2 Desember 2014

Keberadaan Veranda

Jessica Veranda

Kehidupan terlalu banyak merengut, tapi terlalu sedikit memberi. Dari sekian sedikit pemberian, kamu adalah salah satu pemberian terindah. Aku hidup bukan untuk waktu yang lama, maka dari itu aku aku akan terus menikmati keindahan ini selagi aku bisa. 

Nggak banyak hal yang ku pikirkan waktu aku memilh kamu. Entah dengan alasan apa aku menganggap kamu berbeda dari yang lainnya dan aku tertarik untuk mengetahui apapun tentangmu. Ternyata aku nggak sadar, memilih kamu sebagai oshi-ku itu bakal menyingkirkan dua posisi teratas member di hatiku, Shania dan Ghaida. Memilih oshi memang terasa lebih mudah daripada harus berusaha setia bertahan dengan oshi yang sama dalam waktu yang lama. Ya, meskipun belum terlalu lama, tapi udah lebih dari satu tahun aku memperhatikan mu dan berusaha memberikan dukungan dengan cara sebaik mungkin. Aku minta maaf kalau seandainya aku belum bisa mendukung mu dengan baik, mungkin juga kamu belum bisa mersakan support yang aku berikan untuk kamu. Aku hanyalah orang yang selalu hanya sedikit berusaha untukmu, tapi aku melakukan semua yang ku bisa dengan setulus hati, mengharapkan kamu bisa senang dan sedikit bahagia. Aku bukan orang pertama dan satu-satunya yang mendukungmu. Akupun bukan orang yang pernah memberikan mu hal yang paling berharga. Mulai dari pertama dan sampai aku merasa cukup, aku bakalan berusaha untuk memberikan yang terbaik. 

Selama ini aku begitu terfokus sama kamu, hal itu membuat aku perlahan sadar, love never come to me if you don't come to my life, Ve. Ya, perasaan cinta yang seperti aku rasakan kepada mu ini nggak akan datang kalau kamu nggak pernah singgah di hidupku. Perasaan cinta ini terasa begitu berbeda dengan perasaan lainnya. Semenjak kedatanganmu, aku merasakan hal yang baru aku rasakan, dimana aku merasa mencintai mu meskipun aku sendiri sangat menyadari ketidak seimbangan perasaan ini. Aku melihat mu, kamu nggak melihat aku. Aku bahagia karena tingkahmu, tapi kamu nggak ngerasain apapun yang aku rasain. Ini bukan tentang perasaan yang nggak searah, tapi ini tentang perasaan yang nggak seimbang. 

Bahagia tapi menyedihkan, dan sedih tapi membahagiakan. Nggak ada status spesial antara kita, tapi aku merasa aku memilikimu. Aku bukan siapa-siapa, tapi aku bisa merasakan kecemburuan. Aku nggak pernah bertemu dengan kamu, tapi aku takut kehilangan. Semua ini terasa membingungkan, aku berada di antara kebahagiaan besar dan kesedihan yang dingin. 

Aku mempelajari semua tentangmu dari apa yang aku lihat dan hatiku mencoba untuk memahaminya lebih dalam dari semua itu. Mengertikah kamu? Seberapa banyakpun sorotan mengarah kepadamu sebanyak itulah panah menghujam jantungku. Jantung ini selalu terasa sakit saat aku memikirkanmu. Tersadar bahwa aku selalu jatuh cinta setiap kali memikirkan mu. 

Bodohkah? Ya, aku cukup bodoh karena perasaan ini. Aku sadar nggak akan pernah memiliki mu, tapi aku tetap saja mencintaimu. Ketidak perdulian ini adalah ketulusan, itulah mengapa aku bersedia untuk tetap berada dalam kebodohan ini, karena hanya itu yang membuat aku bahagia. 

Kalau saja esok hari kamu tiba-tiba menghilang, mungkin kebahagiaan yang selama ini ku rasakan juga ikut lenyap bersama mu. Bahwasannya kamu adalah bagian dari hidupku yang selama ini tanpa kamu sadari telah menemani hidupku. Sosok transparan yang begitu memotivasi agar aku nggak berhenti merasakan kebahagiaan. Kamu selalu menyembunyikan lemahku dengan semangatmu, dan kamu selalu menjaga semangatku dengan senyummu. Dengan apa aku harus membalas kebaikanmu? Aku hanya duduk di sini dan mendukungmu dengan apa yang aku bisa. 

So many sight came to you, that much as arrow stright on my heart. 
Begitu memukaunya tingkah lakumu membuat aliran darah ini nggak teratur. Sebanyak apapun sorotan mengarah kepadamu, sebanyak itu jugalah anak panah menghujam jantungku. Begitu memikatnya hingga aku enggan untuk berpaling. Hanya teralihkannya sorotanlah yang mampu membuatku berhenti memandangmu. 

You are older, and you haven't changed a bit, yet you are perfect just the way you are. Keberadaanmu hingga sekarang masih saja terjaga dengan baiknya. Meski tak lagi semuda yang dulu, kamu tetap terasa sempurna. Ya, keadaan yang biasa saja bertumbuh seiring dengan usiamu yang semakin dewasa. Satu-satunya hal yang nggak berubah darimu adalah keanggunanmu, tak sedikitpun. Meski tak lagi berubah dan berhenti cukup sampai di sini, itu tak apa, kamu sudah cukup sempurna dengan apa adanya.

Teruntuk kamu, nggak banyak hal yang aku pinta. Tapi aku memohon dengan sangat agar kamu nggak pergi dan tetap di tempat itu dalam waktu yang lebih lama lagi. Aku mengerti, usiamu saat ini mengatakan sudah seharusnya kamu untuk melakukan hal yang lebih serius dari yang saat ini kamu lakukan. Tapi mengertilah, aku masih belum cukup siap untuk merasakan kehilangan sosokmu. Beri sedikit waktu lagi untuk aku menikmati semua keindahan itu.

Dan yang terakhir, jangan pernah berubah. Tetaplah menjadi diri kamu yang sekarang, diri kamu yang rendah hati dan penuh kelembutan.