14 April 2015

DS Pareo adalah Emerald dan Sesuatu yang Baru Ku Sadari


                 Holla... Nama aku Safe (baca; Sef), tapi sering di panggil Panca, dominan juga di panggil Ogi... Artikel kali ini, aku mau pakai buat cerita tentang dirrect selling JKT48 Pareo adalah Emerald di kota Malang. Biasanya, kalau orang lain cerita tentang DS pasti singkat dan padat. Aku mau panjangan dikitlah dari pada yang biasanya, atau mungkin juga bakalan sangat panjang. Maklum, maunya cerita dengan detil, sedetil mungkin.
                Awalnya, tanggal  9 april malam-malam di kamar aku lagi iseng buka twitter, biasalah mantengin tweet-tweet member yang lewat di time line. Nah, waktu itu ada salah satu following-ku yang nge-retweet tweet dari entah akun siapa, intinya tweet itu ku baca sekilas dan aku langsung scroll down. “Ha?” Tiba-tiba aku tersadar dengan apa yang aku lewatkan tadi, ku baca ulang. Di situ aku agak shock, ternyata tweet itu ngasih tau kalau tanggal 12 april ada direct selling di kota Malang. Aku yang awalnya ngeluh “kenapa nggak pernah direct selling ke Malang?” berasa nggak percaya dan langsung cek kebenarannya di time line-nya akun resmi Official Team JKT48. Ternyata benar, ada tweet yang ngasi tau tentang itu. Akhirnya, setelah percaya, aku cari info lagi siapa member yang bakalan ikut direct selling ke Malang. Waktu itu aku ngarep banget oshi-ku Veranda (Ve) yang datang, karena kebetulan dia juga belum ikut direct selling Pareo adalah Emerald selain di theater. Menurut situs resmi JKT48, itu masih di rahasiakan, tapi ada beberapa tweet yang bilang kalau member yang ikut itu Rona (Ayen),Elaine (Ilen), sama Melody (teh Melo/Melody). Sempat kecewa karena bukan Ve yang datang. Tapi ku pikir nggak apa deh, toh ada teh Melo yang selama ini ada di urutan ke-5 di top chart yang aku buat sendiri. Sementara Ve menduduki top chart teratas dan belum pernah tergantikan oleh siapapun.
                Kembali ke topik utama. Setelah mencari data dan merasa sudah tau jadwal dan tempatnya, sekitar jam dua belas malam aku beranjak ke kasur dan hendak tidur karena besok harus kuliah pagi. Tiba-tiba ada hal yang udah lama nggak pernah aku alami. Waktu aku kepikiran sebentar lagi aku punya kesempatan untuk ketemu dengan idolaku, dadaku terasa sakit, detak jantungku semakin terasa detaknya, dan pikiranku nggak bisa lepas dari bayang-bayang teh Melo. Ada perasaan nggak percaya kalau aku sekarang punya kesempatan itu. dan hal itu buat aku nggak bisa tidur sampai lewat dari jam empat pagi.
                Besoknya, sekitar jam sepuluh pagi Maulana (Sulaiman), teman sekelasku dan kebenaran dia juga seorang fans JKT48 (oshi-nya teh Melody) datang dan membangunkanku. Dengan berat aku paksakan untuk bangun. Setelah rasa ngantukku hilang, aku mulai bercerita sedikit menyinggung masalah direct selling yang di adakan hari minggu nanti. Awalnya aku cuma tanya daerah Tidar (nama jalan tempat DS di selenggarakan) di mana. Dia jawab dengan angan-angannya antara tau dengan nggak. Lalu waktu aku bilang hari minggu ada direct selling di Malang, dia keliatan sedikit terkejut, tapi aku rasa dia sedikit menyembunyikan rasa kagetnya dengan sok stay cool. Entah apa lagi yang dibicarakan, yang jelas aku ngajakin dia untuk pergi ke event itu. Awalnya dia nolak, tapi aku coba bujuk lagi ”Ayolah... Aku bisa aja berangkat kalau kamu nggak ikut. Tapi bah, kalau sama orang lain itu nggak enak. Aku maunya pergi sama wota juga.” Akhirnya dari situ dia bilang iya untuk ikut direct selling sama aku.

Kepala Sulaiman dengan helm wota-nya

                Malam sebelum direct selling, kebiasaanku mulai lagi, kalau gerogi pasti isi dadaku sakit dan pikiran jadi gelisah. Sekali lagi aku nggak bisa tidur padahal besok harus bangun agak pagi. Pikiran-pikiran dan imajinasiku yang memutar adegan-adegan ketemu dengan teh Melo mulai menghantui. Aku berusaha menghilangkannya dan berusaha untuk tenang. Akhirnya, setelah lewat dari jam empat pagi aku bisa tertidur.
                Minggu, 12 april aku bangun jam delapan pagi. Setelah sedikit bersantai akhirnya aku putuskan untuk mandi, dan saat aku kembali ke kamar, Sulaiman udah datang. Jam setengah sepuluh pagi, aku dan Sulaiman berangkat ke kontrakan dia karena Sulaiman mau ganti pakaian. Di kontrakannya, Sulaiman sekali lagi buka google map dari laptopnya untuk memastikan tempat direct selling diselenggarakan. Akhirnya, pukul 10.10 kita on the way menuju lokasi. Selama di perjalanan aku sedikit panik, takut terlambat. Maklum saja, informasi awal yang aku terima, acara di mulai jam sepuluh pagi. dan semalam Sulaiman nyuruh aku cek di website, dia bilang acara di mulai jam sebelas pagi.
                Pukul 10.30 kita udah berhasil sampai di lokasi, tepatnya parkiran Elfara FM. Baru aja sampai, terdengar suara perempuan dari pengeras suara. Dalam hati “wah, suara teh Melo.” Dari situ kita langsung menuju sumber suara, ternyata teh Melo, Ayen sama Ilen lagi on air di radio, dan udah numpuk banget wota (sebutan tidak resmi untuk fans JKT48) di luar studionya lagi ngintip-ngintip member. “Oh, rupanya jam sepuluh itu on air. Lalu jam sebelasnya baru DS mulai” gemaku dalam benak. Aku dan Sulaiman iseng aja deketin kerumunan itu, mungkin aja bisa liat member dari luar kaca jendela. Ternyata nggak bisa, terlalu penuh sama para wota. Sambil nunggu, kita ngobrol-ngobrol ngebahas keanehan dan keunikan tingkah laku wota yang ada di situ. Lalu Sulaiman tanya “Kenapa kamu nggak pakai kaos JKT48-mu tadi?” “Nggak ah, biar nggak ketahuan kalau aku wota. biar juga ntar nggak sama kayak yang itu...” Aku ngelirik wota yang ada di dekat situ, dia pakai kaos hitam yang bertuliskan embel-embel JKT48 berwarna kuning. Secara font type dan warnanya sih, sama dengan yang aku punya, tapi tulisan yang nempel di kaos itu yang beda.

Suasana di sela-sela on air
-gambar diambil dari twitter @melodyJKT48

                Pukul 10.55 on air selesai, member keluar untuk menyapa para fans. Setelah ngobrol-ngobrol sedikit, termasuk neriakin yel-yel JKT48, ada fans yang tadi ku lihat bawa kue tar dengan lilin berbentuk angka 19 di atasnya, fans itu maju dan menyerahkannya pada Ilen (walaupun aku nggak liat karena aku ada di barisan belakang, tapi aku tau itu yang terjadi) yang beberapa hari kemarin ulang tahun. Di situ tiba-tiba semuanya nyanyiin lagu happy birthday untuk Ilen (terkecuali aku sama Sulaiman, kita sok stay cool). Aku coba lirik-lirik ke depan, kelihatan kalau Ilen nutupin mukanya dengan kedua tangannya. Nangis atau nggak, aku nggak tau. Setelah itu, Ilen sempat bilang. “Terima kasih ya semuanya... Aku bangga sama kalian. Aku sayang kalian Semua...” Wah, ilen pasti terharu tuh.

Ini foto yang diambil setelah Ilen dapat kejutan dari fans
-gambar diambil dari twitter @H_ElaineJKT48

                Memeber masuk lagi ke dalam dan seorang laki-laki (entah siapa) mengumumkan lewat microphone kalau direct selling bentar lagi di mulai. Sebagian dari wota yang ada di situ mulai berjalan pelan ke arah samping bangunan (dalam pikiranku, ini pasti mau bentuk antrian). Aku yang nggak mau ketinggalan langsung nyuruh Sulaiman untuk cepat jalan ke arah antrian yang baru mau di bentuk. Alhasil, kita dapat posisi di tengah-tengah barisan. Ya ampun, panas banget kena terik sinar matahari.  Setengah jam kita ngantri akhirnya sampai juga didepan tempat pembayaran dan pengambilan kupon. Ya, kupon itu yang nanti di serahkan ke member sebagai bukti pembelian, satu kupon untuk satu CD. Setelah dapat kupon, kita masih ngantri lagi untuk masuk ke ruangan. Baru aja ngantri, tiba-tiba ada orang yang minta ijin sama Sulaiman yang posisinya tepat di depan aku. “Mas, boleh saya di depan sampean? Soalnya biar saya bisa barengan sama teman saya.” Maksudnya orang yang ada di depan Sulaiman itu temannya orang itu. Sulaiman yang baik hati mempersilahkan orang itu. Masih di dalam antrian, pertiga-tiga orang bergantian di persilahkan masuk untuk menukarkan kupon yang di miliki dengan CD. Saat itu, Orang yang di depan Sulaiman sisa dua orang. Dua orang itu di suruh masuk, termasuk Sulaiman. “Ha? Sekarang aku yang paling depan?” Aku jadi bingung sendiri setelah di tinggal Sulaiman.

Nah, ini foto yang aku suruh Sulaiman ambil dari tengah-tengah antrian bisa di liat di twitter @Safe_LDR_Oshi

                Giliranku tiba, aku melangkah dan di ikuti dua orang di belakangku. Dalam perjalanan aku berpapasan dengan Sualiman yang baru selesai gilirannya. Sulaiman sempat bilang “Kamu dapet teh Melody!” Aku yang bingung dengan maksud perkataan Sulaiman, terus aja jalan. Sampai di tempat, ada penjaga yang tiba-tiba ngarahin aku untuk langsung ngambil barisan ujung, ngelewatin Ilen dan Rona tanpa menoleh ke arah mereka... Di situ aku langsung shock... Aku dapat bagian direct selling sama teh Melody. Aku yang di sepanjang barisan antrian tadi enjoy-enjoy aja, mendadak gerogi. Teh melo dengan ramahnya menyapa aku. “Haloo...” Sambil melambai, teh Melo ngucapinnya dengan muka yang ceria banget. Aku benaran nggak tau ekspresi aku waktu itu kayak gimana. Yang aku pikirkan cuma “ini ya teh Melody? Kok kayak gini? Dia lebih cantik dan lebih bersih dari yang selama ini ku lihat di foto.” Di hadapan teh Melo, aku Cuma diam nggak tau harus ngapain. Tatapan matanya yang teduh, pupil hitamnya yang menyorot langsung padaku membuat aku seperti sedang tersihir. Syukurlah, teh Melo ngajakin aku ngobrol duluan saat itu. “Hei, namanya siapa?” Masih dengan senyumnya, teh melo nanyain nama aku, sedangkan aku yang semakin gerogi di buatnya menjawab dengan terbata, “Safe... Teh...” Mungkin suaraku waktu itu terlalu kecil dan susah untuk teh Melo mendengernya. “Ha? Siapa?” Teh Melo mengulang pertanyaannya sambil sedikit mendekatkan telinga kirinya ke arahku. Aku pun mengulang jawabanku yang sama tapi dengan nada yang sedikit lebih keras. “Safe, teh...” Kali ini aku yakin teh Melody dengar dengan jelas, tapi teh Melo malah salah mengartikan namaku. “Oh, Chef... Bisa masak, dong.” “Ha? Nggak, kok teh...” Jawabku singkat. “Oh, kirain kamu bisa masak.” Kalimat yang terdengar singkat, tapi teh Melo mengatakannya dengan sebuah rima yang bisa ku ingat sampai sekarang ini.
                Aku nggak tau, berapa lama durasi yang udah terlewati. Tapi yang jelas, semuanya terasa terlalu cepat. Mungkin karena aku terlalu fokus memperhatikan teh Melody. Aku terlalu terhanyut dalam kekagumanku padanya saat itu. Mungkin memang sudah seharusnya di akhiri. Teh Melo, mengambil sebuah CD Pareo adalah Emerald berwarna dominan hijau dari bawah meja dan meletakkannya di atas meja. Menyodorkannya padaku, tapi tatapannya mengarah kepadaku, nggak sedikitpun menoleh ke arah CD yang dia pegang di atas meja. “Terima kasih ya, sudah datang.” Tutur teh Melo masih dengan senyumnya. Aku hanya melihat CD itu sekilas, menggapainya dan secepatnya ku kembalikan tatapan mataku pada teh Melody.  Ada perasan nggak rela melepas tatapan yang telah menyatu ini, tapi entah kenapa dengan sendirinya kakiku melangkah pergi meninggalkan teh Melody. Mungkin karena dua orang yang datang bersamaku tadi sudah lebih dulu pergi ke luar. Aku melewati Ayen, dia tersenyum padaku. Aku yang masih belum sadar dari shock berkepanjanganku, nggak balas senyum Ayen yang dia persembahkan manis untukku. Bahkan, saat aku melangkah melewati Ilen, aku malah menolehkan pandanganku ke belakang. Berharap masih bisa mengambil jangkauan mata kepada Teh Melo di saat-saat terakhir. Yang ku dapati, teh Melo tersenyum melambaikan tangan padaku, sambil berkata lagi “Terima kasih ya...”
                Aku melangkah ke luar ruangan sambil tertunduk menatap CD yang sedang ku genggam dengan kedua tanganku. Di luar, aku langsung menuju tempat dimana Sulaiman menunggu ku. Sesampainya pada Sulaiman, aku tersadar kalau seluruh badanku sedang bergetar hebat, sampai Sulaiman pun menyadarinya. Aku nggak ingat jelas percakapan yang terjadi waktu itu. “Gimana?” Sambil memandang tanganku yang bergetar, aku menjawab pelan “Teh Melo...” Mungkin Sulaiman semakin sadar kalau aku lagi terserang gerogi, dia berkata “Udah, santai-santai dulu... Rokokan dulu...” Aku meraih tas yang di bawa Sulaiman, dan yang pertama aku ambil dari tas itu adalah air minum. Aku butuh itu untuk menenagkan diri.
                Kita pergi menjauh dari keramaian dan duduk berteduh sambil rokokan. Di situ, meski udah mulai tenang, tapi badanku belum sepenuhnya berhenti bergetar. Sulaiman cerita-cerita tentang gimana dia di dalam tadi. Dia bilang dia dapat bagian direct selling sama Ilen. Dan dia sempat hi touch (tos) sama teh Melody. Mendengar cerita Sulaiman, aku mendadak teringat sesuatu. Aku nggak sempat minta hi touch sama teh Melo. Aku lupa... Padahal dari awal itu tujuanku, dan aku juga yang kasih tau Sulaiman kalau DS itu boleh minta hi touch sama member. Aku kecewa dengan diri aku sendiri yang selalu kemakan gerogi. Ada rasanya pengen ngantri lagi, tapi kepikiran itu berarti aku harus relakan uang yang ku simpan untuk beli Varsity official JKT48. Selain itu, kalau aku ngantri lagi berarti aku harus buat Sulaiman nunggu aku. Aku coba diskusi dengan Sulaiman dengan apa yang harus ku lakukan, tapi apa yang dia jawab benar-benar nggak ngebantu aku. Aku benar-benar dilema.
                Aku nggak ingat itu jam berapa, mungkin setengah satu siang. Kita berdua berencana pergi dari tempat itu untuk istirahat makan siang di luar. Nggak perlu banyak berunding, kita berangkat dan balik lagi ke situ jam setengah dua. Waktu balik ke situ pertamanya bingung, “ini lagi apa ya?” “Kok mereka kayak ngantri, tapi kayak nggak ngantri juga?” “DS-nya masih lanjut atau udah bubar?” Akhirnya pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya. Ternyata waktu itu direct sellingnya lagi break, mungkin member istirahat makan siang dulu, dan mereka yang lagi berdiri berantakan di tempat antrian itu lagi nunggu direct selling sesi dua di mulai.
                Iseng-iseng aja, sambil rokokan aku sama Sulaiman liat-liat lapak yang jualan Photopack (PP) sama CD original JKT48. Aku sempat tertarik dengan jejeran PP yang di jual murah, 15k/pp, dan kalau kita beli tiga cuma di kenakan harga 25/k.  Sayangnya, aku Cuma tertarik sama PP Veranda. Karena nggak ada satupun stok PP Veranda yang mereka jual, jadinya aku nggak beli... Dari situ kita duduk di atas semen (tepian parit yang nggak ada airnya). Di tempat itu, aku yang masih kecewa dengan kebodohanku tadi masih terus menghujat diriku sendiri. Betapa bodohnya aku nggak minta hi touch, padahal aku pengen banget ngerasain nyentuh jemari teh Melody. Aku berdiri dan melihat ke arah antrian, aku melihat celah dan itu membuatku berani untuk menghapus dilema yang sedari tadi menyiksa pikiranku. Meski ragu, aku berbisik kepada Sulaiman. “Man, temanin aku yuk. Aku mau ngantri lagi.” Jeda, aku dan Sulaiman yang sepertinya mengerti maksudku, menoleh ke arah antrian. “Kamu mau ngantri lagi?” “Iya... Temanin aku yuk, kita masuk ke tengah antrian biar bisa cepat, mumpung masih berantakan nggak ada orang yang sadar.” Sulaiman diam memperhatikan antrian itu. “Ayolah, temanin aku. Inilah alasan aku maunya berangkat ke sini sama kamu. Karena kalau sama teman lain, mereka nggak mau sampai selama ini. Ayo...Nanti kalau udah mau sampai dekat antrian kupon kamu boleh pergi. Dari pada kamu duduk di sini sendirian.” Paksaku smbil mendorong pelan badannya.
                Akhirnya, kita ngantri lagi dan Sulaiman nemanin aku di antrian sampai dekat batas akhir antrian kupon. Sempat khawatir kehabisan stok CD, karena tepat saat sebentar lagi aku dapetin kupon, petugas pergi ke dalam ruangan dan ninggalin kita yang lagi ngantri kupon. Di dalam ada sedikit keributan. Ternyata, ada wota yang buat heboh. Jujur, ini tipe wota yang aku benci. Wota satu ini beli seratus keping CD, dengan harga delapan juta rupiah. Mungkin wota seperti ini menguntungkan Official dan JKT48 karena dia membuat CD sudah pasti terjual dengan cepat. Tapi Wota yang kayak gini merugikan sekitar seratus wota lainnya karena dia mengambil jatah CD yang seharusnya bisa di beli sama wota yang lain. Aku nggak suka banget, tapi sudahlah, itu memang hak dia selagi dia nggak merugikan materi orang lain.

Ini kita lagi ditengah antrian sesi dua yang masih acak-acakan. Oh ya, twitter sulaiman @m_maulanaa48

                Syukurnya antrian masih di lanjutkan karena stok CD masih ada. Lagi-lagi aku paling depan sendiri, itu artinya ketemu teh Melody lagi. Yes! Tapi tiba-tiba ada cewek-cewek datang (ladies first) dan masuk. Tapi syukurlah, pas banget tiga orang, berarti posisiku nggak berubah hitungannya. Tapi tiba-tiba aku mendadak kecewa karena datang satu cewek lagi. Duh... Aku kecewa karena aku masuk sama dia, dan dia posisinya di depanku. Sambil nunggu giliran, aku beraniin diri buat minta ijin. “Maaf mba, mau tukeran nggak?” Tanyaku beraniin diri. “Maaf, saya pengen ketemu Melody.” Mendengar jawaban itu aku langsung menjawab “Oh iya, iya.” Nadaku cepat seperti nggak mau ada lagi lanjutan dari suara cewek itu. Aku berusaha meredam kekesalanku dan melangkah masuk.
                Begitu aku dan rombonganku masuk, Ilen nyodorin tangannya dan aku spontan ngambil tos dari dia seperti yang barusan cewek di depanku lakuin. Saat giliran tos dengan Ayen, perhatianku nggak di dia karena teh Melody melihat ke arahku dan berkata “Haloo... Eh, balik lagi...” Senengnya... Ya, meskipun kata ‘halo’ itu di ucapkan secara universal, tapi aku yakin kalimat selanjutnya spesifik untuk aku. Dari situ, aku berhenti di hadapan Ayen, dan  teh Melo langsung ngeladen si cewek. Ayen langsung nyodorin CD ke arahku. Waktu aku ambil, Ayen sempat nanya, “Voting nya untuk siapa, nih?” Melihat dia tersenyum, aku menjawab “Mau Voting untuk kak Veranda. “Oh, kak Veranda ya...” Entah apa yang kami pikirkan saat itu. Aku dan Ayen hanya saling bertatapan mata tanpa berucap apapun lagi. Ayen tersenyum padaku. Aku hanya menatap mata bulatnya yang terkesan lucu, dan entah aku sendiri nggak tau apakah saat adegan saling bertatapan mata itu terjadi, aku tersenyum padanya atau nggak. Tapi kayaknya nggak, deh...
                Cewek yang DS dengan teh Melo bergerak pergi, sedangkan cowok yang tadinya sama Ilen itu udah bergeser hendak hi touch dengan Ayen yang ada di hadapanku, itu artinya aku juga harus pergi. Aku meninggalkan Ayen tanpa pamit dan berkata apapun. Aku sempatin diri nyamperin teh Melody... “Teh...” Panggilku pada teh Melody. Sambil melemparkan senyumnya, teh Melo mengangkat tangan kanannya, akupun langsung menyambar tangannya. Meski  aku berusaha nggak ngelakuinnya dengan keras, tapi teh Melody yang menyambut kedatangan tanganku dengan tenaga yang cukup kuat. Yang aku rasain saat itu, telapak tanganku terasa pedas akibat tubrukan yang terjadi di telapak tangan kami, tapi masih bisa ku rasakan sedikit kelembutan dari tangan teh Melody. Aku melemparkan senyumku dan pergi menjauh. “Terima kasih ya...” Saat mendengar itu aku menoleh ke belakang, melihat teh Melo melambaikan tangannya. Aku merasa bahagia, meski nggak segerogi yang sebelumnya, tapi tanganku tetap bergetar.  Aku terus memandang telapak tanggan kananku sambil terus berjalan. Kekecewaanku terhadap diri sendiri sudah ku lunasi sekarang...
Semuanya terjadi begitu cepat, detik-detik berharga yang baru saja ku alami, membuat aku ingin tersenyum. Aku nggak pernah menyangka sebelumnya, kesempatan untuk bertemu dengan salah satu idolaku terjadi begitu mendadak, bahakan mentalku pun belum sempat ku persiapkan.

Suasana masih ramai menjelang DS sesi 3 meski udah sore dan mau hujan

CD yg ada PP Shania (kiri) itu punya Sulaiman, sisanya PP Yupi sama Dhike

Udah nggak geneteran dan waktunya foto-foto

Jangan lupa follow aku di @Safe_LDR_Oshi

Udah kayak preman duduk di tengah keramaian. Kalau ada motor lewat, motornya yang nepi ngindarin kita berdua.

~0~

Foto yang aku suka, aku ambil dari G+ teh Melody

Sesuatu yang dengan cepat menjadi kenangan manis. Direct selling yang belum pernah terbayang sebelumnya. Sebuah event yang baru pertama kali aku ikuti selama bertahun-tahun aku menjadi fans JKT48. Dan ini merupakan pertemuan pertamaku dengan salah saru member yang aku idolakan. Meskipun aku sangat berharap bisa bertemu Veranda, tapi bertemu seorang Melody Nuramdhani pun memiliki hikmah lain yang sebenarnya bukan sebuah kebetulan.
Sudah lebih dari satu hari berlalu semenjak hari itu. Tapi aku terus terpikirkan tentang teh Melody. Bayangan wajah teh Melo yang keindahannya membuatku nggak berdaya, suaranya yang menyapa dengan lembut, dan senyumnya yang begitu ikhlas melengkung di bibir manisnya.
Kembali mengingat masa lalu, awal dimana debut heavy rotation perdana muncul di kalangan pendengar musik kita. Saat itu adalah saat dimana JKT48 baru terbentuk dan langsung booming dengan heavy rotation-nya. Saat itu, nama Melody adalah nama pertama yang aku kenal di antara sekian banyak member. Dan, kesan pertama yang ku dapat dari dia adalah “antagonis.” Ya, dia terlihat seperti sosok perempuan jahat yang tersenyum demi mendapatkan perhatian dari banyak orang, seperti itulah yang aku pikirkan saat itu tentang dia.
Waktu berlalu, dan aku mulai mengenal sosoknya lebih dari yang sebelumnya. Perlahan sosok antagonisnya yang melekat di pikiranku mulai terhapus dari mainset-ku. Meski aku nggak terlalu mengidolakannya, tapi aku memperhatikannya. Perlahan aku mulai menyadari, teh Melo itu tipikal perempuan pelindung, sosok keibuan bagi adik-adiknya. Perempuan cerdas yang memiliki kedewasaan penuh. Perempuan cantik yang selalu menyayangi orang-orang di sekitarnya. Aku selalu memperhatikan bagaimana cara dia berbicara, bagaimana cara dia berkomunikasi dengan para fans ataupun dengan sesama member. Selama ini aku selalu melihat dia memberikan kasih sayang pada seseorang, dan aku semakin menyadari arti keberadaannya itu. Tapi meski begitu, aku tetap tak mengagumi dia begitu dalam. Dalam waktu yang lama, dia hanya mampu menempati urutan ke lima dari jajaran oshi-ku. menurutku teh Melo merupakan kriteria yang masih jauh dari seorang Veranda, dan aku rasa nggak ada satu memberpun yang mampu memikat hatiku seperti Veranda yang terus membuat aku jatuh cinta.
Pertemuan pertama dengan teh Melo, membuat aku yang sebelumnya hanya melihat dia memberikan kasih sayang kepada orang lain, kini membuatku ikut merasakan bagaimana rasanya di sayangi oleh teh Melody. Hingga akhirnya, meski berat mengatakan, meski mencoba menolakpun, aku harus mengakui... Aku menyukai teh Melody... Atas apa yang dia lakukan kemarin di hadapanku, membuat aku jatuh cinta kepadanya. Meski berat mengakuinya, tapi aku merasa harus. Aku takluk dengan senyumannya yang menghujam hatiku. Teh Melo membuat aku terus membayangkan sosoknya hampir di setiap saat. Dan aku rasa, perasaanku terhadap teh Melo begitu dalam, sampai aku bisa mengakuinya, dia satu-satunya member yang mampu membuatku terpikat hingga hampir seperti seorang Jessica Veranda memikatku dahulu...
Pareo adalah Emerald, sebuah lagu cinta yang begitu ku suka. Aku selalu menyanyikan lagu ini di dalam hati saat aku mulai merasakan luapan perasaan aneh saat aku mengingat teh Melody. Karena menyanyikan lagu ini membuat aku merasa lebih baikan. Lagu ini benar-benar menggambarkan perasaanku yang sedang jatuh cinta terhadap teh Melody. Entah dengan siapa aku harus bercerita. Entah siapa yang akan mengerti perasaanku saat mengetahui ceritaku. Aku hanya bisa mengungkapkan perasaanku dengan tulisan ini. Dan, yang terakhir aku ingin berbagi cerita bagaimana lagu Pareo adalah Emerald bisa mewakili perasaanku terhadap teh Melody. Di bawah, aku mencoba menterjemhakan jalan cerita dan lirik lagu Pareo adalah Emerald dengan bahasa dan cara pandangku sendiri.

~0~


PAREO adalah Emerald

Bagaikan telah menemukan
Ikan yang langka di dasar lautan yang teramat dalam
Suatu tempat di hatiku
Untuk pertama kalinya merasakan hal itu
Seperti telah menemukan sesuatu yang terasa tak mungkin akan ku temui di dalam hidupku, terasa begitu mengejutkan membuat tak percaya dan rasanya begitu membahagiakan. Untuk pertama kalinya aku bisa menemui kau yang selama ini ingin ku temui.

Sang matahari sedang memberi tahu
Tentang musim dimana gairah membara
Teringat saat itu, aku berdiri di bawah teriknya sinar matahari sesaat sebelum aku menemui mu. Panasnya seakan mengatakan padaku aku harus bertahan meski terasa sulit. Semangatku seakan membara, tiba-tiba di dalam dada ini timbul rasa sakit saat memikirkan mu.

Pareo adalah emerald
Musim panas di pinggangmu
Menampilkan warna-warni lautan
Kau, seperti sebuah batu emerald yang begitu indah. Warna mu membuat aku terpukau bahkan sebelum aku menatap mu.

Pareo adalah emerald
Angin laut meniupnya
Gadis yang telah menjadi dewasa
Kau, adalah batu emerald hijau yang membuatku terkagum. Saat memandang mu, terasa angin sejuk menerpa di dalam dada ini. Aku tersadar, kau terlihat semakin berbeda sekarang, kau terlihat lebih dewasa dibanding saat pertama aku mengenal mu.

Dibanding kemarin ada hal yang berbeda
Diriku sekarang telah jatuh cinta kepadamu
Apa yang ku pikirkan saat ini, tak sedikitpun sama dibandingkan sebelum saat aku berdiri di hadapan mu.

Pulau-pulau di tengah lautan
Penuh evolusi yang belum di ketahui  siapapun
Aku memperhatikan kau yang selalu ada di dalam keramaian. Perlahan dan tanpa di sadari, kau berubah semakin menarik untuk di perhatikan.

Jendela hati yang dahulu
Berpikir kau hanya adik saja telah terbuka
Sebelumnya, aku hanya memandang mu biasa. Tapi sekarang jendela perasaan ini telah terbuka dan aku bisa memandang mu dari sisi yang lebih jelas.

Romansa itu selalu tiba-tiba
Disadarkan oleh kialuan cahya cinta
Perasaan kagum seperti ini selalu terjadi tiba-tiba. Kau menyadarkan aku akan hal yang sebelumya tak ku ketahui, bahwa kau memilik kilauan yang teramat indah.

Emerald yang membuatku takjub
Mencuri pandangan mataku
Keindahan yang tak di ketahui
Kau membuat ku takjub, aku ingin terus memndang mu selagi aku masih bisa melihatmu. Rasanya, baru saat ini aku benar-benar menyadari keindahamu. Keindahan yang selama ini selalu ku lewatkan.

Emerald yang membuatku takjub
saat-saat yang innocence
Si gadis yang hanya tersenyum saja
Kau membuatku takjub, terlebih saat kita saling bertukar pandang. Senyuman itu terasa begitu murni tanpa kau rekayasa sama sekali. Dari awal aku di hadapanmu, hingga aku melangkah pergi kau selalu tersenyum untukku.

Matamu yang hitam melihat kemanakah?
Diriku di sini tidak bergerak kemanapun
Kepadaku kah kau melihat? Aku melihat kau menatapku, tapi aku seperti tak percaya bahwa kau sedang menatapku. Bahwasannya selama ini pandangan kita hanya bertemu melalui lingkar lensa dan sebuah layar kaca. Saat kita saling bertukar pandang secara langsung seperti ini, aku sangat gugup dan tak bisa bergerak sedikitpun.

Pareo adalah emerald
Musim panas di pinggangmu
Menampilkan warna-warni lautan
Kau, seperti sebuah batu emerald yang begitu indah. Hari ini, hari dimana tak ada pembatas di antara kita, kau telah menunjukkan warnamu sepenuhnya.

Pareo adalah emerald
Angin laut meniupnya
Gadis yang telah menjadi dewasa
Kau, adalah batu emerald hijau yang membuatku terkagum. Kedewasaanmu, dan caramu menunjukkannya padaku membuatku merasakan hal yang selama ini ingin ku rasakan darimu.

Di seluruh dunia kamulah yang terindah
Diriku sekarang telah jatuh cinta kepadamu

Sekarang, aku mengakuinya. Kau salah satu bagian dari hidupku yang terindah. Dan tak bisa ku pungkiri, diriku sekarang telah jatuh cinta kepadamu, Melody.