5 Desember 2015

Diskografi One Toples Hip Hop

 hip hop sintang

Asal              : Sintang, Kalimantan Barat
Genre            : Hip Hop & Rapp
Tahun aktif     : 2011 - Sekarang
Label             : Rian’s Record & Mr. Slow Productions
Anggota         : Ogi MC A.K.A Mr. Slow, Rian MC & Joe MC
Motto            : Rapp more than words
Situs web       : www.reverbnation.com/onetoples12

      One Toples, nama yang terdiri dari dua kata dengan bahasa yang berbeda, “One” yang berarti satu (inggris), dan “Toples” yang merupakan tempat atau wadah (indonesia), befilosofikan “Satu tempat” dimana beberapa orang dengan pemikiran yang berbeda-beda akan memulai karyanya dengan bernaung dibawah nama yang sama, yaitu One Toples.
      One Toples, grup hip hop yang terbentuk akhir tahun 2011 di kota Sintang ini mengawali karirnya dengan sebuah kontroversi dengan komunitas hip hop trooperz dan merembetkan pertikaian dengan komunitas hip hop di sekitar kota tersebut, seperti Bawel Family dan Bounce Brotha V dari komunitas hip hop Pontianak, Line Killa. Tak lama setelah perseteruan meluap, kata ‘damai’pun bisa dicapai oleh kedua pihak antara One Toples dan Trooperz, termasuk Bounce Brotha Ve. Lain hal dengan Trooperz, Bawell Family yang sebenarnya tidak memiliki sangkut paut terhadap semua perseteruan tersebutpun menyulutkan api peperangan. Tapi semua tidak berlangsung lama setelah Bawell Family tiba-tiba hilang dari tantangan yang dibuatnya sendiri terhadap One Toples.
      Terlepas dari kontroversi dan perseteruan, grup hip hop yang digawangi oleh Mr. Slow dan Rian MC ini mulai merintis beberapa karya baru seperti lagu “satu-satunya untukku” dan “kesemsem”. Seiring berjalannya waktu, One Toples membuat sebuah variasi formasi dengan merekrut Joe MC sebagai vocal Rapp yang ikut menyumbangkan aspirasinya terhadap perkembangan lagu-lagu One Toples.
      Pada pertengahan 2013, anggota one toples memutuskan untuk vakum sementara dari industri musik lokal dan tidak membuat karya berbentuk lagu selama beberapa waktu yang tidak ditentukan. Rencana vakum tersebut diputuskan karena Joe MC mulai banyak disibukkan dengan pekerjaannya selama ini, dan ingin fokus dalam keseriusannya dalam pekerjaan. Rian MC, yang baru saja lulus dari jenjang pendidikannya selama sembilan tahunpun mulai menggeluti pekerjaan di luar ruang lingkup hip hop. Sedangkan Mr. Slow, melakukan perantauan ke luar pulau untuk melanjutkan studinya setelah menyelesaikan jenjang pendidikan sembilan tahunnya. Itulah penyebab para anggota One Toples meliburkan diri dari hobi hip hop-nya tersebut.
      Pada pertengahan 2014, Mr. Slow atau yang biasa dikenal sebagai Ogi MC ini mulai menyalurkan hobinya dengan membuat sebuah lagu remake “satu-satunya untuk ku” bersama kedua temannya dari B-Stone hip hop clan, Electroiz dan MC Beat. Peluncuran lagu tersebut mungkin memicu semangat dalam hobi ber-hip hop pada teman-teman One Toples-nya. Joe MC pun tak mau kalah dengan mempublis lagu baru yang berjudul “November”. Termasuk Rian MC, yang mulai menyalurkan hobi rapp-nya dengan mengeluarkan dua lagu berturut-turut.
   

Kontroversi    : One Toples diss Trooperz, Ogi MC diss Bawell Family, diss from Bounce Brotha V
Artis terkait    : Trooperz, Bawel Family, Bounce Brotha V, B-Stone, Elecktroiz, MC Beat
Album            : -
Single             : - Rapper munafik (diss Trooperz)
                        - Bawell pamali bitch (diss Bawell)
                        - Satu-satunya untuk ku
                        - Kesemsem
                        - Meski kau jauh
                        - Senyumku yang sirna
                        - Semangat buyar
                        - Aku cinta kamu
                        - Empat El Empat Ye
                        - Satu-satunya untuk ku (cover version by Mr. Slow & B-Stone)
                        - Selamat ulang tahun wahyuni
                        - November
                        - My wife baby girl
                        - For kabut asap
                        - Prosa untuk Veranda

Credit Songs    :
                         Rapper munafik (diss Trooperz), merupakan lagu yang bertujuan untuk menyampaikan aspirasi dan ketidak setujuan Ogi MC dan Rian MC terhadap lagu milik Trooperz yang berjudulkan “apai am dirik”, lagu yang berceritakan tentang kisah perpelacuran dan anak perempuan nakal di sebuah kota sintang. “Rapper munafik” sempat memunculkan konflik di antara kedua kubu antara One Toples dan Trooperz, bahkan konflik tersebut sempat meluas ke beberapa komunitas hip hop lokal setempat. (Rapp: Ogi MC & Rian MC. Lirik: Ogi MC. :Produksi: Rian’s Record.)
                                  Bawell pamali bitch (diss Bawell), merupakan lagu diss yang berisikan tentang pembelaan terhadap seorang Ogi MC terhadap tuduhan yang di lakukan komunitas hip hop Bawel Family yang ditujukan kepada grup hip hop One Toples. (Rapp: Ogi MC. Lirik: Ogi MC. Produksi: Mr. Slow Productions.)
                                  Satu-satunya untuk ku, merupakan lagu pertama setelah dua lagu diss yang dipublis oleh One Toples. Lagu “satu-satunya untuk ku” menceritakan tentang seorang laki-laki yang begitu mencintai kekasihnya. Seiring berjalannya waktu, sepasang kekasih inipun menjalani hubungan percintaan jarak jauh. Di dalam kisahnya terdapat berbagai problem di antara keduanya, dimana laki-laki tersebut merasa kesepian dan begitu banyak menjalin hubungan dengan perempuan lain. Tapi menurut pengakuannya kepada sang kekasih, laki-laki tersebut tidak mencintai perempuan lain dan akan selalu menjadikan sang kekasih sebagai satu-satunya pendamping hidup suatu saat nanti. (Rapp: Ogi MC. Lirik: Ogi MC. Produksi: Rian’s Record.)
                                  Kesemsem, lagu yang bertemakan romance comedy ini menyuguhkan cerita cinta yang dibalut lirik menggelitik, dimana sorang laki-laki yang mencintai kekasihnya akan selalu mencintainya meskipun tidak mendapat restu dari orang tua sang kekasih. Bahkan, laki-laki tersebut berkata bahwa ia siap untuk menjadi pendamping hidup yang baik seperti yang orang tuanya inginkan. (Rapp: Ogi MC & Rian MC. Lirik: Ogi MC. Produksi: Rian’s Record.)
                                  Meski kau jauh, lagu yang menceritakan percintaan yang terpisahkan oleh jarak yang jauh. Berkisah dimana seseorang akan terus menunggu dan memimpikan untuk bisa hidup bersama kekasihnya. (Rapp: Ogi MC & Rian MC. Lirik: Ogi MC. Produksi: Rian’s Record.)
                                  Senyumku yang sirna, adalah lagu yang bebentuk sebuah pengharapan seseorang yang telah ditinggalkan kekasihnya tanpa sebab agar kembali mengisi kehidupannya seperti sedia kala. Didalam lagu ini, seseorang tersebut merasa tidak lagi memiliki senyum dan berpikir kehidupan tidak lagi seindah seperti sebelum kekasihnya pergi meninggalkannya. (Rapp: Ogi MC, Rian MC & Joe MC. Lirik: Ogi MC. Produksi: Rian’s Record.)
                                  Semangat buyar, Bagaimana jika seorang laki-laki yang sudah lama tidak memiliki seorang pacar dan tiba-tiba saja berkeinginan yang kuat untuk memiliki pacar tapi selalu merasa takut untuk mendekati seorang perempuan? Kisah seperti itulah yang di ceritakan pada lagu ini. Dengan alunan musik yang terkesan sedih membalut lirik yang menggelitik, lagu ini memiliki dua sisi tema berbeda antara komedi dan galau. Dibalik itu semua, lagu ini menyisipkan pesan untuk tidak takut mendekati sesuatu yang diinginkan. (Rapp: Rian MC feat Wahyu. Lirik: Rian MC. Produksi: Rian’s Record.)
                                  Aku cinta kamu, berisikan pujian terhadap seorang perempuan yang dicintai. Lagu ini direkam dengan gaya freestyle rapp. (Rapp: Joe MC & Ogi MC. Lirik: Joe MC & Ogi MC. Produksi: Mr. Slow Productions.)
                                  Empat El Empat Ye, yang jika ditulis dengan kombinasi huruf dan angka akan membentuk ‘4L4Y’ dan dibaca ‘alay’ adalah lagu yang berisikan lirik sindiran terhadap remaja-remaja dengan tingkah aneh yang sebenarnya diluar kewajaran. (Rapp: Ogi MC A.K.A Mr. Slow. Lirik: Ogi MC. Produksi: Mr. Slow Productions.)
                                  Satu-satunya untuk ku (cover version by Mr. Slow & B-Stone), menceritakan tentang kisah cinta yang manis, ikrar janji sepasang kekasih, dan pujian-pujian indah. Meski ini adalah cover-an dari lagu “One Toples – Satu-satunya untuk ku”, tapi lagu ini memiliki tema dan ciri khas musik yang berbeda. (Rapp: Ogi MC A.K.A Mr. Slow feat Electroiz & MC Beat(B-Stone). Lirik: Ogi MC, Elecktroiz & MC Beat. Produksi: MC Beat Productions.)
                                  Selamat ulang tahun wahyuni, adalah lagu persembahan Mr. Slow terhadap sang kekasih, Tri Wahyuni sebagai ucapan selamat ualang tahun pada september 2014 lalu. (Rapp: Ogi MC A.K.A Mr. Slow. Lirik: Ogi MC. Produksi: MC Beat Prodactions.)
                                  November, adalah lagu cinta yang berisikan pesan selamat ulang tahun dan untaian doa seorang laki-laki kepada kekasihnya di bulan november. (Rapp: Joe MC. Lirik: Ogi MC. Produksi: Mr. Slow Productions.)
                                  My wife baby girl, adalah lagu yang menceritakan seorang laki-laki yang merasa begitu bertanggung jawab dan mencintai istri serta anaknya. (Rapp: Rian MC. Lirik: Rian MC. Produksi: Rian’s Record.)
                                  For kabut asap, adalah lagu yang berisi himbauan dan rasa prihatin terhadap wabah kabut asap yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, khususnya kalimantan barat. (Rapp: Rian MC. Lirik: Rian MC. Produksi: Rian’s Record.)
                                  Prosa untuk Veranda, merupakan lagu yang berisi pujian dan rasa terima kasih kepada seorang wanita yang bernama Veranda. Lagu ini juga menggambarkan betapa Veranda adalah sosok yang begitu berarti dalam kehidupan seseorang tersebut. Di sisi lain, terlihat jelas bahwa ada segenap perasaan cinta yang selama ini tak pernah tersampaikan, sebuah cinta yang tak mungkin berbalas. (Rapp: Ogi MC A.K.A Mr. Slow. Lirik: Ogi MC. Produksi: Mr. Slow productions.)

14 November 2015

Lirik Milenia Christien - Kimi wo Matteru (Menunggu mu)

Sebenarnya sih males mau ngepost lirik kayak gini, walaupun itu lagu kesukaan. Berhubung liat di internet banyak banyak postingan lirik lagu ini yang salah, akhirnya iseng-iseng ketik sendiri.. Yakin deh, lirik yang aku ketik ini jauh lebih fix ketimbang lirik di blog lain.. Oke check it..

~0~






Milenia Christien
Kimi wo Matteru
(Menunggu mu)

Dalam sepi ku tersadar
Senyumanmu yang dulu telah hilang
Tanpa sebab kau menghindar
Meninggalkan ku bersama bayangan
Walaupun kau tak merasa
Apa yang kini ku rasa
Hatiku berkata kamu berbeda

Sebisa ku coba lupakan dirimu
Menghilangkan perasaan
Yang ku rasakan padamu
Mungkinkah ku dapat berjumpa denganmu
Di tempat pertama aku menunggumu

Dalam hatiku bertanya
Apa kau melihat langit yang sama
Dimana dirimu
Ku berharap kau dapat ingat semua tentangku
Seperti aku ingat tentangmu

Sebisa ku coba lupakan semua
Tapi ku tak bisa untuk membuang semua tentangnya
Karena kau telah membuat ku terluka
Tak sanggup ku katakan selamat tinggal

Ku bertahan seperti perasaan yang
Kau tinggallah dengan mimpi
Mimpi ku tuk bersama dirimu
Ku berharap pada bintang-bintang yang terang
Ku harus pulang

Sebisa ku coba lupakan dirimu
Menghilangkan perasaan yang ku rasakan padamu
Mungkinkah ku dapat berjumpa denganmu
Di tempat pertama aku menunggu mu

Sebisa ku coba lupakan semua
Tapi ku tak bisa untuk membuang semua tentangnya
Karena kau telah membuatku terluka
Tak sanggup ku katakan selamat tinggal

Di tempat pertama
Uuu...
Ini amat pedih

~0~

Yang butuh link lagunya:
https://www.youtube.com/watch?v=bvnVFvaNctc

11 Juni 2015

Makna Dibalik Lagu Kinjirareta Futari (Dua Orang yang Terlarang)




Kinjirareta futari, kenapa aku memilih untuk membahas lagu ini? Ya, karena memang masih sedikit pembahasan seputar makna dibalik lagu ini yang bisa kita temui di berbagai website atau blog milik fans JKT48. Di samping itu, butuh pemahan lebih dalam untuk memahami makna yang terkandung di dalam lagu ini. Sebelum membahas lebih lanjut, aku sebagai penulis artikel ingin mnyampaikan bahwa tulisan ini hanya buah hasil pemikiran ku sendiri, dan mungkin bukan sebuah fakta dari ofisial 48 family.

Kinjirareta futari, yang secara harfiah berarti dua orang yang terlarang, merupakan lagu yang menceritakan dua orang kekasih yang saling mencintai tapi dengan terpaksa memutuskan untuk berpisah. Mereka, menyadari bahwa hubungan yang terjalin di antara mereka merupakan hubungan terlarang yang tidak seharusnya ada, karena mereka berdua merupakan sepasang kekasih yang menjalin cinta sesama jenis. Nah, mulai dari sini, mari kita lanjutkan pada penterjemahan makna lirik lagunya.


Pepohonan, embun pagi
bagaikan desahan seseorang
Danau yang tidak ada di peta
airnya tenang bagaikan tertidur
Penceritaan latar tempat, dimana mereka sering memadu kasih berdua, di tempat yang tak ada seorangpun tau dan tak ada orang lain yang akan mengusik mereka.

Kehilangan kata-kata
Kesedihan yang terlalu sepi
Di ujung akhir kenangan ini
Tempat yang dahulu ingin kudatangi
Sebuah ungkapan perasaan sepasang kekasih yang merasakan kesedihan saat membayangkan betapa sepinya saat nanti mereka telah berpisah. Kini mereka telah tiba di saat di mana mereka harus memutuskan hubungan mereka yang terlarang tersebut.

Bagai melempar batu ke danau
di hatiku riak air meluas
Tak bisa dengan orang lain
Apakah ini tak boleh?
Bagaikan riak air yang terus meluas, seperti itulah perasaan cinta yang mereka rasakan. Semakin berusaha untuk menghindari, semakin besar rasa cinta yang mereka miliki. Sebuah perasaan cinta yang tak bisa ditumpahkan kepada orang lain. Apakah ini tak boleh? Pertanyaan yang timbul di dalam hati, mengawali rasa putus asa akan hubungan yang tak semestinya ada.

Kapal di tepian danau
diikat tali yang sangat erat
Jika menghindari keramaian
harus pergi ke dunia yang amat jauh
Di tengah danau, di atas kapal kecil itulah tempat dimana mereka bisa menghindari keramaian. Setidaknya, disaat-saat terakhir seperti ini mereka ingin menghabiskan waktu hanya berdua.

Jangan kamu salahkan diri sendiri
Janganlah kamu menangis sendirian
Saling memahami kebahagiaan
ciuman ikatan yang erat
Tak perlu menyalahkan diri sendiri, tak perlu menangisi keadaan yang tak berpihak, kebahagiaan yang pernah tercipta sebelumnya mungkin sudah cukup untuk membuat kenangan indah di masa depan. Bukankah ciuman yang pernah ada telah menciptakan ikatan yang tak akan pernah hilang?

Sampai mana pun dirimu kucintai
Sampai kapan pun dirimu dicintai
Saling mempercayai keabadian
Dosanya pertemuan kita
Dimanapun... Sampai kapanpun... Mereka akan saling mencintai satu sama lain. Tetap saling mempercayai keabadian cinta yang terlarang itu.

Kumohon, kumohon
maafkanlah cinta kita ini
yang tak terkabul
Sembunyikan dalam hati
Saling berusaha untuk memaafkan dan menerima keadaan yang tak sesuai dengan cinta mereka. Cinta yang tak terkabul itu, tetaplah sembunyikan dan simpan erat di dalam hati.
 
Kumohon

Kepada takdir yang kejam ini
berserah diri
Kita berdua yang terlarang
Memohon kepada takdir agar tetap kuat menjalani kehidupan yang terpisah, menyerahkan cinta terlarang itu dalam jarak yang tak tersentuh.

Dahulu aku tidak terlahir seperti ini
tak akan pernah berpisah
Jikalau dahulu aku tidak terlahir seperti ini
Kita berdua kan terikat
Seandainya salah satu di antara merka terlahir tidak sebagai perempuan, mereka tak perlu berpisah saat ini, mereka bisa terus saling mencinta dalam hubungan yang wajar.
 
Ayo kita naik kapal ke danau
Kalau kau lelah mendayung, tidurlah dalam dekapanku
Karena dalam mimpi, kita, akan terus saling mencinta
Saat lelah dengan kenyataan hidup, tidurlah. Setidaknya di dalam tidur masih ada mimpi indah yang akan mempertemukan. Di dalam mimpi, mereka tetap bisa saling mencinta tanpa ada yang menghalangi.


Ya, begitulah sekiranya lirik lagu yang coba untuk ku terjemahkan dengan bahasaku sendiri. Hem, Bagaimanapun sebuah cinta terjalin, tak ada cinta yang terlarang, hanya pendapat orang yang menilai sajalah yang menganggap itu terlarang.

22 Mei 2015

Lanjutan Cerita dari Viny di #AkuLanjutinYa



Ini lanjutan cerita yang Ratu Vienny Fitrilya buat di blog-nya. Cerita yang Vienny buat bisa dilihat di jkt48.com/blog/viny

Untuk Vienny, maaf, agak terlambat, aku mulai menulisnya jam 9 malam tadi dan baru saja menyelesaikannya dan langsung ku publis. Aku harap kamu bisa memaklumi sedikit keterlambatanku... Terima kasih...


~SAAT KAMU MERUBAH KU~

Bagaimana cara dia berbicara, bagaimana dia menatap dan tersenyum padaku, hingga hal-hal kecil yang dia sukai. Semua hal tentang dia, aku ingin mengenalinya lebih dekat. Mungkin hal-hal seperti inilah yang membuatku tertarik untuk terus memperhatikannya selama bertahun-tahun. “Ikki... Apa kamu tau? Aku sangat suka lagu ini.” Setelah beberapa saat terhanyut dalam alunan lagu, Viny memulai percakapan baru di antara kami. “Emh, ya. Aku juga berpikir sama. Meskipun aku baru pertama kali mendengarnya, tapi aku langsung bisa menikmatinya.” Aku mencoba bertutur sebisa mungkin tentang apa yang aku pikirkan, terlepas dari rasa gugup yang sebenarnya menekan batinku. Meskipun sebenarnya aku pemalu dan terlalu takut untuk berucap, aku berusaha sebisa mungkin untuk tak menunjukkannya di depan Viny.

“Eh, benarkah? Apa kamu suka lagu-lagu semacam ini?” Tanya Viny padaku. “Entahlah... Aku sangat jarang mendengarkan lagu-lagu seperti ini. Bukan karena aku nggak suka, sih...” “Lalu?” Viny memotong omonganku, seolah ia tak sabar untuk mendengar kelanjutannya. “Mungkin karena genre musikku yang berbeda.” “Oh ya? Apa kamu seorang pemusik, Ikki. Musik seperti apa yang kamu suka?” Viny memandang ku lekat tak sabar dengan jawaban apa yang akan ku keluarkan. Sedangkan aku, aku hanya menundukkan kepala mencoba menghindari tatapan matanya langsung. “Hip hop rapp... Tapi, aku bukan pemusik seperti yang kamu pikirkan.” “Lalu?” Tanyanya lagi. “Aku hanya pembuat lagu. Aku merekamnya, lalu membagikannya geratis di website yang aku punya. Itu saja, nggak lebih.” “Sepertinya itu keren. Aku jadi ingin mendengar mu membawakan lagu yang kamu buat sendiri.” Mendengar ungkapan dari Viny, aku sedikit terkejut mengetahui dia yang memiliki rasa penasaran padaku. “Boleh aku mendengarmu bernyanyi?” Ah, sesuatu yang ku khawatirkan terjadi, dia memintaku untuk bernyanyi di hadapannya. Aku hanya menggelengkan kepala untuk menolak permintaannya. “Kenapa? Kamu malu?” Tanyanya sambil tersenyum. Aku mengangguk pelan, tapi dia semakin menunjukkan senyumnya. “Ya, walaupun bukan sekarang. Aku ingin mendengarnya suatu saat nanti.” Aku tak bisa menjawab apa-apa, hanya tersenyum kecil dihadapannya.

Beberapa jam telah berlalu, aku masih saja jadi sosok pendiam di hadapannya. Termasuk sekarang di depan kafe ini, saat kami menunggu taksi untuknya. Aku hanya berdiri di smapingnya tanpa banyak mengajaknya berbicara. Tapi, semakin membisu mulut ini, semakin terukir penyesalan di dalam hati. Rasa sesal karena tak bisa menjadi seseorang yang menyenangkan baginya. “Viny...” Suaraku pelan memanggilnya yang sedang sibuk memperhatikan lalu lintas di jalanan. “Emh?” Viny hanya berucap kecil sambil menatap ku dan mengangkat kedua alisnya. “Entah kenapa, sejak duduk di dalam kafe tadi hingga kita berdiri menunggu taksi di sini, aku merasa kita sedang berada di dalam cerita fiksi.” Viny mengkerutkan dahinya, tak bisa mengerti tentang apa yang baru saja aku katakan. “Ya, rasanya aneh... Dua orang yang bertahun-tahun sudah bertemu, akhirnya memutuskan untuk bertemu di akhir tahun ketiga...” Aku berhenti sebentar dengan kalimatku, menahan rasa canggung yang sedang ku rasakan. “Lalu, berdiri menunggu taksi untuk sang perempuan seperti ini... Atau jangan-jangan, kita memiliki ending yang sama dengan cerita-cerita fiksi yang selama ini ku baca. Hanya pertemuan kecil yang berkesan, lalu berakhir begitu saja tanpa lanjutan karena salah satu di antara kita akan pindah ke luar kota.” Aku menundukkan kepala, mencoba menghindari tatapan matanya. “Eh? Hehe...” Viny tersenyum dan langsung menutupi bibirnya dengan novel yang sedari tadi ada di genggamannya. Melihatnya berusaha menahan tawa seperti ini, membuatku malu dan merasa bodoh karena telah mengucapkan kalimat aneh di hadapannya. “Kenapa kamu berpikir aneh seperti itu, Ikki? Jelas saja itu nggak terjadi... Aku tetap melanjutkan sekolahku di kota ini kok. Bagaimana denganmu?” “Aku? Mungkin aku juga sama dengan mu. Aku tetap melanjutkan sekolah di kota ini.” Syukurlah ku pikir, aku masih bisa bertemu dengannya di lain waktu.

Taksi yang kami tunggu masih belum datang, sementara kami masih berada di tempat yang sama menantinya. Angin yang bertiup menerpa helai rambutnya, membuat dia terasa cantik meski hanya berdiam diri. Ah, tiba-tiba saja aku ingin mengatakannya. “ Vin..” “Ikki...” “Eh?” Tiba-tiba kami memanggil satu sama lain dengan waktu yang bersamaan. “Kamu duluan aja yang ngomong.” Tuturnya tersipu malu. “Emh, aku?” “Iya, Ikki, kamu... Kamu mau ngomong apa?” Tanya Viny. “Ah, itu... Sebenarnya, aku mau bilang kalau aku selalu ingin melihatmu tersenyum... Sejak aku melihatmu pertama kali di kantin sekolah, aku merasa ingin terus memperhatikanmu.” Ah, kenapa aku mengucapkannya? “Eh?” Viny memasang ekspresinya yang terkejut, lalu menggantinya dengan senyuman yang biasa kujumpai darinya. “Ternyata kamu berani mengungkapkannya padaku.” Masih dengan senyumnya, kali ini Viny yang mengejutkanku, jangan-jangan selama ini dia selalu tau jika aku memperhatikannya. “Ikki... Apa setelah kamu mngungkapkannya, kamu ingin mengajakku menjalin hbungan khusus?” Aku yang belum sempat berkata apa-apa lagi, sudah harus menjawab pertanyaannya. “Emh, kalau itu... Mungkin aku akan memintanya...” Dengan setengah gugup aku mengakuinya. “Apa kamu mencintai ku, Ikki?” Viny tersenyum menanti jawabanku. Sedangkan aku hanya terdiam, seolah tak mampu menjawab pertanyaan yang ia suguhkan. 


Sabtu, jam tujuh malam...
Aku menutup novel yang sedari tadi ku baca. Ya, novel yang penulisnya adalah seorang Viny yang seminggu lalu ku jumpai di kafe itu. Bagimana bisa novel ini ada di tanganku? Ceritanya cukup panjang. Saat itu, saat aku mengungkapkan perasaanku padanya dan dia bertanya pada ku apakah aku mencintainya... Aku menjawab, aku tak tau tentang perasaanku yang sebenarnya terhadapnya. Tapi yang aku yakini, aku memang benar-benar menyukainya. Viny yang mengakui dirinya juga sangat menyukai ku pun berpikir dan memutuskan untuk kami menjalani hubungan yang seperti ini saja. Dia menyukaiku, sangat menyukaiku. Tapi, dia bilang aku masih terlalu penakut. Menatap matanya terlalu lamapun aku tak memiliki keberanian. Bahkan, dia berkata aku masih terlalu ragu untuk mengakui apa yang ada di dalam diriku sendiri.

Aku meletakkan novel itu di atas meja belajar. Aku beranjak untuk bersiap pergi ke kafe malam ini. Menemui dia, kah? Entahlah, dua hari yang lalu kami bertemu dan dia memintaku untuk datang ke kafe itu lagi malam ini. Apa alasannya memintaku seperti itupun, aku tak tau. Oborolan-obrolan yang terjadi saat itu terbilang biasa, tak banyak hal yang spesial. Yang berbeda hanyalah saat dia bertanya padaku, “jika suatu saat nanti aku menhilang. Apa kamu tetap menyimpan perasaan yang sama terhadapku?” Awalnya aku tak ingin menjawabnya, tapi ku pikir aku harus. “Kalau kamu tiba-tiba menhilang, aku akan tetap menjaga perasaan yang saat ini ku rasakan pada mu.”

Di dalam Kafe yang cukup besar itu, terlihat banyak pelanggan yang berdatangan. Terlihat lebih ramai dari biasanya, kondisi yang benar-benar membuatku merasa tak nyaman. Salah seorang pelayan kafe yang memperhatikanku dari jauh datang menghampiriku yang baru saja mengambil posisi duduk di salah satu sudut kafe. Pelayan itu bertanya apa aku yang bernama Iki. Setelah memastikan kebenarannya, dia memberiku sebuah amplop yang aku sendiri belum tau apa yang berada di dalamnya. Pelayan itu pergi, tapi aku tak langsung membuka amplop itu. Aku masih menunggu kedatangan Viny.

Setengah jam sudah aku menanti kedatangannya, tapi tak kunjung ku temui sosok Viny datang menghampiriku. Akhirnya, tanpa menunggu Viny aku membuka amplop itu... Apa ini? Sebuah surat? Aku membukanya. Tak banyak tulisan yang tertulis di dalamnya. “Aku tahu kamu bukan laki-laki lemah. Kamu hanya tak memiliki cukup keberanian untuk menghadapi sesuatu... Jika kamu tak mempercayai dirimu sendiri, siapa lagi? Cobalah sesuatu yang baru malam ini. Jika kamu tak bisa, yang kamu hadapi selanjutnya akan semakin berat... Saat kamu merasa telah menemukan kebodohan, temuilah orang yang baru saja menemuimu. Masih ada jalan lain untuk menebus rasa sesal... Aku selalu memperhatikanmu...”

Hanya itu yang tertulis, tak ada tertanda dari siapa pengirimnya. Isinyapun tak ku mengerti, meski berulang kali aku membacanya. Siapa? Apa yang dia maksud? Belum sempat aku menemukan jawaban dari kebingunganku, suara MC dari panggung kecil di sudut kafe itu mencuri perhatianku. “Selamat malam para hadirin. Seperti pada malam-malam minggu sebelumnya, kita akan dihibur oleh penampilan dari beberapa band indie. Langsung saja kita sambut penampilan dari bintang tamu pertama kita, Ikki Rain!” Ha? Aku terkejut saat MC itu memanggil namaku, atau mungkin hanya aku yang salah dengar? “Saudara Ikki Rain... Kami persilahkan untuk naik ke atas panggung...” Lagi, MC itu memang benar memanggil namaku. Kenapa bisa? Aku tak pernah mendaftarkan namaku sebagai bintang tamu penghibur. “Sekali lagi, kami meminta saudara Iki Rain untuk menghadirkan diri ke atas panggung... Apa saudara Ikki, sudah datang?” Ah, apa yang harus ku lakukan. Aku tak ingin pergi ke atas panggung itu. Keringat dingin mulai membasahi keningku. Aku bingung dengan apa yang harus ku lakukan. Jika aku terus disini, mungkin pelayan yang tadi mengantarkan amplop ini akan mendatangiku dan memintaku untuk bernyanyi di panggung itu. Tapi, kalau aku pergi, bagaimana dengan Viny yang sedang ku tunggu? Ah, sial... Menghubungi Viny pun aku tak bisa. Viny tak pernah memberikan kontaknya saat aku memintanya. Apa yang harus ku lakukan sekarang?

29 Desember...
Sudah hampir satu tahun berlalu semenjak malam itu. Entah apa yang terjadi, Viny seorang gadis pemilik senyum yang begitu ku kagumi tak pernah lagi terlihat oleh mataku. Semenjak malam di mana aku pergi dan menghindari untuk bernyanyi di panggung itu, aku tak pernah menemukan Viny. Aku merasa menyesal telah menjadi laki-laki yang bersikap penakut. Terlebih saat aku menyadari kalau surat yang datang kepadaku malam itu adalah tulisan tangan Viny, dan Viny jugalah yang menginginkanku untuk bernyanyi di panggung itu. Aku sangat menyesal, jika saja malam itu aku memiliki sedikit keberanian, aku pasti tak kehilangan Viny sekarang.

Beberapa kali aku pergi ke kafe itu, berharap bisa menjumpai sosok Viny di sana. Termasuk saat ini, aku duduk di kursi dimana pertama kali kami datang ke kafe ini berdua, berharap hari inipun bisa menjumpai dia. “Permisi, mau pesan apa, kak?” Salah satu pelayan kafe itu membuyarkan lamunanku dengan menyodorkan menu makanan. “Emh, iya... Ice blend coffe yang biasanya aja, kak...” Tanggapku cepat. “Ada tambahan lain?” Tanya pelayan itu lagi memastikan. “Itu saja...” “Baik, silahkan dtunggu, pesanannya segera kami antar.” Aku hanya tersenyum kecil pada pelayan kafe itu. Samar-samar aku mengingatnya, sepertinya dia, lah perempuan si pelayan kafe yang malam itu mengantarkan surat Viny kepadaku. Tunggu, aku tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Aku membuka ranselku dan mengambil surat yang selalu ku bawa itu. “Saat kamu merasa telah menemukan kebodohan, temuilah orang yang baru saja menemuimu.” Akhirnya sekarang aku mengerti apa yang Viny maksud dengan kalimat itu. Aku harus menemui orang yang malam itu terakhir bertemu denganku di dalam kafe, dan orang itu adalah perempuan yang baru saja menawarkan menu pesanan.

Pelayan kafe yang sama datang mengantar pesananku. “Ice bland coffe?” Tanya perempuan itu memastikan. “Iya, terima kasih...” Perempuan itu menaruh pesananku di meja. Sementara aku yang sedari tadi mengumpulkan keberanian, akhirnya memintanya untuk tetap tinggal sebentar. “Maaf kak, bisa minta waktunya sebentar. Ada yang mau aku obrolin.” Mungkin dia sedikit bingung melihatku yang biasanya hanya duduk diam hanya sekedar memesan minuman kini mengajaknya berbicara. “Oh iya, bisa kok. Tapi maaf, nggak bisa lama-lama, apa lagi harus duduk satu meja dengan pelanggan.” Jawabnya dengan sedikit penjelasan. “Oh, nggak apa kok, kak. Cuma mau tanya-tanya sedikit.” Syukurlah, dia bersedia. “Jadi begini, kak. Mungkin udah lama kejadiannya, udah hampir satu tahun yang lalu. Malam itu, kakak mendatangi aku untuk menyampaikan surat dari seseorang. Kakak masih ingat itu?” Sebenarnya aku ragu dengan jawaban yang aku harapkan, terlepas pelanggan di sini bukan hanya aku dan kejadian itu sudah hampir satu tahun berlalu. “Oh, iya. Saya ingat. Waktu itu kakak yang namanya di panggil untuk bernyanyi di sini kan?” Ha? kenapa dia juga memanggil ku dengan sebutan kakak? padahal aku juga memanggil dia kakak. Daripada itu, kenapa dia juga ingat kalau aku pernah diminta untuk naik ke panggung? Bukan itu kan, yang aku tanyakan. Tapi syukurlah, dia masih ingat. “Syukur, deh. Terus kak, perempuan yang menitipkan surat itu, apa dia ada menitipkan pesan lain?” Aku mulai mengorek informasi. “Hemm... Ada sih... Tapi dia Cuma bialang, ‘kalau dia ada tanya sesuatu, bilang aja halaman empat puluh delapan..’ Hanya itu yang dia katakan.” “Hanya itu? Serius?”

Di kamar... Aku yang berpikir keras selama perjalanan pulang dari kafe, akhirnya menyadari bahwa yang di maksud Viny adalah halaman empat puluh delapan dari novel yang dia tulis. Aku tak mengerti dan penasaran akan hal itu. Maka dari itu, aku membuka kembali novel yang sudah selesai aku baca itu. Tak ada hal yang aneh. Aku belum menemukan petunjuk dari paragraf-paragraf yang ada di halaman empat puluh delapan novel ini. Aku coba mencarinya dengan lebih fokus. Ada satu percakapan yang menyita perhatianku di novel ini. Kalimat yang di ucapkan gadis sang tokoh utama dalam novel. “Jika kau mencariku, datanglah ke sekolah. nomor tujuh dari dari kelompok ke sebelas.” Aku percaya inilah petunjuk yang di tinggalkan Viny pada ku meski aku sendiri belum tau bagaimana cara penerapan petunjuk ini dalam dunia nyata.


Sore, 30 Desember...
Sekolah, tempat di mana aku pertama kali melihat Viny. Aku yakin yang di maksud Viny adalah sekolah ini. Aku berjalan menelusuri koridor kelas  yang sudah sepi di tinggal para penghuninya, dan akhirnya aku berhenti di kantin tempat di mana tiga tahun yang lalu aku selalu melihatnya. Ah, tiba-tiba terbayang lagi senyuman itu, senyuman manis yang terlukis saat dia bersenda gurau dengan teman-temannya... Tidak, aku ke sini bukan untuk bernostalgia seperti ini. Ada hal yang lebih penting dari itu.

Aku mencoba mengingat kembali kalimat petunjuk itu. Otak ku buntu, tak ada satupun gagasan yang bisa ku cocokkan dengan lokasi ini. Ah, kenapa aku sebodoh ini. “Nomor tujuh dari kelompok ke sebelas?” Aku masih memikirkannya. “Rrrr! Meau!!!” Tiba-tiba dua ekor kucing muncul berkejaran melewatiku yang setengah terkejut melihatnya. Entah datang dari mereka, sepasang kucing itu meninggalkan jejak lumpur di lantai prselin kantin. Ya, lantai putih itu telah bercorak dibuatnya.

Tunggu, mereka memberiku petunjuk. Mungkin yang dimaksud Viny adalah susunan lantai ini. Dan mungkin saja Viny menaruh sesuatu di balik salah satu lantai porselin ini. Tapi, dari mana aku harus mencarinya? Aku mulai memetakannya dari pintu masuk sebelah kiri, menciptakan sebuah tabel dengan tujuh kolom dan sebelas baris, lalu mengecek porselin di kolom dan baris paling akhir. Ah, porselinnya tak bisa diangkat karena memang bentuknya masih baik-baik saja. Apa aku harus membongkarnya? Tapi aku pikir tidak mungkin Viny menaruh sesuatu di bawah porselin ini lalu memperbaikinya lagi sperti semula.

Merasa gagal dengan rencana pertama, aku mencoba merubah rumus tabelku dengan tujuh baris dan sebelas kolom, lalu memeriksa porselin di baris dan kolom terakhir. Ya, saat porselin itu ku injak, dia sedikit bergerak, sepertinya bisa ku angkat. Aku mencoba memasukkan ujung jariku ke sela-sela porselin itu. Bingo! Porselinnya bisa ku angkat dan aku menemukan tulisan yang dibuat dengan kapur di atas permukaan semennya. “Jalan 21 April. Festival kembang api.”

 Menjelang sore, di kantin kampus...
Aku meneguk coklat dinginku sudah hampir dari setengah gelas. Memandangi layar hendphone-ku, tepatnya memandang foto yang kemarin sore ku ambil di lantai kantin sekolah. Meski awalnya merasa bingung, tapi sepertinya aku tau apa maksudnya. Petunjuk yang di berikan Viny kali ini adalah nama tempat. Ada suatu jalan yang bernama april di kota ini, aku tau tempatnya, tapi yang di tulis Viny adalah jalan 21 april, bukan jalan april. Lalu apa maksud kalimat ‘festival kembang api’ yang di tulis Viny? Atau mungkin yang dimaksud oleh petunjuk ini memang jalan april, lalu angka 21 itu menunjukkan nomor bangunan. Festival kembang api, aku belum tau. Tapi, apapun itu, aku harus mencoba dengan setengah petunjuk yang telah terpecahkan.

Setelah berhasil lolos dari kemacetan kota hampir setengah jam...
Kakiku bergetar, berdiri di depan pagar rumah yang tak ku kenal siapa pemiliknya. Ya, ini adalah rumah nomor 21 yang ada di jalan april. Aku yang ragu karena gerogipun telah mengeceknya berulang kali. Saat ini aku tinggal menekan bel yang ada di sebelah pintu pagar, tapi aku belum melakukannya. Aku terlalu takut untuk melakukan hal sepele ini. Sempat terlintas, kenapa aku harus melakukan hal seperti ini? Tapi, saat aku hendak melangkahkan kaki untuk beranjak pergi, aku merasa takut menyesal untuk kedua kalinya. Aku melakukan semua ini terlalu jauh, aku harus berani mengakhiri semua ini dengan baik.

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk menekan bel yang sedari tadi hanya ku pandangi saja... Seseorang terlihat keluar dari dalam rumah. Dia sorang gadis yang sepertinya sebaya denganku. Dari luar pagar aku menyampaikan maksud kedatanganku. Setelah kehilangan rasa curiganya terhadap aku yang dia anggap orang asing, dia mengajak ku masuk ke dalam rumah untuk berbincang lebih dalam.

Dia, gadis yang akhirnya ku kenal dengan nama Nina, akhirnya kepadanyalah ku ceritakan semuanya. Sepertinya dia mengerti tentang apa yang ku alami saat ini, termasuk perasaan yang mungkin membawaku sampai ke tempat ini. Nina mengaku samar-samar mengenal nama Viny. Menurut pengakuannya, mungkin Viny adalah mahasiswi baru yang dia ospek di kampusnya. Lalu, tentang festival kembang api. Nina berkata malam ini ada festival kembang api yang ada di kampusnya. Aku yang merasa ini sangat cocok dengan petunjuk yang aku punyapun memutuskan untuk pergi ke festival itu malam ini, dan Nina dengan senang hati menemaniku.

Sekitar jam 10 lewat 30 menit, di kampus Nina.
Ternyata benar ada festival yang diadakan di sini. Aku melihat banyak remaja yang lalu lalang sedang menikmati festival ini. Suasananya begitu ramai, sempat terfikir aku tak akan menemukan Viny meskipun dia juga datang ke Festival ini. Tapi Nina yang mengetahui dengan detail kronologiku di sini berkata aku tak harus pulang dengan usaha percuma. Dia menunjukkan jarinya ke arah kejauhan, menunjuk sebuah panggung besar yang dimana ada sebuah pertunjukan musik dari salah satu band kampus itu. Bukan, bukan panggung atau band itu yang dia maksud, tapi sepanduk yang tergantung di sisi depan panggung itulah yang dimaksud nina. “Kamu harus mengikuti pertunjukan musik itu...” Nina berucap dengan yakinnya. “Maksudmu, aku harus bernyanyi di atas sana?” Tanyaku ragu. “Ya, aku pikir tujuan utamamu kemari adalah untuk bernyanyi di panggung itu. Bukankah itu yang Viny inginkan?” Nina menyadarkanku dari maksud sebenarnya kenapa aku datang kemari. Tiba-tiba isi dadaku sakit saat memikirkannya. Aku yang tak punya keberanian di hadapan banyak orang harus bernyanyi di panggung sebesar itu. Aku begitu takut untuk menghadapinya, tapi aku tak ingin berlari lagi. Aku yakin, Viny ingin melihatku, dia ingin mendengar aku bernyanyi, maka itulah aku harus menghadapinya.

Dengan sangat berat, aku mengiyakan untuk naik ke atas panggung itu. Aku dan Nina pun pergi ke tempat panitia penyelengara festival untuk mendaftarkan namaku sebagai band pengisi acara. Bukan sebagai band, tapi aku akan bernyanyi sendirian. Meski acara ini terbuka untuk siapapun, tapi tetap saja ada kemungkinan namaku di tolak karena jadwal panggung sudah penuh. Tapi syukurlah, masih ada kesempatan untukku. Itupun pada giliran terakhir dan hanya bisa membawakan satu lagu.

Jam 11 lewat 45 menit...
Di belakang panggung, aku sedang bersiap untuk penampilanku yang sebentar lagi. Aku sudah menyerahkan memori handphone-ku pada operator yang berisi musik instrumental yang ku buat agar nanti diputar untuk mengiringi aku untuk bernyanyi.

Seluruh tubuhku bergetar hebat, keringat dingin dan panas mengalir deras di tubuhku. Aku benar-benar terserang panik yang sangat hebat. Apa aku bisa? Apa aku berani? Bagaimana kalau saat tampil tak banyak yang memperhatikanku karena acara peluncuran kembang api sudah dimulai? Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh sangat menakuti diriku sendiri. Aku ingin membatalkannya saja, tapi saat aku ingin melakukan itu, bayangan Viny muncul. Aku tak ingin membuatnya kecewa.

“Penampilan terakhir, untuk malam ini... Ikki... Rain!!!” Jantungku terasa berhenti saat namaku di panggil. Salah satu Crew panggung mengarahkanku ke atas panggung... MC yang memanggil namaku baru saja menuruni panggung. Ternyata aku tak di ajak berbincang sebelum aku bernyanyi. Ah, aku harus tetap berjalan. Langkahku perlahan mulai mendekatkanku pada stand mic... Dari atas panggung aku menatap ratusan, atau mungkin hampir seribu penonton yang menyaksikanku dari bawah sana.

Alunan musik pengiring sudah dimulai. Ya, intro dari lagu Linkin Park... Aku akan membawakan lagu yang berjudul ‘in the end,’ lagu yang ku pikir banyak orang yang sudah mengenalnya...

One thing, I don’t know why
It dosn’t even matter how hard you try
Keep that in mind, I designed this rhyme
To explain in due time

Bait rapp pertama yang ku lantunkan. Aku terlalu gerogi hingga sedikit salah saat menempatkan rima dalam melantunkannya. Tapi bait-bait demi bait yang selanjutnya aku sudah mulai terbiasa. Aku sudah mulai bisa mengendalikan diri agar tak terlalu termakan gerogi...

Sambil terus melantunkan teknik rapping seperti yang dilakukan Mike Shinoda, rapper Linkin Park, mataku terus menyorot barisan penonton yang ada di bawah sana. Beberapa ada yang ikut menyanyikannya. Tapi bukan pemandangan itu yang ku cari. Aku mencari sosok serong gadis di kerumunan penonton itu. Tak ku dapati sosok Viny.

Tibalah aku di akhir reff lagu... Saat dimana aku harus mengeluarkan semua suaraku dengan nada setinggi-tinggi yang aku bisa.

I tried so hard
And got so far
But in the end
It dosn’t even matter

I had to fall
To lose it all
But in the end
It dosn’t even matter

Ya, aku berhasil mengakhirinya. Meskipun suaraku tak semirip dan setinggi Chester Benningston, aku rasa aku telah mengakhirinya dengan baik...

“Ikki... Ikki... Ikki...” Suara penonton yang menyorakkan namaku telah menggantikan outro musik yang baru saja berakhir. Entah mengapa mereka meneriakkan namaku berkali-kali. Apa benar mereka menyukai nyanyianku?

MC yang membawakan acara naik ke atas panggung menghampiriku dan menenangkan suara riuh penonton. MC sempat menanyakan apa mereka suka dengan penampilanku? Karena penonton menjawab suka, MC meminta ku untuk menyanyikan satu lagu lagi, berhubung memang masih ada waktu sedikit sebelum acara peluncuran kembang api dimulai. Aku pun meng iyakan untuk membawakan satu lagu lagi. Lalu aku membisikkan MC agar dia memberi intruksi tentang musik instrumental apa yang harus di putar dari memoriku oleh operator. MC turun, alunan musik pun telah diputar. Pada pembukaan lagu, aku melakukan sedikit musikalisasi puisi sebelum aku menyanyikan lagu ini yang ku buat sendiri. “Kala hati merasakan gejolak tak menentu, saat itulah aku ingin menyanyikan lagu ini untukmu, Viny...”

Saat ku melihat dunia
Aku hanya ingin melihatmu
Mungkin aku hanya bermimpi
Tetapi senyumanmu adalah kenyataan

Pada awalnya, aku menutup mataku, aku mulai meresapi bait yang sedang ku nyanyikan... Perlahan, aku mulai membuka mata, yang ku lihat pertama kali saat itu adalah Viny... Dia berdiri di barisan penonton paling depan, melihat ke arahku sambil tersenyum manis... Senyum yang telah lama ku rindukan.

Aku mungkin terbangun
Tapi ku tetap memimpikanmu...

Nada panjang ini, mengantar ku pada dalamnya rasa haru. Perasaan bahagia saat aku bisa menemukannya kembali. Entah apa yang aku rasakan saat itu, air mataku perlahan menetes membasahi pipiku...

Mencintaimu...
Adalah yang terindah, menutupi kerapuhan
Memimpikan bersama mu, untuk ku...

Mencintaimu...
Adalah hal terindah, hapuskan goresan luka
Tak mampuku hapuskan mu, lupakan mu...

Dengan air mata yang terus coba ku hapus dari pipiku, di penghujung lagu aku langsung cepat berjalan meninggalkan panggung. Disaat yang sama... Viny, dia dengan susah payahnya menerobos barisan penonton, berlari ke belakang panggung untuk menemuiku... Tanpa mengucapkan apapun, dia langsung memeluk tubuhku. Aku yang tak bisa berkata-kata lagi, membalas pelukannya dengan erat...

“Sudah ku bilang, kan? Kamu, bukan laki-laki lemah, kamu telah membuktikannya...” Suara Viny terdengar agak sedikit terputus. Aku merasa ada sesuatu yang membasahi salah satu bahuku. Mungkinkah ini air mata miliknya? “Aku... aku...” Entah apa yang ingin ia ucapkan. Suaranya terhenti di dalam dekapanku, dan dia seperti tak mampu melanjutkannya. “Terima kasih... Kamu membuatku berani untuk menghadapi semuanya...” Suaraku terputus, aku kembali menangis. Bahkan, saat itu aku tak perduli lagi berapa banyak pasang mata yang memperhatikan kami. Yang aku rasakan saat itu hanyalah betapa bahagianya aku bisa menemukannya kembali. Gadis dengan senyuman indah yang sempat hilang dari hadapanku...

“Maafkan aku, waktu itu aku menghilang dari hadapan mu...” Suara Viny terdengar samar, tapi aku bisa mendengarnya jelas. “Ya, aku sekarang mengerti... Kenapa kamu meninggalkanku... Kamu ingin merubahku menjadi lebih baik... Sekarangpun, aku sudah tau apa yang sebenarnya aku rasakan... Aku, mencintai mu... Viny...”
"Em... Aku, aku juga mencintai mu Ikki..."

Terdengar suara letupan di atas langit, kembang api satu persatu dan semakin banyak telah diluncurkan ke angkasa... Aku dan Viny saling melepaskan pelukan. Tapi Viny, dia menggenggam jemari ku erat. Bersamanya, aku memandangi langit yang dipenuhi oleh warna. Seperti langit saat itu, perasaan ini riuh meluap... Mungkinkah dia yang baru saja mengunkapkan perasaannya juga merasakan hal yang sama sepertiku? Aku menoleh kearahnya, dan dia tersenyum memandangi langit itu...

Aku berharap bisa terus melihat senyuman itu...

19 Mei 2015

Lanjutan Cerita milik Ratu Vienny Fitrilya

Viny, ini lanjutan cerita dari challenge  #AkuLanjutinYa yang Viny buat. Mungkin ini nggak habis dalam sekali duduk karena ada  3000 kata dalam cerita yang aku buat... Aku harap ini tetap bisa di terima sama Viny, dan semoga ini cukup menarik untuk dibaca. Mohon maaf, atas berlebihnya kata...

Note: Paragraf-paragraf bercetak miring di bawah ini adalah cerita yang dibuat oleh Ratu Vienny Fitrilya, lalu di lanjutkan dengan cerita yang ku buat.


 
Inilah Awalnya.

Pukul 10 pagi , di atas hamparan pasir pantai putih.

Di sanalah ia berdiri. Di antara celah-celah mentari. Sinar mentari kala itu sedikit menghalangiku melihat wajahnya. Tapi aku yakin ia sedang tersenyum.

Dia.
Dia yang selalu aku lihat ketika jam istirahat sekolah. Sudah hampir 3 tahun senyumnya menemaniku ketika beristirahat.

Hey, aku tidak bilang aku jatuh cinta. Aku tidak tahu lebih tepatnya. Aku hanya suka melihat senyumnya. Lagi pula terlalu aneh bagiku untuk jatuh cinta pada orang yang tidak aku kenal.

Seketika pikiranku melayang pada Kamis minggu lalu. Itulah kali pertama aku mengetahui namanya dan senyumnya tertuju pada diriku!

Saat itu jam makan siang. Dia iseng sekali menukar ayam goreng miliknya dengan teman sebangkunya ketika lengah. Aku lihat jelas ia tertawa lebar saat temannya meneriakan namanya sambil mengoceh saat sadar bagiannya ditukar oleh gadis itu.

Oh, itu dia namanya… akupun masih belum melepaskan tatapanku padanya.

Saat itulah ia melihatku.
Ia melihatku.

Atau mungkin ia sadar ada seseorang yang menatapnya tanpa henti siang itu.
Dan ia tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya.

Ah, aku merasakan detak jantungku berhenti sesaat.

Hari ini adalah saatnya aku mengucapkan selamat tinggal dengan kenangan yang kumiliki saat berseragam putih abu-abu. Tapi apakah aku harus mengucapkan selamat tinggal padanya juga?

Akhirnya aku memutuskan untuk mengucapkan satu kata yang selalu aku simpan.

Alih-alih selamat tinggal, inilah yang aku ucapkan.

“Ha.. halo”

Sekarang atau terlambat. Aku ingin berkenalan denganmu…

Pukul 1 siang, di hari yang kutunggu-tunggu.

Hari ini.
Akhirnya datang juga.

Aku kira “halo” yang aku ucapkan kala itu hanya akan menjadi sebuah awal sekaligus akhir dari sebuah cerita…

Tapi, aku salah.

Di sinilah aku terduduk di salah satu sudut Kafe menunggu kedatangannya.

Apakah aku sudah terlihat rapih?

Menatap bayanganku yang terpantul di jendela Kafe. Hm, semoga saja sudah. Berkali-kali aku mengetukan jari-jemariku ke meja. Menutupi kegugupanku dan fakta bahwa ini kali pertama aku pergi berdua saja dengan seorang wanita.

Dia datang!

Aku melihat sosoknya sedikit berbeda dari gambaran yang terakhir terekam di ingatanku. Oh iya, ini pertama kalinya aku melihat dia dengan pakaian yang kasual bukan seragam. Tapi aku suka perasaan ini. Aku jadi sedikit mengenalnya bukan sebagai gadis yang senyumnya aku… ehm, sukai selama SMA.

Kali ini dia yang menyapaku duluan,

“Hey! Sudah lama ya?”

Oh, ternyata dia suka baca buku.

aku meneliti sedikit novel yang sedari tadi ia tenteng. Namun pikiranku teralihkan oleh lagu yang sayup-sayup terdengar di Kafe siang itu.

I’ve got a picture of your house…
And you’re standing by the door…

Aneh, perasaan tadi tidak ada lagu apapun. Apa aku saja yang tidak sadar ya?
Terbangun dari lamunan sesaatku. Ternyata dia lagi menutup mata sambil bersenandung kecil.

Eh, Warrant? Dia suka lagu seperti ini?

Terlepas dari panasnya siang itu. Dan tak seberapa banyak kata yang terlontar dari mulutku.
Fakta bahwa senyumannya kali ini hanya tertuju padaku.

Aku belajar untuk mengenalnya sedikit demi sedikit.




Ini kali pertama aku melihat dia dengan mimik wajah yang seperti ini setelah tiga tahun aku memperhatikannya. Aku masih saja terus diam terpaku menatap wajahnya, mendengar senandung kecil yang dia nyanyikan seirama dengan lagu yang saat ini kami dengar. Winy, dia terlihat semakin manis saat aku melihatnya sedekat ini. “Eh?” Dia sedikit kaget saat membuka matanya dan mendapati ku sedang memperhatikannya. Melihat eksprisinya, aku hanya melemparkan senyum kecilku kepadanya. “Ogi? Ada apa?” Dia yang baru saja menyadari aku memperhatikannya, langsung menyuguhkan pertanyaan padaku. “Eh, nggak kok Win... Nggak ada apa-apa...” Aku gugup menjawab pertanyaannya. Jelas saja, semenjak pertama berkenalan dengannya kemarin, ini kali pertama dia menyebut namaku. “Oh, aku pikir ada sesuatu yang aneh dari aku.” “Emm, nggak kok. Aku nggak ngerasa ada yang aneh dari kamu.” “Syukurlah, kalau begitu... Oh ya, aku suka banget lagu ini. Apa kamu pernah mendengarnya sebelum ini?” Winy mencoba menimbulkan topik baru di antara kami. “Aku? Belum, sih.” “Emm, lagu ini bagus loh, apa lagi kalau kamu ngerti artinya. Liriknya penuh ungkapan-ungkapan yang jarang ada di lagu lain...” Dengan penuh antusias Winy menjelaskannya padaku, sedangkan aku hanya mengangguk-anguk kecil menyimak tutur katanya.

Argh! Kenapa aku jadi bersikap garing seperti ini? Aku terlalu gugup di hadapannya, lidahku kelu untuk ku mengucapkan sepatah kata meski bekali-kali aku memikirkannya. Aku tak boleh terus seperti ini. Bukankah ini kesempatan pertamaku untuk bisa sedekat ini dengannya? Aku tak boleh merusaknya, aku harus buat ini berkesan. “Gi?” Suara lembut Winy menyadarkanku dari lamunan. “Kenapa diam?” Lanjutnya lagi. Ayolah, buat suatu poin! “Ah, nggak... Itu... Winy, bulannya indah ya?” Argh tidak, apa yang aku katakan? Ini kan, siang hari. “Ha? Bulan?” Winy terlihat bingung dengan ucapanku. “Ah, maaf. Aku ngelantur.” “Phft... Ehehe...” Winy yang tersadar dengan tingkah konyolku, mengeluarkan tawa kecilnya yang terlihat sedikit ditahan. “Apaan sih kamu, Ogi? Kamu lucu, tau nggak?” Tutur Winy yang masih saja tertawa. “Ah, udah dong, Winy. Aku malu...” Aku tersipu malu dengan tingkah bodohku di hadapannya. Tapi di samping itu, aku senang bisa membuatnya tertawa. Entah kenapa, semenjak melihatnya tertawa aku merasa jarak di antara kami semakin menghilang. Sekarang aku sudah sedikit lebih berani untuk mengucapkan sesuatu padanya.

Sudah sekitar setengah jam kami duduk mengobrol di tempat ini. Winy yang beberapa saat lalu pergi ke toilet, baru saja kembali. Winy duduk di hadapanku, tepat seperti sebelum ia pergi tadi. Winy terlihat berbeda. Raut wajahnya tak seriang sebelumnya, seperti ada sesuatu yang membebani pikirannya. “Kamu kenapa, Winy? Kok cemberut gitu?” Mendengar pertanyaanku, Winy hanya menganggukkan kepalanya menandakan bahwa dia baik-baik saja. Tatapan matanya tertuju ke suatu tempat yang ada di belakangku. Rasa penasaran tercipta dibenakku, aku sedikit memutar tubuh dan mengedar pandanganku ke belakang. Tak ada siapapun yang terlihat di belakangku. Ada apa dengan Winy? Apa yang mengganggunya? Tunggu... Aku melihat sebuah mesin permainan di salah satu sudut kafe. Sebuah mesin dengan tumpukan boneka terlihat di dalamnya. Aku mengembalikan pandanganku pada Winy yang masih terlihat kusut. “Apa karena itu?” Tanyaku sambil sedikit menunjuk mesin itu dengan jari jempolku. Masih dengan raut wajah yang sama Winy mengangguk kecil. “Iya, Gi... Di situ ada tiga boneka kesukaanku. Aku mau itu..” Winy terlihat seperti anak kecil yang sedang merengek. “Hufft...” Aku menghela nafas melihat tingkah Winy yang menggemaskan.

 “Ayo...” Aku beranjak dan menarik tangan kiri Winy untuk menghampiri mesin permainan itu. Sesampainya di depan mesin itu, aku kebingungan dengan cara mengoperasikan mesin itu, tak ku jumpai slot untuk memasukkan koin dan sebagainya. “Eh? Nggak ada?” Syukurnya kebingunganku tak berlangsung lama karena ada salah seorang pelayan kafe yang menghampiriku dan memberitahu cara pengoprasiannya. Ternyata ini tak seperti yang ku bayangkan, aku harus membuat logincard, sebuah kartu  untuk mengakses mesin itu. Akhirnya setelah membuat dan memilikinya aku bisa memulai permainan. Aku memasukkan kartu ke dalam tempat yang tersedia di mesin itu. Sebuah LCD digital menunjukkan saat ini aku memiliki sepuluh poin, yang artinya aku memiliki sepuluh kali kesempatan untuk bisa mengeluarkan boneka dari dalam mesin. Ya, aku mulai menarik tuas di mesin itu, mencoba menggerakkan sebuah lengan besi di dalam mesin, memfokuskan pikiran pada boneka berwarna kuning yang Winy inginkan. Aku berhasil mencengkram boneka itu dan pada saat aku mencoba menariknya keluar, boneka itu terlepas. Ah, aku gagal pada kesempatan pertama, ternyata ini lebih sulit daripada yang aku bayangkan. “Yah, lepas. Padahal tinggal dikeluarin.” Tutur Winy yang sedang serius memperhatikanku. Baiklah, aku harus mencoba lagi. Kesempatan kedua, aku mencengkram boneka itu dan berhasil mengeluarkannya... “Akhirnya...” “Ye... Dapat satu...” Winy terlihat senang melihat keberhasilan pertamaku. Tanpa menunggu lama, Winy langsung menyambar boneka yang baru saja keluar dari mesin.

Aku terus mencoba untuk mendapatkan boneka lain yang tersisa. Saat ini Winy telah memeluk dua boneka yang dia inginkan. Masih ada satu boneka kuning lainnya di dalam mesin menunggu untuk ditarik keluar. Sementara, aku hanya memiliki satu kesempatan lagi. “Ini yang terakhir, Winy...” Tuturku pada Winy yang sedang menatap ku penuh harap. “Nggak apa kok, kalau yang terakhir ini gagal. Dua boneka ini udah cukup membuatku senang. Tapi, aku yakin kamu bisa...” Winy mencoba meyakinkanku, seolah dia tak ingin aku memiliki beban pikiran. Aku hanya tersenyum dan kembali fokus pada mesin dan boneka itu. Lengan besi itu berhasil mencengkram bonekanya lagi, aku menariknya dengan penuh kehati-hatian. Semoga bisa, semoga bisa... Kalimat itu terus terulang dipikiranku, berharap aku bisa menyempurnakan kebahagiaan yang Winy inginkan. Pluk... Bingo! Usaha terakhirku berhasil mengeluarkan boneka untuk ketiga kalinya... “Ye...” Winy terlihat lebih gembira dibanding sebelumnya. “Makasih, Gi.. Kamu hebat! Sekarang aku punya tiga bonekanya...” Ucap Winy sambil memeluk erat ketiga boneka itu. Ya, melihatnya bisa sebahagia ini membuat ku sangat senang.


Pukul 7 malam...

Di atas hamparan tempat tidur ini ku rebahkan tubuhku. Bersama datangnya gelap malam, rasa lelah di tubuhku berkumpul. Entah kenapa hari ini terasa sangat panjang, aku ingin secepatnya memejamkan mataku untuk bersiap menemui hari esok. Tapi ada sedikit rasa gelisah yang mengusik ku. Bukan, sepertinya ini bukan kegelisahan. Aku hanya teringat kembali akan senyuman gadis itu, Winy. Rasanya masih melekat jelas lekuk senyum dibibirnya, suara lembut yang memanggil namaku. Terus terulang adegan-adegan siang tadi dimana dia terlihat bahagia saat aku bisa memenuhi keinginannya. Tapi... Setelah sekian lama aku melihat senyumnya, aku baru menyadari ada sesuatu yang dia coba tutupi. Ya, siang tadi di kafe itu. Beberapa saat sebelum kami berpisah, tepatnya sesaat setelah dia tersenyum bahagia karena aku berhasil memberikannya boneka-boneka itu. Dia mulai bercerita dan terbuka pada ku tentang kondisi keluarganya saat ini. “Makasih, Gi... Kamu udah buat aku ngerasa senang hari ini. Setidaknya, walaupun hanya sebentar kamu udah buat aku lupa dengan masalahku?” Wajah Winy terlihat sedikit muram. “Eh? Maksudmu, Win?” “Keluargaku... Papa mama aku baru cerai beberapa hari yang lalu. Sejak saat itu, aku agak sedikit susah untuk tersenyum?” Deg! Betapa terkejutnya aku saat itu menyadari dirinya yang sedang dalam kondisi hati yang tidak baik. Aku tak pernah menyadari sebelumnya, dia memilik masalah seperti ini. Ternyata, dibalik senyum seindah itu masih bisa tercipta kesedihan. Winy, dia perempuan yang kuat.

Tiit... Suara dering kecil terdengar dari handphone yang ada di sebelah bantalku. Hanya sebuah email tidak penting yang masuk. “Eh?” Tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu yang sangat penting. Aku lupa untuk meminta alamat email milik Winy sebelum kami berpisah tadi. Ah, kenapa aku bisa seteledor itu? Bagaimana aku bisa bertemu lagi dengannya nanti. Jangankan tempat tinggalnya, namanya saja aku baru mengetahuinya kemarin. Begitu bodohnya aku melupakan hal sepenting ini...


4 bulan kemudian, Pukul 10 pagi

Aku pikir, saat waktu senggang seperti ini aku lebih ingin menghabiskannya di kamar saja. Hari ini tak ada jam kuliah, sepenuhnya aku bebas menghabiskan waktuku untuk melakukan apapun. Ya, sudah dua minggu tepatnya aku resmi menjadi seorang mahasiswa di suatu sekolah tinggi swasta. Pakaian putih abu-abu penuh kenangan itu sekarang hanya tergantung di dalam lemari pakaian, dan diam menyimpan erat bukti kesaksiannya melewati hari bersama ku di sekolah, memperhatikan seorang gadis di jam istirahat. Winy... Empat bulan berlalu tanpa melihat senyumnya. Terakhir, aku melihatnya di dalam taksi melambaikan tangan kepadaku sambil memeluk tiga boneka kuningnya. Sudah cukup lama, tapi aku masih bisa mengingat saat-saat itu dengan jelas... Apa yang sedang dia lakukan saat ini, ya?

Aku mengambil sebuah novel yang ada di meja belajarku. Sebuah novel milik Winy yang dia titipkan padaku di kafe siang itu sesaat sebelum kami berpisah. Saat itu kedua tangan Winy sudah penuh untuk memeluk boneka-bonekanya. Jadi aku putuskan untuk membantu membawakan novelnya. Entah apa penyebabnya, saat Winy mulai masuk ke dalam taksi, kami malah melupakan novel yang ada di genggamanku. Konyol sekali.

Aku selalu membaca novel ini di setiap waktu senggangku. Bahkan, aku sudah selesai membacanya berulang kali dan aku belum merasa bosan sedikitpun. Novel ini sangat menarik, kalimat-kalimatnya terangkai rapi seolah penulisnya ingin menciptakan suatu puisi tanpa adanya akhir dengan novel ini. Selain itu, banyak pelajaran yang bisa ku petik dari dalamnya. Dan, ada satu kalimat yang kurang begitu ku mengerti maksudnya, tapi aku begitu menyukainya. “Kebetulan itu adalah sekenario Tuhan yang belum kita ketahui. Jika seseorang selalu bisa menemukan mu di suatu tempat, dia adalah orang yang mencintai mu, karena dia selalu mengerti tentang apa yang kamu pikirkan.”

Meskipun sampul dan kualitas cetakannya tak begitu baik seperti novel pada umumnya, aku tetap menyukainya. Aku membolak-balik novel itu, memperhatikan gambar sampul depan dan belakangnya. Mataku terhenti pada bagian samping novel itu, di sudut pangkal sampul dimana terdapat sebuah tulisan kecil yang belum pernah ku baca sebelumnya. “Winy Witri Widya.” Aku terkejut membacanya. Nama ini... Mungkinkah ini nama seorang Winy yang aku kenal? Apa Winy adalah penulis Novel ini?

Aku membuka Novel itu kembali, membuka lembar demi lembar menuju halaman yang ada di sekitar halaman akhir, dan aku menemukan sebuah kolom yang berisi profil penulis. Aku tak menemukan kepastian bahwa itu adalah Winy yang ku kenal dengan melihat profil ini. Tapi di profil ini tercantum sebuah nama akun sosial media yang dimiliki penulis. Mungkin aku harus mengeceknya jika ingin mendapatkan jawaban. Terbuka beberapa akun dengan nama yang hampir sama, dan aku membuka salah satunya. Saat aku melihat foto yang tertera, aku yakin ini adalah akun milik Winy. Berarti, penulis novel ini juga seorang Winy yang aku kenal. Tapi sayangnya, status terakhir yang dibuat oleh Winy “aku kangen papa” sudah tiga bulan yang lalu. Berarti akun ini sudah lama tak dia sentuh. Meskipun begitu, aku tetap mengirimkannya pesan, berharap dia akan membaca dan membalasnya nanti.


Esok hari jam dua siang di kantin kampus

Aku mengecek akun sosial mediaku, mengecek kotak masuk. Tapi kecewa, tak ku dapati balasan dari Winy. Padahal, kemarin aku merasa senang karena ku pikir masih ada harapan untuk bisa bertemu dia kembali. Oh, saat ku gulir halaman sosial medianya ke bawah, aku menemukan status lamanya “pagi ini siap-siap untuk tes di Da Vinci High School.” Emm, apa dia sekarang kuliah di sini ya? Tapi mungkin saja dia tak lulus tesnya. Ah, aku tak harus perduli akan hal itu. Jika tak dicoba, aku tak akan mengetahuinya.
Siang itu juga aku pergi ke sekolah tinggi Da Vinci. Meski belum pernah ke sana tapi aku tahu lokasinya terletak di daerah pesisir.

Aku sudah tiba, dan baru saja melewati gerbang kampusnya. Ternyata banyak mahasiswa yang kuliah di sini padahal di kampus ini hanya ada fakultas seni dan budaya saja. Ah, aku pasti akan sangat sulit menemukan Winy di sini. Terbukti, sudah lebih dari satu jam aku berkeliling di kampus ini, tapi tak ku temukan sosoknya. Rasanya cukup lelah mencari sesuatu yang tak pasti seperti ini. Tapi entah kenapa aku begitu berharap bisa menemukannya di sini. Aku ingin melihat senyumnya lagi. Aku tahu, aku sangat merindukannya. Tapi tidak berarti aku menaruh rasa cinta padanya. Rasanya aku belum punya alasan yang pasti untuk mencintainya.

Sekarang, aku sedang berada di sebuah koridor lantai dua, tepatnya di depan ruangan theater. Aku mengedarkan pandanganku ke bawah sana, menelusuri wajah demi wajah yang lalu-lalang. Di kejauhan aku melihat seorang perempuan sedang berjalan menuju gerbang keluar kampus. Seorang perempuan dengan rambut pendek sebahu sedang berjalan sambil membaca buku yang ada di tangannya. Dia... Winy, kah? Aku bergegas lari menuruni tangga mengejar keberadaan itu. Aku terus memacu kecepatanku, khawatir akan kehilangan jejaknya. Sosoknya mulai terlihat... “Winy!” Aku meneriakkan namanya, berharap dia mendengar aku memanggil namanya. Perempuan itu menghentikan langkahnya dan perlahan membalikkan tubuh menoleh kepadaku yang semakin mendekat. Ternyata benar, itu Winy.

“Winy...” Aku memanggil namanya sekali lagi sesaat sebelum aku berhenti di hadapannya. “Hosh... Hosh...” Aku terengah-engah di hadapannya, nafasku hampir habis setelah berlari cukup jauh. Winy yang saat itu terkejut melihat keberadaanku sempat terdiam. Matanya terbelalak, menarik nafas paksa dari mulutnya yang terbuka kecil. “O... Ogi... Kamu, kamu kenapa bisa ada di sini?” Terlihat dari mimik wajahnya Winy masih belum percaya aku muncul di hadapannya tiba-tiba. “A, aku... Hosh... Hosh...” Nafasku masih terengah-engah, sampai sulit rasanya untuk berbicara. Winy yang menyadari kondisiku langsung mengambil air mineral dari dalam tasnya. “Ini... Minumlah!” Aku menerima sebotol air mineral itu dan meneguknya sampai hampir setengah botol. “Gi... Apa yang kamu lakukan di sini?” Winy yang melihatku sudah baikan kembali bertanya. “Winy... Dari tadi aku mencari mu.” Jawabku dengan nafas yang belum sepenuhnya kembali normal. “Mencari ku?” “Ya, sudah dua jam aku di sini. Akhirnya, dari atas sana aku bisa menemukanmu.” aku menunjuk koridor lantai dua tempat dimana tadi aku berada. “Di sana? Jadi kamu berlari sejauh itu? Bagaimana bisa kamu mengenali ku dalam jarak sejauh itu?” Dengan penuh heran Winy melontarkanku banyak pertanyaan. “Entahlah, meski nggak begitu jelas, aku yakin kalau yang ku lihat itu kamu, dan ternyata dugaanku benar.” “Hufft...” Winy menghela nafas berat sambil membuang pandangannya kesamping. “Ada apa, Winy?” Dia masih belum mengembalikan pandangnya padaku. “Aku pikir kita nggak akan bisa ketemu lagi. Aku sangat menyesal telah lupa mengajakmu bertukar kontak?” Tutur Winy. Sekarang pandangannya telah kembali, tapi terbesit sedikit rasa bersalah di raut wajahnya saat dia menatap mataku. “Sudahlah, Winy. Aku pun sama denganmu. Semenjak hari itu aku selalu berpikir bagaimana caranya bertemu denganmu, sementara aku nggak tau apapun tentang kamu. Tapi pada akhirnya, di tempat ini kita dipertemukan lagi.” Aku mencoba mengucapkan sesuatu untuk menghibur hatinya. “Kenapa kamu sampai melakukan semua ini untuk bertemu denganku? Kenapa kamu bisa tau kalau aku kuliah di sini?” “Entahlah, bagaimana aku bisa sampai di sini, ceritanya cukup panjang. Daripada itu, apa sekarang kamu sudah mau pulang?” Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Emm, belum. Aku baru saja berniat untuk pergi ke suatu tempat. Bagaimana dengan kamu? Kamu juga mau pulang? Atau kamu mau ikut dengan ku?” “Ha? Kemana? Ngapain?” Tanyaku penasaran. “Tuh...” Winy mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk sebuah menara mercusuar di luar sana. “Pergi ke sana... Itu tempat favorit aku untuk menghabiskan waktu soreku. Kamu mau ikut?” Winy tersenyum saat menawari ku.

Tinggi dan tua. Itu kesan pertama saat aku sampai di bawah menara ini. “Ayo, naik ke atas...” Winy menggait lengan kiriku dan mengajakku masuk ke dalam menara, sama seperti saat aku menarik tangan kirinya di kafe hari itu untuk memainkan mesin permainan. Di dalam ruangan cukup gelap, hanya bias cahaya matahari yang masuk melalui jendela yang menerangi ruangan ini. Cukup sekali melihatpun, aku langsung tau. Menara ini adalah sebuah mercusuar yang sudah lama tak terpakai... Winy masih menggandeng tanganku, menuntunku untuk menaiki tangga dan akhirnya kami sampai di puncak menara. Dari sini, aku bisa melihat keadaan pantai dengan jarak pandang yang lebih luas. Wush... Angin laut menerpa Winy, dan saat itu aku melihat dia sedang memejamkan matanya menikmati terpaan angin ini. Ekspresi tenang yang sama seperti saat dia menikmati lagu di kafe waktu itu. “Apa kamu menyukai tempat ini?” Winy membuka matanya dan bertanya padaku tiba-tiba. “Eh, itu... Aku, aku suka.. In, indah...” Aku tergugup menjawabnya. “Indahnya bukan karena ada bulan, kan? Hihi...” Winy tersenyum mengejek ku. “Ah, itu...” Aku hanya bisa tersipu malu, ternyata Winy masih mengingat tingkah konyolku waktu itu.

“Emm, Winy... Ini milikmu. Maaf, waktu itu aku lupa untuk mengembalikannya.” Aku  menyodorkan novel yang sedari tadi ada di dalam tasku. “Oh... Kamu masih menyimpannya? Terima kasih...” Winy terlihat senang saat melihat novel itu lagi. “Kenapa kamu membawanya ke sini, Gi?” “Aku memang selalu membawanya, karena aku tau kita pasti bertemu lagi.” Winy hanya diam menatap ku heran. “Winy... Novel itu, apa kamu sendiri yang menulisnya?” “Emm, itu... Begitulah...” Winy tersipu malu, dia langsung membalikkan badannya dan menghadap pagar pembatas menara, mencoba menyembunyikan wajahnya dari ku.

Tak terasa sudah cukup lama kami berada di sini. Haripun mulai gelap. “Hei...” Seorang laki-laki berteriak dari bawah menara sambil melambaikan tangannya pada kami. Winy melambai kecil ke arah laki-laki itu dengan ekspresi yang datar. “Maaf, Gi... Aku harus pulang sekarang.” “Emm, ya Winy... Nggak apa-apa kok. Kamu pulang dengannya?” Tanyaku sambil sedikit memicingkan mataku pada laki-laki itu. Winy hanya mengangguk kecil lalu bertanya padaku “kamu juga mau pulang?” “Eh, emm... Aku masih ingin di sini sebentar lagi.” “Emm, baiklah. Kalau begitu, hati-hati nanti pulangnya. Jangan terlalu lama di sini.” Winy tersenyum dan mulai turun untuk menjumpai laki-laki itu.

Mereka bejalan berdua sambil bergandengan tangan. Terlihat semakin menjauh dari menara tempat aku memperhatikan mereka. Tapi, sempat sekali Winy menoleh ke belakang melambaikan tangannya padaku. Tersenyum indah seperti sedang mengatakan sampai jumpa... Ah, siapa yang menyangka... Laki-laki yang sedang menggandeng tangannya saat ini adalah teman yang bersamanya saat aku melihat dia pagi itu di atas hamparan pasir pantai putih. Laki-laki itu juga teman sebangku yang waktu itu meneriakkan nama Winy saat menyadari ayam gorengnya telah ditukar. Bertahun-tahun aku memperhatikan Winy, baru hari ini aku mengetahui tentang hubungan mereka.


Minggu Sore, di dalam kamarku...

Sudah empat hari berlalu semenjak pertemuanku dengan Winy di menara itu, dan setelah saat itu aku sempat bertemu dengan Winy di kafe sekedar duduk ngobrol biasa. Disamping itu, aku juga setiap hari bertukar cerita dengannya melalui email. Ternyata bukan sekedar dugaanku, tapi memang sejak SMA Winy sudah menjalin hubungan khusus dengan laki-laki itu. Ada sedikit rasa kecewa mengetahuinya, tapi aku mencoba untuk bersikap biasa saja dan tak berubah di hadapan Winy. Sampai hari inipun aku masih tetap mengirim email padanya. Tapi semenjak semalam aku tak mendapat balasan sekalipun darinya. Aku sedikit khawatir karena siang tadi di sosial media aku melihat dia menuliskan sesuatu yang menunjukkan bahwa dia sedang dalam kondisi tidak baik.

Aku beranjak pergi ke kafe, mungkin aku bisa menemukannya di situ. Tapi ternyata nihil, tak dapat ku jumpai sosoknya di sini. Wini baru saja menulis di sosial medianya lagi. “Apa orang-orang yang aku sayangi hanya ilusi?” Ada apa dengan Winy? Apa ini ada hubungannya dengan orang tuanya lagi. Atau mungkin, karena laki-laki itu? Ah, iya... Aku baru ingat kemarin aku sempat melihat Laki-laki itu bersama seorang perempuan di dalam mobilnya. Memang tak begitu jelas karena dia hanya terlihat sekilas dan berlalu. Tapi aku yakin itu dia.

Aku bergegas pergi ke kampus Winy. Mencarinya ke berbagai tempat, tapi tak kunjung aku menemukannya. Padahal keadaan kampus sudah cukup sepi karena hari sudah semakin sore. Sementara, winy menulis lagi “Angin... Aku ingin merasakannya di sini. Setidaknya aku ingin melihat matahari senja itu sekali lagi.” Winy... Apa yang kamu lakukan? Dimana kamu? Aku mulai terserang rasa cemas setelah membaca tulisan yang Winy tulis. Aku harus cepat menemukannya.

Aku membaca lagi berulang kali tulisan itu. Mencoba mencerna apa yang Winy tuliskan... “Angin... Merasakan... Ingin... Melihat...” Angin? Tunggu, aku mengingatnya kembali, sosok Winy yang memejamkan matanya dengan tenang saat angin menerpanya. Saat ini, dia pasti ingin melihat mentari senaja, untuk yang terkahir kalinya di suatu tempat, di tempat itu. Ya, menara... Dia pasti ada di sana... Aku bergegas lari sekuat tenaga setelah menyadari keberadaan Winy. Cukup jauh jika hanya berlari, menara itu terletak hampir tiga ratus meter dari kampus ini. Aku tak perduli, aku terus berlari. Ku lihat langit semakin gelap, cahaya matahari mulai menghilang dari mega. Aku harus lebih bergegas sebelum semuanya terlambat.

Dari bawah aku melihat sosok Winy yang berdiri di atas pagar pembatas menara. “Winy!” Aku berteriak memanggilnya. Winy hanya menoleh ke arahku dengan tatapan kosongnya. Menangis? Aku melihat ada sisa air mata yang telah diseka di pipinya. Aku panik dan langsung berlari menaiki menara. Berharap sesuatu yang buruk tak terjadi. “Winy! Jangan Lakukan!” Saat aku sampai di atas, Winy melompat menjatuhkan dirinya kebawah. Brukk!!! Dadaku keras menghantam pagar pembatas itu. Tapi aku berhasil menangkap tangan Winy sesaat sebelum dia benar-benar terjatuh. Aku memegang erat tangannya yang tak membalas genggaman tanganku. Dia masih bergantung dan aku tak ingin melepaskannya. “Winy! Kenapa kamu lakukan ini?” Aku masih terus berusaha menarik tangannya. “Lepaskan Gi! Lepaskan aku!” Winy memberontak, berusaha membuat tanganku melepaskannya. Aku masih saja terus bersikukuh tak ingin melepas. “Jangan Winy!” “Aku bilang, lepaskan! Aku nggak mau lagi hidup seperti ini...” Aku menatap matanya yang kini kembali meneteskan air mata. Tak ku dapati lagi sosok Winy yang kemarin, sosok Winy yang selalu tersenyum manis. Yang ada hanyalah raut kesedihan dan rasa putus asa.

Aku semakin kehabisan tenaga, dadaku terasa sakit karena menahan beban tubuh Winy, dan genggamanku perlahan semakin mengendur. Apa ini saat-saat terakhir aku bisa melihat Winy? “Winy... Aku mohon, genggam tanganku...” Suaraku lirih terdengar kecil, tapi cukup untuk bisa terdengar olehnya. Winy menatapku dalam, dengan air matanya yang terus mengalir. Saat itu entah apa yang dia pikirkan, Winy membalas genggaman tanganku. Inilah kesempatanku, disisa tenaga terakhirku, aku memaksakan untuk mengeluarkan tenagaku. “Arggh!!!” Aku menggeram saat mengeluarkan semua tenagaku. Aku berhasil menarik Winy ke atas dan kami terlempar. Tubuhku menabrak dinding yang ada di belakangku, dan aku terduduk lemas. Sedangkan Winy, dia terjatuh tepat di atas tubuhku. Semuanya terjadi begitu cepat hingga aku menyadari bahwa aku tak kehilangan Winy.

Aku langsung memeluk Winy erat. Air mataku mengalir untuk pertama kalinya untuk dia. “Jangan lakukan, ini lagi...” Suaraku sedikit tersendat saat membisikkannya di telinga Winy. “Kenapa kamu datang? Kenapa kamu selalu bisa menemukanku?” Tutur Winy yang masih menangis dalam pelukkanku. “Jangan bodoh... Kamu sendiri yang mengatakan ‘kebetulan adalah rencana Tuhan yang belum kita ketahui. Jika seseorang selalu bisa menemukan mu di suatu tempat, dia adalah orang yang mencintai mu, karena dia selalu mengerti tentang apa yang kamu pikirkan.’” Hening... Aku dan Winy tak berucap sesaat setelah aku mengucapkan itu. Winy semakin memeluk tubuhku erat. “Dari awal aku selalu memperhatikanmu. Tak perduli dimanapun kamu menangis sendirian, aku tetap akan menemukanmu. Meski seluruh dunia memusuhi mu pun, aku tetap di pihakmu. Itu karena, aku mencintaimu, Winy...” Winy hanya diam tak menjawab apapun, yang aku rasakan hanyalah pelukannya yang semain erat mendekap tubuhku dan isak tangisnya yang semakin menjadi.


Kamis, dihadapan mentari senja...

Angin laut dan mentari senja... Apa mereka tahu tentang apa yang aku rasakan? Suatu gejolak manis setelah adanya tangisan. Sebuah perasaan indah yang mengalun meninggalkan sepi. Perasaan yang aku rasakan bersama pemilik senyuman itu. Senyum yang selama tiga tahun selalu ku lihat saat jam istirahat sekolah, dan sekarang lekukan manis itu tercipta hanya untuk ku.
“Aku ingin selamanya seperti ini. Jangan pernah tinggalkan aku...” Bisikkan lembut itu terdengar dari seorang gadis yang memeluk punggungku dari belakang. Gadis pemilik senyum di jam istirahat itu. Aku telah berjanji pada diriku sendiri akan selalu menjaga senyuman indah dan pemiliknya itu.
Karena aku... Mencintaimu, Winy...