29 April 2014

Open Diary Part 02

Sabrina

This is sunday morning, terbangun sekitar jam setengah sepuluh pagi. Aku baru aja mimpi basah. ML sama SPG bohay, bodinya aduhay.. Aku juga mimpiin lgi dkt sam cewek manis, manja, tubuhnya hangat, pokoknya bikin bahagialah. Aku ngerasa kenal sama dia, tapi siapa? Aku nggak tau, dan aku berharap dia ada di dunia nyata dan jadi teman aku. :/

aku bangunin Eno, minta kantong plastik, lalu cebok ke kamar mandi, kolor ku cuci, risih kalau tetap di pakai. Eno sih tanya, utk apa kantongnya, aku jujur aja buat bungkusin kolor, habis mimpi basah.

Habis itu, aku duduk di kursi luar, ada mas Bobi, akhirnya di kasih mas Bobi nasi pecel. Ow, sarapan gratis. Dalam hati sih, aku sambil mencaci maki dia, ini orang keren banget. Mumpung masih pagi, aku yakin dia lagi nggak bisa baca pikiran aku. Haha..

Setelah itu aku di antar Eno pulang, aku mandi dan go to kampus. Udah janjian sama teman-teman. Di kampus ada Bagus, Anggi, Ade sama Sabrina. Dia pakai baju biru, kesannya manis banget. Suka aku. Hari ini, rasanya asik, aku mulai kehilangan rasa canggung ku sama Sabrina. Udah mulai akrab dan hubungan agak luwes. Semoga aku bisa lebih baik lagi dalam berinteraksi sama dia.

Waktu Vicky udah datang, Anggi sempat bilang sama teman-teman semua. Dia pengen selogan satu rasa itu benar-benar nyata. Kalau satu ada masalah, yang lain harus bisa bantu buat cari solusi. Jadi kalau punya masalah jangan di pendam sendiri, ceritainlah sama teman-teman, minimal satu atau dua orang yang bisa di percaya. Anggi nggak asal ngomong, akhir-akhir ini dia mendeteksi suasana hati ku yang lagi kacau. Dia sempat nanyain aku malam kemarin, aku ada masalah apa, kalau ada masalah coba di share biar nggak di simpan sendiri.

Dan tadi, sempat sih rame-rame saling sharing masalah masing-masing. Sampai Sabrina cerita, dia pernah punya pacar dan meninggal sehari sebelum Sabrina ulang tahun. Sampai sekarang pun Sabrina masih belum bisa ikhlas. Aku bahkan nggak sanggup liat ekspresi muka Sabrina yang tiba-tiba berubah. Aku berdoa, minta sama Allah, aku nggak mau Sabrina nangis. :( Aku nggak sanggup kalau liat dia sampai nangis. Tapi syukurlah dia nggak jadi nangis.

Teringat waktu pertama kali masuk ke basecamp SK, waktu itu aku baca tulisan di binder punya Sabrina, dari situ aku dapat gambaran seperti apa, sih yang dia rasain. Aku bisa ngambil kesimpulan dia belum siap nerima cowok lain, pintu hatinya masih tertutup, dia masih berada di dalam lingkaran yang nggak mungkin dengan mudah dia bisa keluar dari lingkaran itu. Inilah alasan kenapa aku begitu siap dan nggak shock, karena aku tau masih ada cowok lain yang dia simpan di dalam hatinya, entah itu siapa. Dan baru hari ini aku tau alasan kenapa Sabrina masih nyimpan cowok lain di dalam hatinya.

Ya, aku mengerti, dan aku akan terus mencoba mengerti apa yang kamu rasain, Sabrina. Cepat atau lambat, aku bakal bantu kamu keluar dari lingkaran itu. I promise..

------------------------------------------------------

Senyuman Itu

September, tanggal 12.

Hari ini bangun telat, karena nggak ada jam pagi. Jam dua belas lewat, aku mandi. Lalu aku sms Sabrina. "kamu di kampus?" "iya, aku di kampus" "ok, sbntar lagi aku ke sana."

siang ini hujan lumayan deras, tapi sederas apa pun pasti aku hadapi demi memenuhi janjiku ke Sabrina.

Sanpai di kampus, nggak seperti yang sebelumnya ku bayangkan, aku kira cuma ada aku sama Sabrina. Rupanya ada Vicky, Eko, Rizky, Hafsah, Anis, sama ade juga. Betek deh.. Aku salamin satu persatu, waktu salaman sama Sabrina, dia cuma genggam ujung jariku. Aku nggak ngebuang tanganku langsung, tapi aku tatap wajahnya sambil kasi ekspresi manyun. Dia senyum dan langsung ngerti apa yang ku mau, dia jabat tangan ku sepenuhnya. :)

aku duduk di sebelah Vicky, di sebelah kiri Vicky ada sabrina yang lagi ngerjain tugas fisika. Dengan muka yang polos aku nanya "aku ngerjain apa?" "kamu liatin aku aja, sambil baca doa biar cepat selesai." rupanya aku benar-benar nganggap itu serius, aku berdoa sama Allah, minta biar Sabrina di mudahkan untuk ngerjain tugas itu sendiri. Begitu aku selesai berdoa, Vicky udah nggak ada di samping aku, Ade sama Hafsah juga nggak tau kemana. Aku tanya Sabrina pun, dia nggak jawab.

Dwi datang, dengan kantong pelastik warna putih yang isinya tiga sneck bungkus besar dan minuman kaleng. Langsung di serbu... :D satu bungkus buat Eko sama Anis, Rizky ngelahap satu bungkus sendiri, sedangkan aku sama sabrina. Yee... :D aku makin duduk dempet sama Sabrina. Rasanya senang bisa duduk santai sedekat ini sama dia. Ini momen-momen yang indah banget.

Lupa juga jam berapa, rame-rame pada pindah ke warung, di warung Eko, Hafsah, Rizky, sama Dwi main kartu, aku sih lagi males mau ikut. Sisanya, minum sambil ngobrol-ngobrol. Aku yang lagi nggak mood ngobrol, pasang headset dengerin musik dengan volume poll..

Tapi, sempat ada kejadian nggak enak yang ku liat. Sabrina sama Vicky smsan. Mereka ngomongin apa sih, sampai kayaknya pribadi banget, dekat tapi lewat sms. :( Jealous... Kalian kira aku nggak tau apa, kelakuan kalian ini? Kenapa sih kalian itu nggak ngerti perasaan ku? Kok enak banget Vicky bisa dekat sama sabrina kayak gini. Kalian berdua itu sadar nggak sih, aku selalu memperhatikan gerak-gerik kalian. Tolonglah jangan lakuin hal kayak gini.

Waktu berlalu, aku galau.. Headset udah ku lepas, aku terduduk lemas di kursi biru itu. Anis, Ade, Vicky sama Sabrina balik ke kampus mau ngerjain tugas lagi. Tinggal aku sama teman-teman yang main kartu deh.

Akhirnya aku putuskan untuk pulang, nggak betah aku.

18.45 hujan masih rintik-rintik, belum sepenuhnya reda. Aku berangkat ke kampus dengan suasana hati yang kusut. Di depan lab C, aku liat teman-teman duduk di kursi panjang. Dan nggak biasanya aku nggak nyamperin mereka, aku malah duduk sendirian di kursi yang jauh dari mereka, pastinya dengan muka yang di tekuk. Dari jauh, Vicky cuma ngeliatin aku. Sabrina juga cuma ngelirik aku sekilas, Anis ngeliatin aku dengan tatapan kosongnya. Anggi yang lagi asik mainin laptop sempat negur aku, Bagus juga sama, negur aku. Ade seperti biasa manggil nama ku dengan senyum lebarnya, tapi ya nggak ada satupun dari mereka yang ku tanggapi. Dosen datang, semua buru-buru masuk lab. Aku paling terakhir dan duduk menyendiri di bagian belakang. Eko malah duduk dempet-dempet sama Sabrina.

Pelajaran yang susah pun dimulai. Sama sekali nggak masuk ke otak. Waktu udah ngasih soal, dosan pergi ninggalin ruangan. Bukannya fokus ngerjain soal, aku malah memperhatikan Sabrina terus. Aku liat, hp nya di taruh di meja. Aku smsin aja. "Sab, liat k sini.." sabrina tiba-tiba noleh ke aku. Aku lemparkan senyum dan dia balas senyum ku dengan ringan hati. Secepatnya aku palingkan muka lagi, aku nervous. "Aku jdi malu sndiri." "Knapa" balasan dari Sabrina. "Gk tau.. Terkejut mungkin." "Trkjut knapa" "Gk siap km liat ke arah ku.. Aku lgi galau, makanya pngen liat km". Ya sms nya sampai di situ, dia nggak balas lagi.

Waktu pulang, sebenarnya aku pengen bareng dia, tapi dia malah pulang sama Ade. Hufftt.. :/

Waktu aku pulang rame-rame sama teman yang lain, dari arah kostnya Sabrina jalan ke arah warung, mau beli makanan mungkin. Aku juga singgah ke warung dulu. Waktu perjalanan dari wrung ke kost, aku berpapasan sama Sbrina yang lagi bareng Vicky. Sabrina sempat ngelirikku, bibirnya tersenyum dan tangannya agak sedikit melambai. Mungkin dia malu sama Vicky. Tapi ya sudahlah, aku sangat senang walau pun dia cuma sedikit melambai. Setidaknya dia mulai perhatian sama aku, nggak secuek yang sebelumnya. Aku berharap dia bakal terus respect sama aku.

Ini yang sebelumnya pernah aku bilang fortune coockie, potongan kue keajaiban. Aku mulai mendapatkannya.


Dan, Sabrina.. Percaya atau nggak, Aku semakin sayang sama kamu..

------------------------------------------------------------------------

Bersamamu hapuskan bebanku


Beberapa minggu terakhir ini terlalu banyak hari yang ku lalui dengan suasana hati yang suram. Rasa keterpurukan yang hadir silih berganti karena terlalu banyak memikirkan dilema. Ya, hubunganku dengan Sabrina belum kunjung ke arah yang ku inginkan, aku terlalu banyak diam dan dia terlalu sering menatap ku sinis.

Hari ini, tepat pada tanggal 14 november, kamis yang tak pernah terbayangkan sedikitpun oleh ku.

Pagi ini sekitar jam setengah delapan, aku go to kampus, mau ngedatengin Sabrina yang lagi ngerjain tugas fisika. Sesampainya di kampus, ada Ade, Anis, Eko sama Sabrina. Lama kelamaan, nggak tau deh, eko hilang kemana, nggak nampak. Terus, waktu Anis sama Sabrina ke perpus, aku curhat sama Ade tentang ketidak berdayaan ku dalam menghadapi kuliah, aku ngerasa aku belum siap buat jadi mahasiswa. Tapi apa? Ade selalu bersikap dewasa dalam menghadapi aku, dia selalu bisa memasukkan sugesti dan motifasi ke dalam otakku. "Sebenernya, bukan otak kamu yang nggak siap, Panca. Tapi mentalmu. Kalo masalah otak, coba liat Rizky, umurnya masih 17 tahun tapi mampu ngikuti pelajaran dengan baik. Kamu itu belum siap mental, kalo mentalmu udah siap, otomatis otakmu juga bakalan siap" bla bla bla.. Panjang deh apa yang di paparkan sama psikolog satu ini. Sementara aku cuma terdiam menyaksikan Ade mencuci otakku. Ade juga sempat nyinggung, aku seharusnya nggak ngegabungin antara masalah asmara sama semangat belajar di kelas. Yah, dia ternyata tau kalau aku nyimpan perasaan ke Sabrina. Ini pasti ulahnya Anggi.

Skip demi skip.. Sabrina lapar dan aku juga lapar, akhirnya aku sama sabrina cari makan berdua. Selama makan, aku sama sabrina sempat banyak ngobrol nggak tentu arah, ternyata dia orangnya jauh lebih baik dari pada yang selama ini aku pikirkan. Tapi ya itu, sifat judes dan tatapan sinisnya masih sering di lemparkan ke aku. Dia aneh sekali.

Waktu udah selesai makan dan dalam perjalanan kembali ke kampus, aku memberanikan diri buat ngomong. "Sab, aku mau ngomong dan aku harap kamu jangan motong omonganku." mendengar itu, Sabrina menatap ku dengan sedikit tertawa kecil. "Jarang-jarang aku punya kesempatan ngobrol berdua sama kamu kayak gini." Sabrina semakin serius menatap ku, sementara aku melanjutkan lagi pembicaraanku yang terjeda. "Sebenarnya aku juga bingung dengan perasaanku ke kamu. Apakah aku hanya sekedar suka atau aku memang sayang ke kamu. Tapi intinya, aku selalu sngerasa nyaman kalau bisa dekat sama kamu." ya, ini adalah keraguanku selama ini. Mas Boby yang pernah ngebaca pikiran aku bilang kalau perasaan aku ini cuma sebatas suka. Ade juga bilang, aku mungkin hanya sekedar suka sama sabrina, karena rasa sayang itu terjadi jika ada timbal balik dari kedua pihak, sementara jika hanya satu pihak yang memiliki perasaan, itu hanyalah rasa suka atau kagum. Sementara Anggi yang udah lumayan tau banyak tentang perasaanku bilang kalau apa yang aku rasain ini bukan sekedar rasa suka, tapi udah memasuki kategori rasa sayang. Lalu, aku teringat status cewek di FB yang mengtakan jika kita memiliki rasa kepada seseorang lebih dari tiga bulan, itu adalah rasa sayang, jika perasaan itu hilang sebelum jangka waktu tiga bulan, berarti itu hanyalah rasa suka. Dari ke empat opini inilah hati ku mulai bimbang dengan apa yang sebenarnya ku rasakan.

Tepat saat aku dan dia memasuki gerbang kampus, "kamu nggak perlu takut, Sab. Aku nggak ngejar-ngejar kamu kok. Aku cuma pengen berusaha dekat sama kamu, itu cukup buat aku ngerasa senang." Sabrina tersenyum manis di sela-sela pembicaraanku. "huwh, udah mau sampai. Satu hal lagi yang pengen ku sampaikan. Mungkin, dalam waktu yang lama aku bakal tetap begini. Karena inilah perasaan ku." aku mengakhiri pembicaraanku dan kembali ke tempat Ade CS berada.

Yah, sejujurnya, aku merasa jauh lebih lega dari pada sebelumnya. Beban yang selama ini tersimpan sekarang udah ku keluarkan di tempat yang tepat. Tersampaikan juga akhirnya apa yang ingin ku ungkapkan selama ini. Dan, tengkyu Anggi yang udah ngebocorin rahasia aku ke Ade. Dan tengkyu Ade yang udah bersedia mencuci otakku samapai dua kali gini. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku nggak bakal berani ngomong ke sabrina tentang perasaanku.


Dan yang terakhir, tengkyu Sabrina.. Walau pun cuek, kamu masih mau ngedengerin apa yang pengen aku ungkapin. Aku udah lega sekarang, dan aku berharap hubungan kita semakin membaik untuk selanjutnya..

-------------------------------------------------------------------------------

Hem Putih

Sabtu ini, termasuk hari yang menyebalkan. :/ sekarang tanggal 16 november, seperti biasa hari sabtu osjur bakalan memakan waktu lama. Dari jam setengah satu sampai jam sembilan malam. Kebayang nggak sih gimana rasanya menghabiskan waktu selama itu dengan belajar, pelajarannyapun sangat sulit dicerna otak.

Sekitar jam lima sore, kakak panitia osjur ngadain makan bareng, lesehan, rame-rame makan di lantai. Uwh, sebel.. Aku nggak bisa makan bareng Sabrina gara-gara si Muklis udah duluan duduk berhadapan sama Sabrina. Ihhh... Kesal... Taik lu, kawan!!!

Ah, sudahlah.. Lupakan kekesalan dan lanjut cerita aja. Habis makan, kita di persilahkan istirahat, tapi Anis, Ade sama Sabrina nggak langsung keluar gara-gara asik liat mas Yunus praktek sulap. Aku juga jadi penasaran sih, dia mau ngapain aja. Akhirnya, sampai di sesi baca-baca pikiran. Mas Yunus berhasil ngebaca pikiran Sabrina yang isinya tentang masa lalu dia dengan mantannya yang udah meninggal. Namanya Nova.. Dan, shit mother fucker! Raut muka Sabrina berubah sedih waktu ingat cowok itu. Huh, aku nggak suka liat muka sedihnya. Kasian banget, aku nggak pernah tega ngebayangin ada penderitaan di hati Sabrina, apa lagi kalau sampai ngeluarin air mata. Memang seberapa berartinya sih cowok yang namanya Nova itu? Kok, sampai segitu lamanya nggak bisa ikhlas. Sumpah, aku sangat-sangat kesal. Tapi apa boleh buat, lupakan saja masalah ini. Mending balik lagi cerita ke beberapa jam yang lalu.

Tepatnya, sekitar jam setengah satu, aku dan teman-teman yang udah kayak sales obat berkemeja putih masuk ke kelas. Ada sesuatu yang berbeda, aku memperhatikan Sabrina. Hari ini dia terlihat lebih cantik dari biasanya. Huwh, ini kebahagiaan yang susah di ungkapkan dengan kata-kata.

Karena hem putih yang dia kenakan ini, aku jadi ingat saat pertama kali aku ketemu Sabrina. Waktu itu lagi AMT. Aku berada di dalam ruangan walonggong, duduk diam dan nggak kenal siapa pun dengan orang di sekitarku. Dalam kebosanan ini, tiba-tiba Sabrina datang dengan mengenakan hem putih. Mataku terpukau melihat keindahannya, dia begitu mempesona membuat aku terkagum dengan keindahnnya. Dia terkesan manis dengan tatapan yang dingin.

Hari ini pun, aku kembali teringat dengan keindahan itu. Aku terus memperhatikan dia, bahkan aku sampai nggak fokus dengan materi pembelajaran. Mataku susah untuk berpaling dari dia yang duduk di sebelah kiriku.

Aku sempat tanya sama Sabrina, "Sab, hp mu mana?" "Ada nih, di tas. Kenapa?" dia balik bertanya padaku. "Enggak, tanya aja sih."

Aku merogoh saku celana kiriku, mengambil hp dan mengetik sms yang mau ku kirim ke Sabrina. "Aku tau, mungkin aku bodoh terlalu sering memperhatikan gerakmu. :( Tapi aku nggak bisa bohong, kamu terlihat jauh lebih cantik dengan hem putih."

tepat sesaat sebelum kami meninggalkan kelas untuk mengikuti seminar, sms itu terkirim dan dibaca. Aku nggak ngeliat ekspresinya saat dia baca sms ku, karena aku langsung keluar kelas. Di luar semuanya pada ngantri buat tanda tangan dan mengambil hidangan sebelum memasuki ruang seminar. Karena terlalu ramai aku memutuskan untuk belakangan aja. Setelah tanda tangan dan mengambil hidangan aku memasuki ruang seminar. Baru saja masuk, Ade yang duduk berjejer dengan Anis dan Sabrina memanggilku. "Ogi.." aku hanya tersenyum membalas sapaannya. "duduk di depan sini, Ogi?" Ade menawarkan ku untuk duduk di depan mereka. Tapi aku yang nggak suka duduk di depan, memilih menolak. "Tuh kan, dia nggak berani duduk sendiri di depan." ya, itulah kalimat yang ade ucapkan ke Anis dan Sabrina. Sepertinya dari jauh tadi mereka memang udah membicarakan dan memprediksikan aku nggak berani duduk di depan sendiri tanpa teman. Ternyata mereka memang tau sifat ku yang pemalu, nggak percaya diri, takut ngelakuin sesuatu sendirian. Mereka memang teman yang mengenal sifat dasar ku. Kata Ade sih, aku ini masih lugu dan polos. Aku juga nggak ngerti tentang dia menilai dari aspek yang mana.

Aku memilih tempat duduk tepat di belakang Sabrina. Inilah kebiasaan ku yang paling sering ku lakukan. Aku pengen duduk di dekat Sabrina, tapi aku malah takut dan nervous kalau ada di samping dia. Pada akhirnya, seperti inilah, aku lebih sering duduk di belakangnya dan hanya bisa melihat punggungnya.

Tak berselang lama, aku ngeliat Sabrina nyodorin hp nya ke Ade, dan ade mengeluarkan ekspresi agak nggak percaya dengan mengeluarkan kata "haa???".

Mata ku yang masih bisa di bilang tajam, mampu ngebaca sms itu, rupanya itu sms yang tadi ku kirim ke Sabrina. Anis yang penasaran, ikut ngebaca sambil sesekali ngeliat ke arah aku. Aku yang sok-sok nggak tau malah berlagak nggak tau apa-apa. Sepertinya Anis dan Ade nggak percaya kalau aku bisa ngirim sms kayak gitu.

Pada akhirnya, aku hanya terdiam, dan terdiam. Hanya bisa melihat punggungnya dari belakang. Tapi, ada suatu ketika Sabrina menoleh ke belakang. Sebelum dia kembali melihat ke depan, dia sempat ngeliat aku. Aku juga ngeliat dia. Beberapa detik tatapanku dan dia bertemu tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa. Hingga akhirnya sesaat sebelum dia mengalihkan pandangannya, dia memberikan ku senyuman, aku membalasnya. Oh my God.. Dia benar-benar terlihat cantik. Baru ini dia tersenyum sama aku dengan begitu manisnya. Aku nggak tau kenapa, setelah ini berlalu jantungku berdebar kencang. Logika ku hampir nggak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Sungguh, ini hal yang menakjubkan, pertama kalinya dia tersenyum pada ku dengan begitu ikhlas dengan jarak sedekat ini. Aku yakin, hal ini nggak bakal mudah terlupakan begitu saja. :)

-------------------------------------------------------------------------

Aku Sayang Kamu

Kampus kampus kampus.. Ya itulah tempat yang hampir setiap hari ku datangi. Seperti halnya pagi 20 september ini, aku tiba di kampus sekitar jam setengah delapan. Aku diantar Eno, semalam aku tidur di rumahnya. Sesampainya aku di atas, aku duduk di samping Anggi. Oh my God, aku baru tahu kalau tugas persentasi ku masih ada yang kurang. Akhirnya walaupun dosen udah ada di kelas, aku sempat browsing lewat hp nyari-nyari tambahan bahan untuk persentasi. Sementara itu Ade dan kelompoknya maju untuk persentasi. Tapi syukurlah, file persentasiku siap sebelum giliran kelompok ku tiba. Alhasil, aku, Hafsah, Anggi, dan Guntur yang satu kelompok ini maju untuk persentasi. hafsah dapat giliran pertama. Wow, sumpah ini orang memang genius dalam memainkan kosa katanya. Satu-persatu materi di sampaikan dengan baik. Dia benar-benar menguasai materinya. Menurutku, Hafsah salah satu dari beberapa orang di kelas ku yang punya intelektual tinggi, buktinya dengan materi yang tersampaikan dengan baik, dia berhasil menutu persentasinya dengan kalimat-kalimat yang bagus banget. Hingga akhirnya, sampailah pada sesi komentar dan tanya jawab with audients (mungkin begitu nulisnya). Satu-persatu pertanyaan berhasil di jawabnya. Hingga akhirnya, pak Rofiq selaku dosen menanyakan sesuatu. Awalnya pak Rofiq menanyakan tentang slot dan kabel hardisk. Lalu pak Rofiq menanyakan, dimana letak kabel yang menhubungkan chipset dengan motherboard. Dengan berpikir keras jawaban hafsah tak mampu memuaskan nafsu birahi pak Rofiq. Hafsah masih terus berpikir, tapi apapun yang coba dijelaskan oleh Hafsah tetap tidak masuk akal oleh pak Rofiq. "Untuk teman-teman yang lain, ada yang bisa bantu menjawab?" pak Rofiq mencoba melemparkan pertanyaan pada yang lain. Ternyata tidak ada yang mengacungkan tangan atau sebagainya. Secara setengah sadar, tangan kanan ku terangkat. Apa yang terjadi? Mengapa aku mengacungkan tangan?

"Ya, Panca.. Bagaimana?" dengan tatapan biadap pak Rofik menagih jawaban dari sosokku yang nista ini.

"emm.." aku mulai mencoba mengeluarkan suara. "Sebenarnya , pak. Chipset tidaklah sama dengan halnya hardisk. Hardisk terhubung dengan motherboard dengan seutas kabel. Sedangkan chipset memiliki pin-pin kecil di bawahnya yang membuat chipset terhubung dengan motherboard." dengan gerogi yang membeludak, kata-kataku terucap dengan lancar seperti rapper yang sedang ngerapp di atas panggung. "yak.." pak Rofiq membenarkan jawbanku. Sebagian kelas bertepuk tangan (mungkin 2 atau 3 orang). "ih, Panca pintar" dengan nada manjanya seperti seorang ibu kepada anak Ade memujiku. Karena terlalu banyak suara riuh sorak, terdengar suara yang nggak ku ingat suara siapa. "tumben pintar, Nca?". Huwh.. Darahku yang sudah mengendap di otak karena nervous akhirnya turun menyebar ke seluruh badan.

Aku yang duduk di depan, di sebelah Anggi dan Guntur udah mulai terasa tenang kembali. Mataku tadi sempat menyapu seisi ruang kelas dengan sekilas mata. Yang tertangkap, aku melihat wajah Bagus yang menatap ku dengan wajah kagum dan ekspresi bodohnya. Lalu, ada Vicky yang melihatku dengan tatapan dingin, soalah berkata dalam hati, "bisa juga anak ini". Ya, karena aku yakin selama ini dia menganggap aku masih anak kecil dan penakut.

Dan saat ini mataku nggak sengaja menatap Anis, dia membuka kelima jari kanannya, lalu dengan cepat menggantinya dengan acungan jempol. Aku yakin maksudnya, Lima, (terjemahan dari nama Panca) good. Aku nggak nyangka, Anis yang segitu cueknya sama aku bisa memuji aku.

Tapi, dari semua ini, satu hal yang paling susah di terima oleh logika ku, saat aku menatap Sabrina. Dia tersenyum manis kesekian kalinya untukku, dan mengacungkan dua jempolnya ke arahku. Aku yang nggak tau harus berekspresi seperti apa, hanya bisa membalasnya dengan senyuman.

Skip and next story, sekarang lagi berlangsung osjur, semua berjalan seperti biasa. Sabrina pun tetap cantik seperti biasa dengan hem putihnya. Aku selalu memandanginya lekat-lekat. Awalnya aku duduk di samping dia, semua terasa indah saat dia ada di dekatku. Sempat sesekali dia merogoh tasnya untuk mengambil permen. Di paling suka makan permen waktu di kelas, kalau dia nggak punya pasti dia sibuk nanya teman-teman ada yang punya permen nggak. Setelah dia makan permennya, dia ngeliat ke arah aku. Dengan tatapan judes seperti biasa "apa!?". Aku menjawab dengan bisikan kecil, "mau". :) dia mau aja repot-repot merogoh tasnya lagi buat menuhin permintaanku.

Waktu pulang, udah jam setengah sembilan malam. Di tangga Sabrina sempat nanya sama aku. "warung di depan udah tutup belum ya?" "Ya, belumlah, biasanya tutp jam setengah sepuluh. Tapi ya gitu, makanannya udah habis, mungkin kayak kemarin malam, kita cuma kebagian ayam goreng". Aku dan dia terdiam sejenak, lalu aku bertanya lagi. "kamu mau beli makan lagi?" "iya, tapi bukan aku. Teman kost ku nitip." Entah kenapa dari tadi aku ngrasa kurang nyaman. Rasanya kepengen banget ngobrol sama Sabrina. Waktu di teras kampus, aku lagi asik ngobrol sama teman-teman. Terus, sabrina tanya aku udah makan? Mau beli makanan nggak? Aku jawab enggak, soalnya aku udah kenyang. Lagian tadi waktu istirahatkan aku makan di sebelah dia. Kok dia malah lupa aku udah makan atau belum. Waktu aku palingkan muka kearah teman-teman ku, rupanya Sabrina udah pulang duluan. Jadi resah gini. Akhirnya aku pamit sama teman-teman. Aku berjalan cepat, aku liat sabrina masih ada di warung. Aku pengen banget singgah, tapi ngapain? Mau pesan makana, tapi aku udah kenyang. Pulsa, aku masih punya. Kalau mau to the point mau nemanin dia, sori deh aku bukan tipe cowok yang suka cari perhatian kayak gitu.

Waktu aku lewat di depan dia, dia bercandain aku, ngyun-ngayunkan tangannya seolah lagi ngusir aku, biar aku nggak datang ke tempat dia.

Uwh, gara-gara bingung, sampai juga aku di depan kost, tapi aku nggak rela rasanya masuk kamar gitu aja. Akhirnya aku duduk dengan gelisah di depan teras. Benar-benar nggak tenang, kenapa sih ini? Arrgghh... Akhirnya aku ke warung sebentar buat beli rokok. Kembali aku duduk di teras menenangkan diri dengan rokok. Satu batang habis, tapi masih aja dia belum kelihatan. Aku mulai panik, takut dia lewat waktu aku lagi beli rokok tadi. Akhirnya aku telpon dia.

"Assallamuallaikum.." suaranya halus terdengar, dia selalu berbicara dengan lembut kepada ku. "waalaikumsalam. Kamu masih di warung, Sab?" "Iya nih, masih di warung. Kenapa, Panca?" "Pantesan lama banget. Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu, aku tunggu kamu di depan kost ya?" "Iya, Panca. Ini bentar lagi aku ke situ." "oke deh. Daahh.. Sab." "Daahh.." Tut.. Tut.. Tut..

Nggak lama kemudian, dia datang dan berhenti di depan pagar kost, aku menghampiri dia. "Panca, persentasi kamu tadi, sip.. Bagus.." Sabrina mengacungkan jempolnya. "Bagus? Tapikan, tadi aku persentasinya eror." "Enggak, tadi itu bagus. Kamu udah berani ngomong sekarang." "emm, iya sih. Tapikan, tetap aja persentasi ku gagal." aku termakan gerogi lagi, tanpa sadar aku mulai garuk-garuk kepala ku, padahal nggak gatel. "Pokoknya pertahanin.. Eh, tadi kamu mau ngomong apa?" akhirnya, masuk ke topik utama juga. "emm, itu.. Aku harap kamu nggak risih. Tapi, aku udah nggak tahan, aku pengen ngomong ini ke kamu." "iya.." "Emm.. Aku sekarang yakin, aku sayang kamu, Sab" "Ya, aku juga sayang kamu, sama teman-teman lain juga.." Sabrina berhenti bicara karena aku langsung memotongnya. "I know that, kalau kamu dah bilang kayak gitu, aku ngerti maksud mu tanpa harus kamu lanjutin kalimatmu." "ya, ya, ya.. Ada lagi yang lain?" "Ada" "Apaan?" "Sebenarnya, aku ngrasa kurang nyaman kalau kamu natap aku dengan tatapan dingin. Selama ini kamu lebih sering natap aku kayak gitu" "lho, bukannya tadi waktu osjur, aku ada senyum sama kamu? Tapi kamu malahan manyun?" "aku, sbenarnya bukan manyun, aku gerogi bingung harus gimana." "yey.. Udah, ini aja?" "emm.. Untuk saat ini sih, ini aja." "Ya udah, aku boleh pulang kan?" "ok, boleh. Makasih ya?" "Iya.." dia mulai beranjak pergi meninggalkanku, dengan senyman. "Daahh.." ucapan pepisahan yang lama nggak ku dengar darinya. "Daahh..." :)

-------------------------------------------------------------------------

God Rest You

Wow, tanggal berapa ini? Tanggal 28 november. Artinya? Anggi ulang tahun.. :D Semalam sih udah sempat nyatain selamat dan mengeirimkan sedikit doa, tpi tetap kurang puas. Pagi ini ketemu dia langsung jabat tangan. Semoga kamu tetap sehat dan baik hati, my friend.

Rencananya sih, Ade ngusulin mau ngerjain Anggi, tapi nggak tau deh, idenya kayak apa.

Setelah kelas usai, kayaknya gk jadi ngerjain Anggi tuh. Malah pengen pergi nyantai bareng buat ngerayainnya, topping. But, ternyata hujan nih.. Wah, gmna mau pergi. Alhasil, satu kelas anak SK pada nongkrong di teras kampus, nunggu hujan nggak kunjung reda. Di sela-sela pembicaraan dan canda tawa, Hafsah bilang ke anggi "mumpung udan, apik kon guling-guling neng kono. Arep guling dewe opo tak gulingne?". Anggi cuma diam kebingungan sambil nyengir-nyengir, ngebayangin harus guling-guling di kubangan air bekas hujan di halaman kampus dan di lihatin sama mahasiswa lain. Teman-teman yang lainpun ikut-ikutan ngedesak Anggi biar nggak milih kedua opsi tadi. Gilak memang.. Bahkan ada yang tanya, mau traktir atau di traktir? Busyet.. Pertanyaan guendeng. Kalo traktir temen sebanyak itu, ya langsung bokek. Tapi kalo di traktir sama teman yang sebanyak itu, kiamat deh. Bayangin aja kalau satu anak traktirin Anggi satu porsi nasi goreng, seberapa banyak yang harus Anggi habiskan? Haha.. Jadi ingat pengalaman pertama ke kost Hafsah, aku di wajibkan minum nutri sari satu teko gede, harus habis. Sumpe, kembung gua..

Mungkin udah setengah jam kita-kita di teras kampus nungguin hujan yang nggak kunjung reda. Entah apa yang di ucapin sama Vicky, tiba-tiba Anggi ngelepasin sepatunya, ngosongkan segala isi kocek. Tiba-tiba yang lain langsung ngangkat badan Anggi, di gotong rame-rame. Dengan sorak-sorak gembira nggak perduli dengan orang di sekitar. Dan, oops.. :D Anggi digulingkan di kubangan air. Huhu.. Miris sekali.. Suasanapun jadi meriah dengan penuh tawa ngeliat Anggi yang jadi setengah basah digulingin di tengah hujan. Whatever deh, orang mau bilang apa, yang penting hepi rame-rame.

Nggak berselang lama, tibaktiba Sulaiman mendekap ku dari belakang. Teman-teman yang lain cepat tanggap megangin kaki sama tangan ku. "cepat-cepat" "lepasin sepatunya!" "hp-nya.. Hp-nya" mereka berteriak riuh sambil mengeksekusiku. Aku digotong terus di gulingkan ke kubangan air. Sial, aku nggak bisa ngelawan. Clup.. Ah... Bajuku basah, apalagi celanaku bagian belakang, basah sampai ke kolor. Aku cepat bangun dan berusaha menyipratkan air ke mereka. Sial, nggak ada hasilnya. Kagak nyampe.. Huh, basah juga deh.. Grrr... Nasib punya badan paling kecil di antara yang lain ya gini. Seneng lu, Nggi? Punya teman sekarang. Nggak sendirian sekarang basahnya..