30 April 2014

Open Diary Part 03

Harapan Tanpa Cahaya

02 akhir tahun..
Well, aku bingung memulainya dari mana, tiba-tiba aja aku udah di dalam kamar, sendiri dan kesepian. Untunglah, Eno sms dan bilang mau jemput. Kebetulan besok hari selasa dan aku kuliah malam.
Seperti biasa, aku sama Eno suka banget duduk di kursi teras kamar, kalau nggak ngobrolin keseharian masing-masing, ya ngobrolin dunia lain. Tapi malam ini beda, aku lagi galau jadinya curhat-curhatan masalah ku seharian ini. Mulai dari pulang UTS tadi siang sampai tadi aku makan malam bareng Dwi en Sabrina. Hal yang buat aku berat hari ini, aku semakin akrab sama Sabrina. Dan semakin akrabnya aku sama dia, itu membuat aku tersadar kalau memang harapanku tentang Sabrina hanyalah perasaan pupus. Tadi siang waktu di depan kostku, Sabrina sempat bilang, kalau 20 hari lagi hubunganya sama pacarnya udah dua tahun. Kebayang nggak sih, itu berarti mereka serius banget ngejalanin hubungan. Ditambah lagi aku pernah ingat kata-kata dia, kalau dia cari pacar bukan untuk main-main, dia mau hubungan yang serius, biar bisa jadi suami yang baik buat dia nanti. Awal-awal aku tahu hubunguan mereka dulu, dia bilang mereka sering putus nyambung, itu membuka sedikit harapan untuk aku, tapi akhir-akhir ini kayaknya hubungan mereka semakin baik dan nggak pernah ada pertengkaran. Harapanku semakin kecil.
Aku cerita sama Eno tentang ini semua, dan Eno sekarang ngerti banget perasaan dan keadaan aku. "Ca, menurut yang aku liat ini, ya. Kau itu bimbang apakah terus lanjut, atau udah cukup sampai di sini aja." Aku mengangguk, mengiyakannya. Bahwasannya sampai saat ini aku melangkah dengan ragu. "Iya, aku memang Ragu. Dua hal yang bikin aku ragu. Pertama, aku takut untuk ninggalin mantanku yang kemarin, soalnya aku sama dia masih benar-benar saling sayang. Terus, aku juga ragu, aku takut aku nggak mampu membuka jalan untuk harapanku. Tau kan, selama ini aku hampir nggak punya kesempatan. Dia sayang sama aku cuma sebatas sayangnya sebagai teman".
Eno tanya sama aku, setelah tahu kenyataan ini, apakah aku terus lanjut atau menyerah dan berhenti aja. Aku memilih terus lanjut mengejar harapanku yang sekarang hampir nggak punya harapan. It's okay, tapi kalau terus lanjut, Eno pesan sama aku jangan kecewa dengan hasil buruk yang didapat. Yang penting terus berusaha dan persiapkan hati sekuat mungkin kalau memang nanti kemungkinan terburuk yang ku dapat.
Hah, lebih banyak lagi hal yang aku omongkan sama Eno tentang ini. Setidaknya Eno udah bantu aku membuka pikiran, cari solusi terbaik, dan sekarang aku jauh lebih tenang di banding yang tadi.

------------------------------------------------------------------------------------

Menyadarkan Ku

Hari ke dua Sabrina sakit. Aku masih terus kepikiran dia. Mana lagi, dia nggak masuk osjur, sepi rasanya osjur tanpa dia. Bahkan, tadi aku sempat sms waktu istirahat, dan dia cuma balas "Lebay.
Dah istrahat ta." Yah, setidaknya dia masih balaslah. Hal lain, semenjak aku ngobrol sama Dwi tdi siang, aku jadi sadar aku kurang perhatian sama Sabrina, padahal aku sering memperhatikan dia. Cowok macam apa aku ini? Bilang sayang tapi nggak ngelakuin apa-apa. Ya, sekarang aku sadar semua ini. Aku bakal berubah, aku nggak boleh diam dan terus plin plan. Insya Allah, besok aku bakal usahain sesuatu untuk bisa perhatian sama dia. Semoga Allah melancarkan segala sesuatu yang aku inginkan.
Malam inipun, Eno banyak kasi pencerahan sama aku, banyak kasi solusi yang baik gimana cara perhatian yang baik, gimana cara bersikap yakin dan nggak plin plan.

Hmmhh.. Mendesahkan nafas seperti ini, berarti aku sedang memikirkan sesuatu dengan bimbang, plin plan, bingung harus ngapain. Semoga aku bisa berusaha lebih baik dalam melakukan sesuatu untuk kamu, Sabrina. Aku nggak mau diam terus. Takdir aku memang jadi laki-laki plin plan dan pendiam, dan takdir kamu adalah perempuan yang berpegang teguh dengan pendirian mu, sampai-sampai hanya menyisakan celah sedikit untuk ku meluluhkan hatimu. Tapi nasib masih bisa di rubah, aku aku mau kalahkan plin plan ku dan luluhkan hatimu. Ini semua karena aku pengen jadi sesuatu yang berarti buat kamu.

--------------------------------------------------------------------------------------

Berdua

Padahal masih dalam perjalanan menuju kost. Kamu udah sms nanyain aku udah berangkat ke kampus atau belum. Pagi ini memang berat bangunnya, tapi aku bersyukur bisa pulang tepat waktu, bisa berangkat bareng kamu, bisa habisin lebih banyak waktu sama kamu.
Siang, sekitar jam satu kamu udah ngajak pergi ke kampus, padahal kuliahnya nanti jam tiga, males banget. Tapi demi kamu maksa, ya aku harus mau.
Memang sih, pada akhirnya aku sangat menikmati saat-saat duduk berdua sama kamu. Aku jadi bisa dengerin curhat kamu, jadi makin kenal kamu.
Tapi satu hal yang hari ini agak kurang nyaman buat aku, kamu terlalu butuh anak itu. Aku kan bisa jadi tempat curhatmu, bukan cuma dia. Ah, terserah kamu aja deh.
Malam hari, aku coba perhatian sama kamu, tanya kamu tadi kemana, jangan terlalu lama di luar kalau cuaca dingin, udah makan malam atau belum. Aku harap, kamu nggak risih dengan semua perhatianku ke kamu. Aku udah nagntuk sekarang.

Bye, Sabrina..

---------------------------------------------------------------------------------------------

Hanya Aku Dan Kamu

Ada yang berbeda hari ini, sekitar pukul 11:55 kamu sms aku, pengen berangkat kuliah sama aku. Syukurlah, kamu bisa seperti ini.
Jam-jam selanjutnya, berjalan seperti biasa, nggak banyak interaksi walaupun jarak kita dekat.
Waktu makan, aku kepikiran kamu, kepikiran kamu udah makan atau belum. Aku coba sms kamu, ternyata salah kirim dan akhirnya merusak hubunganku dengan yang lainnya. Ah, sudahlah.. Aku nggak mau kepikiran tentang itu.
Aku pulang ke kamar dan tidur. Waktu sehabis mandi, aku sms kamu, bilang kalau aku belum puas ketemu kamu. Rncana aku sih mau ngajakin makan ntar malam.
Ternyata kamu sms lagi minta tolong sesuatu. Aku tanya apaan, nggak di balas. Eh, tiba-tiba aja udah ada di depan kost. Oh.. Ternyata mau minta tolong temanin ke kampus nanti malam, kamu mau ngirim foto.. It's okay, not problem. Kebetulan ntar malam waktuku senggang.
Sambil nunggu magrib, habisin waktu sama kamu sambil ngobrol en senda guaru, itu hal yang menyenakan. :)
lepas magrib, go to campus. Temanin kamu upload foto, awalnya sih, masih agak canggung. Tapi lama-lama suasana jadi luwes. Sekarang cuma ada aku dan kamu, nggak ada yang lain. Aku jadi lebih leluasa mau ngomongin apapun. Jujur sih, aku ngerasa agak bosan karena cuma bisa nungguin kamu selesai upload foto. Tapi, rasa senang bisa sedekat ini sama kamu bisa menutupi rasa bosan itu. Waktu jadi terasa lebih nyaman di jalani saat kamu ada di dekat ku.
Kamu tau, Sab? Aku senang ada hari yang kayak gini. Hari dimana aku bisa puas sama kamu. Aku bisa lebih dekat dengan kamu, aku jadi lebih banyak omong lebih dari biasanya, aku jadi bisa liat kamu lebih dekat dan lebih lama.

Seiring kebahagiaan ini ku jalani, aku jadi semakin sayang sama kamu. Berharap bisa selalu seperti ini. Tapi, di lain sisi aku merasa sedih, kamu bukan punyaku, kamu punya orang lain. Kedekatan yang semakin lama semakin terjalin ini menyadarkanku, bahwa celah di hatimu untukku mungkin nggak ada. Sebarapa keras pun mencari celah itu nggak keliatan. Tapi inilah aku. Aku yang menyayangi mu, walaupun nggak ada celah dan kemungkinan, harapan ku tetap besar. Inilah yang buat aku nggak bakalan nyerah, aku bakal selalu berusaha menjadi yang terbai buat kamu, menjaga segala keindahan yang ada di diri kamu. Seperti apapun hari, jalan dan rasa yang harus ku jalani saat ini dan nanti, aku nggak bakalan nyerah untuk menemukan celah di hati kamu.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku, Sabrina dan Yuni

Nggak terasa udah tanggal 9, nggak nyangka di bulan desember ini aku jadi tambah akrab sama Sabrina. Setiap hari bisa ngobrol-ngobrol dengan dia, kecuali hari minggu. Ya, kayak hari ini deh, nggak kuliah bikin aku kangen berat sama dia. Well. Now i hate sunday, padahal dulu paling suka hari minggu.
Aku habisin setengah hari ini sampai jam tiga di kost Eno. Selama di tempat Eno siang tadi, sabrina sms sama nelpon aku, aku nggak bisa balas pesan dia karena nggak ada pulsa. Akhirnya dapat ide, aku balas sms dia via sms internet. Aku bilang aku nggak ada pulsa, kalau ada perlu telpon aja.
Sekitar jam empat aku lagi tidur di kamar, tiba-tiba hp ku berdering, ada telpon dari Sabrina. Dia minta temanin ke kampus. Ah, sialnya hujan, jadi batal deh nemenin dia.
Hujan reda waktu magrib, aku solat di musola, ketemu herwin. Waktu dzikir, Vicky datang langsung solat. Pengen ngobrol-ngobrol sih sama dia, tapi malah ku tinggal waktu udah selesai dzikir. Sambil jalan aku perhatikan kost Sabrina. Berharap dia ada di luar dan negur aku. Eh, sesuatu yang lain malahan ku temui. Ada Dwi di warung lagi makan. Samperin aja. Nggak lama, datang Vicky ikut gabung. Ngobrol-ngobrol bertiga, kebanyakan sih ngebahas tentang masalah yang ada antara Dwi, Vicky sama Sabrina.
Selesai dari warung, kita pindah ke kamar Dwi. Di sinilah aku ngerasa dua teman aku ini benar-benar teman yang baik. Suport aku yang lagi deketin sabrina. Dan satu hal yang mulai aku mengerti, aku bukan laki-laki yang di mau dari Sabrina. Dwi sama Vicky ngasi gambaran sama aku, seperti apa sih Sabrina itu di mata mereka. Apa yang mereka coba ceritakan dengan aku benar-benar buat aku shock. Mereka nyaranin aku untuk mundur kalau sekiranya aku memang nggak mampu jadi kayak yang Sabrina inginkan. Bukan apa, mereka nggak mau aku kecewa nantinya, aku benar-benar jauh dari harapan.
Akhirnya, aku sendirian memikirkan hal kayak gini, benar-benar berat untuk dilanjutin, tapi aku juga nggak mau nyerah. Dua pilihan yang buat aku bimbang. Aku coba tenangin diri, aku pikir sementara ini bersikap biasa aja dulu, seolah-olah Dwi sama Vicky nggak ada ngomongin apa-apa. Aku juga sempat mikir, harapan memang nggak ada, tapi aku bisa menciptakan harapan. Sesuai bagaimana usaha aku membuat harapan yang ku inginkan terwujud. Aku nggak boleh nyerah sampai di sini, aku hars terusin walaupun aku sendiri nggak tau hasilnya nanti. Aku harus yakin, nggak boleh plin plan lagi.
Sekitar jam setengah delapan malam, hafsah sms, ngajakin nyantai, katanya sih Sabrina juga ikut. Ya aku mau aja karena memang nggak jauh, kan.
Akhirnya, aku, Hafsah, Sulaiman, sama Sabrina nyantai di miniblek. Di situ aku sama Sabrina sempat ngebahas masalah Yuni mantan ku si paranoit terorin Sabrina via fb. Yuni itu nggak rela aku putusin dia selama ini, dia nganggap Sabrina itu biang dari kehancuran hubungan aku dengan dia. Sedangkan Sabrina nggak terima di salahin, apa lagi bahasa Yuni untuk Sabrina itu kasar banget. Ya, sebagai laki-laki yang bersalah, aku minta maaf sama Sabrina, dia yang nggak salah jadi di salahin. Sabrina mau Yuni minta maaf karena udah ngeluarin kata-kata kasar kayak gitu. Akhirnya aku coba jelasin ke Yuni, coba bujuk dia buat minta maaf sama Sabrina. Aku juga minta maaf sama Yuni, aku salah aku udah buat semuanya jadi kayak gini. Tapi, belum ada balasan selanjutnya dari Yuni.

Yah, aku harap besok masalah ini udah selesai.

----------------------------------------------------------------------------------------------

Ego

11-12-13
Wow, tanggal, bulan dan tahun yang menakjubkan. Banyak banget anak-anak alay nulis status seputar itu di pesbuk, kebanyakan sih, isinya membahagiakan. Tapi, di hari ini aku nggak begitu ngerasa bahagia atau senang.
Terhitung, sekitar jam 12 siang, aku terbangun dari tidur siangku. Ku dapati ada satu pesan masuk dari Sabrina. "Flasdisk ku sma kamu kan?" Aku tersontak membaca sms ini, aku masih belum begitu mengerti. "Nggak ada tuh.." Aku mencoba memutar ulang memori ku. Kenapa dia bisa tanyakan itu sama aku? Oh, shit.. Aku ingat, flashdisknya ketinggalan di lab semalam waktu aku selesai edit foto Sabrina. Parahnya lagi nggak ada satupun di antara kami yang ingat mencabut flashdisknya. Hp ku berdering lagi, ada balasan dari Sabrina. "Kemarin kamu edit fto aku d lab, trus kamu tarok dmana?" "Oh. Kmarin km colok. Trus aku nggak ada cabut, aku nggak ingat, krna bkn aku yg colokin. Jdi hrus gimana? Apa yg harus di lakukan?" "Aghhh tiddakkkkk,
kamu ambil tuh." Ah, anak ini mulai lagi egonya. Ini kan bukan kesalahan ku, ini kesalahan dia, nyata-nyata dia yang colokin, dia yang nyuruh aku edit fotonya, dan aku nggak ada sedikitpun nyentuh flashdisk itu. Ya ampun.. Tapi mau gimana lagi, aku nggak mungkin lepas tanggung jawab, aku nggak mau dia nanggung masalah kayak gini sendirian. "Jgn ego, sab. Ini kan kslahan kita dua. Klo harus nyari atau ngambil, ya brdua, bkn aku sndiri. "Ish kamu nh,
ntar jam 2 aku k kmpus." "Ya udah, jam 2 aku ke kampus juga. Nemanin km."
Sebenarnya, ini sesuatu yang berat, aku kan nggak harus ngelakuin apa-apa, seharusnya dia urus ini sendirian. Lagian aku juga ngantuk, baru tidur sebentar, semalampun aku cuma dikit tidurnya. Tapi mau gimana lagi, aku nggak mau ngebiarin dia hadapi masalah ini sendiri. Aku harus tanggung jawab atas kesalahan yang mungkin bukan kesalahan ku.
Masih ada waktu sekitar dua jam untuk aku lanjutin tidur, tapi nggak bisah. Entah kenapa aku jadi gelisah. Akhirnya aku putuskna main ke kamar Dwi, mungkin aja aku ngerasa lebih baik setelah ini. Di kamarnya, Dwi lagi tidur dan ada Vicky yang lagi asyik nonton film zombie.
Udah hampir jam dua, aku sms Sabrina untuk memastikan. "Mau di temenin gk, ke kampus?" "Maw, kamu k kost ku dlu, kamu ambil binder kamu." so fucking bitch, nih anak.  nyuruh aku ke kost dia, rupanya dia udah di kampus. Suka banget buat orang kerpotan dengan hal nggak berguna.
Jam dua, aku ke kampus, di kampus aku sama Sabrina coba tanya di BAK, tapi malah di suruh tanya ke ruang server. Akhirnya di ruang server aku coba tanya apa ada di temukan flashdisk tertinggal di lab c semalam. Tapi yang jaga bilang, nggak tau. Soalnya semalam bukan dia yang dapat giliran piket. Yang piket semalam lagi pergi sebentar. Aku di suruh balik lagi ke ruang server nanti sore sekitar jam lima.
Setelah ngucapin terima kasih, aku langsung keluar. Di luar, aku jelasin ke Sabrina kalau kita nanti balik lagi ke sini jam lima. Seharian ini dia lebih banyak pasang muka kusut dan tatapan sinis plus kalimat-kalimat judesnya buat aku.
Aku balik ke kost, sementara dia pergi ke lantai tiga. Hari ini ada osjur, tapi aku nggak ikut. Lagi males. Sampai di kost aku langsung tidur.
Aku bangun tepat jam lima sore. Di hp ku udah ada pesan masuk baru, Sabrina nyuruh aku datang ke kampus buat tanya sama-sama. Aku buru-buru ke kampus, tapi nyatanya? Dia malah tanya sendiri. Memang nyebelin kan, anak ini? Udah ku bilang tadi, dia ini suka banget buat oarang repot dan ujung-ujungnya dia ngebuat aku nggak ngelakuin apa-apa. Bukan cuma dua kali ini aja, tapi sering. Waktu ngerjain tugas fisika, dia maksa aku buat datang ke kampus jam sembilan. Bela-belain aku bangun awal, pulang ke kos sebelum jam sembilan, ujung-ujungnya di delay sampai jam 11. Itupun aku cuma di suruh ngeliat dia ngerjain, sedangkan aku mau bantu pasti dipelototin, disuruh diem. Ah, masih banyak deh, contoh lainnya.
Yah, dengan rasa kecewa di campur jengkel aku coba untuk sabar. "Jadi gimana, Sab? Apa katanya?" "Nggak ada!" jawabnya dengan nada ketus. "Di situ itu ada data aku, Ca." "Data apa sih? Penting banget? Emang belum di backup ke laptop?" "Datalah, pokoknya." "Nih, ya, Sab. Insya Allah, flasdisknya aku bisa ganti. Tapi, data yang hilang aku benar-benar nggak bisa ganti." Sabrina cuma diam, nggak jawab apa-apa.
Sekarang, posisi udah di warung BUKA. Sabrina masih aja diamin aku dengan raut muka nesunya. Aku pengen coba ajak ngomong, tapi percuma. Aku udah tau tanggapannya pasti nggak enak untuk di dengar.
Aku bingung harus gimana, aku nggak tau harus apa. Aku takut Sabrina benar-benar kesal sama aku. Ku pikir, aku nggak bisa liat jalan keluarnya, aku nggak tau caranya biar Sabrina nggak salah sama aku.  Bahkan, sampai sekarang aku belum ada ngucapin kata maaf sekalipun sama Sabrina. Ya, karena aku memang ngerasa ini bukan salahku.
Akhirnya, aku curhat sama Hafsah di depan teman-teman yang lain. Aku ceritain semuanya dari awal kejadian, tentang apa yang ku pikirkan, apa aja yang udah ku bilang ke Sabrina, tentang tanggapan Sabrina. hafsah bilang, nanti malam pulang osjur dia mau bantu selesaikan. Dia mau aku ngomong lagi sama Sabrina nanti malam. Sedangkan Dwi bilang. "Sebenarnya, Ca.. Ini bukan salah mu. Kalau aku jadi kamu sih, nggak mau di salahin gini"
aku cuma diam ngerespon omongan Dwi. Aku memang setuju dengan apa yang Dwi bilang. Tapi aku juga nggak tega kalau harus ngebiarin Sabrina sendiri yang tanggung semua ini.
Belum sampai disitu yang Dwi bilang. "Sekarang udah tau kan seberapa besar egonya si Yuyun. Sebesar dinosaurus!"
Malamnya, Hafsah sms kalau malam ini dia nggak jadi datang ke kost. Besok aja nyelsain masalahnya di kampus. Aku bilang sih, nggak apa-apa kalau nggak bisa malam ini.

Emmh.. Aku juga nggak tau kayak gimana besok jadinya semua ini, semoga aja ketemu jalan keluar yang baik. Aku harap sih, Sabrina nggak marah sama aku.