Saat kamu merasa telah menemukan kebodohan, temuilah orang yang baru saja menemuimu. Masih ada jalan lain untuk menebus rasa sesal... Aku selalu memperhatikanmu...”

Hanya itu yang tertulis, tak ada tertanda dari siapa pengirimnya. Isinyapun tak ku mengerti, meski berulang kali aku membacanya. Siapa? Apa yang dia maksud? Belum sempat aku menemukan jawaban dari kebingunganku, suara MC dari panggung kecil di sudut kafe itu mencuri perhatianku. “Selamat malam para hadirin. Seperti pada malam-malam minggu sebelumnya, kita akan dihibur oleh penampilan dari beberapa band indie. Langsung saja kita sambut penampilan dari bintang tamu pertama kita, Ikki Rain!” Ha? Aku terkejut saat MC itu memanggil namaku, atau mungkin hanya aku yang salah dengar? “Saudara Ikki Rain... Kami persilahkan untuk naik ke atas panggung...” Lagi, MC itu memang benar memanggil namaku. Kenapa bisa? Aku tak pernah mendaftarkan namaku sebagai bintang tamu penghibur. “Sekali lagi, kami meminta saudara Iki Rain untuk menghadirkan diri ke atas panggung... Apa saudara Ikki, sudah datang?” Ah, apa yang harus ku lakukan. Aku tak ingin pergi ke atas panggung itu. Keringat dingin mulai membasahi keningku. Aku bingung dengan apa yang harus ku lakukan. Jika aku terus disini, mungkin pelayan yang tadi mengantarkan amplop ini akan mendatangiku dan memintaku untuk bernyanyi di panggung itu. Tapi, kalau aku pergi, bagaimana dengan Viny yang sedang ku tunggu? Ah, sial... Menghubungi Viny pun aku tak bisa. Viny tak pernah memberikan kontaknya saat aku memintanya. Apa yang harus ku lakukan sekarang?

29 Desember...
Sudah hampir satu tahun berlalu semenjak malam itu. Entah apa yang terjadi, Viny seorang gadis pemilik senyum yang begitu ku kagumi tak pernah lagi terlihat oleh mataku. Semenjak malam di mana aku pergi dan menghindari untuk bernyanyi di panggung itu, aku tak pernah menemukan Viny. Aku merasa menyesal telah menjadi laki-laki yang bersikap penakut. Terlebih saat aku menyadari kalau surat yang datang kepadaku malam itu adalah tulisan tangan Viny, dan Viny jugalah yang menginginkanku untuk bernyanyi di panggung itu. Aku sangat menyesal, jika saja malam itu aku memiliki sedikit keberanian, aku pasti tak kehilangan Viny sekarang.

Beberapa kali aku pergi ke kafe itu, berharap bisa menjumpai sosok Viny di sana. Termasuk saat ini, aku duduk di kursi dimana pertama kali kami datang ke kafe ini berdua, berharap hari inipun bisa menjumpai dia. “Permisi, mau pesan apa, kak?” Salah satu pelayan kafe itu membuyarkan lamunanku dengan menyodorkan menu makanan. “Emh, iya... Ice blend coffe yang biasanya aja, kak...” Tanggapku cepat. “Ada tambahan lain?” Tanya pelayan itu lagi memastikan. “Itu saja...” “Baik, silahkan dtunggu, pesanannya segera kami antar.” Aku hanya tersenyum kecil pada pelayan kafe itu. Samar-samar aku mengingatnya, sepertinya dia, lah perempuan si pelayan kafe yang malam itu mengantarkan surat Viny kepadaku. Tunggu, aku tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Aku membuka ranselku dan mengambil surat yang selalu ku bawa itu. “Saat kamu merasa telah menemukan kebodohan, temuilah orang yang baru saja menemuimu.” Akhirnya sekarang aku mengerti apa yang Viny maksud dengan kalimat itu. Aku harus menemui orang yang malam itu terakhir bertemu denganku di dalam kafe, dan orang itu adalah perempuan yang baru saja menawarkan menu pesanan.

Pelayan kafe yang sama datang mengantar pesananku. “Ice bland coffe?” Tanya perempuan itu memastikan. “Iya, terima kasih...” Perempuan itu menaruh pesananku di meja. Sementara aku yang sedari tadi mengumpulkan keberanian, akhirnya memintanya untuk tetap tinggal sebentar. “Maaf kak, bisa minta waktunya sebentar. Ada yang mau aku obrolin.” Mungkin dia sedikit bingung melihatku yang biasanya hanya duduk diam hanya sekedar memesan minuman kini mengajaknya berbicara. “Oh iya, bisa kok. Tapi maaf, nggak bisa lama-lama, apa lagi harus duduk satu meja dengan pelanggan.” Jawabnya dengan sedikit penjelasan. “Oh, nggak apa kok, kak. Cuma mau tanya-tanya sedikit.” Syukurlah, dia bersedia. “Jadi begini, kak. Mungkin udah lama kejadiannya, udah hampir satu tahun yang lalu. Malam itu, kakak mendatangi aku untuk menyampaikan surat dari seseorang. Kakak masih ingat itu?” Sebenarnya aku ragu dengan jawaban yang aku harapkan, terlepas pelanggan di sini bukan hanya aku dan kejadian itu sudah hampir satu tahun berlalu. “Oh, iya. Saya ingat. Waktu itu kakak yang namanya di panggil untuk bernyanyi di sini kan?” Ha? kenapa dia juga memanggil ku dengan sebutan kakak? padahal aku juga memanggil dia kakak. Daripada itu, kenapa dia juga ingat kalau aku pernah diminta untuk naik ke panggung? Bukan itu kan, yang aku tanyakan. Tapi syukurlah, dia masih ingat. “Syukur, deh. Terus kak, perempuan yang menitipkan surat itu, apa dia ada menitipkan pesan lain?” Aku mulai mengorek informasi. “Hemm... Ada sih... Tapi dia Cuma bialang, ‘kalau dia ada tanya sesuatu, bilang aja halaman empat puluh delapan..’ Hanya itu yang dia katakan.” “Hanya itu? Serius?”

Di kamar... Aku yang berpikir keras selama perjalanan pulang dari kafe, akhirnya menyadari bahwa yang di maksud Viny adalah halaman empat puluh delapan dari novel yang dia tulis. Aku tak mengerti dan penasaran akan hal itu. Maka dari itu, aku membuka kembali novel yang sudah selesai aku baca itu. Tak ada hal yang aneh. Aku belum menemukan petunjuk dari paragraf-paragraf yang ada di halaman empat puluh delapan novel ini. Aku coba mencarinya dengan lebih fokus. Ada satu percakapan yang menyita perhatianku di novel ini. Kalimat yang di ucapkan gadis sang tokoh utama dalam novel. “Jika kau mencariku, datanglah ke sekolah. nomor tujuh dari dari kelompok ke sebelas.” Aku percaya inilah petunjuk yang di tinggalkan Viny pada ku meski aku sendiri belum tau bagaimana cara penerapan petunjuk ini dalam dunia nyata.


Sore, 30 Desember...
Sekolah, tempat di mana aku pertama kali melihat Viny. Aku yakin yang di maksud Viny adalah sekolah ini. Aku berjalan menelusuri koridor kelas  yang sudah sepi di tinggal para penghuninya, dan akhirnya aku berhenti di kantin tempat di mana tiga tahun yang lalu aku selalu melihatnya. Ah, tiba-tiba terbayang lagi senyuman itu, senyuman manis yang terlukis saat dia bersenda gurau dengan teman-temannya... Tidak, aku ke sini bukan untuk bernostalgia seperti ini. Ada hal yang lebih penting dari itu.

Aku mencoba mengingat kembali kalimat petunjuk itu. Otak ku buntu, tak ada satupun gagasan yang bisa ku cocokkan dengan lokasi ini. Ah, kenapa aku sebodoh ini. “Nomor tujuh dari kelompok ke sebelas?” Aku masih memikirkannya. “Rrrr! Meau!!!” Tiba-tiba dua ekor kucing muncul berkejaran melewatiku yang setengah terkejut melihatnya. Entah datang dari mereka, sepasang kucing itu meninggalkan jejak lumpur di lantai prselin kantin. Ya, lantai putih itu telah bercorak dibuatnya.

Tunggu, mereka memberiku petunjuk. Mungkin yang dimaksud Viny adalah susunan lantai ini. Dan mungkin saja Viny menaruh sesuatu di balik salah satu lantai porselin ini. Tapi, dari mana aku harus mencarinya? Aku mulai memetakannya dari pintu masuk sebelah kiri, menciptakan sebuah tabel dengan tujuh kolom dan sebelas baris, lalu mengecek porselin di kolom dan baris paling akhir. Ah, porselinnya tak bisa diangkat karena memang bentuknya masih baik-baik saja. Apa aku harus membongkarnya? Tapi aku pikir tidak mungkin Viny menaruh sesuatu di bawah porselin ini lalu memperbaikinya lagi sperti semula.

Merasa gagal dengan rencana pertama, aku mencoba merubah rumus tabelku dengan tujuh baris dan sebelas kolom, lalu memeriksa porselin di baris dan kolom terakhir. Ya, saat porselin itu ku injak, dia sedikit bergerak, sepertinya bisa ku angkat. Aku mencoba memasukkan ujung jariku ke sela-sela porselin itu. Bingo! Porselinnya bisa ku angkat dan aku menemukan tulisan yang dibuat dengan kapur di atas permukaan semennya. “Jalan 21 April. Festival kembang api.”

 Menjelang sore, di kantin kampus...
Aku meneguk coklat dinginku sudah hampir dari setengah gelas. Memandangi layar hendphone-ku, tepatnya memandang foto yang kemarin sore ku ambil di lantai kantin sekolah. Meski awalnya merasa bingung, tapi sepertinya aku tau apa maksudnya. Petunjuk yang di berikan Viny kali ini adalah nama tempat. Ada suatu jalan yang bernama april di kota ini, aku tau tempatnya, tapi yang di tulis Viny adalah jalan 21 april, bukan jalan april. Lalu apa maksud kalimat ‘festival kembang api’ yang di tulis Viny? Atau mungkin yang dimaksud oleh petunjuk ini memang jalan april, lalu angka 21 itu menunjukkan nomor bangunan. Festival kembang api, aku belum tau. Tapi, apapun itu, aku harus mencoba dengan setengah petunjuk yang telah terpecahkan.

Setelah berhasil lolos dari kemacetan kota hampir setengah jam...
Kakiku bergetar, berdiri di depan pagar rumah yang tak ku kenal siapa pemiliknya. Ya, ini adalah rumah nomor 21 yang ada di jalan april. Aku yang ragu karena gerogipun telah mengeceknya berulang kali. Saat ini aku tinggal menekan bel yang ada di sebelah pintu pagar, tapi aku belum melakukannya. Aku terlalu takut untuk melakukan hal sepele ini. Sempat terlintas, kenapa aku harus melakukan hal seperti ini? Tapi, saat aku hendak melangkahkan kaki untuk beranjak pergi, aku merasa takut menyesal untuk kedua kalinya. Aku melakukan semua ini terlalu jauh, aku harus berani mengakhiri semua ini dengan baik.

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk menekan bel yang sedari tadi hanya ku pandangi saja... Seseorang terlihat keluar dari dalam rumah. Dia sorang gadis yang sepertinya sebaya denganku. Dari luar pagar aku menyampaikan maksud kedatanganku. Setelah kehilangan rasa curiganya terhadap aku yang dia anggap orang asing, dia mengajak ku masuk ke dalam rumah untuk berbincang lebih dalam.

Dia, gadis yang akhirnya ku kenal dengan nama Nina, akhirnya kepadanyalah ku ceritakan semuanya. Sepertinya dia mengerti tentang apa yang ku alami saat ini, termasuk perasaan yang mungkin membawaku sampai ke tempat ini. Nina mengaku samar-samar mengenal nama Viny. Menurut pengakuannya, mungkin Viny adalah mahasiswi baru yang dia ospek di kampusnya. Lalu, tentang festival kembang api. Nina berkata malam ini ada festival kembang api yang ada di kampusnya. Aku yang merasa ini sangat cocok dengan petunjuk yang aku punyapun memutuskan untuk pergi ke festival itu malam ini, dan Nina dengan senang hati menemaniku.

Sekitar jam 10 lewat 30 menit, di kampus Nina.
Ternyata benar ada festival yang diadakan di sini. Aku melihat banyak remaja yang lalu lalang sedang menikmati festival ini. Suasananya begitu ramai, sempat terfikir aku tak akan menemukan Viny meskipun dia juga datang ke Festival ini. Tapi Nina yang mengetahui dengan detail kronologiku di sini berkata aku tak harus pulang dengan usaha percuma. Dia menunjukkan jarinya ke arah kejauhan, menunjuk sebuah panggung besar yang dimana ada sebuah pertunjukan musik dari salah satu band kampus itu. Bukan, bukan panggung atau band itu yang dia maksud, tapi sepanduk yang tergantung di sisi depan panggung itulah yang dimaksud nina. “Kamu harus mengikuti pertunjukan musik itu...” Nina berucap dengan yakinnya. “Maksudmu, aku harus bernyanyi di atas sana?” Tanyaku ragu. “Ya, aku pikir tujuan utamamu kemari adalah untuk bernyanyi di panggung itu. Bukankah itu yang Viny inginkan?” Nina menyadarkanku dari maksud sebenarnya kenapa aku datang kemari. Tiba-tiba isi dadaku sakit saat memikirkannya. Aku yang tak punya keberanian di hadapan banyak orang harus bernyanyi di panggung sebesar itu. Aku begitu takut untuk menghadapinya, tapi aku tak ingin berlari lagi. Aku yakin, Viny ingin melihatku, dia ingin mendengar aku bernyanyi, maka itulah aku harus menghadapinya.

Dengan sangat berat, aku mengiyakan untuk naik ke atas panggung itu. Aku dan Nina pun pergi ke tempat panitia penyelengara festival untuk mendaftarkan namaku sebagai band pengisi acara. Bukan sebagai band, tapi aku akan bernyanyi sendirian. Meski acara ini terbuka untuk siapapun, tapi tetap saja ada kemungkinan namaku di tolak karena jadwal panggung sudah penuh. Tapi syukurlah, masih ada kesempatan untukku. Itupun pada giliran terakhir dan hanya bisa membawakan satu lagu.

Jam 11 lewat 45 menit...
Di belakang panggung, aku sedang bersiap untuk penampilanku yang sebentar lagi. Aku sudah menyerahkan memori handphone-ku pada operator yang berisi musik instrumental yang ku buat agar nanti diputar untuk mengiringi aku untuk bernyanyi.

Seluruh tubuhku bergetar hebat, keringat dingin dan panas mengalir deras di tubuhku. Aku benar-benar terserang panik yang sangat hebat. Apa aku bisa? Apa aku berani? Bagaimana kalau saat tampil tak banyak yang memperhatikanku karena acara peluncuran kembang api sudah dimulai? Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh sangat menakuti diriku sendiri. Aku ingin membatalkannya saja, tapi saat aku ingin melakukan itu, bayangan Viny muncul. Aku tak ingin membuatnya kecewa.

“Penampilan terakhir, untuk malam ini... Ikki... Rain!!!” Jantungku terasa berhenti saat namaku di panggil. Salah satu Crew panggung mengarahkanku ke atas panggung... MC yang memanggil namaku baru saja menuruni panggung. Ternyata aku tak di ajak berbincang sebelum aku bernyanyi. Ah, aku harus tetap berjalan. Langkahku perlahan mulai mendekatkanku pada stand mic... Dari atas panggung aku menatap ratusan, atau mungkin hampir seribu penonton yang menyaksikanku dari bawah sana.

Alunan musik pengiring sudah dimulai. Ya, intro dari lagu Linkin Park... Aku akan membawakan lagu yang berjudul ‘in the end,’ lagu yang ku pikir banyak orang yang sudah mengenalnya...

One thing, I don’t know why
It dosn’t even matter how hard you try
Keep that in mind, I designed this rhyme
To explain in due time

Bait rapp pertama yang ku lantunkan. Aku terlalu gerogi hingga sedikit salah saat menempatkan rima dalam melantunkannya. Tapi bait-bait demi bait yang selanjutnya aku sudah mulai terbiasa. Aku sudah mulai bisa mengendalikan diri agar tak terlalu termakan gerogi...

Sambil terus melantunkan teknik rapping seperti yang dilakukan Mike Shinoda, rapper Linkin Park, mataku terus menyorot barisan penonton yang ada di bawah sana. Beberapa ada yang ikut menyanyikannya. Tapi bukan pemandangan itu yang ku cari. Aku mencari sosok serong gadis di kerumunan penonton itu. Tak ku dapati sosok Viny.

Tibalah aku di akhir reff lagu... Saat dimana aku harus mengeluarkan semua suaraku dengan nada setinggi-tinggi yang aku bisa.

I tried so hard
And got so far
But in the end
It dosn’t even matter

I had to fall
To lose it all
But in the end
It dosn’t even matter

Ya, aku berhasil mengakhirinya. Meskipun suaraku tak semirip dan setinggi Chester Benningston, aku rasa aku telah mengakhirinya dengan baik...

“Ikki... Ikki... Ikki...” Suara penonton yang menyorakkan namaku telah menggantikan outro musik yang baru saja berakhir. Entah mengapa mereka meneriakkan namaku berkali-kali. Apa benar mereka menyukai nyanyianku?

MC yang membawakan acara naik ke atas panggung menghampiriku dan menenangkan suara riuh penonton. MC sempat menanyakan apa mereka suka dengan penampilanku? Karena penonton menjawab suka, MC meminta ku untuk menyanyikan satu lagu lagi, berhubung memang masih ada waktu sedikit sebelum acara peluncuran kembang api dimulai. Aku pun meng iyakan untuk membawakan satu lagu lagi. Lalu aku membisikkan MC agar dia memberi intruksi tentang musik instrumental apa yang harus di putar dari memoriku oleh operator. MC turun, alunan musik pun telah diputar. Pada pembukaan lagu, aku melakukan sedikit musikalisasi puisi sebelum aku menyanyikan lagu ini yang ku buat sendiri. “Kala hati merasakan gejolak tak menentu, saat itulah aku ingin menyanyikan lagu ini untukmu, Viny...”

Saat ku melihat dunia
Aku hanya ingin melihatmu
Mungkin aku hanya bermimpi
Tetapi senyumanmu adalah kenyataan

Pada awalnya, aku menutup mataku, aku mulai meresapi bait yang sedang ku nyanyikan... Perlahan, aku mulai membuka mata, yang ku lihat pertama kali saat itu adalah Viny... Dia berdiri di barisan penonton paling depan, melihat ke arahku sambil tersenyum manis... Senyum yang telah lama ku rindukan.

Aku mungkin terbangun
Tapi ku tetap memimpikanmu...

Nada panjang ini, mengantar ku pada dalamnya rasa haru. Perasaan bahagia saat aku bisa menemukannya kembali. Entah apa yang aku rasakan saat itu, air mataku perlahan menetes membasahi pipiku...

Mencintaimu...
Adalah yang terindah, menutupi kerapuhan
Memimpikan bersama mu, untuk ku...

Mencintaimu...
Adalah hal terindah, hapuskan goresan luka
Tak mampuku hapuskan mu, lupakan mu...

Dengan air mata yang terus coba ku hapus dari pipiku, di penghujung lagu aku langsung cepat berjalan meninggalkan panggung. Disaat yang sama... Viny, dia dengan susah payahnya menerobos barisan penonton, berlari ke belakang panggung untuk menemuiku... Tanpa mengucapkan apapun, dia langsung memeluk tubuhku. Aku yang tak bisa berkata-kata lagi, membalas pelukannya dengan erat...

“Sudah ku bilang, kan? Kamu, bukan laki-laki lemah, kamu telah membuktikannya...” Suara Viny terdengar agak sedikit terputus. Aku merasa ada sesuatu yang membasahi salah satu bahuku. Mungkinkah ini air mata miliknya? “Aku... aku...” Entah apa yang ingin ia ucapkan. Suaranya terhenti di dalam dekapanku, dan dia seperti tak mampu melanjutkannya. “Terima kasih... Kamu membuatku berani untuk menghadapi semuanya...” Suaraku terputus, aku kembali menangis. Bahkan, saat itu aku tak perduli lagi berapa banyak pasang mata yang memperhatikan kami. Yang aku rasakan saat itu hanyalah betapa bahagianya aku bisa menemukannya kembali. Gadis dengan senyuman indah yang sempat hilang dari hadapanku...

“Maafkan aku, waktu itu aku menghilang dari hadapan mu...” Suara Viny terdengar samar, tapi aku bisa mendengarnya jelas. “Ya, aku sekarang mengerti... Kenapa kamu meninggalkanku... Kamu ingin merubahku menjadi lebih baik... Sekarangpun, aku sudah tau apa yang sebenarnya aku rasakan... Aku, mencintai mu... Viny...”
"Em... Aku, aku juga mencintai mu Ikki..."

Terdengar suara letupan di atas langit, kembang api satu persatu dan semakin banyak telah diluncurkan ke angkasa... Aku dan Viny saling melepaskan pelukan. Tapi Viny, dia menggenggam jemari ku erat. Bersamanya, aku memandangi langit yang dipenuhi oleh warna. Seperti langit saat itu, perasaan ini riuh meluap... Mungkinkah dia yang baru saja mengunkapkan perasaannya juga merasakan hal yang sama sepertiku? Aku menoleh kearahnya, dan dia tersenyum memandangi langit itu...

Aku berharap bisa terus melihat senyuman itu...