11 November 2014

Masa Kecil Yang Mengajari Hidup


 Waktu, waktu adalah tahap dimana seseorang menjalani masa-masa dalam hidupnya. Sesuatu yang sedang dijalani saat ini dan akan menjadi kenangan sambil melihat ke masa depan. Semua orang pasti memiliki tiga tahapan waktu ini selama dia masih merasakan nafas di dalam dirinya. Segala apapun akan berlalu dan dikenang di masa depan, entah itu kenangan baik ataupun buruk. Saat seseorang sedang berada di dalam zona waktu yang baik, dia tidak akan berpikir untuk kembali ke masa lalu. Sebaliknya, seseorang akan sangat merindukan masa lalu saat dia terjebak di zona waktu yang gelap dan menyedihkan.
                Selama ini, aku terlalu sering melihat seseorang merindukan masa lalu dan beberapa kenangan yang ada di dalamnya. Hal ini paling sering terjadi ketika seseorang sedang menempuh studi kuliah dan merindukan masa-masa SMA-nya. Entah apa yang membuat begitu banyak orang menginginkan untuk kembali ke masa itu, terlalu banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi. Padahal jelas sekali, mereka nggak akan pernah kembali ke masa itu lagi, tapi mereka tetap berharap dengan segenap keinginannya.
                Tapi sejauh ini aku nggak pernah berpikir untuk kembali ke masa laluku, terutama masa-masa SMA dulu. Ya, aku akui masa itu adalah masa dimana hampir semua hal terasa menyenangkan dan ringan untuk di jalani, tak begitu banyak beban yang harus dipikul. Tapi nggak, aku nggak pernah berpikir untuk kembali ke masa lalu seberapapun suramnya kehidupan yang saat ini ku jalani. Aku pikir, nggak ada gunanya berharap untuk kembali, itu bukan suatu impian yang benar. Menjalani hidup yang baik adalah dengan menikmati kehidupan saat ini, menjadikan masa lalu sebagai sejarah dan pengalaman hidup, dan mencoba memimpikan masa depan yang baik. Menikmati masa kini, mempelajari masa lalu untuk menggapai masa depan adalah salah satu cara mensyukuri keberadaan waktu yang kita miliki. Saat ini, aku selalu mencoba mempelajari suatu hikmah dan makna di balik masa laluku.
                Lihatlah, saat aku di dalam rahim ibuku, aku nggak ingat apa-apa, yang aku tahu aku selalu di beri kasih sayang oleh orang tuaku sejak sebelum aku dilahirkan. Setelah Tuhan mengijinkan ku untuk bernafas di dunia, hal yang pertama aku daptkan adalah pelukan hangat dari ibuku, lantunan adzan yang dikumandangkan seorang bapak di telingaku, lalu hal ketiga yang kudapatkan dan menjadi kebanggaanku sampai saat ini adalah nama. Ya, nama yang diberikan abang tertuaku pada diriku, Panca Safe Prayogi. Sejujurnya, aku nggak tahu banyak tentang namaku ini, aku hanya bisa menerka apa tujuan dan doa yang terselipkan dari sebuah nama yang dititipkan untukku ini. Panca, di ambil dari entah bahasa jawa, sang sekerta atau apalah, yang berarti lima. Secara sekilas ini menunjukkan bahwa aku adalah anak ke lima, tapi setelah di telusuri ternyata aku bukan anak ke lima, tapi ke tujuh. Aku memiliki dua saudara yang sudah meninggal sebelum aku dilahirkan,  Andi dan Siti. Lalu nama tengah, Safe. nama ini diambil dari bahasa Inggris yang artinya aman. Mungkin orang tua atau abangku menginginkan aku hidup di dunia ini dengan keadaan yang selalu aman. Ya, ini benar secara nyata terjadi, banyak contoh yang bisa di lihat. Seperti aku berulang kali celaka saat mengendarai motor di jalanan tapi aku masih selamat sampai sekarang, walaupun terkadang hampir mati. Lalu, dalam bidang studi, semasa sekolah aku bukan pelajar yang pintar, aku juga lumayan nakal selama di sekolah, aku berulang kali hampir di DO, nilaiku hancur, tapi aku selalu dalam posisi aman, aku tetap bertahan di sekolah yang sama, dan aku bisa lulus dari sekolahku tanpa harus mengulang. Lalu pada nama terakhir, Prayogi. Sampai sekarang aku nggak tahu sama sekali apa artinya, kapan-kapan search di google aja. Jadi, keseluruhan dari arti nama Panca Safe Prayogi adalah "anak ke lima yang selalu dalam posisi aman dan bercita-cita akan serching di google". Haha.. But, overall. Aku dapat kesimpulan nama adalah doa yang di titipkan kepada kita, agar kita selalu dalam keadaan baik, baik secara lahir dan batin. Jadi, aku nggak akan ganti nama ku di pesbuk dengan gaya alay seperti kebanyakkan anak muda di pesbuk, "Phanchaa Zzafee Prayogie"

Masa balitaku, ku habiskan di rumah tetangga atau sekedar seharian bermain di rumah temanku atau teman orang tuaku (ribet banget mau bilang dititipin ke orang). Banyak hal sih yang pengen aku ceritakan di masa ini. Dulu, aku suka banget main sama anak ayam,  subuh-subuh jam setengah lima langit masih biru gelap aku udah di halaman depan rumah ngerumpi sama induk ayam dan anak-anaknya yang lagi makan beras yang ku taburkan di tanah, momen itu sempat di abadikan entah oleh siapa dengan klise jaman dulu, semoga aja fotonya masih ada di rumah sintang. Dulu juga aku pernah punya pengalaman waktu masih umur empat tahun, aku ikut abangku, Joko ke sekolahnya, ikut belajar di kelas karena di rumah lagi nggak ada yang bisa jagain aku, saat itu abangku duduk di kelas satu SD. Hal pertama yang terjadi di kelas adalah, seorang ibu guru yang menjabat sebagai wali kelas abangku bertanya, "Joko, itu siapa?" abangku pun menjawab. "Adek bu, bapak nyuruh bawa ke sekolah." Bapak ku selalu punya ide gila. -_- "Besok-besok jangan di bawa lagi ya..."
                Masih ada satu lagi hal lain yang ku lewati bersama abangku. Waktu itu abangku kelas dua SD, dia masuk sekolah agak siang jam sembilan, sebelum dia berangkat, aku hanya berdua sama dia di rumah, orang tuaku udah pada berangkat kerja dan menitip pesan agar abangku mengantarkan aku ke tempat tetangga sekalian abangku berangkat sekolah. Mungkin sekitar setengah sembilan, abangku udah siap dengan seragam merah putinya, aku dan dia berencana berangkat dari pintu belakang rumah, saat di belakang rumah aku dan abangku ngelihat ayam yang lagi bertelur, niat isengpun keluar dari otaknya. Tanpa banyak berkata, dia acungkan jari telunjuknya ke pantat ayam yang sedang ngeden berusaha keras mengeluarkan telur dari lubang pantatnya. Dengan wajah binalnya abangku mendorong telur ayam yang sudah setengah keluar itu agar masuk kembali ke rahim ibunya. Dengan sekuat tenaga ayam itu menggerang berusaha mengeluarkan telurnya. Dengan suasana hati yang senang abangku nggak mau kalah begitu aja dengan si induk ayam, hingga akhirnya sang induk ayam kalah dan telurnya pun kembali masuk kedalam rahimnya. Dengan muka tanpa dosa, abangku telah berhasil memuaskan nafsu binalnya. Aku hanya terdiam memperhatikannya, entah ekspresi apa yang aku pasang saat itu. Yah, terkadang ada saja kisah di masa lalu yang bisa buat kita tersenyum saat mengenangnya.
                Akhirnya setelah melewati masa balita bersama tetangga dan kerabat orang tua, aku bisa masuk SD pada saat aku berumur tujuh tahun. Pada tahun sebelumnya aku di tolak karena badanku masih terlalu kecil. Masih kecil aja ditolak masuk SD, udah besar di tolak sama cewek-cewek. Sebenarnya, orang tuaku bukan dari kalangan yang berlebihan, bahkan satu hari sebelum masuk sekolah aku belum punya sepatu. Entah karena orang tuaku sedang tidak ada uang atau waktu itu sudah terlalu malam untuk membeli sepatu baru. Akhirnya, entah jam berapa saat itu, aku dan orang tuaku, pergi ke rumah kerabat, disitu kita meminjam sepatu anaknya yang udah nggak kepakai untuk ku pakai ke sekolah di hari pertama besok. Syukurlah mereka punya, tapi sayangnya yang ada hanya sepatu anak perempuannya yang bisa ku pinjam. -_- Saat itu orang tuaku mencoba meyakinkanku, inilah pilihan terbaik untuk saat ini. Aku dengan kepolosanku memandangi sepatu hitam dengan sedikit motif bunga kecil yang sedang terpasang di kakiku. Alhasil, aku menggunakan sepatu itu selama tiga hari. Untunglah, tak ada satupun temanku di kelas yang menyadarinya, dan selama tiga hari aku menggunakan sepatu itu, aku ngerasa enjoy banget. Ya, dari pengalaman ini aku belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu didapatkan dengan sesuatu yang terlihat bagus, apa lagi mewah. Apa yang kita inginkan bukan berarti yang kita butuhkan, mungkin apa yang tidak kita inginkanlah yang kita butuhkan. Saat kita bisa menerima apa yang kita punya, kebahagiaan akan terasa lebih indah.

                Next, hingga suatu ketika saat aku duduk di kelas tiga SD semester dua, aku pindah sekolah ke desa batu buil, kabupate melawi, kecamatan belimbing. Aku nggak lagi tinggal dengan orang tuaku, di sini aku tinggal dengan abangku yang paling tua serta kakak ipar dan keponakanku, Bima yang waktu itu masih duduk di kelas satu SD. Hari-hari pertama di sekolah baru berjalan dengan sewajarnya, nggak banyak hal aneh yang terjadi, aku punya banyak teman di sini, aku juga jadi anak populer dikalangan anak kelas tiga. Mungkin sedikit kepedean, tapi pada nyatanya memang kebanyakkan cewek di kelas tiga naksir sama aku, termasuk waktu itu si Oke (nama samaran) naksir berat sama aku. Di hari pertama dia langsung to the point kalau dia suka sama aku lewat suratnya yang kira-kira isinya “Panca, aku suka sama kamu. Kamu ganteng banget sih? Kamu itu kayak Vijay (*mungkin begitu nulisnya) artis india itu loh.” -_- Sungguh, aku merasa bodoh sekali mengingatnya kembali, aku memanfaatkan Oke untuk menjadi budakku, apapun yang aku mau, pasti dia akan menurutinya. Sejujurnya, nggak ada yang aku kangenin dari masa kecilku yang satu ini. Saat aku udah kelas empat SD, ada anak baru yang masuk di kelasku, namanya Angga, dari hari pertama ketemu sampai sekarangpun aku dan dia tetap akrab walaupun jarang ketemu lagi. Selama SD aku selalu sama dia, senang susah sama-sama, termasuk susahnya waktu di kejar Oke si bencong super yang dulu naksir sama aku. Memang aneh sih, dulu dia suka aku tapi waktu kelas empat dia jadi binatang buas yang sering ngejar-ngejar aku sama Angga. Waktu itu entah karena apa, untuk kesekian kalinya Oke ngejar-ngejar aku sama Angga, sampai keluar lingkungan sekolah. Setelah jauh kejar-kejaran Oke udah nggak keliatan lagi, aku dan Angga duduk istirahat di belakang rumah kepala sekolah dengan nafas yang ngos-ngosan. Sementara itu jam istirahat hampir selesai. Aku memutuskan untuk secepatnya kembali ke sekolah dengan berlari, Angga pun mengikutiku dari belakang, mungkin jarak aku dan dia berkisar tiga meter. Aku yang sedang terburu-buru berlari cukup kencang tanpa memperhatikan lingkungan di sekitarku. Dengan kecepatan lumayan tinggi (mungkin 22 km/jam) aku menabrak kawat jemuran tepat di dada yang terbentang di antara tiang kayu dan pohon pisang di sisi lainnya (ada sekitar lima atau enam pohon pisang yang berdempetan). Aku terpental ke belakang dan terjatuh terduduk, ku rasakan dadaku sangat sakit dan nafasku begitu sesak. Angga yang melihat pohon pisang yang bergoyang malah mengira ada Oke yang bersembunyi di situ. Angga menambah kecepatannya karena takut di tangkap Oke tanpa tahu ada kawat jemuran yang menanti di hadapannya. Aku mencoba berteriak mengingatkan, tapi aku nggak mampu mengeluarkan suaraku karena sesak. Wuzz... Brukk!!! Angga terpental dan terjatuh ke tanah, aku menoleh ke arahnya yang sedang telentang di atas rerumputan sambil menahan sakit. Nasibnya lebih buruk dariku, dia terpental lebih jauh karena dia menabrak kawat jemuran dengan kecepatan yang lebih tinggi dariku. Setelah beberapa saat, rasa sakit dan sesak yang kami alamipun mereda, saat di cek, dada kami membekas garis merah tepat di bagian dada. Sampai saat inipun pengalaman itu belum terlupakan. Aku dan Angga sering tertawa terbahak-bahak saat mengingatnya kembali. Dari kisah ini aku mengerti, sahabat yang sebenarnya adalah sahabat yang pernah menggoreskan tintanya di kehidupan kita, pernah melalui suka duka bersama, saling mengingat meskipun udah nggak sama-sama lagi, dan kadar keakrabannya tetap sama atau lebih walaupun udah lama nggak ketemu.


                Masih di kelas empat SD, dan masih di sekolah yang sama. aku menempati kelas yang nggak begitu besar, ukurannya seperti ruang kelas pada umumnya. Nggak begitu kumuh walaupun ada sedikit kecacatan dengan kelas ini. Ya, di bagian belakang ada dinding yang berlubang cukup besar, bentuknya memang nggak bulat sih, tapi diameternya bisa di perkirakan samapai 35 cm. Jadi, dari kelasku aku bisa melihat ke kelas lima yang tepat bersebelahan dengan kelasku, kebetulan waktu itu aku duduk sama Angga di kursi paling belakang, jadi aku bisa sering-sering mandangin kelas sebelah. Sungguh, keadaan kelas ini jadi nggak kalah miris dengan sekolahan di film laskar pelangi.
                Waktu itu, jam istirahat sudah hampir selesai, kelas masih tetap sepi ditinggal penghuninya pergi ke kantin, hanya tinggal aku dan temanku Bernabas yang masih tinggal. Aku nggak ke kantin bukan karena lagi nggak ada uang, tapi aku lagi nggak enak badan. Bernabas yang menyadari kondisi ku langsung melapor ke ruang guru. Kembalinya Bernabas ke kelas membawa seorang guru, Pak Rafinus (nantinya dia adalah bapak dari pacarku di kisah selanjutnya). Pak Rafinus tidak masuk ke kelas, dia hanya berdiri di muka pintu sambil berbicara padaku yang duduk lemas di  bangku belakang. "Kamu kenapa, Panca?" Tanya pak Rafinus. "Demam, pak." "Kamu pulang aja kalau memang nggak mampu." Tanpa banyak bicara lagi pak Rafinus kembali ke ruang guru. Sebenarnya aku masih mampu untuk ikut belajar sampai waktunya pulang, tapi karena memang lagi malas, ya ku putuskan untuk pulang. Entah kenapa, saat aku keluar dari kelas, banyak anak-anak kelas lima dan enam yang memperhatikanku. Baru saja kakiku menginjak tanah, ada seorang cewek yang aku nggak kenal itu siapa menghampiriku dari samping, dengan agak menunduk dia mencoba memperhatikan mukaku yang pucat. Dia berbicara padaku sambil memegang pundak kiriku. "Kamu kenapa? Demam ya?" Tanyanya dengan nada khawatir. "Iya." Aku menjawab tanpa menoleh ke arahnya. "Kamu mampu pulang sendiri?" Aku hanya menganggukkan kepala. "Kamu hati-hati, ya." Langkahnya terhenti, nggak lagi mengiringi langkah kakiku. Aku mencoba menoleh kebelakang, mencari tahu siapa cewek yang baru saja berbicara padaku. Aku melihatnya terdiam menatapku yang semakin menjauh. Ternyata dia anak kelas lima yang akhir-akhir ini ku taksir.
                Beberapa hari berlalu, saat jam istirahat tiba, aku selalu menghabiskan waktu di hadapan dinding berlubang itu. Melekatkan pandangan ke arah anak-anak kelas lima yang sedang asyik bermain di kelas. Sesekali pandanganku tertuju pada cewek yang tempo hari berbicara padaku saat aku pulang lebih awal karena sakit. Sesekali juga ku dapati dia sedikit menolehkan pandangannya kepadaku. Sungguh, aku ngerasa aneh memperhatikan dan di perhatikan olehnya tanpa tahu siapa dirinya, bahkan sampai saat itu aku nggak tahu siapa nama dia. Hingga hari-hari selanjutnya aku diberi tahu sama temanku kalau namanya Novi, sering di panggil Novi W karena di kelasnya juga ada anak lain yang bernama Novi S. Pada hari selanjutnya, di hadapan tembok yang sama dan kegiatan yang sama, Novi W yang ditemani Novi S datang menghampiriku, mencoba mengajak aku berbincang lagi. "Hai, adek.. Namanya siapa?" Tanyanya dengan wajah yang ceria. "Panca, kak." Aku hanya menjawab singkat karena terlalu gerogi. "kok di kelas terus?" "Aku malas kak, mau pergi ke kantin." "Emm... Kakak Mau tanya, adek  suka cewek yang kayak gimana sih?" Baru ku sadari, dia memegang secarik kertas dan sebuah pulpen di kedua tangannya, dia bertanya dengan posisi tangan seolah-olah bersiap untuk mencatat sesuatu. Saat itu aku bodoh banget, nggak sadar dengan kelakuan modusnya, dan dengan polosnya aku menjawab. "Apa ya, aku suka cewek yang cantik, tinggi, kayak kakak lah pokoknya." Dia seperti nggak merespon apa-apa, tapi tangannya sibuk seperti sedang mencatat apa yang baru saja keluar dari mulutku. "Oh, ya udah, makasih ya. Kakak pergi dulu." Dia pun berlalu meninggalkan ku.


                Keesokan harinya, pada saat istirahat Novi S, teman Novi W datang ke kelasku. Dia memberiku secarik kertas dan segera meninggalkanku. Aku membuka dan membaca secarik kertas yang ternyata adalah surat cinta dari Novi W. Aku nggak ingat jelas seperti apa persisnya kata-kata di surat itu. Intinya Novi W bilang kalau udah cukup lama dia suka sama aku. Nggak nyangka juga sih, bakalan dapat surat cinta dari dia, pastinya aku ngerasa senang. Tapi aku ragu untuk membalas suratnya dengan tulisanku sendiri, akhirnya aku cerita dan minta tolong sama Daus untuk menuliskan surat balasan dengan sama seperti apa yang akan ku ucapkan (sekarang aku merasa bodoh, ternyata tulisan Daus jauh lebih jelek dibandingkan dengan tulisanku). Setelah suratnya selesai, aku langsung meminta Daus mengantarkan suratku ke Novi W. Nggak berselang lama datang lagi surat ke dua dari dia, yang isinya nggak jauh beda dari surat yang sebelumnya. Lonceng tanda istirahat selesaipun berbunyi, tapi sebelumnya aku sudah sempat membalas surat ke dua dan sudah di kirim ke Novi W. Pelajaran terakhirpun dimulai, saat itu aku belajar dengan kondisi pikiran yang nggak fokus. Yang aku pikirkan hanyalah dia, dia dan dia.
                Pelajaran berakhir, kelasku yang paling pertama bubar dan nggak seperti biasanya aku pulang sendirian tanpa teman-temanku. Ku langkahkan kakiku dengan santai menuju rumah. Setelah agak jauh dari sekolah, aku menoleh ke belakang, terusik dengan suara sorak-sorak nggak jelas dari anak-anak kelas lima. Dari kerumunan itu ku lihat Novi W berlari ke arahku, terlihat jelas di tangan kanannya dia menggenggam kertas putih, mungkin itu surat dariku. "Panca!" Teriaknya sesaat sebelum mendekatiku. Mukanya terlihat merah dan marah. "Bilang sama teman-teman kamu, aku bukan pacarmu!!!" Setelah mengatakan itu, dia merobek-robek kertas yang ada di tangannya dan membuangnya di depanku. Dengan kemarahannya, dia berlari meninggalkanku, dan tanpa tahu harus memasang ekspresi yang seperti apa, aku melanjutkan perjalanan pulangku. Aku bingung, aku sedih, aku nggak tahu apa yang aku rasakan saat itu, dan aku nggak tahu harus bersikap apa, betapa polosnya aku saat itu. Satu hal lagi yang aku bingungkan sampai sekarang. Kenapa dia menyalahkan teman-temanku ya? Padahal yang ngejekin dia itu teman-temannya sendiri, tapi ya sudahlah.
                Semenjak kejadian itu, aku dan Novi W saling bersikap biasa-biasa aja, seolah nggak ada yang pernah terjadi sebelumnya. Waktu SMP aku sama dia satu sekolahan lagi, kalau ketemu juga nggak pernah tegur-tegruan, bersikap saling nggak kenal. Tapi nggak selamanya kayak gitu, buktinya saat ini, setelah sekian lama nggak ketemu, aku sama dia sering tegur sapa sekedar bertukar kabar lewat sms atau pesbuk.
                Cinta memang nggak selamanya berjalan seperti apa yang di harapkan, terkadang ada faktor eksternal yang datang menggoyahkan perasaan yang kita miliki, itulah kenapa sampai saat ini aku memaklumi sikapnya kepadaku dulu. Dan yang terakhir, meskipun kita pernah menjauh dari seseorang ada kalanya kita harus berhenti melakukan itu agar tali yang pernah terjalin nggak terputus begitu aja.  Kita harus bisa memaafkan kesalahan yang dilakukan orang lain dan kesalahan yang kita lakukan sendiri, biarkan masa lalu yang suram atau menyedihkan berlalu hanya sebagai lembaran cerita yang suatu saat akan kita baca kembali dalam bentuk buku yang akan mengajari langkah kita selanjutnya.
                Memori di masa kecil masih banyak yang tersimpan di otakku. Masih dengan kisah cinta monyet yang nggak jauh beda. Tahun 2005, aku duduk di kelas lima SD, aku jatuh cinta lagi sama cewek pindahan. Dia satu kelas dengan aku, dari pertama masuk aku langsung falling in love sama dia. Namanya Arina, entah berapa lama aku jatuh cinta dengan dia, tanpa pedekate aku berencana untuk nyatain cinta ke dia, saat itu Angga juga pengen nyatain cintanya ke cewek yang dia taksir, tapi kali ini aku lagi nggak pengen cerita tentang kisah cinta Angga. Setelah tanya-tanya temanku, temanku bilang kalau kasi kado buku diary waktu nyatain cinta, mungkin bakalan diterima. Mungkin waktu itu hal seperti ini terkesan romantis, tapi setelah sekarang ku ingat-ingat lagi rasanya norak banget. Akhirnya pada suatu sore aku dan Angga pergi ke suatu toko alat tulis kerja (ATK) untuk membeli buku diary yang paling bagus. Ada banyak buku diary yang kami temui, dari yang harganya empat ribu rupiah sampai yang paling mahal tiga puluh ribu rupiah. Setelah beberapa saat berunding dan memilah-milah, aku dan Angga memutuskan untuk membeli buku diary yang paling mahal.


                Keesokan harinya sepulang sekolah, aku memberikan buku diary itu ke teman Arina (aku lupa siapa temannya itu) agar dia menyampaikan buku diary itu beserta cintaku kepada Arina. Si cewek pergi melaksanakan misi, aku yang ditemani Angga menunggunya di depan kelas. Sekitar lima belas menit kemudian cewek itu kembali dengan buku diary yang masih utuh di tangannya. Tanpa menerka terlebih dahulu, aku bertanya kepadanya (maaf, percakapan berikut hanya karangan belaka dikarenakan penulis tidak ingat percakapan aslinya). "Kok, nggak jadi dikasi?" Tanyaku cemas. "Itu, Arina nggak mau terima, katanya" "Loh, kok gitu?" Tanyaku lagi. "Dia bilang, dia nggak mau pacaran dan nggak mau terima buku diary dari kamu karena takut dimarahin sama bu Norma (wali kelas kami)." Yah, mendengar jawaban itu, aku sedikit kecewa, tapi aku sama sekali nggak galau karena ditolak sama Arina. Sama sekali nggak sedih ataupun kecewa.
                 Masalah buku diarynya, aku nggak ingat sekarang kemana, entah aku bawa pulang atau gimana aku nggak ingat. Sementara saat itu, Angga mengurungkan niatnya untuk menyatakan cinta ke cewek yang dia suka, alasannya takut ditolak sama seperti aku. Kawanku pengecut (semoga dia nggak baca). Pada tahun ajaran selanjutnya, aku naksir teman sekelasku yang lain, namanya Rini. Tapi aku nggak akan cerita panjang karena terlalu panjang dan cukup memalukan jika ada orang yang tahu aib di balik cerita ini selain teman-temanku. Pada inti cerita, aku ngajakin Rini pacaran dengan metode yang sama, menggunakan kitab keramat, buku diary. Bedanya, yang ini aku nyatain cinta secara langsung tanpa Perantara. Aku di terima dan Rini menjadi pacar pertamaku. Kami pacaran, selama seminggu menjalani hubungan tanpa kebahagiaan dan pada akhirnya aku diputusin dengan alasan dia nggak suka sama aku dan hanya memanfaatkan aku. Dan untuk kali ini, aku benar-benar nggak galau karena aku merasa terbebas dari pacar yang lebih mirip nenek sihir ketimbang seorang pacar.
                Ok right, seperti yang kalian tahu, biasanya orang punya kisah cinta yang baik dengan pacar pertamanya, tapi nggak dengan kisah cintaku. Ikhlas aja deh, dapat pacar pertama yang kayak gitu, lagian nggak ada gunanya menyesali, masa lalu yang terlewati nggak akan berubah apapun yang kita lakukan saat ini. Tapi, aku juga bersyukur, sekarang dia jauh lebih baik dari pada dia yang waktu kelas enam SD dulu.
                Beberapa tahun berlalu, aku udah menduduki bangku kelas dua SMP. Di tahun inilah banyak cerita yang tersimpan. Setelah pertama aku pacaran di kelas enam SD, baru kelas dua SMP ini aku mulai pacaran lagi dengan seorang cewek yang namanya Mira. Dia bukan orang dari kalangan berlebih, dia juga nggak begitu cantik, aku akui badannya seksi banget, tapi bukan itu yang buat aku jatuh cinta sama dia.
                Awal ketemu Mira, aku cuek banget, dia ngeliat aku dan ngelempar senyum kecil ke arahku, tapi aku malah nggak menghiraukan dia. Selanjutnya juga aku selalu bersikap cuek ke dia, dia sering banget ngajakin aku ngomong, tapi aku selalu menjawab apa adanya lebih terkesan judes karena aku nggak banyak menatap wajahnya. Hingga akhirnya ada yang ngasi tahu  aku  kalau sikap aku ke dia itu nggak enak banget, katanya dia jadi sedih dan jadi benci dengan aku. Beberapa hari selanjutnya setelah aku cerna kembali apa yang udah aku lakuin ke dia selama ini, aku pun mengerti dan mencoba merubah sikapku. Syukurlah, semua berjalan baik, aku bisa mengakrabkan diri ke dia, dan dia jadi nggak berpikir kayak sebelumnya lagi. Bahkan dia sempat bilang "Aku nggak nyangka, kamu orangnya kayak gini. Aku senang kamu baik, kamu nggak judes lagi sama aku."


                Beberapa bulan berlalu, aku mulai ngerasain apa yang sebelumnya nggak ku rasain tentang dia. Dalam keakraban yang terjalin, semakin menyadari kalau aku jatuh cinta secara perlahan. Banyak hal yang buat perasaan itu muncul, tapi yang paling utama adalah, dia selalu kasi aku kasih sayang yang udah lama nggak aku dapatin karena aku terpisah dari orang tuaku. Bersama Mira yang umurnya tertaut lebih tua dari aku tiga tahun, dia menjadi tempat di mana aku bisa manja-manjaan. Dia juga mengajari aku banyak hal yang sebelumnya nggak pernah aku tahu.
                Masalah jadian, Aku nggak pernah ngajakin, yang ada dia yang kepengen banget jadi pacar aku. Akhirnya dengan banyak pertimbangan kami memutuskan untuk backstreet. Walaupun kayak gitu, aku sama dia bahagia dengan hubungan kami. Setelah hampir satu tahun menjalani hubungan, kami harus pisah karena dia harus kerja di lain tempat. Aku sama dia jadi nggak bisa sering-sering ketemuan karena kesibukannya yang baru, itupun aku harus menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit untuk bisa sekedar ngobrol-ngobrol sebentar sama dia. Akhirnya, aku udah lulus SMP, orang tuaku memutuskan aku kembali sekolah di Sintang dan tinggal bersama mereka. Aku jadi semakin jarang ketemu mira semenjak tinggal di Sintang. Saling kontak lewat hp pun semakin jarang karena kesibukannya yang semakin bertambah. Berita terakhir yang aku dapat tentang dia, dia punya pacar lagi, ya itu juga setelah mendapat ijin dari aku. Aku pikir, kita jarang ketemu, mungkin dia butuh yang lain selama aku nggak ada. Selama itu, aku memang cinta banget sama dia, aku rela dia melakukan apapun asal itu demi kebaikan dia.
                Hubungan udah berjalan dua tahun dua bulan, beberapa minggu terakhir dia nggak pernah ada kabar, nomor nyanggak pernah aktif setiap aku hubungi. Saat libur semester, aku memutuskan untuk pergi menemui dia, ditemani Angga yang sebelumnya nggak setuju banget aku pacaran sama dia, tapi demi keinginan teman dia rela aku ketemuan sama Mira dengan syarat kalau memang aku nggak bisa ketemu Mira, aku harus lupain Mira. Akhirnya, aku berangkat sama Angga ke tempat dimana Mira bekerja. Dari karyawan yang lain aku dapat informasi kalau Mira udah nggak kerja di situ semenjak beberapa bulan yang lalu. Dan hal yang sangat mengejutkan, Mira udah tunangan entah dengan siapa. Dengan penuh kecewa, aku dan Angga memutuskan pergi ke rumah Mira untuk mencari kepastian. Tapi apa yang terjadi, rumahnya kosong. Dari jauh ada tetangganya yang berteriak memberitahukan kalau Mira udah pindah dan nggak tinggal di rumah itu lagi.
                Ya, seperti kapas tertimpa batu, aku nggak bisa melakukan apa-apa lagi, aku hanya bisa menyerah dan menerima penderitaan yang ada. Ini hal yang sangat berat untuk diterima anak seumuran ku. Terlalu lama aku larut di dalam kesedihan, aku nggak bisa terima kalau aku harus ditinggalkan setelah aku merasakan begitu banyak hal indah yang dia berikan selama ini. Tapi aku nggak selamanya berada di dalama vom anak kecil. Perlahan aku tumbuh dewasa dan mengerti, apa yang telah dia lakukan ini demi kebaikanku. Dia memang pergi tanpa pesan, tapi kepergiannya membuat aku sadar kalau hubungan yang selama ini kami jalani bukanlah hal yang terbaik. Dari awal orang tuanya menginginkan dia bisa menikah dengan laki-laki yang mapan, bukan anak kecil seperti aku yang belum jelas masa depannya. Keluargaku juga melarangku saat mereka tahu tentang hubunganku, mereka nggak mau aku pacaran sama dia yang udah jauh lebih tua dari aku, selain itu Mira di mata keluargaku juga bukan perempuan yang baik. Hal terakhir yang aku pelajari dan aku yakini, Mira begitu sayang dengan aku, dia nggak mampu untuk berkata tentang semua kenyataan ini, dan dia berpikir dia bukanlah orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku.


                Next, tentang hal lain, kalian pasti sering melihat tulisan atau gambar di SPBU saat kalian mengisi bahan bakar kendaraan yang menunjukan bahwa dilarang merokok di area SPPBU, mungkin karena bisa memicu terjadinya kebakaran. Tapi anehnya, kenapa di kotak rokok hanya dituliskan rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dsb, kenapa tidak ada di tuliskan rokok dapat menyebabkan kebakaran di SPBU?
                Aku merupakan perokok aktif sejak aku masih kelas satu SMP, awalnya aku hanya iseng mencoba karena penasaran. Tepatnya, waktu itu aku dan temanku Angga entah dapat dari mana, siang hari itu kami memiliki beberapa batang rokok L.A. Kamipun berinisiatif untuk menghisapnya di gubuk kecil di belakang rumah agar tidak ada satu orangpun yang tahu. Awalnya ada sedikit rasa ragu saat udah tiba di gubuk. timbul berbagai banyak pertanyaan dan kecemasan, bagaimana jika ada orang yang lewat? Lalu bagaimana jika asapnya terlihat dari kejauhan? Setelah berpikir keras Angga menemukan ide agar kami berjaga bergantian selagi salah satu sedang menikmati rokok, lalu kami membuat api unggun di dalam gubuk kecil ini untuk menyamarkan asap rokok yang kami hembuskan.
                Satu-persatu kami bergantian menghisapnya. "Gik, Bima mau ke sini!" Tutur Angga yang baru saja melihat Bima dari kejauhan berjalan ke arah kami. Akupun mematikan rokok. "Gik, jangan kasi tau Bima, nanti dia ngelapor bapaknya." Rokokpun udah ku matikan dan Bima sampai ke gubuk. Entah kenapa, setelah sekian lama berbincang, kamipun membongkar rahasia kami. Di luar dugaan, tanpa disuruh, Bima nggak akan ngelapor, bahkan dia ikut berpesta bersama kami. -_-
                Scene selanjutnya, sepulang les sekolah, aku dan Angga berniat merokok lagi, kali ini kami mengajak Daus untuk ikut, dengan motor Supra milikku, kami tanjal tiga mencari tempat yang aman. Hingga sampailah kami di sebuah kolam yang tertutup semak belukar, biasanya tempat ini digunakan untuk mandi oleh orang-orang setempat. Sambil mengobrol, kami bertiga menikmati asap hembusan demi hembusannya. Tengah asyik-asyiknya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang mulai mendekat. Ah tidak, kami harus terburu-buru mematikan rokok yang belum habis setengahnya. Ku lempar sejauh-jauhnya rokok yang ku pegang ke arah semak-semak rimbun di dekatku. Entah apa yang Daus lakukan dengan rokoknya (dia ikut ngerokok aja aku nggak ingat), sedangkan Angga mematikan rokoknya dan menyembunyikan di balik bajunya. Ternyata yang datang ibu-ibu dan anaknya yang sedang ingin mandi. Kami bertiga pun memutuskan untuk pergi. Di motor, "Akay Gik, api rokokku tadi belum mati benar, ku sembunyikan di baju, rupanya masih ada apinya. Ku tekan aja kuat-kuat ke perutku sampai mati." Ah, Angga memang bodoh...
                Waktu lama berlalu tanpa ku sentuh lagi barang makruh yang namanya rokok itu, hingga suatu ketika, aku mulai terpisah dari Mira dan kekurangan kasih sayang. Rokok adalah sarana yang ku jadikan sebagai tempat pelampiasanku. Aku mulai kenal rokok lagi semenjak aku akrab dengan temanku, Nodi. Semenjak saat itu dan sampai sekarang, berhenti merokok seperti hal yang mustahil. Aku sempat menyesalinya, tapi sekarang aku berpikir nggak ada gunanya menyesal. Pernah suatu ketika saat aku masih kelas satu SMK, aku tidur dengan menggunakan bokser dan tanpa menggunakan baju. Sebelum tidur aku sempat merokok dulu, karena sudah terlanjur mengantuk aku malas untuk beranjak dari tempat tidur untuk menyembunyikan rokokku (saat itu orang tuaku belum tahu kalau anak kesayangannya ini pecandu rokok. Ku selipkan sebungkus rokok yang ku punya itu di bokserku dan aku lekas terlelap. Keesokan harinya seperti biasa mamakku membangunkan aku, karena aku lagi malas jadi aku pura-pura nggak bangun. Mata mamaku yang jeli menemukan rokok yang masih terselip di bokserku dan mengambilanya. “Rokok?” Mamak pergi ke keluar kamar hendak melapor bapak yang lagi duduk santai di teras depan rumah. (Maaf percakapan berikut sebenarnya berbahasa jawa tetapi penulis menterjemahkannya dengan bahasa yang lebih universal, bahasa Indonesia). Terdengar dari dalam kamar suara rokok yang di banting mamak ke atas meja sambil marah-marah dengan nada yang cukup tinggi. “Pak, Yogi ngerokok!” Dengan nada santai dan rendah bapak menjawab “Biarlah..” Aku hanya tersenyum geli membayangkan adegan yang terjadi di teras saat itu. :D
Bagi kalian yang membaca ini dan belum ngrasain yang namanya rokok, jangan pernah tertarik dengan benda itu seberapapun kalian penasaran dengan rasanya. Untuk yang telah terjebak dalam kenikmatannya, aku ngerti banget perasaan ingin berhenti yang nggak pernah terwujud. Nikmati saja tanpa penyesalan, nikmati semuanya, nikmati sensasi asap tebal yang keluar dari hidung dan mulutmu, dan nikmati juga betapa tersiksanya jadi perokok yang lagi kerisis uang.
                Ah, sudahlah... Ini udah terlalu panjang aku cerita, terlalu banyak terpotong-potong kalau aku upload di pesbuk. Lagian, aku nggak mampu mengingat hal-hal menarik yang bisa aku ceritakan pada kalian tentang masa-masa SMA-ku. Kalau memang adapun, akan ku ceritakan kembali di lain kesempatan (itupun kalau ada mood).
                Dari sekian panjang tulisanku kali ini, hanya dua pesan yang ingin ku sampaikan, “Nggak perlu disesali, nikmatilah”. Jangan pernah berharap untuk kembali hidup di masa lalu, biarkan keindahan yang pernah ada menjadi kenangan belaka, dan biarkan sebuah kenangan buruk di masa lalu terlewati sebagai sebuah pelajaran agar kita tidak menjumpai kehidupan seperti itu lagi di masa depan. Apapun kondisi kehidupanmu yang sekarang, tetaplah menikmatinya, semua akan baik-baik saja.
NB: Terima kasih untuk beberapa para pembaca yang setia membaca ceritaku yang ku kemas dalam catatan di fb. Terima kasih banyak, terima kasih sudah membaca catatanku yang nggak begitu menarik. Dari tulisan yang sekian banyak ku buat, aku berusaha memperbaiki kualitas tulisanku. Aku berencana menulis novel nanti, maka itulah aku sangat berharap dan berterima kasih jika kalian mau membaca dan memberikan keritikan atas tulisan-tulisanku.