24 Mei 2014

Open Diary part 05



Berhenti Merokok

Baru aja sampai kost, pagi-pagi. Udah dapet sms dari sabrina. Huh..
"Aku maw k kmpus, mau ikut nggak?" "Kampus aja sab. Maaf nih, aku pengen tdur, blm tdur." Memang sih, semalam aku belum tdiur, keasyikan minum kopi sama Eno. Memang dahsyat kopi pontianak.
Siang sekitar pukul 12:41 Waktu Indonesia Malang, ada sms lagi dari orang yang sama. "Kamu gag k kampus ta?" :) anak ini sekarang kalau sms logatnya sok jawa. Smsnya belum di balas, udah sms lagi dia. "Kesini sayank aku kangen." Hadeh.. :/ kerjaan Dwi nih. "Bntr lagi deh. Blm mandi nih. O ya, bilang sama dwi. So fucking shit!"

Habis mandi, maksudnya mandi kepala aja, gitu. Aku memang biadap gini, yang penting cuci muka, basahin rambut, sikat gigi, beres deh. Masalah bau badan, gimana dong? Gampang deh, pakai handbody terus olesin deodoran ke ketek, tambahin parufum ke baju, selesai masalah. Apa sih, susahnya? Sabrina aja sampai tergila-gila sama aku. Setiap salaman, bukan cium tangan tapi malah cium ketek. Huhu.. Biadab sekali hayalan ku.

Sampai di kampus, aku langsung ke perpus, ya sama teman-teman sibuk nyari buku untuk tugas osjur.
Sibuk nyari buku, Sabrina nelpon aku. Padahal dekat, bah. Dia nyuruh aku ke tempat dia duduk, katanya pengen ngomong sesuatu. Bilang aja kangen, atau pengen cium-ciumin ketek gua, pakai alibi segala. 

Aku mendekatinya yang lagi duduk di kursi sambil menghadap laptop. "Duduk sini." sabrina mengisyaratkan ku agar duduk di kursi sebelah kirinya. Awalnya sih, ngobrol nggak tentu arah, tapi lama-lama ke inti masalah juga. "Aku bisa minta tolong sama kamu?" Raut wajahnya berubah jadi serius, tatapan mata yang awalnya hilir mudik di antara keyboard dan LCD laptop, sekarang mengarah tepat ke arah pupil hitam mataku. "Bisa." jawabku sedikit ragu. "Aku pengen kamu berhenti merokok." tatapan tajamnya kembali mereda dan beralih ke LCD. "ha? Berhenti merkok?" "iya, berhenti merokok." aku terdiam, masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang ia katakan. Sabrina kembali menatap ku dengan serius. "Aku pengen kamu berhenti merokok, demi kebaikan kamu. Kamu bisa turutin permintaanku?

____________________________________________________________


Bad Ink

Nggak banyak hal yang pengen aku ceritain hari ini. Hari ini hanyalah satu lembar tulisan dengan tinta yang buruk.
Benar-benar bukan hari yang menyenangkan. Terlalu banyak kecemburuan yang ku rasakan, Sabrina terlalu banyak dekat sama Hafsah, dan Hafsah terlalu mudah mencari kedekatan dengan Sabrina.
Sering banget hari ini sms ku nggak di balas sama Sabrina. Aku juga nggak banyak ngobrol sama dia karen memang setiap di kampus, aku duduk jauh dari dia. Kuliah pagi kayak gitu, ikut seminar juga kayak gitu.
Aku ketemu berdua sama dia cuma dua kali hari ini, itupun cuma sebentar-sebentar. Ngantar dia narik duit, ngantar dia belanja. Ngomongin belanja, dia beliin aku floridina, tadi.
Tadi siang, waktu pulang ngantar dia, "Sab, kamu jadi liburan ke jogja?" "Nggak tau, kalau bukan ke Jogja, aku mau ke ****, perbatasan jawa timur sama jawa barat." Aku terdiam sejenak dalam langkahku. Terasa ada yang nggak nyaman yang ku rasakan.
"Aku pasti kangen kamu, Sab." Jeda, aku mengambil nafas dan melanjutkan kembali, "dua hari nggak ketemu aja, rasanya nggak enak, apalagi sampai sepuluh hari."
Hmmh.. Liburan bukanlah hal yang ku inginkan saat ini. Aku nggak siap ngejalani hari-hariku kedepan tanpa kamu, pasti terasa sepi. Entah dengan apa nanti aku menutupi rasa kangen ini.
Liburan memang besok baru di mulai, tapi malam ini aku udah mulai ngerasain kangen sama kamu. Sepi yang seharusnya belum datang, sekarang udah ada di hadapanku, membalutku dengan hawa dinginnya. Aku berharap kita cepat ketemu lagi.

____________________________________________________________


Nanti, Waktu Kita Ketemu Lagi

Time to writing, dan kembali ke notepad...
Dari semalam aku memang tidur di tempat Eno, dan pagi ini Eno pergi kuliah. Aku sendiri memilih nggak pulang ke kost dan tetap di sini.

Waktu menjelang malam, sebelumnya Dwi ada sms, dia bilang Sabrina ngajak makan bertiga sekalian ngomongin sesuatu. Tapi apa daya, hujan belum kunjung reda, waktu udah menunjukan bagda magrib. Agak ngdown sih mood ku, bahkan aku jadi nggak berani lagi liatin jam dinding. Tapi anehnya, Sabrina nggak ada sms. Jadi gelisah beberapa waktu, hingga akhirnya datang sms Sabrina. Dia tanya aku lagi di mana. Aku jawab aku belum bisa pulang karena masih hujan, tapi dia maksa harus sekarang dan nggak bisa besok. Mau nggak mau aku harus maksa Eno juga. 

Di perjalanan, Eno sempat nanya, "selama kailian ngobrol, aku nunggu di mana, Ca?" "Ikut juga nggak apa-apa kok, lagian nanti juga ada Dwi."
Ternyata memang benar ada Dwi, ada Alfin juga. Dan seperti biasa, Sabrina terlihat cantik bagiku, bedanya malam ini dia pakai rok hitam panjang dan jaket ungu ala korea kesayangan dia. Aku duduk di depannya, sambil intermizo sama teman-teman. 
Katanya sih Sabrina besok ke jogja, mau jemput pacarnya. Memang sial sih, pacarnya jadi datang ke sini, entah mereka bakalan nikmatin tahun baru di sini atau di jogja, kemungkinan besar di sini.
"Sabar, Ca. Sainganmu datang." Tutur Alfin sambil mengelus pundakku. Aku cuma diam nggak bisa bilang apa-apa.

"Jadi, tadi kamu pengen ngomongin apa, Sab?" aku mencoba masuk ke inti pembicaraan. "Emmm, sebenarnya kamu kuliah itu tujuannya apa?" "Cari cewek" dengan sigap Eno nyeletuk dari belakang, Dwi sama Alfin juga ketawa. Akupun terdiam sesaat. "Kalau pertanyaannya kayak gitu, jawabanku sih, aku pengen punya skill, punya ijazah biar hidupku nanti sukses." Belum selesai aku jawab, dia udah bertanya lagi. "Kalau memang kayak gitu, kenapa kamu sekarang malas kuliah?" "Gini ya, seperti apapun alasan aku, yang namanya jalan lurus pasti ada aja masa dimana kita malas-malasan. Iya sih, apa yang di bilang Eno juga benar. Aku nggak bisa munafik, aku kuliah juga mau cari cewek." jawaban ku memang terlalu jujur.

Tiba-tiba Dwi nyambung aja tuh. "Kalau kon bisa berhenti merokok, sama menghilangkan sifat malas kon, si Yuyun pasti mau jadi pacar kon. Iya kan Yun?" Sabrina hanya menganggukkan kepala.
Entah harus seperti apa aku menanggapi hal ini, i am confuse.
Setelah itu, panjang percakapan yang terjadi antara aku dan Sabrina.
"Aku bisa berubah kapanpun aku mau. Kalau suatu saat aku berubah, mungkin itu bukan karena kamu"
"iya." jawabnya singkat, dan setelah itu dia terdiam beberapa saat. "Kamu berubah gimanapun, aku tetap nggak bisa jadiin kamu pacarku." lanjutnya kembali. "Aku tahu itu kok, dan aku ngerti. Keadaan nggak bakal memungkinkan aku untuk jadi pacarmu." Entah apa yang di pikirkan Sabrina sebenarnya. Di suatu sisi dia bilang mau, di sisi lain dia bilang nggak mau.
"Sabar, Ca. Nggak dapat yang ini, cari yang lain." Huh, kalimat yang aneh terucap dari mulut Alfin. Dia memang aneh menurutku. Nggak lama dari itu, dia melanjutkan kata-katanya kembali. "Aku juga galau kok. Bukan cuma kon yang galau, tapi aku juga. Sebenarnya malam ini aku mau ketemuan sama cewek. Tapi hujan gini, terpaksa di batalin." Aku baru ingat, Alfin ada cerita beberapa hari yang lalu, kalau dia mau ketemuan sama cewek malam ini.

Obrolan berlima malam ini terus berlanjut, lumayan banyak hal yang kami bicarakan. Tapi rasanya ada yang ngeganjal. Aku nggak yakin kalau cuma ini yang mau Sabrina omongin sama aku. Kalau cuma ini, nggak mungkin dia sampai maksa aku pulang hujan-hujan gini. "Sab, cuma ini yang mau kamu omongin ke aku? Atau ada hal lainnya?" "Emm, sebenarnya ada sih, tapi.." Belum selesai Sabrina ngomong, aku udah memotongnya. "Oh, iya, iya.. Masih ada, tapi kamu nggak mau ngomong dalam suasana yang kayak gini ya?" "Iya, terlalu ramai." Ya, aku bisa mengerti, mungkin dia malu untuk ngomonginnya sekarang. Aku juga nggak mau maksa dia, mungkin sekarang bukan saat yang tepat, dan mungkin lain kali merupakan saat yang lebih baik dari malam ini. Aku harus sabar.
Udah lumayan lama aku ngobrol sama Sabrina malam ini. Aku nggak enak sama Eno yang terlalu lama nunggu.

"Kamu udah mau pergi, Panca?" "Iya, Sab. Mungkin masih ada yang mau kamu omongin, tapi nggak dalam kondisi yang kayak gini. Jadi, kita omongin tahun depan aja, waktu kita ketemu lagi." "Oke".
Aku pamit pergi, aku sempatin ngucapin salam perpisahan sama mereka. Aku kepalkan tanganku dan Alfin menyambutnya. "Sampai ketemu tahun depan." "Oke, hati-hati" tutur Alfin. Dwi memelukku, lalu aku menjabat tangan Sabrina. Setelah itu aku berlalu pergi.
Selama dalam perjalanan, aku dan Eno ngebahas apa yang tadi aku omongin sama Sabrina. Eno suka dengan caraku menjawab Sabrina. Jawabanku terkesan menunjukkan kalau aku punya harga diri yang Tinggi. "Aku bisa berubah kapanpun aku mau. Kalau suatu saat aku berubah, mungkin itu bukan karena kamu." Memang sih, awalnya Eno nggak terlalu ngerti maksud dari kata-kataku. Tapi setelah dia tau, dia bilang, baiknya nanti aku sms Sabrina, jangan sampai dia salah mengartikan jawabanku. Awalnya aku pengen jelasin lewat sms, tapi ternyata apa yang ku tulis terlalu panjang, jadi aku putuskan mengirimnya via pesan facebook.

Sebenarnya, aku kurang ngerti dengan yang tadi kita omongin. Waktu Dwi bilang, kamu mau jadi pacar aku kalau aku bisa berubah, dan tadi kamu mengiyakan apa yang dia bilang. Tapi waktu ngomong sama aku, kamu bilang itu semua nggak bakalan buat aku jadi pacarmu. Bingung kan, aku jadinya.
Ya, apapun itu, aku juga sadar sih, aku nggak punya harapan atas ini semua. Aku nggak punya harapan bisa memiliki kamu. Dan aku berharap aku masih punya harapan.
Terus, masalah yang kedua. Mungkin jawaban aku tadi belum jelas. Aku nggak mau kamu salah paham. Tdi aku bilang, aku bisa aja berubah kapanpun aku mau. Dan kalau suatu saat aku berubah, itu bukan karena kamu.

Maksud aku gini, aku pasti berubah. Dari awal memang aku pengen berubah, di tambah lagi waktu di perpus kamu pernah minta aku untuk berubah. Suatu saat pasti aku berubah. Tapi nanti waktu aku udah jadi yang lebih baik dari yang sekarang dan kamu mau jadi pacar aku, belum tentu aku mau. Bukan karena aku sok gengsi atau aku nggak sayang sama kamu, bukan karena itu. Aku sayang banget malahan sama kamu. Tapi aku maunya kamu jadi pacar aku kalau kamu sayang aku dan kamu butuh aku. Bukan karena aku berhasil merubah sifat ku. 

Ini seperti halnya bermain baseball, dan aku adalah pemukul bola. Jika seandainya aku tidak memukul kalimat yang Sabrina lemparkan, maka aku akan kalah dari permainan ini. Tapi ternyata aku memukulnya dan berhasil mempertahankan harga diriku.

____________________________________________________________


Saat Ini Hanya Bisa Menyesal

kejadian tanggal 27 januari itu, kejadian paling mengerikan di awal tahun ini. Gimana
nggak coba, sama Sabrina bertengkar beneran, baru ini lho kayak gini.
Cerita dari awal aja deh, singkat aja tapi, udah lumayan ngantuk ini.
Tuh, Si Sabrina ngoto ngajak aku sama Dwi ke matos, dia minta temanin beli sepatu. Mau nggak
mau harus naik angkot bertiga. Padahal kan bisa berdua aja, aku ngantar dia naik motor kan bisa,
atau Dwi yang ngantar, aku ikhlas kok kalau ditinggal, toh aku juga sebenernya males
banget mau ikut. Alhasil Sabrina tetap ngotot, kita bertiga berangkat pakai angkot, sempat
beberapa sesekali aku godain dia, "kamu tau nggak, kamu itu cewek paling cantik yang
pernah ku lihat turun dari angkot." Eh, dia malah nyengir-nyengir.

Di Matos kita kelamaan nyari sepatu, lalu cari kaset DVD, lalu makan, terus pulang.
Nah, waktu pulang inilah aku kejadian yang termasuk dalam tanda-tanda kiamat itu terjadi.
Waktu naik ke angkot pertama aku keceplosan ngucapin dua kalimat sakral, Sabrina langsung
marah-marah sepanjang jalan, aku cuma bisa diam nyeselin semua itu. "katanya mau berubah,
tapi apa buktinya."

Sesampainya di kamar aku cuma diam aja, sampai dia datang lagi ke kost. Aku mencoba untuk minta
maaf, tapi dia tetap aja marah-marah. sumpah, serem banget. Gara-gara PMS nih.
"Kamu harus, bawa dua itu ke sini baru aku maafin kamu, kalau nggak, kamu nggak boleh dekat-dekat aku."
Karena itu, aku langsung pergi dari kamar Dwi, jadi hilang niatku minta maaf sama dia.
sSelama di kamar aku cuma diam aja, nggak ada ngapa-ngapain. nyesel? iya, nyesel banget.
Saking nyeselnya, aku jadi emosi sendiri. banting-banting baranglah, sampai kamar jadi berantakkan.
Sempat sih, Sabrina nyusul ke kamarku, tapi nggak begitu ku kasi respon.
"Panca.." Suaranya lembut memanggilku. "Eee?" jawabku lesu. "Bukain pintunya"
"Nggak!" jawabku singkat lagi. Setelah itu terdengar suaranya agak sedikit berbisik.
"Wi, Suruh Panca bukain pintunya." "Iya, kubukain pintunya." Dwi berusaha membuka pintu
kamar yang ku kunci. Aku yakin Dwi bisa buka pintu itu, tapi dia bilang nggak bisa.
"Nggak bisa, pintunya dikunci." 

"Panca, kamu ikut masak nggak?" Sabrina membujukku lagi. "Udah, pergi aja sana!" jawabku
dengan nada rendah. "Apa?" "Masak aja sana! kan kamu sendiri yang bilang, aku nggak boleh
dekat kamu lagi." Setelah itu, entah kenapa nggak ada kedengaran suara darinya lagi. yang
ada hanya langkah kaki yang terdengar semakin menjauh.
Aku merasa sangat menyesal, aku bodoh udah ngucapin hal nggak berguna kayak gitu.
aku pengen dia maafin aku, tapi waktu dia udah mendekat untuk baikan, aku malah menolak dia.
Aku merasa aku ngggak berguna, bahkan untuk diriku sendiri.
Satu-satunya temanku saat ini cuma pesbuk, aku nulis status banyak banget, dan statusnyapun
sama, "Bodoh!" cuma itu hal yang bisa ku perbuat untuk bisa melampiaskan kekecewaan ku
saat ini.

dalam diam ini, aku semakin merasa akan kebodohan yang ada di diriku semakin mengakut.
Berulang kali aku berpikir tentang apa yang harus ku lakukan, tapi nggak ada satupun
jawaban dan jalan keluar yang ku temukan. Ya, ada satu. Pintu kamarkulah jalan keluarnya
satu-satunya. Akupun memutuskan untuk beranjak dari kamarku, membeli beberapa batang rokok
untuk meluruskan kembali saraf di otakku yang kusut.

Sebatang rokok habis, tanpa banyak berpikir aku melangkahkan kakiku ke kamar Dwi. Cuma satu
alasanku untuk melakukan hal ini, aku harus bersikap dewasa, nggak ada gunanya membiarkan
masalah ini terus berlanjut hingga menciptakan galau yang menusuk setiap inci hatiku.
Kakiku terus melangkah menuju kamar Dwi tanpa keraguan. Tapi dengan sekejap, semuanya
berubah saat aku tiba tepat di depan pintu kamar Dwi. Entah kenapa pandangku yang mengarah
ke Sabrina mampu memberikan isyarat kepada kakiku untuk berhenti. Dalam beberapa detik
aku berhenti, ku tinggalkan pintu kamar Dwi yang terbuka. Ku putuskan untuk beli air mineral
dulu untuk menghilangkan gerogi. Setelah itu aku langsung menuju ke kamar Dwi, ku temui Sabrina,
dan dengan segenap keberanian aku minta maaf untuk kesekian kalinya. Tapi dia nggak banyak
ngomong, masalahpun belum bisa selesai karena mamasku, mas Agung datang ke Kost.
Selama aku ngobrol sama mas Agung, Sabrina pulang karena udah larut malam.
Keesokan harinya, sore entah jam berapa. Aku baru aja bangun dari tidurku, Sabrina datang.
Entah kenapa dengan sok manisnya, aku menyuruh Sabrina duduk di sebelahku yang lagi berbaring.
Dari situlah aku mulai balikan sama dia.