26 Mei 2014

Cinta Di Luar Sana



Di lantai dua aku terduduk menghadap jendela kaca, menolehkan pandanhan ke langit biru berselimut awan putih. Angin yang bertiup membawa lamunanku lebih jauh ke luar sana. Memikirkan mu yang tak di sini, menginginkanmu yang tak pernah ada.

Di bawah bias cahaya mentari hari ini ku dengarkan lagu yang mengingatkanku padamu. Entah mengapa ada perasaan khawatir tak bisa bertemu. Seperti tarikan nafas sesak berlinang kesedihan yang mengisyaratkan kenyataan.

Burung layang-layang yang lewat di depanku membuatku iri. Aku ingin bisa seperti mereka yang terbang bebas bersama angin. Terbang menuju kamu yang berada di luar fatamorgana. Merasakan hari, tersenyum bersama mu melintas di atas alunan keceriaan.

Di dalam binder usang yang hampir habis ini ku coba menulis tentang mu lagi. Berbicara dengan lembaran-lembaran kertas putih ini. Aku merasa sama seperti mereka, putih dan kosong. Dan bagiku kamu adalah tinta yang mengisi kekosonganku dengan goresan-goresan indah. Aku ingin tetap selalu seperti ini, menyimpan mu terus di dalam hati yang kosong ini.

Serakan Gambar

Sebagai mahasiswa di parodi Sistem Komputer (SK), aku nggak begitu berbakat, bahakan bisa dibilang aku ini bodoh. Terkadang aku merasa tempat seperti ini bukan tempatku, mungkin tempat yang paling cocok untuk aku itu Sastra Indonesia atau Desain Grafis. Tapi aku udah terlanjur di masuk ke tempat ini, bisa atau nggak, punya bakat atau nggak, sekarang inilah tempatku. Tempat yang harus ku jadikan tempat yang sebenarnya.

Hampir setahun aku di jurusan SK, tapi aku tetap aja jadi orang bodoh yang tertinggal terlalu jauh dari teman-teman. Terkadang ada rasa malu saat teman-teman berhasil dan aku gagal. Terkadang timbul rasa iri saat teman-teman mulai dipandang dan mulai mendapat perhatian dari beberapa dosen jurusan. Sementara aku, mungkin aku cuma dipandang dari sisi kegagalanku yang selama ini terus melekat di diriku.

Sebut aja pak Sam. Ya, pak Sam itu salah satu dosen penting di jurusan SK. Parahnya, mata kuliah beliaulah yang paling nggak mampu aku kuasai. Sejauh ini, dia cuma memperhatikan beberapa mahasiswa yang tergolong pintar, menonjol, dan beberapa mahasiswa yang berkemampuan khusus. Contohnya si Alfin, temanku yang kemampuan desainnya jauh di atas aku. Pak Sam, kakak tingkat, termasuk teman-teman sering banget muji dia dengan sebutan SK DG (Sistem Komputer Desain Grafis). Padahal aku juga sama kayak Alfin, bisa desain dan sebagainya. Tapi ternyata aku nggak terlihat, aku nggak di pandang seperti halnya Alfin di Pandang sama Pak Sam dan lainnya.

Lalu, entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering mainin pulpen di atas kertas. Moodku untuk gambar jadi lebih tinggi. Terakhir, malam kemarin waktu aku lagi bosan belajar, aku gambar-gambar di binderku, lumayan sih hasilnya untuk sekedar gambar yang nggak serius. Malam sebwlumnya lagi, aku iseng-iseng gambar pola lingkaran banyak-banyak di kertas HVS, hasilnya rapi. Terus di halaman belakangnya aku gambar karakter laki-laki (close up) lagi nyengir mengenakan topi. Hasilnya ku biarkan tergeletak di lantai, karena ku pikir itu cuma oret-oretan iseng nggak pentimg. Ternyata besoknya itu gambar ada di atas meja, entah kenapa nggak ada yang buangnya.

Tadi, mas Az, sebut saja begitu, dia ngeliat gambar yang ada di sampul binderku. Entah, dia nggak ngomong banyak cuma bilang itu mirip karakter mister Satan di serial Dragon Ball. Tapi aku yakin, dari raut wajahnya waktu nanya itu gambar siapa, dia nggak mikir gambarku jelek.

Lalu, tadi waktu pak Sam sibuk nyetting robot line follower sama mas Jam, sebut saja begitu. Pak Sam ngeliat gambarku yang lingkaran-lingkaran tadi, terus dia nanya itu gambar siapa, lalu mas Jam nanya ke teman-teman, jawabnya gambarku. Lalu ada sedikit kata-kata mas Jam yang aku samar-samar ingatnya, "Oo, bagus gambar kamu". Lalu kata-kata pak Sam yang aku juga samar-samar ingatnya "Bisa gambar kamu yok? Banyak ya anak SK DG di sini". Ah, akhirnya, kata-kata seperti itu diucapkan untuk aku. Kata-kata yang secara nggak langsung bersifat memuji. Tapi bukan pujian itu yang aku banggakan, aku hanya merasa senang dan lega, akhirnya pak Sam bisa ngeliat sisi positifku juga.

Bunga Dalam Hati

Judul : Bunga Dalam Hati

Penulis: Panca Safe Prayogi

Foto: Nabilah Ratna Ayu




Kamu, adalah bunga yang mekar, menaburkan aroma kehidupan kedalam relung kehidupanku. Kamu adalah bunga yang menghiasi setiap tangkai kehidupanku. Tapi, kamu bukanlah bunga yang setelah layu akan ku tinggalkan begitu saja. Saat kamu mulai layu, aku akan tetap menjagamu, menyimpan mu di dalam vas bunga yang ku letakkan di sudut terdalam hatiku.


Meski terkadang tercipta kesedihan dan kekecewaan saat kita saling mencinta, aku akan menjadikannya pelajaran, bukan ku anggap sebagai hukuman dari Sang Pencipta karena kita tak pantas bersama.

Tataplah lebih dalam mataku, akan kamu temui bayangan wajahmu yang terukir dengan indah di dalam sanubari. Tutuplah matamu secara perlahan dan rasakanlah aku. Biarkan aku menjadi gelap di dalama bunga tidurmu, bukan untuk menakutimu, tapi aku hanya ingin melelapkan tidurmu.

Seberapapun seringnya kita mengalami kegagalan cinta, dan seberapaun seringnya kita merasakan keindahan dari perasaan cinta. Aku ingin mengajakmu berdiam diri di antara keduanya, memandang keduanya dengan pandangan yang bijak agar kita mengerti hikmah yang terkandung di dalamnya.

Ketika kelak kamu membayangkan betapa sakitnya saat aku meninggalkanmu. ketahuilah betapa merasa bersalahnya aku di saat itu meninggalkan kekasih yang amat ku cintai. Bayangkanlah tentang saat itu, saat aku pergi tanpa pernah bisa membahagiakanmu sepenuhnya, aku mersakan kesedihan yang begitu pekat.

Sebelum semua terjadi, sebelum kita beranjak semakin jauh, aku ingin menuliskan untaian kata ini agar kita mengerti dan bisa memulai semuanya dari titik yang sebenarnya. Di dalam kedamaian kita bersama mensucikan cinta.

25 Mei 2014

Foto Mengerikan Tempo Hari

Iseng-iseng aja liat foto di tab... Ya udah, edit sembarangan... Berhubung nggak ada bahan buat di post, posting ini aja yak... moga-moga temen-temen nggak tau, kalau tau bisa berabe...

Oke, lungsang aja... Eh, langsung aja... Checkitout...

Ini waktu malam minggu beberapa waktu yang lalu
Nggak ada kerjaan ya gini doang, maklum jomblo


Ntuh, Diantara sekian banyak manusia, cuma mereka berdua yang 
telanjang dada, laki-laki tomboy yang memalukan martabak telor

Kasian nih orang, hampir tiap hari dikatain teman-teman
Tapi memang bener adanya sih.

Iseng aja aku nulis kayak gitu waktu dia duduk, dianya malah nggak sadar.
Waktu pertama aku foto, dia kira aku serius fotoin dia tanpa maksud terselubung

Aku nggak bisa komen tentang ini
Ini foto, uploadnya ilegal, yang punya foto nggak tau

I
Ini juga sama...

Ini cewek kesukaan ku...
Was-was banget waktu dia hampir buka foto ini di tab, untung nggak jadi.
Bisa kena gampar ntar...

Nah, ini objeknya, si Om...
Ntuh BB di sebelahnya sekarang udah almarhum...

Mukanya menghayati banget yak? Cabulnya keterlaluan...
Tapi serius, itu kayaknya enak, besok-besok kalau basecamp sepi, boleh di coba...

Nah, ini nih foto antara iya dengan nggak mau di upload. Maluk...
Berhubung ntar malah nggak adil, yo wes di upload aja.
*itu beneran jijik, sumpah....


Udah ah, itu aja yang aku punya... Kurang dan Lebihnya, tolong di lebih-lebihkan...
Akhir kata, di sana gunung, di sini hunung, di tengah-tengahnya ada upil... Loh, kok tiba-tiba ada upil? Ah, Sudahla...

24 Mei 2014

Curhatku yang Berceceran

Nggak punya pacar adalah kebebasan di balik penderitaan. Jelas aja, kita bisa bebas dalam berbagai aspek, bisa puasin diri ngabisin malam minggu sama teman, kenalan atau jalan sama cewek manapun, kita kegatelan juga nggak ada pacar yang marah. Iyalah, pacar aja nggak punya. Tapi derita juga kalau nggak punya pacar. Jarang ada yang perhatiin, nggak punya teman esemesan, bosan bergaul sama batang mulu. Banyak deh, tapi yang paling aku rasain selama ngejomblo, aku nggak punya seseorang yang bisa ku ajak berbagi cerita. Tambatan hati yang biasanya jadi tempat aku curhat sekarang mungkin udah jadi kepunyaan orang lain.

Sekarang aku cuma bisa curhat di fb, twitter, atau blog. Cuma itu. Itupun nggak nimbulin solusi yang aku butuhkan, entah-entah ada yang baca postinganku. Tapi, WTFlah... Sekarang, seperti inilah caraku meluapkan perasaan...


Dasar, bakat banget aku jadi jomblo, sampai karatan gini nih hati. Padahal dulu aku selalu punya pacar berlapis-lapis, jarang banget ngejomblo, kalau ngejomblopun cuma bentar-bentar. Dulu tuh, aku punya kriteria yang aku pasang kalau cari pacar. Kriteria standar aku tuh, cantik, teteknya gede, nggak pelit, dan super perhatian. Minimallah, bisa menuhi salah satu dari kriteria standar itu, baru aku mau ngejar-ngejar dia buat dijadiin pacar... Tapi sekarang apa? Jadi jomblo nggak boleh pilih-pilih kalau pengen punya pacar, standar kriteria harus ditinggalin dulu. Punya pacar-pacar yang pas-pasan juga udah suyukur banget...

Oh iya, selama di Malang ini, kalau kalian liat isi dompetku, biasanya isinya warna biru, kayak orang kaya ya... Tapi nggak kaya juga sih, setengah tahun ini aja aku nggak punya sendal jepit. Huhu... Ke mana-mana cuma pakai dua pasang sepatu yang itu-itu tok...

Huh, aku punya teman yang punya abang sepupu, dia orang pekalongan, bahasanya lu gua. Taiklah, gara-gara sering asik ngobrol sama dia, aku jadi ketularan pakai lu gua. Aku kalau ngomongnya spontan pasti pakai lu gua. Jadi nggak enak sama teman-teman yang aku ajak ngobrol, kesannya belagu banget akunya... Semoga Tuhan secepatnya menyembuhkan aku dari penyakit latah ini.

Kalian tau? Hidup di Malang itu enak. Banyak enaknya, orangnya ramah, makan murah, orang-orangnya asik. Tapi yang paling aku suka dan bikin aku makin betah itu, cewek-ceweknya pada cantik-cantik, apa lagi kalau ketemu yang cantik dan teteknya gede... Ya tuhan... Jadikanlah dia pacarku walau hanya seminggu... Ah, bukan itu sebenarnya yang pengen aku bahas, aku tuh kangen pulang. Pulang ke kalimantan. Udah hampir satu tahun aku ninggalin kota Sintang dan keluargaku di rumah. Aku juga kangen Melawi, kangen sama teman-temanku di sana. Nggak sabar banget pengen ketemu semua yang aku kangenin di sana, termasuk komputer tercintaku. Semoga semuanya baik-baik saja dan nggak banyak brubah.

Ngomongin teman, aku punya teman-teman baru yang menyenangkan dan menurut aku mereka itu teman yang tepat di jadikan teman baik. Di sini aku juga punya teman lama yang orangnya nggak kalah asik dan menurut aku dia lebih baik dari teman-teman baruku. Teman baru dan teman lama, sebenarnya aku nggak mau nyebut teman-temanku dengan kedua sebutan itu. Menurut aku itu hanya sebutan yang bakal jadi penghalang dan sekat, sesuatu yang menghalangi kedua golongan tadi untuk menjadi saling kenal dan akrab. Masalahnya, teman lama aku yang satu itu sering nyidir aku, atau bisa dibilang ngejekin. "Ciee, yang lagi asik sama teman barunya". Nggak enak banget kan? Entahlah dia bercanda atau serius ngalamin kecemburuan sosial. Tuh orang memang nggak jelas serius atau becandanya, beda tipis. Intinya, kalian yang baca ini jangan pernah beda-bedain teman lama atau teman baru, semuanya teman. Jangan juga deh nyindir teman yang punya teman baru, selagi teman kalian masih bisa adil sih bagi waktu dan perhatiannya ke kalian atau teman barunya.

Oh, beberapa bulan lagi aku ualng tahun yang ke dua puluh kalinya. Udah tuak bangt yak? Dan baru ini sih, aku ngarepin ada yang ngasih kado. Kado apa ya? Aku pengen kado yang isinya, coklat yang banyak. Suka banget coklat, apa lagi coklat pasta. Coklat itu enak banget loh, katanya sih, bisa bikin otak jadi lebih pintar, tapi aku tiap hari nelan coklat juga tetap bodok. Tapi, coklat itu ngefek banget di aku, kalau makan coklat, mood aku yang awalnya buruk bisa tiba-tiba jadi membaik. Semoga aja, suatu saat nanti aku punya pabrik coklat yang enak, biar bisa nikmatin coklat sepuasnya...

Tinggalkan paragrap di atas, ini udah paragrap baru. Terlahir dan mendidik diri sendiri sebagai anak multimedia, itu cukup berhasil bagi aku. Tapi waktu kulaiah ini, aku nggak ambil jurusan yang berhubungan dengan multimedia atau desain. Aku malah ambil jurusan sistem komputer yang fokus ke robotika. Di kelas, aku punya teman akrab dan dulunya anak multimedia. Dia lebih hebat ngedesain sesuatu ketimbang aku. Cemburu juga sih dikit, dia jadi keliatan jauh lebih hebat dibanding aku. Dia memang spesialis after efek (pemberian efek animasi di video) dan spesialis desain juga. Tapi menurutku dia cuma beruntung aja, desain dia jauh lebih bagus dari aku, dan di kelas itu yang paling dibutuhkan itu kemampuan desain. Untungkan? Jadi dipandang hebat banget (walaupun memang hebat). Tapi tetap, aku ngerasa kemampuan digital imaging (editing foto) yang aku punya itu di atas dia. Animasiku nggak kalah jauh dari dia, editing audioku jauh lebih bagus dari dia. Apalagi editing Videoku, aku jauh lebih menguasai dari dia. Memang sombong, tapi aku ngerasa itu kenyataan. Memang aku akui, aku juga kagum sama imajinasi yang dia punya, tapi balik lagi, dia cuma beruntung bisa dapat perhatian lebih dari teman-teman. Kalau seandainya teman-teman butuh pengedit foto, audio, sama video, aku juga bakal di pandang hebat kayak dia.

Tuh, ngetiknya jadi kebawa emosi... Sebagai anak multimedia, seharusnya aku bisa ngegambar pakai tangan tapi sayang, gambarku nggak selalu bagus. Seauai inspirasi dan kadar mood. Tadi aku lagi mood nyoret-nyoret kertas, dan aku dapat pelajaran baru. Ya, aku baru sadar ngeggambar sesuatu itu bukan hanya bisa melatih imajinasi, tapi juga bisa ngelatih pengontrolan emosi dan kadar mood yang naik turun. Buktinya, tadi waktu suasana hatiku tenang aku ngewarnain gambarku rapi banget, tapi begitu temanku bilang "udah selesai belum? Mau aku fotoin kalau udah selesai." Beneran, aku langsung buyar, aku ngewarnainnya jadi berantakkan. Kejadian itu menunjukkan kalau emosi yang lagi naik atau turun bisa ngerusak konsentrasi. Ya, seharusnya aku bisa lebih kontrol lagi emosiku.

Alih topik. Aku kesal dengan emak pemilik kost yang aku tinggali saat ini. Orangnya sok perhatian dan suka ikut campur urusanku. Sering banget ngurusin pakaian yang lagi ku jemur di jemuran, dan sering banget beresin kamarku waktu aku tinggal tuh kamar. Awalnya aku coba buat terima sikapnya ke aku, tapi untuk kasus kali ini aku benar-benar nggak terima, dan aku dendam bangetlah. Gimana nggak...? Dia beresin kamar aku, bersih sih. Tapi kalian tau? Dia buang stiker JKT48ku yang ku simpan karena aku bingung mau ditempel di mana. Parahnya lagi, dia buang CD jkt48 yang dulu susah-susah aku dapetinnya. CD itu langka, aku nyari ke sana-sini kehabisan stok terus. Aku dapetinnya tuh, aku jalan kaki sendirian sekitar empat kilo meter. Aku juga bela-belain uangku yang waktu itu benar-benar lagi kerisis. Tapi nyatanya apa? Dengan mudah di buang gitu aja. Itu otak segede apa sih? Kacang tanag? Sampai-sampai nggak bisa bedain CD sama sampah. Sial tuh orang... Apa? Kata-kataku kasar? Nggak sopan? Ah, perduli banget. Aku ini orang yang selalu berusaha bersikap baik sama orang. Tapi kalau sesuatu yang aku sayangin banget diganggu, aku bisa dendam dan berubah jadi orang yang jahat. Untuk hal ini, aku bakal bikin perhitungan yang stimpal.

Ah, ternyata, segitunya banget aku sama JKT48. Iya dong, aku suka banget. Ya iyalah, mereka itu idola yang paling aku kagumi. Dulu aku ngfans sama salah satu band, tapi nggak segininya. Huwh, jadi ngarep banget mereka konser di Malang. Waktu itu ada sih konser di Malang, tapimsayangnya aku nggak tau, dan teman yang taupun nggak ngasi tau ke aku. Jadi nyesal, ngarep banget mereka datang ke sini lagi. Tapi sial banget ya, kalau mereka ke sini akunya pas lagi berlibur dan pulang kampung. Bisa mewek aku, ntar.

Walaupun mereka belum konser ke sini lagi, tapi aku tetap senang. Soalnya yang udah lama aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Iya, film perdana JKT48 yang judulnya Viva JKT48 bentar lagi udah tayang di bioskop-bioskop. Ah, pengen banget nonton. Itu film menurut aku bagus banget, walaupun genrenya drama komedi, tapi aku nonton trilernya sampai berlinang air mata. Terharu... huhu... Yang lagi baca ini, tolong di rahasiain ya, aku malu cuma nonton trilernya bisa sampe mamu netesin air mata gitu.

JKT48 kan isinya cewek-cewek keren, apa lagi oshiku, Jessica Veranda. Kesayangan aku banget... Cewek yang gemesin, hampir di setiap momen hidupku, aku selalu mikirin dia. Kak Ve itu, cewek yang paling aku cinta. Bagi aku, cinta itu nggak ada kalau kak Ve nggak ada.
Kak Ve, colour my life.

Jessica Veranda

Open Diary part 05



Berhenti Merokok

Baru aja sampai kost, pagi-pagi. Udah dapet sms dari sabrina. Huh..
"Aku maw k kmpus, mau ikut nggak?" "Kampus aja sab. Maaf nih, aku pengen tdur, blm tdur." Memang sih, semalam aku belum tdiur, keasyikan minum kopi sama Eno. Memang dahsyat kopi pontianak.
Siang sekitar pukul 12:41 Waktu Indonesia Malang, ada sms lagi dari orang yang sama. "Kamu gag k kampus ta?" :) anak ini sekarang kalau sms logatnya sok jawa. Smsnya belum di balas, udah sms lagi dia. "Kesini sayank aku kangen." Hadeh.. :/ kerjaan Dwi nih. "Bntr lagi deh. Blm mandi nih. O ya, bilang sama dwi. So fucking shit!"

Habis mandi, maksudnya mandi kepala aja, gitu. Aku memang biadap gini, yang penting cuci muka, basahin rambut, sikat gigi, beres deh. Masalah bau badan, gimana dong? Gampang deh, pakai handbody terus olesin deodoran ke ketek, tambahin parufum ke baju, selesai masalah. Apa sih, susahnya? Sabrina aja sampai tergila-gila sama aku. Setiap salaman, bukan cium tangan tapi malah cium ketek. Huhu.. Biadab sekali hayalan ku.

Sampai di kampus, aku langsung ke perpus, ya sama teman-teman sibuk nyari buku untuk tugas osjur.
Sibuk nyari buku, Sabrina nelpon aku. Padahal dekat, bah. Dia nyuruh aku ke tempat dia duduk, katanya pengen ngomong sesuatu. Bilang aja kangen, atau pengen cium-ciumin ketek gua, pakai alibi segala. 

Aku mendekatinya yang lagi duduk di kursi sambil menghadap laptop. "Duduk sini." sabrina mengisyaratkan ku agar duduk di kursi sebelah kirinya. Awalnya sih, ngobrol nggak tentu arah, tapi lama-lama ke inti masalah juga. "Aku bisa minta tolong sama kamu?" Raut wajahnya berubah jadi serius, tatapan mata yang awalnya hilir mudik di antara keyboard dan LCD laptop, sekarang mengarah tepat ke arah pupil hitam mataku. "Bisa." jawabku sedikit ragu. "Aku pengen kamu berhenti merokok." tatapan tajamnya kembali mereda dan beralih ke LCD. "ha? Berhenti merkok?" "iya, berhenti merokok." aku terdiam, masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang ia katakan. Sabrina kembali menatap ku dengan serius. "Aku pengen kamu berhenti merokok, demi kebaikan kamu. Kamu bisa turutin permintaanku?

____________________________________________________________


Bad Ink

Nggak banyak hal yang pengen aku ceritain hari ini. Hari ini hanyalah satu lembar tulisan dengan tinta yang buruk.
Benar-benar bukan hari yang menyenangkan. Terlalu banyak kecemburuan yang ku rasakan, Sabrina terlalu banyak dekat sama Hafsah, dan Hafsah terlalu mudah mencari kedekatan dengan Sabrina.
Sering banget hari ini sms ku nggak di balas sama Sabrina. Aku juga nggak banyak ngobrol sama dia karen memang setiap di kampus, aku duduk jauh dari dia. Kuliah pagi kayak gitu, ikut seminar juga kayak gitu.
Aku ketemu berdua sama dia cuma dua kali hari ini, itupun cuma sebentar-sebentar. Ngantar dia narik duit, ngantar dia belanja. Ngomongin belanja, dia beliin aku floridina, tadi.
Tadi siang, waktu pulang ngantar dia, "Sab, kamu jadi liburan ke jogja?" "Nggak tau, kalau bukan ke Jogja, aku mau ke ****, perbatasan jawa timur sama jawa barat." Aku terdiam sejenak dalam langkahku. Terasa ada yang nggak nyaman yang ku rasakan.
"Aku pasti kangen kamu, Sab." Jeda, aku mengambil nafas dan melanjutkan kembali, "dua hari nggak ketemu aja, rasanya nggak enak, apalagi sampai sepuluh hari."
Hmmh.. Liburan bukanlah hal yang ku inginkan saat ini. Aku nggak siap ngejalani hari-hariku kedepan tanpa kamu, pasti terasa sepi. Entah dengan apa nanti aku menutupi rasa kangen ini.
Liburan memang besok baru di mulai, tapi malam ini aku udah mulai ngerasain kangen sama kamu. Sepi yang seharusnya belum datang, sekarang udah ada di hadapanku, membalutku dengan hawa dinginnya. Aku berharap kita cepat ketemu lagi.

____________________________________________________________


Nanti, Waktu Kita Ketemu Lagi

Time to writing, dan kembali ke notepad...
Dari semalam aku memang tidur di tempat Eno, dan pagi ini Eno pergi kuliah. Aku sendiri memilih nggak pulang ke kost dan tetap di sini.

Waktu menjelang malam, sebelumnya Dwi ada sms, dia bilang Sabrina ngajak makan bertiga sekalian ngomongin sesuatu. Tapi apa daya, hujan belum kunjung reda, waktu udah menunjukan bagda magrib. Agak ngdown sih mood ku, bahkan aku jadi nggak berani lagi liatin jam dinding. Tapi anehnya, Sabrina nggak ada sms. Jadi gelisah beberapa waktu, hingga akhirnya datang sms Sabrina. Dia tanya aku lagi di mana. Aku jawab aku belum bisa pulang karena masih hujan, tapi dia maksa harus sekarang dan nggak bisa besok. Mau nggak mau aku harus maksa Eno juga. 

Di perjalanan, Eno sempat nanya, "selama kailian ngobrol, aku nunggu di mana, Ca?" "Ikut juga nggak apa-apa kok, lagian nanti juga ada Dwi."
Ternyata memang benar ada Dwi, ada Alfin juga. Dan seperti biasa, Sabrina terlihat cantik bagiku, bedanya malam ini dia pakai rok hitam panjang dan jaket ungu ala korea kesayangan dia. Aku duduk di depannya, sambil intermizo sama teman-teman. 
Katanya sih Sabrina besok ke jogja, mau jemput pacarnya. Memang sial sih, pacarnya jadi datang ke sini, entah mereka bakalan nikmatin tahun baru di sini atau di jogja, kemungkinan besar di sini.
"Sabar, Ca. Sainganmu datang." Tutur Alfin sambil mengelus pundakku. Aku cuma diam nggak bisa bilang apa-apa.

"Jadi, tadi kamu pengen ngomongin apa, Sab?" aku mencoba masuk ke inti pembicaraan. "Emmm, sebenarnya kamu kuliah itu tujuannya apa?" "Cari cewek" dengan sigap Eno nyeletuk dari belakang, Dwi sama Alfin juga ketawa. Akupun terdiam sesaat. "Kalau pertanyaannya kayak gitu, jawabanku sih, aku pengen punya skill, punya ijazah biar hidupku nanti sukses." Belum selesai aku jawab, dia udah bertanya lagi. "Kalau memang kayak gitu, kenapa kamu sekarang malas kuliah?" "Gini ya, seperti apapun alasan aku, yang namanya jalan lurus pasti ada aja masa dimana kita malas-malasan. Iya sih, apa yang di bilang Eno juga benar. Aku nggak bisa munafik, aku kuliah juga mau cari cewek." jawaban ku memang terlalu jujur.

Tiba-tiba Dwi nyambung aja tuh. "Kalau kon bisa berhenti merokok, sama menghilangkan sifat malas kon, si Yuyun pasti mau jadi pacar kon. Iya kan Yun?" Sabrina hanya menganggukkan kepala.
Entah harus seperti apa aku menanggapi hal ini, i am confuse.
Setelah itu, panjang percakapan yang terjadi antara aku dan Sabrina.
"Aku bisa berubah kapanpun aku mau. Kalau suatu saat aku berubah, mungkin itu bukan karena kamu"
"iya." jawabnya singkat, dan setelah itu dia terdiam beberapa saat. "Kamu berubah gimanapun, aku tetap nggak bisa jadiin kamu pacarku." lanjutnya kembali. "Aku tahu itu kok, dan aku ngerti. Keadaan nggak bakal memungkinkan aku untuk jadi pacarmu." Entah apa yang di pikirkan Sabrina sebenarnya. Di suatu sisi dia bilang mau, di sisi lain dia bilang nggak mau.
"Sabar, Ca. Nggak dapat yang ini, cari yang lain." Huh, kalimat yang aneh terucap dari mulut Alfin. Dia memang aneh menurutku. Nggak lama dari itu, dia melanjutkan kata-katanya kembali. "Aku juga galau kok. Bukan cuma kon yang galau, tapi aku juga. Sebenarnya malam ini aku mau ketemuan sama cewek. Tapi hujan gini, terpaksa di batalin." Aku baru ingat, Alfin ada cerita beberapa hari yang lalu, kalau dia mau ketemuan sama cewek malam ini.

Obrolan berlima malam ini terus berlanjut, lumayan banyak hal yang kami bicarakan. Tapi rasanya ada yang ngeganjal. Aku nggak yakin kalau cuma ini yang mau Sabrina omongin sama aku. Kalau cuma ini, nggak mungkin dia sampai maksa aku pulang hujan-hujan gini. "Sab, cuma ini yang mau kamu omongin ke aku? Atau ada hal lainnya?" "Emm, sebenarnya ada sih, tapi.." Belum selesai Sabrina ngomong, aku udah memotongnya. "Oh, iya, iya.. Masih ada, tapi kamu nggak mau ngomong dalam suasana yang kayak gini ya?" "Iya, terlalu ramai." Ya, aku bisa mengerti, mungkin dia malu untuk ngomonginnya sekarang. Aku juga nggak mau maksa dia, mungkin sekarang bukan saat yang tepat, dan mungkin lain kali merupakan saat yang lebih baik dari malam ini. Aku harus sabar.
Udah lumayan lama aku ngobrol sama Sabrina malam ini. Aku nggak enak sama Eno yang terlalu lama nunggu.

"Kamu udah mau pergi, Panca?" "Iya, Sab. Mungkin masih ada yang mau kamu omongin, tapi nggak dalam kondisi yang kayak gini. Jadi, kita omongin tahun depan aja, waktu kita ketemu lagi." "Oke".
Aku pamit pergi, aku sempatin ngucapin salam perpisahan sama mereka. Aku kepalkan tanganku dan Alfin menyambutnya. "Sampai ketemu tahun depan." "Oke, hati-hati" tutur Alfin. Dwi memelukku, lalu aku menjabat tangan Sabrina. Setelah itu aku berlalu pergi.
Selama dalam perjalanan, aku dan Eno ngebahas apa yang tadi aku omongin sama Sabrina. Eno suka dengan caraku menjawab Sabrina. Jawabanku terkesan menunjukkan kalau aku punya harga diri yang Tinggi. "Aku bisa berubah kapanpun aku mau. Kalau suatu saat aku berubah, mungkin itu bukan karena kamu." Memang sih, awalnya Eno nggak terlalu ngerti maksud dari kata-kataku. Tapi setelah dia tau, dia bilang, baiknya nanti aku sms Sabrina, jangan sampai dia salah mengartikan jawabanku. Awalnya aku pengen jelasin lewat sms, tapi ternyata apa yang ku tulis terlalu panjang, jadi aku putuskan mengirimnya via pesan facebook.

Sebenarnya, aku kurang ngerti dengan yang tadi kita omongin. Waktu Dwi bilang, kamu mau jadi pacar aku kalau aku bisa berubah, dan tadi kamu mengiyakan apa yang dia bilang. Tapi waktu ngomong sama aku, kamu bilang itu semua nggak bakalan buat aku jadi pacarmu. Bingung kan, aku jadinya.
Ya, apapun itu, aku juga sadar sih, aku nggak punya harapan atas ini semua. Aku nggak punya harapan bisa memiliki kamu. Dan aku berharap aku masih punya harapan.
Terus, masalah yang kedua. Mungkin jawaban aku tadi belum jelas. Aku nggak mau kamu salah paham. Tdi aku bilang, aku bisa aja berubah kapanpun aku mau. Dan kalau suatu saat aku berubah, itu bukan karena kamu.

Maksud aku gini, aku pasti berubah. Dari awal memang aku pengen berubah, di tambah lagi waktu di perpus kamu pernah minta aku untuk berubah. Suatu saat pasti aku berubah. Tapi nanti waktu aku udah jadi yang lebih baik dari yang sekarang dan kamu mau jadi pacar aku, belum tentu aku mau. Bukan karena aku sok gengsi atau aku nggak sayang sama kamu, bukan karena itu. Aku sayang banget malahan sama kamu. Tapi aku maunya kamu jadi pacar aku kalau kamu sayang aku dan kamu butuh aku. Bukan karena aku berhasil merubah sifat ku. 

Ini seperti halnya bermain baseball, dan aku adalah pemukul bola. Jika seandainya aku tidak memukul kalimat yang Sabrina lemparkan, maka aku akan kalah dari permainan ini. Tapi ternyata aku memukulnya dan berhasil mempertahankan harga diriku.

____________________________________________________________


Saat Ini Hanya Bisa Menyesal

kejadian tanggal 27 januari itu, kejadian paling mengerikan di awal tahun ini. Gimana
nggak coba, sama Sabrina bertengkar beneran, baru ini lho kayak gini.
Cerita dari awal aja deh, singkat aja tapi, udah lumayan ngantuk ini.
Tuh, Si Sabrina ngoto ngajak aku sama Dwi ke matos, dia minta temanin beli sepatu. Mau nggak
mau harus naik angkot bertiga. Padahal kan bisa berdua aja, aku ngantar dia naik motor kan bisa,
atau Dwi yang ngantar, aku ikhlas kok kalau ditinggal, toh aku juga sebenernya males
banget mau ikut. Alhasil Sabrina tetap ngotot, kita bertiga berangkat pakai angkot, sempat
beberapa sesekali aku godain dia, "kamu tau nggak, kamu itu cewek paling cantik yang
pernah ku lihat turun dari angkot." Eh, dia malah nyengir-nyengir.

Di Matos kita kelamaan nyari sepatu, lalu cari kaset DVD, lalu makan, terus pulang.
Nah, waktu pulang inilah aku kejadian yang termasuk dalam tanda-tanda kiamat itu terjadi.
Waktu naik ke angkot pertama aku keceplosan ngucapin dua kalimat sakral, Sabrina langsung
marah-marah sepanjang jalan, aku cuma bisa diam nyeselin semua itu. "katanya mau berubah,
tapi apa buktinya."

Sesampainya di kamar aku cuma diam aja, sampai dia datang lagi ke kost. Aku mencoba untuk minta
maaf, tapi dia tetap aja marah-marah. sumpah, serem banget. Gara-gara PMS nih.
"Kamu harus, bawa dua itu ke sini baru aku maafin kamu, kalau nggak, kamu nggak boleh dekat-dekat aku."
Karena itu, aku langsung pergi dari kamar Dwi, jadi hilang niatku minta maaf sama dia.
sSelama di kamar aku cuma diam aja, nggak ada ngapa-ngapain. nyesel? iya, nyesel banget.
Saking nyeselnya, aku jadi emosi sendiri. banting-banting baranglah, sampai kamar jadi berantakkan.
Sempat sih, Sabrina nyusul ke kamarku, tapi nggak begitu ku kasi respon.
"Panca.." Suaranya lembut memanggilku. "Eee?" jawabku lesu. "Bukain pintunya"
"Nggak!" jawabku singkat lagi. Setelah itu terdengar suaranya agak sedikit berbisik.
"Wi, Suruh Panca bukain pintunya." "Iya, kubukain pintunya." Dwi berusaha membuka pintu
kamar yang ku kunci. Aku yakin Dwi bisa buka pintu itu, tapi dia bilang nggak bisa.
"Nggak bisa, pintunya dikunci." 

"Panca, kamu ikut masak nggak?" Sabrina membujukku lagi. "Udah, pergi aja sana!" jawabku
dengan nada rendah. "Apa?" "Masak aja sana! kan kamu sendiri yang bilang, aku nggak boleh
dekat kamu lagi." Setelah itu, entah kenapa nggak ada kedengaran suara darinya lagi. yang
ada hanya langkah kaki yang terdengar semakin menjauh.
Aku merasa sangat menyesal, aku bodoh udah ngucapin hal nggak berguna kayak gitu.
aku pengen dia maafin aku, tapi waktu dia udah mendekat untuk baikan, aku malah menolak dia.
Aku merasa aku ngggak berguna, bahkan untuk diriku sendiri.
Satu-satunya temanku saat ini cuma pesbuk, aku nulis status banyak banget, dan statusnyapun
sama, "Bodoh!" cuma itu hal yang bisa ku perbuat untuk bisa melampiaskan kekecewaan ku
saat ini.

dalam diam ini, aku semakin merasa akan kebodohan yang ada di diriku semakin mengakut.
Berulang kali aku berpikir tentang apa yang harus ku lakukan, tapi nggak ada satupun
jawaban dan jalan keluar yang ku temukan. Ya, ada satu. Pintu kamarkulah jalan keluarnya
satu-satunya. Akupun memutuskan untuk beranjak dari kamarku, membeli beberapa batang rokok
untuk meluruskan kembali saraf di otakku yang kusut.

Sebatang rokok habis, tanpa banyak berpikir aku melangkahkan kakiku ke kamar Dwi. Cuma satu
alasanku untuk melakukan hal ini, aku harus bersikap dewasa, nggak ada gunanya membiarkan
masalah ini terus berlanjut hingga menciptakan galau yang menusuk setiap inci hatiku.
Kakiku terus melangkah menuju kamar Dwi tanpa keraguan. Tapi dengan sekejap, semuanya
berubah saat aku tiba tepat di depan pintu kamar Dwi. Entah kenapa pandangku yang mengarah
ke Sabrina mampu memberikan isyarat kepada kakiku untuk berhenti. Dalam beberapa detik
aku berhenti, ku tinggalkan pintu kamar Dwi yang terbuka. Ku putuskan untuk beli air mineral
dulu untuk menghilangkan gerogi. Setelah itu aku langsung menuju ke kamar Dwi, ku temui Sabrina,
dan dengan segenap keberanian aku minta maaf untuk kesekian kalinya. Tapi dia nggak banyak
ngomong, masalahpun belum bisa selesai karena mamasku, mas Agung datang ke Kost.
Selama aku ngobrol sama mas Agung, Sabrina pulang karena udah larut malam.
Keesokan harinya, sore entah jam berapa. Aku baru aja bangun dari tidurku, Sabrina datang.
Entah kenapa dengan sok manisnya, aku menyuruh Sabrina duduk di sebelahku yang lagi berbaring.
Dari situlah aku mulai balikan sama dia. 

22 Mei 2014

Mumpung Lagi Mood (Video Iseng)

Hari-hari terus berganti tanpa banyak tulisan yang tercipta. Ya, beneran aja, aku jarang megang benda yang bisa bantu aku buat nulis sesuatu. Banyak hal yang terpendam selama aku diam kayak gini, banyak cerita yang terlewatkan. Tapi biarkanlah, sesuatu yang udah ketinggalan biarlah ketinggalan.

Hari ini, aku nggak tau tanggal berapa, mungkin tanggal 23 mei. Yang aku tau dengan pasti, sekarang jam satu malam kurang dua puluh menit. Akhir-akhir ini memang banyak cerita, tapi nggak semua sempat diabadikan.

Kita mulai cerita dari tadiiii sekali, sekitar jam sepuluh pagi aku bangun dengan kerongkongan yang agak sakit, maklum udah dua hari pilek dan batuk-batuk. Selanjutnya aku berangkat ke kampus dan mengikuti UTS CAD yang terbilang susah.

Setelah itu waktu berjalan nggak beda jauh dengan hari kemarin. Bedanya waktu hari udah mulai kelewat sore. Karena nggak ada kerjaan dan kadar mood lagi tinggi banget, aku, Alfin sama Sulaiman berencana bikin video. Rencananya sih, pengen bikin video yang temanya "ketika aku dewasa".

Kita bertiga naik ke basecamp buat minjam hp Herwin (sementara ini hp Herwin lah yang paling bagua kameranya). Waktu udah dapat hhp-nya dan udah turun kembali, jumlah kita jadi empat orang. Loh, kok nambah satu? Biasa, si Nengah latah, ikut-ikutan. Pertamanya sih setelah ngerundingin spot yang pas, aku duduk di samping sumur di dekat tangga basecamp dan di ikuti Suleman dan Alfin. Di situ kita malahan berdebat siapa yang di interview duluan. Di sela perdebatan, Suleman punya ide yang membelokkan rencana awal. Kita malahan mau minta no cewek yang nggak dikenal. Sebagai yang punya ide, Suleman lah yang harus nyoba duluan.

Suleman siap, kamerapun siap merekamnya dari belakang. Dengan langkah berani Suleman mendekati cewek yang jadi target. Ah, bullshit nih anak, malah balik lagi nggak berani. Jadi, ku pikir-pikir terlalu mainstream kalau harus minta nomor hp. Suleman juga bilang dipisah jadi dua kelompok aja. Setelah melakukan random dengan hompimpah, terpilihlah kelompok pertama dengan anggota Suleman dan Nengah. Sementara aku sama Alfin kelompok kedua (sebut saja begitu). Untuk pertama-tama, tantangannya adalah ngajak cewek kenalan. Targetnya, siapapun cewek yang masuk ke area parkiran.

Suleman dan Nengah sebagai kelompok pertama mulai mendekati cewek yang baru aja masuk ke parkiran (kemungkinan besar cewek itu mau pulang). Ya, langkah kaki mereka mulai mendekati korban, dannn.... Suleman pun mulai mengajak cewek itu berkenalan, sedangkan Nengah berdiri di samping Suleman dan nggak banyak ngomong. Alfin lagi ngerekam momen itu, sementara aku duduk di salah satu motor yang di parkir agak jauh memperhatikan mereka. Maksud aku sih, biar si korban nggak terlalu gerogi karena terlalu ramai. Sementara dari atas basecamp teman-teman ngeliatin tingkah kita sambil ketawa ngakak. Ok, keliatan dari jauh cewek itu gerogi campur salting. Obrolan mereka nggak kedengaran jelas. Yang aku ingat itu, Suleman beralibi ikut Asia Festival Creatif lomba youtube. Akhirnya, Suleman dan Nengah berhasil ngajak tuh cewek kenalan, jadi kita anggap misi mereka berhasil...

Nah ini nih, pas giliran aku sama Alfin malah cewek yang masuk parkiran (maaf) mukanya jelek banget. Jadi kita putuskan untuk rolling aja, nunggu korban selanjutnya. Nah, ada tuh korbannya, cewek yang kayaknya mau pulang juga. Mukanya nggak cantik, tapi masak mau di rolling terua, malu dong sama mereka berdua yang udah berhasil. Alhasil, kita paksain aja deh, ketimbang di anggap failed.
Aku mulai ngedekatin korban, Alfin buntutin aku. Pertama ngajak ngomong sih aku basa-basi-nasi-basi kayak gini "maaf mba, cewek yang pakai kerudung tadi yang ngomong sama mba itu temen mba?" "Bukan, kenapa ya?" "Oh, bukan. Kalau gitu, boleh kenalan nggak mba?" Aku nyodorin tanganku dan cewek itu bales jabat tangan aku. "Tia" sambil senyum-senyum nggak jelas. "Panca... Saya anak SK, biasanya sering nongkrong di situ (nunjuk ke arah basecamp). Kalau seandainya kangen, datang aja ke situ." Dia malah ngikik nggak jelas. Lalu, Alfin juga perkenalkan diri. Lalu lalu lalu, kita bergegas pamit dan bilang terima kasih. *sebenarnya percakapannya panjang, tapi aku tulis sebagian aja.

Yes... mission succses... berkat aku nih, bukan alfin. Dia cuma modal suara dikit aja... ah, yang penting skor kita satu sama.

Lanjut ke tantangan kedua. Kita mau minta nomer hp. Yuhuu.... kayaknya nggak asik kalau pakai hp yang bagus, jadi kita pakai hp senternya Suleman yang kesing depan belakang termasuk keypadnya kita lepas, plua belakangnya kita plester biar makin keliatan butut. Nah, nekan tombolnya pakai patahan ranting, kan jadi makin butut kesannya.

Seperti sebelumnya, yang nyoba duluan itu Suleman sama Nengah. Tumben, langkah kaki Suleman jadi lebih enteng, semangat banget. Mungkin karena calon korbannya cantik. Dengan langkah pasti Suleman mendekati tuh cewek. Tapi sial, baru aja Suleman manggil "mba..." tuh cewek malah cabut dengan skuter maticnya tanpa menghiraukan Suleman.. Hahaha... Kita semua pada ketawa, kasian bener nih anak, di kancangin... jadi, dengan begini mereka berdua dianggap FAIL!!!

Ah, tiba giliran kita berdua Alfin. Capcus deh ke si korban yang baru aja markirin motor, mereka berdua. Dengan muka songong aku lagi-lagi yang duluan ngajak ngomong. "Maaf mba, minta waktunya sebentar". "Ya?" Jawab cewek yang tadi ngebonceng temennya. "Boleh minta nomer hp-nya?" To do point banget, nggak pakai ngajak kenalan dulu. Akhirnya dengan mengutarakan alasan yang sama seperti tadi, ikut lomba youtube, cewek itu bilang "boleh". Nah, waktu aku minta hp ke Alfin, Alfin malah salting sambil ngomong ke kamera "ini hp malu-maluin banget yak, butut bener". Setelah ngomong kayak gitumAlfin nyatet tuh nomer yang lagi di sebutin. Saat itu juga Nengah bilang "Fin, katanya tadi biar ceweknya yang nyatet sendiri". Lalu cewek itu bilang "ya udah, sini biar aku yang catet" sambil cengengesan. Lalu selesainya hp-nya dikasihkan ke aku. Waktu aku mau save, aku tanya namanya siapa, jawabnya "Imel". "Imel gmail atau yahoo?" Cewek itu malah cengengesan berdua. Lalu Alfin nanya, "angkatan berapa mba?" "Angkatan 2011" "tuh kan pas, 2011" kata Alfin. Tadi kan peraturannya korban harus cewek, nggak boleh anak SK, dan minimal angkatan 2011 ke atas. Ya, setelah ngobrol panjang (lebih panjang dari pada yang aku catat) kita pamitan.

Sebenarnya sih ada ronde ke tiga, tapi berhubung hari udah gelap, kita putiskan untuk udahan dan langsung naik ke basecamp untuk ngedit tuh video. Sesampainya di atas, kita ngobrolin kelakuan iseng kita tadi sambil ketawa-ketawa. Di situ ada, mas Jamil, mas Azwar, Pak Samsul, Herwin, Ade, Sabrina, dan kita berempat. Banyak sih yang di obrolin tentang itu, termasuk pas mereka liat Videonya mas Jamil bilang "Pancak ini, kecil-kecil cabe rawit. But overall, topik paling menggemaskan yang paling bikin ketawa ya, betapa memalukannya Suleman yang di cuekin waktu mau minta nomer hpa


Oke, gitu aja cerita panjang hari ini, leher dan tanganku udah capek banget. Mungkin udah saatnya tidur. Bye, see you next story. Keep clam and read my story...

:* kecup basah...

20 Mei 2014

Cerita Kemarin Part II

Nah, yang ini cerita yang aku buat tanggal 29 september 2013, judulnya Iron Man Versus Penguasa Mimpi. Cerita yang memalukan juga sih, tapi demi penghiburan dan penciptaan senyum kecil di bibir para pembaca, aku share deh... Selamat membaca bagi yang membaca.... 

Arrgghhh.... Udah memasuki bulan ke dua aku tinggal di kost, tinggal sendirian dengan penuh kenistaan.. Gaya mu..  Well, selama hidup di Malang berasa enak banget lah, nggak pernah tuh yang namanya kepanasan. Uademme rek.. Eniwei, ngomongin masalah kost, bbrapa bulan yang lalu waktu pertama nyari kost, pada penuh semua. Akhirnya setelah nyari-nyari dan ngubek-ngubek tempat sampah, ketemu juga sama kost yang masih bersisa kamar. Tapi, ya itu.. Kamarnya adalah gudang yang di sulap menjadi tempat tidur raja. Huhuhu.. Miris ya, ukurannya cuma dua kali tiga meter, nothing ventilasi, nothing jendela. Tinggal pakai pintu jeruji udah mirip sama penjara. Isinya cuma ada kasur, bantal dan satu lemari kayu butut yang uwh.. Butut sebutut bututnya..

Malam pertama di kost, aku denger suara kresek-kresek dari lemari itu, kayak ada tikusnya. Tapi pas di periksa (ke dokter) nggak ku temuin apa-apa tuh di lemari itu. Cuek aja lah.. Tapi anehnya, setiap malam suara penuh kenistaan itu selalu ada.. lama-lama terganggu juga.. Sempat terpikir kalau sebenarnya yang buat suara berisik itu adalah sekumpulan alien-alien kecil yang sedang melakukan penelitian di bumi, what the fuck!? Mulai terlintas gambar-gambar alien sedang berpose imut ria (jijay). Bermacam-macam sekenario terbayang di otak ku. Dari alien berhasil menjajah bumi, sampai aku makan bakso habis dua porsi (kok nggak nyambung?). Tapi dari sekian banyak sekenario, ada satu yang aku suka banget. Aku berhasil memergoki mereka yang sedang melakukan eksperimen di dalam lemari. Wow, mereka terkejut ada seorang anak manusia yang bejat sedang memergoki mereka. Mereka berusaha menangkap ku, tapi alien unyu-unyu itu nggak berhasil, malahan aku berhasil nangkep jendralnya yang cuma seukuran botol pokariswet. Kelakuan binal ku mulai kambuh, dengan biadap ku bakar bulu keteknya pakai tokai.  Para prajurit yang takut jendralnya mati, memohon agar aku mengampuni jendralnya (mereka berkomunikasi pakai alat penterjemah, saking canggihnya, mereka ngomong pakai bahasa jawa) alhasil, kami pun melakukan genjatan senjata dan meraih titik damai. mrgreen Ternyata mereka nggak brmaksud jajah umat manusia, mereka cuma pengen bereksperimen meneliti cara membuat tempe, biar keluarga di planet mreka yang nun jauh di sana bisa makan tempe. Wkokokoko.. Sebelum mereka pulang, mereka sempat ngasi aku kekuatan, wow.. Badan ku jadi lebih fit dan fresh, tinggi badan ku bertambah enam senti. Dan yang paling menakjubkan, otak ku jadi genius kayak jimmy newtron. Setelah mereka pulang, aku berhasil menciptakan baju besi iron man. Aku jadi super hero (bukan super heru) yang gagah berani.  Karena di bumi nggak ada kejahatan, akhirnya aku cuma bisa jadi tukang ojek udara buat orang-orang yang pengen ngerasain rasanya terbang. Tarifnya murah, sepuluh ribu perlima belas menit untuk satu orang. Karena aku begitu ganteng dan penuh pesona, aku berhasil pacaran sama shania JKT48. Dan menjadikan nabilah sebagai selangkangan. mrgreen eh.. Selingkuhan.. Alah maak... Kebanyakan menghayal aku jadi orgasme.. Enggak ding.. Hehe..

Hal lain selama tinggal di kost ini, dari malam pertama aku tidur di sini, aku selalu mimpi aneh. Tidur siang atau malam, tetep aja mimpi. Nggak enak, rasanya kayak nggak tidur gitu. Berminggu-minggu mimpi, kebanyakan mimpi buruk, akhirnya stres melanda. Buka-buka artikel di internet, nggak ketemu juga kenapa aku selalu mimpi di setiap tidurku. Dari sekian banyak artikel cuma satu kalimat yang ku ingat (kayak ikan mas koki, ingatannya cuma mampu bertahan selama beberapa menit) "mimpi terjadi karena banyak faktor, salah satunya rangsangan dari luar". Begitu lah kira-kira yang ku ingat. Entah malam ke berapa, aku lagi asik browsing, tiba-tiba kebelet pipis, tapi males banget mau ke wc. Aku terdiam sebentar, pandangan ku berputar-putar menjelajahi seisi kamar, hingga pandangan ku berhenti di sebuah gelas plastik bekas minuman ale ela.. Nafsu binal ku kambuh, aku pipis aja di gelas itu,  wekekeke.. Setelah puas mengosongkan tong kosong nyaring bunyinya, ku taruh gelas ale ela yang penuh air kenistaan itu di bawah lemari, dengan niat bsk pagi bakal di beresin. Akhirnya aku bisa browsing lagi. Keesokan siangnya saat bangun dan mau ke kamar mandi, aku cek gelas ale ela semalam. YA AMPUNN!! Astaganagabonarjadidua.. Terlihat sosok dua ekor kecoa sedang asik berenang ria di cairan kenistaan ku. Mampus! Jadi elu yang selama ini bikin suara berisik dan buat gua mimpi terus? Hahaha.. Dalam hati aku tertawa puas.. Dengan biadap ku masukkan mereka berdua yang sedang asik bercinta ke dalam kloset bersama air kenistaan tadi. Hehhuahahahaha.. Tawa ku semakin menggelegar cetar membahana. Tawa kemenangan iron man sang pacar shania jkt48 berhasil mengalahkan dua ekor kecoa sang penguasa mimpi.

Pesan Sosial: jangan lakukan kelakuan-kelakuan binal di atas. Karena dapat menyebabkan diare dan hepatitis. 

Cerita Kemarin

Ini cerita yang aku tulis bulan oktober 2013 lalu, tepatnya tanggal 13. Selamat menikmati....

Huaahh.. Berasa bego deh, hidup kok kebanyakan bengong. Mau gimana lagi kan, masih jadi pengangguran n belum aktif kuliah. Tapi haruskah aku jalani hari hanya dengan ngupil?  Bisa jadi.. Bisa jadi..

Ow ya, akhir-akhir ini aku jarang keluar kamar, palingan keluar cuma waktu belanja atau cari makanan. Nggak banyak kena sinar matahari, tapi bagus deh, aku jadi makin putih n ganteng. 7.gif

Kalau udah pagi kayak gini, pasti aku dengerin lagu zhivilia (mungkin gitu tulisannya) yang judulnya aisiteru part III. Oalah, kayak pesbuk aja sampai part tiga. Eits, tapi jangan salah, aku denger lagu itu bukan karena suka, tapi karena terpaksa. Itu tuh, tetangga kamar sebelah, suka banget dengerin lagu itu, di repeat smpai berjam-jam. 06.gif Oh Tuhan, cuma satu ini kah lagu di dunia yang engkau ciptakan?

Keanehan tetangga aku bukan cuma itu aja sih, masih ada yg lain. Thats right.. Keliatan dari pertama kenalan, ini orang selalu senyum waktu ngomong. Ya, kapan pun dia ngajak aku ngomong, pasti sambil senyum. Nggak capek apa senyum-senyum terus? Mending deh kalau senyumnya manis. Tapi nggak tau juga deh, maklum aku nggak pernah jilatin bibirnya waktu dia senyum, jadi aku nggak tau, senyumnya manis atau nggak. Tunggu dulu, tunggu dulu.. Jangan-jangan dia homo yang naksir aku.. Oo shit.. Gelii.. Tapi syukur deh dia bukan homo, ternyata dia ngomong campur senyum bukan cuma sama aku, tapi sama nenek-nenek pemilik kost juga. Kok gitu ya orangnya? Orang ini pernah galau nggak sih?

Nggak cukup sampai di situ, kalian tau? Aku kalau manggil dia 'mas'. Dia kan udah smester tiga, nah aku masih berstatus mahasiswa baru. Tapi kok dia juga manggil aku dengan sebutan 'mas'? Waa.. Nggak bisa di biarin nih, ini penghinaan. Mentang-mentang muka ku keliatan lebih tua dari dia. Seenaknya aja panggil aku mas. Haruskah aku operasi plastik untuk menambah keimutan ku?

Orangnya mandi hampir tiga kali sehari. Gilaakk.. Ngapain coba mandi sampai tiga kali sehari? Aku aja yang mandi tiga hari sekali tetap hidup, malahan sering di puji ganteng sama ibu-ibu di komplek sini, iya sih kalau kulit ku dikerok pakai sendok pasti dapat banyak daki. EGP.. Emang Ganteng Pun. Hehehe..

Biasanya kalau malam-malam aku cari makan, pasti sendirian aja, nggak ada teman. Tapi kalau malam minggu, beda ceritanya. Kedengaran sedikit aja suara pintu waktu aku mau ke warung, pasti dia cepet-cepet keluar dari kamar pengen ikut ke warung, alasannya sih mau ngopi.

Tada.. Berasa deh jadi homo, malam mingguan sama mas smileis di warung kopi. Takut deh kalau nanti dia grepek-grepekin badan ku, bisa ternod kesucian ku yang udah ku jaga selama ini. Oh God.. Haruskah aku menghabiskan malam-malam minggu ku dengan memandang senyum indahnya??? 06.gif Tuhan... Ambil aku... Ambil aku....

Teruntuk Veranda

Apa kabar kamu yang di sana? Aku selalu perhatikan kamu dari sini. Ve, belakangan ini aku lihat kamu jadi kurusan. Kamu kenapa? Kamu jarang makan ya? :( Kamu harus lebih jaga kesehatan, harus lebih rajin makan ya, biar tetap gemuk, aku suka kalau pipimu tembem kayak kemarin.
Ve, aku pengen bilang sesuatu sama kamu... Ya, aku tau kamu nggak akan pernah baca tulisan ini, kemungkian kamu bakal baca tulisanku ini sangat-sangat kecil, bahkan nyaris nggak mungkin, aku sadar itu. Tapi aku tetap pengen bilang kalau aku cinta kamu. Kamu itu, cewek yang paling ngefek di kehidupan aku, kamu sumber inspirasi yang besar untuk aku, kamu itu boku no taiyou yang buat aku jadi lebih semangat buat jalani hidup yang cenderung membosankan ini. Percaya atau nggak, seperti itulah arti keberadaan kamu untuk aku.
Kamu berharga meskipun nggak tersentuh. Kamu bidadari walaupun nggak pernah aku jumpai. Aku nggak perduli apa pendapat orang. Mereka mau bilang aku anehpun terserah, yang terpenting perasaan ini aku sendiri yang ngrasain. Termasuk kenaifan ini, aku sadar akan hal itu, betapa bodohnya aku mencintaimu, sosok yang nggak pernah ku jumpai. Biarlah, kebodohan ini adalah perasaanku yang jujur.
Kamu dan teman-temanmu itu istimewa, tapi bagi aku kamu jauh lebih berharga dari yang lain. Cukup melihat senyummu aku bisa tersenyum, hanya mendengar suaramu isi dadaku terasa bergetar. Aku benar-benar tersihir karena kamu. Waktu moodku jatuh, kamu selalu bisa buat aku jadi lebih semangat lagi. You are my everything...
Banyak hal yang aku suka dari kamu, dan rasanya nggak mungkin untuk disebutkan satu persatu. Salah satu hal yang aku suka dari kamu, ya kesukaanmu yang sebenarnya juga kesukaanku. Aku suka warna biru dan putih, kamu juga. Kita sama-sama suka mandangin langit malam yang bertabur bintang. Selalu merasa damai waktu mandangin langit biru berlapis awan putih. Oh iya, aku suka sifat kamu yang kalem, pendiam, bagiku itu so peaceful.
Kamu tau? Tadi aku ngerasa sumpek banget nggak bisa tidur, aku pergi  keluar dan mandangin bintang-bintang di langit gelap. Yang pertama terpikir di otakku itu kamu. Kenapa ya, padahal kita sering memandangi langit yang sama, menginjakkan kaki yang sama, tapi kita nggak pernah ketemu. Ketemu sama kamu itu mimpi yang saat ini terus membayang di pikiranku. Ya semoga aja bisa terkabul. Memang sih, rencananya liburan kali ini, aku pengen ke theater, tapi kayaknya belum bisa kesampaian karena keadaan memang belum mengizinkan. Setidaknya paling lama deh, satu tahun lagi aku bakal datang ke tanah delusi itu.
Ve, aku tau betapa beratnya hari-hari yang kamu jalani, tapi aku harap kamu tetap terus bertahan sampai batas kamu benar-benar nggak bisa bertahan. Kamu janji ya... Kalau kamu janji dan bisa bertahan, aku juga janji bakal nemuin kamu secepatnya. Aku janji, janji demi kamu orang yang paling aku kagumi.






18 Mei 2014

JKT48 - Profil Ratu Vienny Fitrilya

"Aku si gadis artistik yang sedang berjuang meraih mimpi, namaku Vienny!" 
Ratu Vienny Fitrilya, salah satu oshi gua yang lahir pada 23 Februari 1996 ini akrab dipanggil Viny adalah penyanyi dari grup idola JKT48 yang berasal dariIndonesia. Viny merupakan anggota Generasi ke dua JKT48 yang akhirnya menjadi anggota resmi Tim KIII pada tanggal 25 Juni 2013 lalu.




Viny yang bergolongan darah A ini sudah memiliki banyak pengalaman dalam menampilkan tarian tradisional, seperti yang saya ketahui, Tari Saman dan Tari Jaipong. Selain entertainer, Viny juga memiliki keinginan untuk menjadi Desainer, dia juga cukup ahli menggambar dan menggunakan perangkat lunak desain grafis(ow, sama kayak gua ya). Ya, Viny merupakan satu dari lima anggota Generasi dua yang terpilih menjadi senbatsu dalam single kedua JKT48 "Yuuhi wo Miteiruka?" yang artinya "Apakah Kau Melihat Mentari Senja?" (nah, ini lagu JKT48 yang paling gua suka). Selain itu, Viny juga pernah menempati posisi center dalam lagu "Mirai no Kajitsu" atau dalam bahasa Indonesia "Buah Masa Depan" yang merupakan bagian dari single "RIVER" milik JKT48. Fans, termasuk gua mengenal Viny sebagai pemilik senyum yang khas.
Menurut informasi yang gua dapat setelah gua ngubek-ngubek informasi kesana-kesini, gua jadi tau kalau Viny suka dengar lagu-lagu dari Band asal Korea, CNBlue. Viny juga suka baca komik, dan salah satu komik kesukaannya yaitu Miiko, Yotsuba, Death Note, dan Conan, tapi komik yang paling berkesan bagi Viny itu Marmalade Boy. Member yang satu ini tidak suka cake, karena Viny memang dari dulu tidak doyan makan makanan yang manis-manis. Walau tidak suka dengan yang manis-manis, tapi di mata para fansnya, Viny tetap yang paling manis, apalagi jika ditambah dengan senyum khasnya. Jadi tidak heran jika member yang satu ini memiliki fans yang tidak sedikit (termasuk gua).

Postingannya cuma secuil, sebagai bonus, gua share fotonya viny, yak?













16 Mei 2014

Saat sebelah sayap patah










Saat sebelah sayap patah, siapa yang bisa menjadi angin yang mampu menerbangkan sebelah sayap ini? Saat ini aku hanya bisa terdiam meratapi dinginnya sepi ketika aku terpuruk di atas kubangan es. Tak ada siapapun yang bisa ku lihat di sini, dan tak ada yang ingin melihatku di tengah lautan es ini.

Entah kapan sebelah sayapku yang patah ini akan tumbuh dan terkembang kembali membawaku terbang mengitari dunia yang dipenuhi cinta. Dalam perhentianku ini, tak ada lagi sesuatu yang bisa membuat kehidupanku menjadi riuh. Tak ada alas tempatku terduduk, tak ada api unggun yang bisa menghatkan tubuh ini. Aku hanya bisa menatap wajahku sendiri di pantulan air yang riak, gambaran kasat yang memberitahukanku betapa menyedihkannya diriku yang tak bisa terbang ini.

Kehampaan yang bercampur dengan dinginnya sepi ini benar-benar merantai ketidak berdayaanku. Seberapa jauhpun aku memandang, tak ada tempat yang terlihat oleh mata yang bisa ku singgahi. Di atas ombang-ambing bongkahan es yang terus terhanyut, sesekali aku melemparkan serpihan es yang beku ke lautan air dingin ini. Tapi apa yang terdengar hanyalah bunyi percikan air. Tak seperti apa yang ku inginkan, aku berharap serpihan es yang ku lempar bisa menciptakan suara yang berbeda. Suara serpihan es yang terpecah membentur daratan.

Sampai kapan aku harus berada di sini? Di tempat yang tak ada seorangpun tahu. Aku ingin berhenti di tempat yang berpenghuni agar aku tak lagi bertemankan sepi seperti ini. Atau setidaknya, aku ingin sayap patahku kembali tumbuh agar aku bisa terbang ke manapun aku mau bersama angin yang bertiup menyeimbangkan sayapku.

15 Mei 2014

Udah lama ya, nggak ketemu? Apa kabar? Kamu yang sekarang kayak apa ya? Bisa jadi makin gemuk, mungkin aja. Kamu tau? aku sering mikirin kamu. Masih, kamu mikirin aku?

Kamu bukan sekedar singgah di kehidupan aku, tapi kamu memang benar-benar jadi bagian hidupku yang melengkapi kekuranganku. Aku nggak bakal ngelupain kamu.

Aku masih ingat banyak tentang kamu, tentang kita... Awalnya, ketemu dan nggak kenal secara spesial, cuma sekedar tau nama karena memang satu hari penuh ada di tempat yang sama. Terpisah sekian lama tanpa pernah ngomong apapun satu sama lain dan dipertemukan lagi di akun media sosial, facebook. Saling inbox, tukaran nomor hp.

Melanjutkan cerita lama cuma lewat hp, tapi anehnya kita bisa akrab banget. Walaupun awal kita pacaran cuma sekedar iseng, tapi kita bisa saling sayang, memulai hubungan spesial itu benar-benar dari angka nol.

Aku masih ingat, selama pacaran aku terlalu sering ngeduain kamu, tapi kamu selalu bisa maafin aku yang terlalu bodoh nyakiatin kamu. menurutku kamu hebat, bisa bertahan dalam cinta yang begitu menyakitkan. Nggak perduli seberapapun nakalnya aku dulu, kamu selalu ada untuk aku, kamu selalu perduli sama aku.

Kamu ingat, kedua kalinya kita ketemuan di tower, padang rumput hijau yang luas? Kamu masi malu-malu sama aku walaupun kamu itu pacar aku. Kalau diingat-ingat lagi, kamu itu lucu ya.

Walaupun sering bertengkar dan jarang ketemu, aku tetap sayang kamu, aku juga yakin kalau kamu sayang aku. Buktinya, kamu selalu berusaha bahagiain aku.

Hmmm... banyak hal yang kita lakuin sama-sama. semua macam

14 Mei 2014

Selingkuh yang indah memulai karma

Cinta... Itu perasaan yang pasti ada di dalam diri setiap orang. Entah itu cinta yang membahagiakan ataupun cinta yang membawa kesedihan yang mendalam. Hanya satu kata 'cinta', tapi begitu banyak cerita yang terbentuk dari satu konsep dasar perasaan ini. Berawal dari cinta monyet yang hanya terkesan iseng dan permulaan dalam mengenali apa itu cinta, sampai cinta brontosaurus yang begitu besar dan kuat.

Ya, begitu juga dengan aku... Aku punya banyak kisah percintaan yang sekarang ini bisa dibilang gagal untuk bertahan ke tahap selanjutnya yang lebih serius. Ya jelas aja, umurku masih belum dua puluh tahun, belum saatnya memikirkan tentang kekasih sejati, pendamping hidup, jodoh atau apapun sebutannya itu.

Mungkin aku seperti nggak berhak ngomongin cinta ataupun sok-sok menggurui di sini, terbilang sekarang aku ini jomblo yang hampir nggak laku. Tapi perduli setan (setan aja nggak perduli). Kali ini aku pengen cerita tentang kisah cintaku, tentang mantan pacarku yang sudah terhitung sembilan belas orang (cewek semua), tapi ya nggak semuanya aku ceritain. Aku cuma pengen cerita sesuai tema kok, 'selingkuh'.

Semenjak aku pacaran kelas dua SMP aku nggak pernah jomblo lebih dari satu minggu, dan sekarang aku jomblo udah hampir setengah tahun. Mengenaskan, nggak ada cewek yang ngelirik aku, bahkan aku dekatinpun mereka enggan padahal aku udah pakai deodoran (walaupun kadang lupa karena berangkat ngampus buru-buru). Intinya, kejombloan ini membuat aku sadar, karma itu ada dan berlaku bagi siapapun yang hidup di dunia ini.

Awalnya, aku pacaran sama cewek yang namanya Rini waktu kelas enam SD dulu dan hanya bertahan seminggu. Itu tanpa selingkuh, dan hingga akhirnya aku punya pacar lagi waktu kelas dua SMP dan pacarku tiga tahun lebih tua dari aku, Mira. Hubunganku sama Mira berjalan baik walaupun harus backstreet dari orang tua, teman-teman dan khalayak umum. Enam bulan berjalan dalam kedewasaan dan penuh pengertian hingga akhirnya kita terpaksa harus LDR. Selama itu kita jarang komunikasi, aku yang biasanya selalu dapat perhatian dan kasih sayang mulai kehausan. Hingga suatu hari aku mengenal cewek lain yang namanya Dessy, anak Sintang, waktu itu aku kelas tiga SMP dan dia kelas satu SMA. Kita pacaran dan menjalin hubungan jarak Jauh.

Dessy benar-benar pendamping kedua yang sangat perfect, dia memenuhi banyak kriteria cewek yang aku suka, terutama sifatnya yang kalem dan penurut itu yang aku suka. Mira nggak pernah tau hubunganku dengan Dessy karena kita jarang ketemu dan komunikasi. Selanjutnya, setelah berbulan-bulan, aku mulai bosan LDRan dengan Dessy. Beberapa bualan setelah itu aku mulai kenal dengan cewek baru di sekolahku yang juga tetangga baruku. Namanya Ikha, cewek kecil, mungil yang suaranya ngebass banget...

Awal kenal Ikha semua berjalan lancar, kita sering nyantai bareng di depan rumahku malam-malam sambil liatin bintang di langit. Kita sering smsan walaupun rumah kita dekat, bahkan aku sering ngirimin dia puisi-puisi yang ku buat sendiri. Keakraban berlanjut, semua respon positif yang dia berikan ke aku selama ini ngebuat aku yakin kalau dia suka sama aku. Setelah mengenalnya sangat jauh dan dalam, aku tau harus bagaimana untuk mengambil hatinya. Akhirnya aku mantapkan diri untuk mengajaknya pacaran.

Waktu itu sore hari aku telpon dia, aku bilang aku pengen ketemu dia. Sekitar jam setengah tujuh malam, aku ketemuan sama Ikha di depan rumahku. Walaupun gerimis, dia bela-belain nemuin aku. Di bawah pohon yang lumayan rimbun aku pegang kedua tangannya, "Kha, kamu pasti udah tau kalau aku suka sama kamu." Saat itu Ikha cuma diam, mungkin dia bingung harus nanggapin gimana, bahkan dia menundukkan mukanya. "Kha, aku pengen kamu jadi pacarku. Kamu mau kan?" "Gimana ya, Gi..." "Aku minta jawabannya sekarang, Kha. Aku nggak mau kamu nunda-nunda dan kehujanan terlalu lama gini..." Dengan muka yang masih malu-malu Ikha ngelepasin tangannya dari genggamanku, lalu dia mengetik sesuatu di hapenya dan menunjukkan layar hapenya yang bertuliskan 'iya'.

Semenjak hari itu, Ikha jadi pacarku yang ketiga selain Mira dan Dessy. Punya pacar tiga sekaligus itu menyenangkan, tapi was-was dan repot. Aku Harus sering-sering hapus sms dari Mira dan Dessy biar Ikha nggak tau kalau dia itu selingkuhanku. Aku harus repot cari alasan biar waktu berduaan sama Ikha, Dessy nggak nelpon atau sms. Waktu main ke rumah Mira, Mira bilang dia tau kalau aku pacaran sama Ikha, maklum temannya Mira banyak di sekitar lingkunganku. Tapi Mira nggak marah, karena dulu dia bilang aku harus cari pacar lagi biar aku nggak kesepian, tapi dengan syarat Mira tetap nomor satu dan nggak boleh ada cewek lain yang lebih ku cintai selain dia.

Hal lain, waktu itu dalam satu malam aku sms sama mereka bertiga sekaligus. Jariku benar-bemar sibuk ngetik sms. Yang satu baru di balas, udah datang sms yang lain, hingga akhirnya tragedi mengerikkan terjadi. Panggilan sayang ku sama Dessy tetap seperti biasa 'sayang', sedangkan dengan Ikha lain lagi, 'papa mama', maklum dulu masih abege labil. Nah di situlah awal maslahnya. Karena sibuk aku sampai nggak konsen dan salah nanggapin sms, ku balas sms Dessy dengan sebutan 'ma'. Kita ilustrasikan aja smsnya "aku udah makan nih, ma..." Dessy yang bingung dan mulai curiga balas "kamu salah kirim sms ya yang? Kok manggil mama? Kamu punya pacar lain?" Astaga... Aku mulai bingung dan panik, aku cek sms terkirim, pantas aja, aku salah kirim sms. Akhirnya dengan pikiran yang amburadul aku berhasil ngeles, aku balas "nggak kok yang, aku nggak salah kirim. Kamu kan calon istriku. Pacarku kan cuma kamu. Gimana? Anak kita yang di perut udah dikasih maem belum, ma?" Huh... Syukurlah, Dessy percaya-percaya aja, dia kiara aku mau gombalin dia dengan panggilan mama. Untung deh, dia itu polos banget, mudah ku kibulin, jadinya aman...

Waktu berlalu dengan banyak kisah bersama mereka bertiga, nggak terasa aku udah lulus SMP dan harus pindah ke Sintang untuk ngelanjutin sekolahku. Aku tau, setelah tinggal di Sintang nantinya aku bakalan lebih dekat lagi dengan Dessy. Aku pikir kasian Ikha yang ku tinggal, aku selingkuhin lagi, jadi sebelum aku berangkat ke Sintang aku pergi ke rumah Ikha dan bilang kalau aku pengen putus, aku punya pacar di sana dan aku nggak mau nantinya Ikha malah terbengkalai. Setelah ku jelaskan, dia terima aku putusin. Tapi seingat aku dia masuk ke dalam rumah sambil nahan air matanya.

Semenjak itu, hubungan aku dengan Ikha benar-benar renggang bahkan dia nggak mau negur aku kalau ketemu. Tapi pada akhirnya kita baikkan berkat temanku Angga yang bujukin dia biar nggak musuhan lagi. Lagian kita udah sama-sama makin dewasa Ikha pasti ngerti kalau itu cuma masa lalu yang harus di maafkan. Ya, sekarang kita udah berteman seolah dulu nggak pernah saling cinta dan saling menyakiti (sebenarnya cuma aku sih, yang nyakitin dia).

Setelah mutusin Ikha, aku tetap aja bandel. Aku pacaran sama Shasi, teman Mira, bahkan Mira manggil Shasi dengan sebutan 'kak'. Maklum Shasi lebih tua dari aku lima tahun. Entah kenapa Shasi bisa sayang sama aku yang masih anak kecil di mata orang sedewasa dia. Kalau aku sih wajar aja sayang sama dia, dia penuh kasih sayang. Sering masakkin aku sesuatu. Bahkan waktu aku kecelakaan sampai di tambal sana-sini nggak bisa jalan, dia jenguk aku, nyuapin aku makan. Hehe... namanya anak muda yang udah lama nggak disuapin sama Mira wajar dong, kalau aku sangat menikmati. Shasi tau kalau aku pacaran sama Mira, bahkan sebelum kita pacaran aku banyak curahat tentang Mira. Tapi Mira nggak tau kalau aku pacaran sama Shasi, Shasi sih ngertiin aja keadaanku dqn nggak mau juga kalau Mira nya tau.

Hal yang nggak biasa dan cuma sekali aku jumpai dalam perselingkuhan itu ngapelin dua pacar sekaligus di tempat yang sama dan waktu yang bersamaan. Mira sama Shasi kan sempat kerja di tempat yang sama. Waktu aku dalam perjalanan dari Melawi ke Sintang aku singgah ke tempat mereka kerja. Rasanya agak canggung ngobrol bertiga sama mereka. Tapi dalam hati aku cengar-cengir bisa nyium Mira di depan Shasi dan bisa pegang-pegangan tangan sama Shasi di belakang Mira. Beneran, itu pengalaman yang aneh.

Tapi hubungan aku sama Shasi cuma sekitar tiga bulan, satu bulan pertama kita dekat dan dua bulan sisanya kita LDR. Tapi beberapa minggu sesudah putus dari Shasi aku pacaran sama Yuli, cewek yang merupakan teman dekat mira dan Shasi. Yuli memang udah lama suka sama aku, suka banget. Dari pengakuannya yang paling dia suka dari aku itu kedewasaanku yang dia liat waktu aku pacaran sama Mira dulu, termasuk saat aku menyikapi Mira yang selingkuh sama abang kandungku sendiri. Ya, iseng-iseng aku pacaran sama Yuli, kebetulan aku juga lumayan suka sama dia dari dulu. Aku pacaran sama Yuli itu waktu aku udah tinggal di Sintang. Tapi aku macarin dia cuma sekitar dua bulan mungkin, maklum cuma iseng.

Selama beberapa bulan di Sintang, aku mulai bosan dengan hubunganku dengan Mira yang makin nggak jelas. Aku juga bosan berasa cuma punya pacar satu, Dessy doang. Jadinya aku pacaran lagi dengan kakak kelasku di SMK yang namanya sama dengan pacarku saat itu cuma beda penulisannya aja, Dhessy. Ow, Dhessy ini cantik, tinggi. Mukanya kayak orang arab, putih, bahkan hidungnya lebih mancung dengan aku. Kalau kissing bisa tabrakkan tuh, hidung. Tapi entah kenapa, punya pacar tigapun aku belum puas. Tepatnya 18 agustus 2010 setelah sahur di bulan ramadhan aku smsan sama Bintang, cewek yang nganggap aku abangnya dan kembarannya, alasannya sih karena dia menemukan banyak kesamaan dengan ku. Bintang itu, tempat curhat yang klop, teman becanda yang asik. Dia tau banyak tentang aku, termasuk tiga pacar yang aku punya saat itu.

Lewat sms aku coba bilang kalau aku sayang sama dia. Kalau nggak salah dia waktu itu terkejut. Apa lagi waktu aku ngajak dia pacaran. Jelas dia nolak, walaupun dia sayang aku tapi dia mana mau jadi pacar yang ke empat. Bintang mau jadi pacar aku kalau aku putusin ketiga pacar yang aku punya. Aku sih nggak mau kalah. Maklum naluri palyer seperti aku pasti bisa nemuin celah di hati cewek yang di suka. Entah bagaimana, aku nggak ingat akhirnya dia setuju untuk jadi pacarku yang keempat.

Ah, hidup terasa indah punya empat bidadari sekaligus. Tapi keindahan itu benar-benar nggak sempurna waktu Dhessi pacar yang satu sekolah dengan aku mutusin aku tanpa alasan yang jelas, maklum aku juga lumayan sayang sama cewek secantik dia. Dan nggak jauh dari situ, Mira pun benar-benar hilang dari hidupku. Tanpa kabar dan tanpa pernah pamit dengan aku dia menghilang dari peredaran. Saat keterpurukanku yang begitu dalam atas kehilangan Mira, Bintanglah pacar yang paling menguatkan aku, paling support aku untuk bangun dan nggak sedih lagi. Semenjak kehilangan Mira, aku semakin merasa Bintang dan Dessy benar-benar berharga. Tapi semakin lama, hubunganku sama Dessy juga semakin rusak, hingga akhirnya aku dan Dessy putus, cuma tersisa Bintang, pacar yang aku punya.

Dalam hati, Bintang benar-benar berharga buat aku. Tapi pada akhirnya waktu dia lulus SMP, dia harus sekolah di tempat yang nggak memungkinkan kita komunikasi sering-sering. Rasa sepi seperti dulu mulai tercipta, bahkan lebih parah. Entah kenapa disaat itu juga Dessy kembali jadi pacarku, lalu putus lagi. Dari putus dengan Dessy aku mulai akrab sama Yuni, kenalanku dulu yang merupakan teman Bintang juga. Perduli apa? Kedekatanku dengan Yuni semakin menumbuhkan rasa sayang aku ke dia. Yuni yang udah tau kalau aku pacaran sama Bintang pun nggak keberatan jadi pacarku. Lama-lama kita makin saling sayang.

Entah dari mana, Bintang tau kalau aku pacaran sama Yuni. Bintang marah banget waktu itu, tapi dia nggak minta putus. Syukurlah, aku takut kehilangan Bintang cuma karena Yuni, aku benar-benar cinta sama Bintang jauh melebihi Yuni. Bahkan aku pernah buatin lagu untuk Bintang yang judulnya satu-satunya untukku, penggalan liriknya itu "Tak kan hilang meski tubuh ini jauh jarakmu, rasa cinta ini mampu menembus ruang dan waktu. Kau masih saja tetap di hatiku meski bayang lain di sini menanti cintaku. Rasa cinta ini masih terpaku untukmu seberapapun ku menduakan cintamu. Mengertilah dia bukan untukku, dia hanya sebagian kecil dari sepiku, dan hanya kaulah satu-satunya untukku. Tak 'kan ada yang lain di hatiku."

Waktu berjalan begitu lambat tanpa banyak kehadiran sosok Bintang di depanku. Kita cuma ketemu waktu libur semester atau libur idul fitri. Sepi pun tetap ada meskipun aku punya pacar yang namanya Yuni. Tapi entah kenapa, waktu hubunganku dengan Bintang hampir menginjak dua tahun, dia malah mutusin aku tanpa alasan yang jelas. Di sini, aku mulai merasakan lagi perasaan sedih yang mendalam sama seperti aku yang dulu ditinggalkan Mira tanpa kabar apapun. Tapi, kali ini Yuni lah pacar yang benar-benar ada untuk aku. Seperti Bintang yang dulu, Yuni mampu mengangkat aku pelan-pelan dari keterpurukan. Hingga akhirnya aku bisa move on, meskipun masih ada rasa sedih dan kehilangan yang tertinggal di dalam hati.

Waktu semakin beranjak menjauh meninggalkan kisah percintaanku bersama Bintang. Sementar itu, hubunganku dengan Yuni semakin dekat, perasaan cinta yang terjalin di antara kamipun semakin kuat. Ya, Yuni telah berhasil menggantikan posisi seorang Bintang yang dulu pernah singgah di hatiku. Tapi sebesar apapun perasaanku dengan Yuni, hasratku sebagai seorang palyer yang selalu ingin mengoleksi pacar nggak bisa dihentikan. Banyak perempuan yang ku jadikan pacar sambilan saat itu, Titian, Nina, Yuni, Herni, Syafa, Rika, Yanti dan masih ada beberapa lagi.

Karena cukup banyak, maka aku cuma ceritain beberapa aja. Aku mau mulai dari Yuni yang namanya sama dengan Yuni yang lagi aku pacarin saat itu. Ya, Yuni yang kedua ini orangnya lebih tinggi dari aku beberapa cm, orangnya juga agak gemuk. Dadanya memang kecil, tapi aku benaran suka bagian pinggul dan bokongnya yang gede itu. Apa lagi Yuni ini anaknya manis, bisa di bilang cantiklah. Aku kenal Yuni dari seorang temanku, setelah kenal aku nagajakin Yuni pacaran, tapi dia nggak tau kalau aku punya pacar. Akhirnya setelah kita pacaran sekitar tiga bulan, entah dari mana dia tau aku punya pacar lain (aku lupa), kita putus. Waktu putus dia nelpon dengan nada ngomel-ngomel, sementara aku cuma jawab dengan nada santai "ya namanya juga selingkuh, ngapain bilang-bilang?". Mulai saat itu kita putus dan kembali menjalin hubungan pertemanan yang cukup baik.

Lalu, entah jarak beberapa lama, aku yang masih menjalani status berpacaran dengan Yuni mendapatkan mangsa baru, namanya Herni. Aku pacaran dengan Herni waktu aku kelas tiga SMK, saat itu masih masa-masa PRAKRIN, praktek kerja industri. Bersamaan dengan Herni, aku juga memacari cewek, yang sering di panggil penyanyi dangdut. Maklum dia memang penyanyi dangdut, aku sampai diejekin sama teman-teman, rapper pacaran sama penyanyi dangdut. Perduli amat, aku suka dia, soalnya dia cekci beutt... Tapi ya itu, Yuni tau aku pacaran sama Syafa, dia murka, aku jadi takut. Mana si Angga teman baikku juga ikut-ikutan marah. Terpaksa, tanpa dapat apa-apa dari Syafa, aku putusin dia demi kelancaran hubungan aku dengan yuni beserta pertemananku dengan Angga. Lalu Herni? Herni ya gitu, aku tetap pacaran sama dia tanpa ketahuam Yuni. Sampai akhirnya aku bosan, ku biarkan Herni terbengkalai. Aku sama Herni, sampai sekarangpun pisah tanpa pernah ada kata putus.

Flash back lagi ke masa-masa kelas  dua SMK. Waktu itu aku lagi buka fb lalu kenalan sama cewek yang namanya Nina. Nina orang Melawi, jadi sekitar seminggu setelah kita kenalan, aku ketemuan sama dia di Melawi. Wah, bejat sekali pikiranku, aku suka liat mukanya, terlebih lagi teteknya yang gede beuttt... Di hari pertama ketemu, kita udah akrab banget  kayak udah kenal dan pacaran lama.  Aku jadian sama Nina beberapa hari setelah pertemuan pertama. Aku lupa trik yang ku pakai, padahal Nina tau kalau aku pacaran sama Yuni, tapi dia tetap mau jadi pacarku. Aya-aya wae... Entah bagaimana, Yuni tau lagi aku punya pacar baru. Anehnya (seingat aku), Yuni nggak minta putus waktu itu. Allhasil, aku punya pacar dua tapi nggak terbilang selingkuh. Enak sih, tapi apes banget kalau salah satu dari mereka merajuk. Yuni merajuk, nyinggung-nyinggung Nina, gitu juga sebaliknya. Intinya aku pacaran sama Nina sekitar dua bulan, dan kalau nggak salah kita putus karena bertengkar, si Nina di tikung sama teman akrabku. Sangking kesalnya, si Angga pun sampai pengen nonjokin tu teman, aku juga gitu sih, mikir aja itu teman akrab. Lagian Angga juga bilang, ngapain kelahi cuma karena cewek kayak lonte kayak gitu!?" Bener juga kata tuh anak.

Next... Aku mau cerita lagi tentang perselingkuhan yang rumit. Rumit kenapa? Simak ajalah... Waktu itu libur panjang kelulusan SMK, aku liburan di Melawi. Beberapa bulan terakhir aku lagi akrab sama Yanti, cewek melawi yang gayanya kayak pereman, ngrokok, suka mabuk, tapi kalau lagi galau lebay banget. Bisa di bilang aku lumayan suka sama dia karena akrab. Dia juga suka banget sama aku, dia pengen pacaran tapi akunya yang nggak mau, alasanku karena aku lagi pacaran sama Yuni. Nah, lupain dulu tentang Yanti. Waktu itu bertepatan dengan Rini (mantan pacar pertamaku) pulang ke Melawi, dia kan kuliah di pontianak. Maklum, mantan lagi kangen, mau nggak mau aku harus main ke rumah dia. Eh, rupanya waktu di rumah Rini aku liat karyawan salonnya, menurutku lumayan oke, pakai hotpants, teteknya gede. Aku suka yang kayak gini. Waktu aku godain dia, si Rini rada kesal, cemburu mungkin. Tapi ujung-ujungnya dia juga yang ngasi no tuh cewek. Setelah kenalan, aku tau namanya Rika. Beh, sumpe, jatuh cinta juga aku sama dia. Maklum hati lagi kosong gara-gara hubungan sama Yuni renggang.

Karena terlalu serius pedekate sama Rika, aku jadi terbengkalaikan Yuni, dan akhirnya kita putus. Pagi putus sama Yuni, malamnya aku jadian Sama Rika. Pacaran sama Rika itu enak nggak enak. Enak bisa diapelin tiap hari, nggak enak karena ngapelin dia yang sambil ngurusin pelanggan salon yang datang. Oh iya, Yanti yang tau aku pacaran sama Rika. Yanti marah banget, soalnya dia kenal dan nggak suka sama Rika, selain itu aku juga pernah bilang aku mau pacarin Yanti kalau aku putus dari Yuni. Tuh kan, aku jadi galau, aku sayang sama Rika, aku suka dan punya janji sama Yanti. Akhirnya aku harus putusin Rika demi Yanti. Rika jadi marah sama aku. Dia mikir aku nggak pernah cinta sama dia.

Lupain Rika, fokus ke Yanti. Yanti itu aneh, mau jadian aja pakai request. "Gi, aku maunya kamu kasi aku hadiah, aku mau kita jadian di tanggal yang bagus." Kebetulan waktu itu tanggal 31 entah bulan apa, besoknya tanggal 1 aku ngajakin Yanti pacaran. Malah girang dia, aneh banget.

Waktu pacaran sama Yanti, aku akrab lagi sama Yuni. Waktu jalan sama Yuni, aku di liatin sama adeknya Yanti, eh nglapor tuh anak. Yanti marah, tapi aku cuek aja. Akhirnya kita putus, Yantinya galau pengen balikan sampai nyayat tangan. Kalau nggak salah karena iba, aku tanggepin permintaanya yang pengen balikan. Tapi gimana ya, karena terlalu sayang sama Yuni aku mohon-mohon minta balikan, Yuni yant waktu itu punya pacarpun nerima aku lagi. Kita jadi sama-sama punya pacar dua deh.

Hubungan aku dengan Yanti nggak bertahan lama, kita putus dan aku pindah ke kota Malang, jawa timur. Di sini, aku kenal cewek Yang namanya Yuni, aku pedekatean sama tuh cewek. Sampai-sampai aku putusin Yuni pacarku demi ngedapetin tuh cewek yang namanya juga Yuni (kebetulan selama di Malang, hubunganku dengan Yuni pacarku banyak masalah).

Beberapa saat sebelum mutusin Yuni pacarku, aku sadar akan dua hal. Pertama, aku nggak mungkin bisa dapetin Yuni yang ini. Kedua, suatu saat aku pasti nyesal karena mutusin Yuni pacarku. Ternyata benar, aku nggak bisa dapatin Yuni yang ini seberapapun aku berusaha. Dan sekarang aku nyesal karena mutusin Yuni pacarku, aku selalu kangen dia, aku masih benar-benar sayang sama dia.

Oke, aku akhiri cerita panjangku kali ini. Intinya, aku cuma pengen kalian tahu, karma itu ada. Sayangilah apa yang kamu miliki, jangan pernah terobsesi dengan hal yang seharusnya nggak kamu miliki.

Bye... se you next post...
Keep clam and read my writing