30 April 2014

Open Diary Part 03

Harapan Tanpa Cahaya

02 akhir tahun..
Well, aku bingung memulainya dari mana, tiba-tiba aja aku udah di dalam kamar, sendiri dan kesepian. Untunglah, Eno sms dan bilang mau jemput. Kebetulan besok hari selasa dan aku kuliah malam.
Seperti biasa, aku sama Eno suka banget duduk di kursi teras kamar, kalau nggak ngobrolin keseharian masing-masing, ya ngobrolin dunia lain. Tapi malam ini beda, aku lagi galau jadinya curhat-curhatan masalah ku seharian ini. Mulai dari pulang UTS tadi siang sampai tadi aku makan malam bareng Dwi en Sabrina. Hal yang buat aku berat hari ini, aku semakin akrab sama Sabrina. Dan semakin akrabnya aku sama dia, itu membuat aku tersadar kalau memang harapanku tentang Sabrina hanyalah perasaan pupus. Tadi siang waktu di depan kostku, Sabrina sempat bilang, kalau 20 hari lagi hubunganya sama pacarnya udah dua tahun. Kebayang nggak sih, itu berarti mereka serius banget ngejalanin hubungan. Ditambah lagi aku pernah ingat kata-kata dia, kalau dia cari pacar bukan untuk main-main, dia mau hubungan yang serius, biar bisa jadi suami yang baik buat dia nanti. Awal-awal aku tahu hubunguan mereka dulu, dia bilang mereka sering putus nyambung, itu membuka sedikit harapan untuk aku, tapi akhir-akhir ini kayaknya hubungan mereka semakin baik dan nggak pernah ada pertengkaran. Harapanku semakin kecil.
Aku cerita sama Eno tentang ini semua, dan Eno sekarang ngerti banget perasaan dan keadaan aku. "Ca, menurut yang aku liat ini, ya. Kau itu bimbang apakah terus lanjut, atau udah cukup sampai di sini aja." Aku mengangguk, mengiyakannya. Bahwasannya sampai saat ini aku melangkah dengan ragu. "Iya, aku memang Ragu. Dua hal yang bikin aku ragu. Pertama, aku takut untuk ninggalin mantanku yang kemarin, soalnya aku sama dia masih benar-benar saling sayang. Terus, aku juga ragu, aku takut aku nggak mampu membuka jalan untuk harapanku. Tau kan, selama ini aku hampir nggak punya kesempatan. Dia sayang sama aku cuma sebatas sayangnya sebagai teman".
Eno tanya sama aku, setelah tahu kenyataan ini, apakah aku terus lanjut atau menyerah dan berhenti aja. Aku memilih terus lanjut mengejar harapanku yang sekarang hampir nggak punya harapan. It's okay, tapi kalau terus lanjut, Eno pesan sama aku jangan kecewa dengan hasil buruk yang didapat. Yang penting terus berusaha dan persiapkan hati sekuat mungkin kalau memang nanti kemungkinan terburuk yang ku dapat.
Hah, lebih banyak lagi hal yang aku omongkan sama Eno tentang ini. Setidaknya Eno udah bantu aku membuka pikiran, cari solusi terbaik, dan sekarang aku jauh lebih tenang di banding yang tadi.

------------------------------------------------------------------------------------

Menyadarkan Ku

Hari ke dua Sabrina sakit. Aku masih terus kepikiran dia. Mana lagi, dia nggak masuk osjur, sepi rasanya osjur tanpa dia. Bahkan, tadi aku sempat sms waktu istirahat, dan dia cuma balas "Lebay.
Dah istrahat ta." Yah, setidaknya dia masih balaslah. Hal lain, semenjak aku ngobrol sama Dwi tdi siang, aku jadi sadar aku kurang perhatian sama Sabrina, padahal aku sering memperhatikan dia. Cowok macam apa aku ini? Bilang sayang tapi nggak ngelakuin apa-apa. Ya, sekarang aku sadar semua ini. Aku bakal berubah, aku nggak boleh diam dan terus plin plan. Insya Allah, besok aku bakal usahain sesuatu untuk bisa perhatian sama dia. Semoga Allah melancarkan segala sesuatu yang aku inginkan.
Malam inipun, Eno banyak kasi pencerahan sama aku, banyak kasi solusi yang baik gimana cara perhatian yang baik, gimana cara bersikap yakin dan nggak plin plan.

Hmmhh.. Mendesahkan nafas seperti ini, berarti aku sedang memikirkan sesuatu dengan bimbang, plin plan, bingung harus ngapain. Semoga aku bisa berusaha lebih baik dalam melakukan sesuatu untuk kamu, Sabrina. Aku nggak mau diam terus. Takdir aku memang jadi laki-laki plin plan dan pendiam, dan takdir kamu adalah perempuan yang berpegang teguh dengan pendirian mu, sampai-sampai hanya menyisakan celah sedikit untuk ku meluluhkan hatimu. Tapi nasib masih bisa di rubah, aku aku mau kalahkan plin plan ku dan luluhkan hatimu. Ini semua karena aku pengen jadi sesuatu yang berarti buat kamu.

--------------------------------------------------------------------------------------

Berdua

Padahal masih dalam perjalanan menuju kost. Kamu udah sms nanyain aku udah berangkat ke kampus atau belum. Pagi ini memang berat bangunnya, tapi aku bersyukur bisa pulang tepat waktu, bisa berangkat bareng kamu, bisa habisin lebih banyak waktu sama kamu.
Siang, sekitar jam satu kamu udah ngajak pergi ke kampus, padahal kuliahnya nanti jam tiga, males banget. Tapi demi kamu maksa, ya aku harus mau.
Memang sih, pada akhirnya aku sangat menikmati saat-saat duduk berdua sama kamu. Aku jadi bisa dengerin curhat kamu, jadi makin kenal kamu.
Tapi satu hal yang hari ini agak kurang nyaman buat aku, kamu terlalu butuh anak itu. Aku kan bisa jadi tempat curhatmu, bukan cuma dia. Ah, terserah kamu aja deh.
Malam hari, aku coba perhatian sama kamu, tanya kamu tadi kemana, jangan terlalu lama di luar kalau cuaca dingin, udah makan malam atau belum. Aku harap, kamu nggak risih dengan semua perhatianku ke kamu. Aku udah nagntuk sekarang.

Bye, Sabrina..

---------------------------------------------------------------------------------------------

Hanya Aku Dan Kamu

Ada yang berbeda hari ini, sekitar pukul 11:55 kamu sms aku, pengen berangkat kuliah sama aku. Syukurlah, kamu bisa seperti ini.
Jam-jam selanjutnya, berjalan seperti biasa, nggak banyak interaksi walaupun jarak kita dekat.
Waktu makan, aku kepikiran kamu, kepikiran kamu udah makan atau belum. Aku coba sms kamu, ternyata salah kirim dan akhirnya merusak hubunganku dengan yang lainnya. Ah, sudahlah.. Aku nggak mau kepikiran tentang itu.
Aku pulang ke kamar dan tidur. Waktu sehabis mandi, aku sms kamu, bilang kalau aku belum puas ketemu kamu. Rncana aku sih mau ngajakin makan ntar malam.
Ternyata kamu sms lagi minta tolong sesuatu. Aku tanya apaan, nggak di balas. Eh, tiba-tiba aja udah ada di depan kost. Oh.. Ternyata mau minta tolong temanin ke kampus nanti malam, kamu mau ngirim foto.. It's okay, not problem. Kebetulan ntar malam waktuku senggang.
Sambil nunggu magrib, habisin waktu sama kamu sambil ngobrol en senda guaru, itu hal yang menyenakan. :)
lepas magrib, go to campus. Temanin kamu upload foto, awalnya sih, masih agak canggung. Tapi lama-lama suasana jadi luwes. Sekarang cuma ada aku dan kamu, nggak ada yang lain. Aku jadi lebih leluasa mau ngomongin apapun. Jujur sih, aku ngerasa agak bosan karena cuma bisa nungguin kamu selesai upload foto. Tapi, rasa senang bisa sedekat ini sama kamu bisa menutupi rasa bosan itu. Waktu jadi terasa lebih nyaman di jalani saat kamu ada di dekat ku.
Kamu tau, Sab? Aku senang ada hari yang kayak gini. Hari dimana aku bisa puas sama kamu. Aku bisa lebih dekat dengan kamu, aku jadi lebih banyak omong lebih dari biasanya, aku jadi bisa liat kamu lebih dekat dan lebih lama.

Seiring kebahagiaan ini ku jalani, aku jadi semakin sayang sama kamu. Berharap bisa selalu seperti ini. Tapi, di lain sisi aku merasa sedih, kamu bukan punyaku, kamu punya orang lain. Kedekatan yang semakin lama semakin terjalin ini menyadarkanku, bahwa celah di hatimu untukku mungkin nggak ada. Sebarapa keras pun mencari celah itu nggak keliatan. Tapi inilah aku. Aku yang menyayangi mu, walaupun nggak ada celah dan kemungkinan, harapan ku tetap besar. Inilah yang buat aku nggak bakalan nyerah, aku bakal selalu berusaha menjadi yang terbai buat kamu, menjaga segala keindahan yang ada di diri kamu. Seperti apapun hari, jalan dan rasa yang harus ku jalani saat ini dan nanti, aku nggak bakalan nyerah untuk menemukan celah di hati kamu.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku, Sabrina dan Yuni

Nggak terasa udah tanggal 9, nggak nyangka di bulan desember ini aku jadi tambah akrab sama Sabrina. Setiap hari bisa ngobrol-ngobrol dengan dia, kecuali hari minggu. Ya, kayak hari ini deh, nggak kuliah bikin aku kangen berat sama dia. Well. Now i hate sunday, padahal dulu paling suka hari minggu.
Aku habisin setengah hari ini sampai jam tiga di kost Eno. Selama di tempat Eno siang tadi, sabrina sms sama nelpon aku, aku nggak bisa balas pesan dia karena nggak ada pulsa. Akhirnya dapat ide, aku balas sms dia via sms internet. Aku bilang aku nggak ada pulsa, kalau ada perlu telpon aja.
Sekitar jam empat aku lagi tidur di kamar, tiba-tiba hp ku berdering, ada telpon dari Sabrina. Dia minta temanin ke kampus. Ah, sialnya hujan, jadi batal deh nemenin dia.
Hujan reda waktu magrib, aku solat di musola, ketemu herwin. Waktu dzikir, Vicky datang langsung solat. Pengen ngobrol-ngobrol sih sama dia, tapi malah ku tinggal waktu udah selesai dzikir. Sambil jalan aku perhatikan kost Sabrina. Berharap dia ada di luar dan negur aku. Eh, sesuatu yang lain malahan ku temui. Ada Dwi di warung lagi makan. Samperin aja. Nggak lama, datang Vicky ikut gabung. Ngobrol-ngobrol bertiga, kebanyakan sih ngebahas tentang masalah yang ada antara Dwi, Vicky sama Sabrina.
Selesai dari warung, kita pindah ke kamar Dwi. Di sinilah aku ngerasa dua teman aku ini benar-benar teman yang baik. Suport aku yang lagi deketin sabrina. Dan satu hal yang mulai aku mengerti, aku bukan laki-laki yang di mau dari Sabrina. Dwi sama Vicky ngasi gambaran sama aku, seperti apa sih Sabrina itu di mata mereka. Apa yang mereka coba ceritakan dengan aku benar-benar buat aku shock. Mereka nyaranin aku untuk mundur kalau sekiranya aku memang nggak mampu jadi kayak yang Sabrina inginkan. Bukan apa, mereka nggak mau aku kecewa nantinya, aku benar-benar jauh dari harapan.
Akhirnya, aku sendirian memikirkan hal kayak gini, benar-benar berat untuk dilanjutin, tapi aku juga nggak mau nyerah. Dua pilihan yang buat aku bimbang. Aku coba tenangin diri, aku pikir sementara ini bersikap biasa aja dulu, seolah-olah Dwi sama Vicky nggak ada ngomongin apa-apa. Aku juga sempat mikir, harapan memang nggak ada, tapi aku bisa menciptakan harapan. Sesuai bagaimana usaha aku membuat harapan yang ku inginkan terwujud. Aku nggak boleh nyerah sampai di sini, aku hars terusin walaupun aku sendiri nggak tau hasilnya nanti. Aku harus yakin, nggak boleh plin plan lagi.
Sekitar jam setengah delapan malam, hafsah sms, ngajakin nyantai, katanya sih Sabrina juga ikut. Ya aku mau aja karena memang nggak jauh, kan.
Akhirnya, aku, Hafsah, Sulaiman, sama Sabrina nyantai di miniblek. Di situ aku sama Sabrina sempat ngebahas masalah Yuni mantan ku si paranoit terorin Sabrina via fb. Yuni itu nggak rela aku putusin dia selama ini, dia nganggap Sabrina itu biang dari kehancuran hubungan aku dengan dia. Sedangkan Sabrina nggak terima di salahin, apa lagi bahasa Yuni untuk Sabrina itu kasar banget. Ya, sebagai laki-laki yang bersalah, aku minta maaf sama Sabrina, dia yang nggak salah jadi di salahin. Sabrina mau Yuni minta maaf karena udah ngeluarin kata-kata kasar kayak gitu. Akhirnya aku coba jelasin ke Yuni, coba bujuk dia buat minta maaf sama Sabrina. Aku juga minta maaf sama Yuni, aku salah aku udah buat semuanya jadi kayak gini. Tapi, belum ada balasan selanjutnya dari Yuni.

Yah, aku harap besok masalah ini udah selesai.

----------------------------------------------------------------------------------------------

Ego

11-12-13
Wow, tanggal, bulan dan tahun yang menakjubkan. Banyak banget anak-anak alay nulis status seputar itu di pesbuk, kebanyakan sih, isinya membahagiakan. Tapi, di hari ini aku nggak begitu ngerasa bahagia atau senang.
Terhitung, sekitar jam 12 siang, aku terbangun dari tidur siangku. Ku dapati ada satu pesan masuk dari Sabrina. "Flasdisk ku sma kamu kan?" Aku tersontak membaca sms ini, aku masih belum begitu mengerti. "Nggak ada tuh.." Aku mencoba memutar ulang memori ku. Kenapa dia bisa tanyakan itu sama aku? Oh, shit.. Aku ingat, flashdisknya ketinggalan di lab semalam waktu aku selesai edit foto Sabrina. Parahnya lagi nggak ada satupun di antara kami yang ingat mencabut flashdisknya. Hp ku berdering lagi, ada balasan dari Sabrina. "Kemarin kamu edit fto aku d lab, trus kamu tarok dmana?" "Oh. Kmarin km colok. Trus aku nggak ada cabut, aku nggak ingat, krna bkn aku yg colokin. Jdi hrus gimana? Apa yg harus di lakukan?" "Aghhh tiddakkkkk,
kamu ambil tuh." Ah, anak ini mulai lagi egonya. Ini kan bukan kesalahan ku, ini kesalahan dia, nyata-nyata dia yang colokin, dia yang nyuruh aku edit fotonya, dan aku nggak ada sedikitpun nyentuh flashdisk itu. Ya ampun.. Tapi mau gimana lagi, aku nggak mungkin lepas tanggung jawab, aku nggak mau dia nanggung masalah kayak gini sendirian. "Jgn ego, sab. Ini kan kslahan kita dua. Klo harus nyari atau ngambil, ya brdua, bkn aku sndiri. "Ish kamu nh,
ntar jam 2 aku k kmpus." "Ya udah, jam 2 aku ke kampus juga. Nemanin km."
Sebenarnya, ini sesuatu yang berat, aku kan nggak harus ngelakuin apa-apa, seharusnya dia urus ini sendirian. Lagian aku juga ngantuk, baru tidur sebentar, semalampun aku cuma dikit tidurnya. Tapi mau gimana lagi, aku nggak mau ngebiarin dia hadapi masalah ini sendiri. Aku harus tanggung jawab atas kesalahan yang mungkin bukan kesalahan ku.
Masih ada waktu sekitar dua jam untuk aku lanjutin tidur, tapi nggak bisah. Entah kenapa aku jadi gelisah. Akhirnya aku putuskna main ke kamar Dwi, mungkin aja aku ngerasa lebih baik setelah ini. Di kamarnya, Dwi lagi tidur dan ada Vicky yang lagi asyik nonton film zombie.
Udah hampir jam dua, aku sms Sabrina untuk memastikan. "Mau di temenin gk, ke kampus?" "Maw, kamu k kost ku dlu, kamu ambil binder kamu." so fucking bitch, nih anak.  nyuruh aku ke kost dia, rupanya dia udah di kampus. Suka banget buat orang kerpotan dengan hal nggak berguna.
Jam dua, aku ke kampus, di kampus aku sama Sabrina coba tanya di BAK, tapi malah di suruh tanya ke ruang server. Akhirnya di ruang server aku coba tanya apa ada di temukan flashdisk tertinggal di lab c semalam. Tapi yang jaga bilang, nggak tau. Soalnya semalam bukan dia yang dapat giliran piket. Yang piket semalam lagi pergi sebentar. Aku di suruh balik lagi ke ruang server nanti sore sekitar jam lima.
Setelah ngucapin terima kasih, aku langsung keluar. Di luar, aku jelasin ke Sabrina kalau kita nanti balik lagi ke sini jam lima. Seharian ini dia lebih banyak pasang muka kusut dan tatapan sinis plus kalimat-kalimat judesnya buat aku.
Aku balik ke kost, sementara dia pergi ke lantai tiga. Hari ini ada osjur, tapi aku nggak ikut. Lagi males. Sampai di kost aku langsung tidur.
Aku bangun tepat jam lima sore. Di hp ku udah ada pesan masuk baru, Sabrina nyuruh aku datang ke kampus buat tanya sama-sama. Aku buru-buru ke kampus, tapi nyatanya? Dia malah tanya sendiri. Memang nyebelin kan, anak ini? Udah ku bilang tadi, dia ini suka banget buat oarang repot dan ujung-ujungnya dia ngebuat aku nggak ngelakuin apa-apa. Bukan cuma dua kali ini aja, tapi sering. Waktu ngerjain tugas fisika, dia maksa aku buat datang ke kampus jam sembilan. Bela-belain aku bangun awal, pulang ke kos sebelum jam sembilan, ujung-ujungnya di delay sampai jam 11. Itupun aku cuma di suruh ngeliat dia ngerjain, sedangkan aku mau bantu pasti dipelototin, disuruh diem. Ah, masih banyak deh, contoh lainnya.
Yah, dengan rasa kecewa di campur jengkel aku coba untuk sabar. "Jadi gimana, Sab? Apa katanya?" "Nggak ada!" jawabnya dengan nada ketus. "Di situ itu ada data aku, Ca." "Data apa sih? Penting banget? Emang belum di backup ke laptop?" "Datalah, pokoknya." "Nih, ya, Sab. Insya Allah, flasdisknya aku bisa ganti. Tapi, data yang hilang aku benar-benar nggak bisa ganti." Sabrina cuma diam, nggak jawab apa-apa.
Sekarang, posisi udah di warung BUKA. Sabrina masih aja diamin aku dengan raut muka nesunya. Aku pengen coba ajak ngomong, tapi percuma. Aku udah tau tanggapannya pasti nggak enak untuk di dengar.
Aku bingung harus gimana, aku nggak tau harus apa. Aku takut Sabrina benar-benar kesal sama aku. Ku pikir, aku nggak bisa liat jalan keluarnya, aku nggak tau caranya biar Sabrina nggak salah sama aku.  Bahkan, sampai sekarang aku belum ada ngucapin kata maaf sekalipun sama Sabrina. Ya, karena aku memang ngerasa ini bukan salahku.
Akhirnya, aku curhat sama Hafsah di depan teman-teman yang lain. Aku ceritain semuanya dari awal kejadian, tentang apa yang ku pikirkan, apa aja yang udah ku bilang ke Sabrina, tentang tanggapan Sabrina. hafsah bilang, nanti malam pulang osjur dia mau bantu selesaikan. Dia mau aku ngomong lagi sama Sabrina nanti malam. Sedangkan Dwi bilang. "Sebenarnya, Ca.. Ini bukan salah mu. Kalau aku jadi kamu sih, nggak mau di salahin gini"
aku cuma diam ngerespon omongan Dwi. Aku memang setuju dengan apa yang Dwi bilang. Tapi aku juga nggak tega kalau harus ngebiarin Sabrina sendiri yang tanggung semua ini.
Belum sampai disitu yang Dwi bilang. "Sekarang udah tau kan seberapa besar egonya si Yuyun. Sebesar dinosaurus!"
Malamnya, Hafsah sms kalau malam ini dia nggak jadi datang ke kost. Besok aja nyelsain masalahnya di kampus. Aku bilang sih, nggak apa-apa kalau nggak bisa malam ini.

Emmh.. Aku juga nggak tau kayak gimana besok jadinya semua ini, semoga aja ketemu jalan keluar yang baik. Aku harap sih, Sabrina nggak marah sama aku.


posting foto teman-teman SK

Rambut baru Suleman

Mas yang aku nggak tau siiapa namanya

Vicky

Suleman

Mas Alwi yang suka curhat

Kiki A.K.A Queen Kiekie

Om Hafsah yang lagi ngorok

Pak Didik, salah satu dosen SK

Robot yang beberapa hari lagi ikut kontes


Perasaan nggak enak beberapa hari ini

Aku pengen curhat... Ada perasaan nggak enak yang akhir-akhir ini aku rasain. Cuma masalah sosial biasa sih, tapi benar-benar jadi beban pikiran.

Semuanya berawal sekitar tanggal 20 april lalu, waktu itu Eno, teman baikku lagi ngantar aku pulang ke kost. Eno bilang "Ca, nanti tanggal 23 tidur di rumahku ye." Waktu dia bilang gitu, aku sempat mikir, aku sempat nggak ya? Kemungkinan selama sebulan kedepan aku bakalan sibuk jadi panitia lomba robot di kampus, aku juga bakalan sibuk sama robot line followerku yang belum kelar. Dengan nada agak ragu aku mengiyakan ajakannya. Mungkin suaraku nggak kedengaran karena waktu itu kita lagi di atas motor.

Tanggal 23, ada rasanya aku pengen nginap di rumah Eno, kebetulan aku juga pengen nonton JKT48 di tv. Tapi seingat aku, Eno nggak ada sms atau telpon bilang mau jemput. Akupun mau sms rasanya sungkan. Padahal, tanggal 23 pacar Eno ulang tahun, mungkin aja ada bisa ketemu pacqr Eno, mau ngucapin selamat sama ngedoain nggak ada salahnyakan? Nyatanya, ngucapin selamat, nggak. Doa aja yang udah di kirim.

Tanggal 26, lagi-lagi kepikiran pengen nginap di tempat Eno, tapi dia nggak ada kabar. Tau deh, aku orangnya sungkan, malu kalau mau nyusahin teman sebaik dia. Selanjutnya, entah tanggal berapa tepatnya malam hari sekitar jam sembilan malam. Eno nelpon aku dia bilang dia udah di depan kost ku, mau ngajak aku tidur di rumah. Tapi malam itu aku lagi di basecamp, ngerjain line followerku, mana malam sebelumnya aku sampai nygak pulang karena ngerjain line follower, malam itu aku lembur lagi. Untunglah, Eno ngerti. Ya walaupun dia pengertian tetap aja aku ngerasa nggak enak nolak ajakkan dia.

Beberapa hari kemudian aku masih tetap sibuk sama line follower dan tugas-tugas kepanitiaan, ya walaupun kayak gitu, kadang aku sempatin diri ngopi bareng teman-teman SK-ku. Bahkan biasanya sambil foto-foto lalu ku posting ke blog.

Lalu, malam berikutnya, aku benar-benar free time. Biar ngelepas sumpek di otak aku sama Suleman, Dwipa, sama Alfin pergi ngopi dan main kartu. Sangking asiknya main, aku nggak tau kalau hp-ku yang di bawah meja ada yang nelpon. Mungkin sekitar setengah jam setelah itu aku baru liatnya.

Beberapa hari kemudian (sekarang aku sebut beberapa hari yang lalu) aku update status di fb "senang ya kalau punya teman yang klop". Status itu di komen sama guru bahasa inggrisku waktu sd. Lalu di bawahnya ada komen dari Eno "taulah yang udah punya teman baru, teman lama nelponpun nggak di angkat". Lalu tepat di bawahnya ada komen dari mas Bobby (abang sepupu Eno yang juga dekatndengan aku) "Kacang lupa sama kulit". Sedangkan aku cuma balas "kalau udah di katain kayak gini, mau bilang gimanapun tetap susah". Rasanya dikomen kayak gitu sama orang yang dekat banget sama kita itu nggak enak banget, rasa nggak enak yang macam-macam itu nyapur sampai warnanya abstrak.

Aku berusaha santai nyikapin komen-komen itu, tapi semakin lama semakin kepikiran. Memang sih, itu kayaknya bercanda, tapi kayaknya serius. Intinya, bercanda sama serius itu beda tipis, susah banget dibedainnya. Oke, memang waktu liat panggilan tak terjawab dari Eno, aku ada mikir lagi males nginap di tempat Eno. Tapi 'kan aku punya alasan. Aku akhir-akhir ini sibuk dan bisa di bilang capek, otak sumpek. Sedangkan kalau aku tidur di rumah Eno, biasanya Eno minta pijit. Memang sih, kalau aku nolak dengan alasan yang masuk akal Eno pasti ngerti, tapi aku tuh orangnya nggak bisa dengan mudah nolak permintaan teman sebaik dia, banyak rasa nggak enaknya. Kalau aku nggak nolak, aku bakalan nyiksa diri mijitin dia sedangkan aku lagi capek. Kalau lagi nggak capek dan lagi moodmpasti ikhlas aku nolongin.

Tapi jadinya kayak gitu, salah paham. Aku jadi nggak tau harus apa. Aku mau hubungin Eno minta maaf, tapi aku orangnya kaku, nggak biasa memulai seauatu duluan. Nunggu dia yang hubungin duluan ajalah.

29 April 2014

Open Diary Part 02

Sabrina

This is sunday morning, terbangun sekitar jam setengah sepuluh pagi. Aku baru aja mimpi basah. ML sama SPG bohay, bodinya aduhay.. Aku juga mimpiin lgi dkt sam cewek manis, manja, tubuhnya hangat, pokoknya bikin bahagialah. Aku ngerasa kenal sama dia, tapi siapa? Aku nggak tau, dan aku berharap dia ada di dunia nyata dan jadi teman aku. :/

aku bangunin Eno, minta kantong plastik, lalu cebok ke kamar mandi, kolor ku cuci, risih kalau tetap di pakai. Eno sih tanya, utk apa kantongnya, aku jujur aja buat bungkusin kolor, habis mimpi basah.

Habis itu, aku duduk di kursi luar, ada mas Bobi, akhirnya di kasih mas Bobi nasi pecel. Ow, sarapan gratis. Dalam hati sih, aku sambil mencaci maki dia, ini orang keren banget. Mumpung masih pagi, aku yakin dia lagi nggak bisa baca pikiran aku. Haha..

Setelah itu aku di antar Eno pulang, aku mandi dan go to kampus. Udah janjian sama teman-teman. Di kampus ada Bagus, Anggi, Ade sama Sabrina. Dia pakai baju biru, kesannya manis banget. Suka aku. Hari ini, rasanya asik, aku mulai kehilangan rasa canggung ku sama Sabrina. Udah mulai akrab dan hubungan agak luwes. Semoga aku bisa lebih baik lagi dalam berinteraksi sama dia.

Waktu Vicky udah datang, Anggi sempat bilang sama teman-teman semua. Dia pengen selogan satu rasa itu benar-benar nyata. Kalau satu ada masalah, yang lain harus bisa bantu buat cari solusi. Jadi kalau punya masalah jangan di pendam sendiri, ceritainlah sama teman-teman, minimal satu atau dua orang yang bisa di percaya. Anggi nggak asal ngomong, akhir-akhir ini dia mendeteksi suasana hati ku yang lagi kacau. Dia sempat nanyain aku malam kemarin, aku ada masalah apa, kalau ada masalah coba di share biar nggak di simpan sendiri.

Dan tadi, sempat sih rame-rame saling sharing masalah masing-masing. Sampai Sabrina cerita, dia pernah punya pacar dan meninggal sehari sebelum Sabrina ulang tahun. Sampai sekarang pun Sabrina masih belum bisa ikhlas. Aku bahkan nggak sanggup liat ekspresi muka Sabrina yang tiba-tiba berubah. Aku berdoa, minta sama Allah, aku nggak mau Sabrina nangis. :( Aku nggak sanggup kalau liat dia sampai nangis. Tapi syukurlah dia nggak jadi nangis.

Teringat waktu pertama kali masuk ke basecamp SK, waktu itu aku baca tulisan di binder punya Sabrina, dari situ aku dapat gambaran seperti apa, sih yang dia rasain. Aku bisa ngambil kesimpulan dia belum siap nerima cowok lain, pintu hatinya masih tertutup, dia masih berada di dalam lingkaran yang nggak mungkin dengan mudah dia bisa keluar dari lingkaran itu. Inilah alasan kenapa aku begitu siap dan nggak shock, karena aku tau masih ada cowok lain yang dia simpan di dalam hatinya, entah itu siapa. Dan baru hari ini aku tau alasan kenapa Sabrina masih nyimpan cowok lain di dalam hatinya.

Ya, aku mengerti, dan aku akan terus mencoba mengerti apa yang kamu rasain, Sabrina. Cepat atau lambat, aku bakal bantu kamu keluar dari lingkaran itu. I promise..

------------------------------------------------------

Senyuman Itu

September, tanggal 12.

Hari ini bangun telat, karena nggak ada jam pagi. Jam dua belas lewat, aku mandi. Lalu aku sms Sabrina. "kamu di kampus?" "iya, aku di kampus" "ok, sbntar lagi aku ke sana."

siang ini hujan lumayan deras, tapi sederas apa pun pasti aku hadapi demi memenuhi janjiku ke Sabrina.

Sanpai di kampus, nggak seperti yang sebelumnya ku bayangkan, aku kira cuma ada aku sama Sabrina. Rupanya ada Vicky, Eko, Rizky, Hafsah, Anis, sama ade juga. Betek deh.. Aku salamin satu persatu, waktu salaman sama Sabrina, dia cuma genggam ujung jariku. Aku nggak ngebuang tanganku langsung, tapi aku tatap wajahnya sambil kasi ekspresi manyun. Dia senyum dan langsung ngerti apa yang ku mau, dia jabat tangan ku sepenuhnya. :)

aku duduk di sebelah Vicky, di sebelah kiri Vicky ada sabrina yang lagi ngerjain tugas fisika. Dengan muka yang polos aku nanya "aku ngerjain apa?" "kamu liatin aku aja, sambil baca doa biar cepat selesai." rupanya aku benar-benar nganggap itu serius, aku berdoa sama Allah, minta biar Sabrina di mudahkan untuk ngerjain tugas itu sendiri. Begitu aku selesai berdoa, Vicky udah nggak ada di samping aku, Ade sama Hafsah juga nggak tau kemana. Aku tanya Sabrina pun, dia nggak jawab.

Dwi datang, dengan kantong pelastik warna putih yang isinya tiga sneck bungkus besar dan minuman kaleng. Langsung di serbu... :D satu bungkus buat Eko sama Anis, Rizky ngelahap satu bungkus sendiri, sedangkan aku sama sabrina. Yee... :D aku makin duduk dempet sama Sabrina. Rasanya senang bisa duduk santai sedekat ini sama dia. Ini momen-momen yang indah banget.

Lupa juga jam berapa, rame-rame pada pindah ke warung, di warung Eko, Hafsah, Rizky, sama Dwi main kartu, aku sih lagi males mau ikut. Sisanya, minum sambil ngobrol-ngobrol. Aku yang lagi nggak mood ngobrol, pasang headset dengerin musik dengan volume poll..

Tapi, sempat ada kejadian nggak enak yang ku liat. Sabrina sama Vicky smsan. Mereka ngomongin apa sih, sampai kayaknya pribadi banget, dekat tapi lewat sms. :( Jealous... Kalian kira aku nggak tau apa, kelakuan kalian ini? Kenapa sih kalian itu nggak ngerti perasaan ku? Kok enak banget Vicky bisa dekat sama sabrina kayak gini. Kalian berdua itu sadar nggak sih, aku selalu memperhatikan gerak-gerik kalian. Tolonglah jangan lakuin hal kayak gini.

Waktu berlalu, aku galau.. Headset udah ku lepas, aku terduduk lemas di kursi biru itu. Anis, Ade, Vicky sama Sabrina balik ke kampus mau ngerjain tugas lagi. Tinggal aku sama teman-teman yang main kartu deh.

Akhirnya aku putuskan untuk pulang, nggak betah aku.

18.45 hujan masih rintik-rintik, belum sepenuhnya reda. Aku berangkat ke kampus dengan suasana hati yang kusut. Di depan lab C, aku liat teman-teman duduk di kursi panjang. Dan nggak biasanya aku nggak nyamperin mereka, aku malah duduk sendirian di kursi yang jauh dari mereka, pastinya dengan muka yang di tekuk. Dari jauh, Vicky cuma ngeliatin aku. Sabrina juga cuma ngelirik aku sekilas, Anis ngeliatin aku dengan tatapan kosongnya. Anggi yang lagi asik mainin laptop sempat negur aku, Bagus juga sama, negur aku. Ade seperti biasa manggil nama ku dengan senyum lebarnya, tapi ya nggak ada satupun dari mereka yang ku tanggapi. Dosen datang, semua buru-buru masuk lab. Aku paling terakhir dan duduk menyendiri di bagian belakang. Eko malah duduk dempet-dempet sama Sabrina.

Pelajaran yang susah pun dimulai. Sama sekali nggak masuk ke otak. Waktu udah ngasih soal, dosan pergi ninggalin ruangan. Bukannya fokus ngerjain soal, aku malah memperhatikan Sabrina terus. Aku liat, hp nya di taruh di meja. Aku smsin aja. "Sab, liat k sini.." sabrina tiba-tiba noleh ke aku. Aku lemparkan senyum dan dia balas senyum ku dengan ringan hati. Secepatnya aku palingkan muka lagi, aku nervous. "Aku jdi malu sndiri." "Knapa" balasan dari Sabrina. "Gk tau.. Terkejut mungkin." "Trkjut knapa" "Gk siap km liat ke arah ku.. Aku lgi galau, makanya pngen liat km". Ya sms nya sampai di situ, dia nggak balas lagi.

Waktu pulang, sebenarnya aku pengen bareng dia, tapi dia malah pulang sama Ade. Hufftt.. :/

Waktu aku pulang rame-rame sama teman yang lain, dari arah kostnya Sabrina jalan ke arah warung, mau beli makanan mungkin. Aku juga singgah ke warung dulu. Waktu perjalanan dari wrung ke kost, aku berpapasan sama Sbrina yang lagi bareng Vicky. Sabrina sempat ngelirikku, bibirnya tersenyum dan tangannya agak sedikit melambai. Mungkin dia malu sama Vicky. Tapi ya sudahlah, aku sangat senang walau pun dia cuma sedikit melambai. Setidaknya dia mulai perhatian sama aku, nggak secuek yang sebelumnya. Aku berharap dia bakal terus respect sama aku.

Ini yang sebelumnya pernah aku bilang fortune coockie, potongan kue keajaiban. Aku mulai mendapatkannya.


Dan, Sabrina.. Percaya atau nggak, Aku semakin sayang sama kamu..

------------------------------------------------------------------------

Bersamamu hapuskan bebanku


Beberapa minggu terakhir ini terlalu banyak hari yang ku lalui dengan suasana hati yang suram. Rasa keterpurukan yang hadir silih berganti karena terlalu banyak memikirkan dilema. Ya, hubunganku dengan Sabrina belum kunjung ke arah yang ku inginkan, aku terlalu banyak diam dan dia terlalu sering menatap ku sinis.

Hari ini, tepat pada tanggal 14 november, kamis yang tak pernah terbayangkan sedikitpun oleh ku.

Pagi ini sekitar jam setengah delapan, aku go to kampus, mau ngedatengin Sabrina yang lagi ngerjain tugas fisika. Sesampainya di kampus, ada Ade, Anis, Eko sama Sabrina. Lama kelamaan, nggak tau deh, eko hilang kemana, nggak nampak. Terus, waktu Anis sama Sabrina ke perpus, aku curhat sama Ade tentang ketidak berdayaan ku dalam menghadapi kuliah, aku ngerasa aku belum siap buat jadi mahasiswa. Tapi apa? Ade selalu bersikap dewasa dalam menghadapi aku, dia selalu bisa memasukkan sugesti dan motifasi ke dalam otakku. "Sebenernya, bukan otak kamu yang nggak siap, Panca. Tapi mentalmu. Kalo masalah otak, coba liat Rizky, umurnya masih 17 tahun tapi mampu ngikuti pelajaran dengan baik. Kamu itu belum siap mental, kalo mentalmu udah siap, otomatis otakmu juga bakalan siap" bla bla bla.. Panjang deh apa yang di paparkan sama psikolog satu ini. Sementara aku cuma terdiam menyaksikan Ade mencuci otakku. Ade juga sempat nyinggung, aku seharusnya nggak ngegabungin antara masalah asmara sama semangat belajar di kelas. Yah, dia ternyata tau kalau aku nyimpan perasaan ke Sabrina. Ini pasti ulahnya Anggi.

Skip demi skip.. Sabrina lapar dan aku juga lapar, akhirnya aku sama sabrina cari makan berdua. Selama makan, aku sama sabrina sempat banyak ngobrol nggak tentu arah, ternyata dia orangnya jauh lebih baik dari pada yang selama ini aku pikirkan. Tapi ya itu, sifat judes dan tatapan sinisnya masih sering di lemparkan ke aku. Dia aneh sekali.

Waktu udah selesai makan dan dalam perjalanan kembali ke kampus, aku memberanikan diri buat ngomong. "Sab, aku mau ngomong dan aku harap kamu jangan motong omonganku." mendengar itu, Sabrina menatap ku dengan sedikit tertawa kecil. "Jarang-jarang aku punya kesempatan ngobrol berdua sama kamu kayak gini." Sabrina semakin serius menatap ku, sementara aku melanjutkan lagi pembicaraanku yang terjeda. "Sebenarnya aku juga bingung dengan perasaanku ke kamu. Apakah aku hanya sekedar suka atau aku memang sayang ke kamu. Tapi intinya, aku selalu sngerasa nyaman kalau bisa dekat sama kamu." ya, ini adalah keraguanku selama ini. Mas Boby yang pernah ngebaca pikiran aku bilang kalau perasaan aku ini cuma sebatas suka. Ade juga bilang, aku mungkin hanya sekedar suka sama sabrina, karena rasa sayang itu terjadi jika ada timbal balik dari kedua pihak, sementara jika hanya satu pihak yang memiliki perasaan, itu hanyalah rasa suka atau kagum. Sementara Anggi yang udah lumayan tau banyak tentang perasaanku bilang kalau apa yang aku rasain ini bukan sekedar rasa suka, tapi udah memasuki kategori rasa sayang. Lalu, aku teringat status cewek di FB yang mengtakan jika kita memiliki rasa kepada seseorang lebih dari tiga bulan, itu adalah rasa sayang, jika perasaan itu hilang sebelum jangka waktu tiga bulan, berarti itu hanyalah rasa suka. Dari ke empat opini inilah hati ku mulai bimbang dengan apa yang sebenarnya ku rasakan.

Tepat saat aku dan dia memasuki gerbang kampus, "kamu nggak perlu takut, Sab. Aku nggak ngejar-ngejar kamu kok. Aku cuma pengen berusaha dekat sama kamu, itu cukup buat aku ngerasa senang." Sabrina tersenyum manis di sela-sela pembicaraanku. "huwh, udah mau sampai. Satu hal lagi yang pengen ku sampaikan. Mungkin, dalam waktu yang lama aku bakal tetap begini. Karena inilah perasaan ku." aku mengakhiri pembicaraanku dan kembali ke tempat Ade CS berada.

Yah, sejujurnya, aku merasa jauh lebih lega dari pada sebelumnya. Beban yang selama ini tersimpan sekarang udah ku keluarkan di tempat yang tepat. Tersampaikan juga akhirnya apa yang ingin ku ungkapkan selama ini. Dan, tengkyu Anggi yang udah ngebocorin rahasia aku ke Ade. Dan tengkyu Ade yang udah bersedia mencuci otakku samapai dua kali gini. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku nggak bakal berani ngomong ke sabrina tentang perasaanku.


Dan yang terakhir, tengkyu Sabrina.. Walau pun cuek, kamu masih mau ngedengerin apa yang pengen aku ungkapin. Aku udah lega sekarang, dan aku berharap hubungan kita semakin membaik untuk selanjutnya..

-------------------------------------------------------------------------------

Hem Putih

Sabtu ini, termasuk hari yang menyebalkan. :/ sekarang tanggal 16 november, seperti biasa hari sabtu osjur bakalan memakan waktu lama. Dari jam setengah satu sampai jam sembilan malam. Kebayang nggak sih gimana rasanya menghabiskan waktu selama itu dengan belajar, pelajarannyapun sangat sulit dicerna otak.

Sekitar jam lima sore, kakak panitia osjur ngadain makan bareng, lesehan, rame-rame makan di lantai. Uwh, sebel.. Aku nggak bisa makan bareng Sabrina gara-gara si Muklis udah duluan duduk berhadapan sama Sabrina. Ihhh... Kesal... Taik lu, kawan!!!

Ah, sudahlah.. Lupakan kekesalan dan lanjut cerita aja. Habis makan, kita di persilahkan istirahat, tapi Anis, Ade sama Sabrina nggak langsung keluar gara-gara asik liat mas Yunus praktek sulap. Aku juga jadi penasaran sih, dia mau ngapain aja. Akhirnya, sampai di sesi baca-baca pikiran. Mas Yunus berhasil ngebaca pikiran Sabrina yang isinya tentang masa lalu dia dengan mantannya yang udah meninggal. Namanya Nova.. Dan, shit mother fucker! Raut muka Sabrina berubah sedih waktu ingat cowok itu. Huh, aku nggak suka liat muka sedihnya. Kasian banget, aku nggak pernah tega ngebayangin ada penderitaan di hati Sabrina, apa lagi kalau sampai ngeluarin air mata. Memang seberapa berartinya sih cowok yang namanya Nova itu? Kok, sampai segitu lamanya nggak bisa ikhlas. Sumpah, aku sangat-sangat kesal. Tapi apa boleh buat, lupakan saja masalah ini. Mending balik lagi cerita ke beberapa jam yang lalu.

Tepatnya, sekitar jam setengah satu, aku dan teman-teman yang udah kayak sales obat berkemeja putih masuk ke kelas. Ada sesuatu yang berbeda, aku memperhatikan Sabrina. Hari ini dia terlihat lebih cantik dari biasanya. Huwh, ini kebahagiaan yang susah di ungkapkan dengan kata-kata.

Karena hem putih yang dia kenakan ini, aku jadi ingat saat pertama kali aku ketemu Sabrina. Waktu itu lagi AMT. Aku berada di dalam ruangan walonggong, duduk diam dan nggak kenal siapa pun dengan orang di sekitarku. Dalam kebosanan ini, tiba-tiba Sabrina datang dengan mengenakan hem putih. Mataku terpukau melihat keindahannya, dia begitu mempesona membuat aku terkagum dengan keindahnnya. Dia terkesan manis dengan tatapan yang dingin.

Hari ini pun, aku kembali teringat dengan keindahan itu. Aku terus memperhatikan dia, bahkan aku sampai nggak fokus dengan materi pembelajaran. Mataku susah untuk berpaling dari dia yang duduk di sebelah kiriku.

Aku sempat tanya sama Sabrina, "Sab, hp mu mana?" "Ada nih, di tas. Kenapa?" dia balik bertanya padaku. "Enggak, tanya aja sih."

Aku merogoh saku celana kiriku, mengambil hp dan mengetik sms yang mau ku kirim ke Sabrina. "Aku tau, mungkin aku bodoh terlalu sering memperhatikan gerakmu. :( Tapi aku nggak bisa bohong, kamu terlihat jauh lebih cantik dengan hem putih."

tepat sesaat sebelum kami meninggalkan kelas untuk mengikuti seminar, sms itu terkirim dan dibaca. Aku nggak ngeliat ekspresinya saat dia baca sms ku, karena aku langsung keluar kelas. Di luar semuanya pada ngantri buat tanda tangan dan mengambil hidangan sebelum memasuki ruang seminar. Karena terlalu ramai aku memutuskan untuk belakangan aja. Setelah tanda tangan dan mengambil hidangan aku memasuki ruang seminar. Baru saja masuk, Ade yang duduk berjejer dengan Anis dan Sabrina memanggilku. "Ogi.." aku hanya tersenyum membalas sapaannya. "duduk di depan sini, Ogi?" Ade menawarkan ku untuk duduk di depan mereka. Tapi aku yang nggak suka duduk di depan, memilih menolak. "Tuh kan, dia nggak berani duduk sendiri di depan." ya, itulah kalimat yang ade ucapkan ke Anis dan Sabrina. Sepertinya dari jauh tadi mereka memang udah membicarakan dan memprediksikan aku nggak berani duduk di depan sendiri tanpa teman. Ternyata mereka memang tau sifat ku yang pemalu, nggak percaya diri, takut ngelakuin sesuatu sendirian. Mereka memang teman yang mengenal sifat dasar ku. Kata Ade sih, aku ini masih lugu dan polos. Aku juga nggak ngerti tentang dia menilai dari aspek yang mana.

Aku memilih tempat duduk tepat di belakang Sabrina. Inilah kebiasaan ku yang paling sering ku lakukan. Aku pengen duduk di dekat Sabrina, tapi aku malah takut dan nervous kalau ada di samping dia. Pada akhirnya, seperti inilah, aku lebih sering duduk di belakangnya dan hanya bisa melihat punggungnya.

Tak berselang lama, aku ngeliat Sabrina nyodorin hp nya ke Ade, dan ade mengeluarkan ekspresi agak nggak percaya dengan mengeluarkan kata "haa???".

Mata ku yang masih bisa di bilang tajam, mampu ngebaca sms itu, rupanya itu sms yang tadi ku kirim ke Sabrina. Anis yang penasaran, ikut ngebaca sambil sesekali ngeliat ke arah aku. Aku yang sok-sok nggak tau malah berlagak nggak tau apa-apa. Sepertinya Anis dan Ade nggak percaya kalau aku bisa ngirim sms kayak gitu.

Pada akhirnya, aku hanya terdiam, dan terdiam. Hanya bisa melihat punggungnya dari belakang. Tapi, ada suatu ketika Sabrina menoleh ke belakang. Sebelum dia kembali melihat ke depan, dia sempat ngeliat aku. Aku juga ngeliat dia. Beberapa detik tatapanku dan dia bertemu tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa. Hingga akhirnya sesaat sebelum dia mengalihkan pandangannya, dia memberikan ku senyuman, aku membalasnya. Oh my God.. Dia benar-benar terlihat cantik. Baru ini dia tersenyum sama aku dengan begitu manisnya. Aku nggak tau kenapa, setelah ini berlalu jantungku berdebar kencang. Logika ku hampir nggak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Sungguh, ini hal yang menakjubkan, pertama kalinya dia tersenyum pada ku dengan begitu ikhlas dengan jarak sedekat ini. Aku yakin, hal ini nggak bakal mudah terlupakan begitu saja. :)

-------------------------------------------------------------------------

Aku Sayang Kamu

Kampus kampus kampus.. Ya itulah tempat yang hampir setiap hari ku datangi. Seperti halnya pagi 20 september ini, aku tiba di kampus sekitar jam setengah delapan. Aku diantar Eno, semalam aku tidur di rumahnya. Sesampainya aku di atas, aku duduk di samping Anggi. Oh my God, aku baru tahu kalau tugas persentasi ku masih ada yang kurang. Akhirnya walaupun dosen udah ada di kelas, aku sempat browsing lewat hp nyari-nyari tambahan bahan untuk persentasi. Sementara itu Ade dan kelompoknya maju untuk persentasi. Tapi syukurlah, file persentasiku siap sebelum giliran kelompok ku tiba. Alhasil, aku, Hafsah, Anggi, dan Guntur yang satu kelompok ini maju untuk persentasi. hafsah dapat giliran pertama. Wow, sumpah ini orang memang genius dalam memainkan kosa katanya. Satu-persatu materi di sampaikan dengan baik. Dia benar-benar menguasai materinya. Menurutku, Hafsah salah satu dari beberapa orang di kelas ku yang punya intelektual tinggi, buktinya dengan materi yang tersampaikan dengan baik, dia berhasil menutu persentasinya dengan kalimat-kalimat yang bagus banget. Hingga akhirnya, sampailah pada sesi komentar dan tanya jawab with audients (mungkin begitu nulisnya). Satu-persatu pertanyaan berhasil di jawabnya. Hingga akhirnya, pak Rofiq selaku dosen menanyakan sesuatu. Awalnya pak Rofiq menanyakan tentang slot dan kabel hardisk. Lalu pak Rofiq menanyakan, dimana letak kabel yang menhubungkan chipset dengan motherboard. Dengan berpikir keras jawaban hafsah tak mampu memuaskan nafsu birahi pak Rofiq. Hafsah masih terus berpikir, tapi apapun yang coba dijelaskan oleh Hafsah tetap tidak masuk akal oleh pak Rofiq. "Untuk teman-teman yang lain, ada yang bisa bantu menjawab?" pak Rofiq mencoba melemparkan pertanyaan pada yang lain. Ternyata tidak ada yang mengacungkan tangan atau sebagainya. Secara setengah sadar, tangan kanan ku terangkat. Apa yang terjadi? Mengapa aku mengacungkan tangan?

"Ya, Panca.. Bagaimana?" dengan tatapan biadap pak Rofik menagih jawaban dari sosokku yang nista ini.

"emm.." aku mulai mencoba mengeluarkan suara. "Sebenarnya , pak. Chipset tidaklah sama dengan halnya hardisk. Hardisk terhubung dengan motherboard dengan seutas kabel. Sedangkan chipset memiliki pin-pin kecil di bawahnya yang membuat chipset terhubung dengan motherboard." dengan gerogi yang membeludak, kata-kataku terucap dengan lancar seperti rapper yang sedang ngerapp di atas panggung. "yak.." pak Rofiq membenarkan jawbanku. Sebagian kelas bertepuk tangan (mungkin 2 atau 3 orang). "ih, Panca pintar" dengan nada manjanya seperti seorang ibu kepada anak Ade memujiku. Karena terlalu banyak suara riuh sorak, terdengar suara yang nggak ku ingat suara siapa. "tumben pintar, Nca?". Huwh.. Darahku yang sudah mengendap di otak karena nervous akhirnya turun menyebar ke seluruh badan.

Aku yang duduk di depan, di sebelah Anggi dan Guntur udah mulai terasa tenang kembali. Mataku tadi sempat menyapu seisi ruang kelas dengan sekilas mata. Yang tertangkap, aku melihat wajah Bagus yang menatap ku dengan wajah kagum dan ekspresi bodohnya. Lalu, ada Vicky yang melihatku dengan tatapan dingin, soalah berkata dalam hati, "bisa juga anak ini". Ya, karena aku yakin selama ini dia menganggap aku masih anak kecil dan penakut.

Dan saat ini mataku nggak sengaja menatap Anis, dia membuka kelima jari kanannya, lalu dengan cepat menggantinya dengan acungan jempol. Aku yakin maksudnya, Lima, (terjemahan dari nama Panca) good. Aku nggak nyangka, Anis yang segitu cueknya sama aku bisa memuji aku.

Tapi, dari semua ini, satu hal yang paling susah di terima oleh logika ku, saat aku menatap Sabrina. Dia tersenyum manis kesekian kalinya untukku, dan mengacungkan dua jempolnya ke arahku. Aku yang nggak tau harus berekspresi seperti apa, hanya bisa membalasnya dengan senyuman.

Skip and next story, sekarang lagi berlangsung osjur, semua berjalan seperti biasa. Sabrina pun tetap cantik seperti biasa dengan hem putihnya. Aku selalu memandanginya lekat-lekat. Awalnya aku duduk di samping dia, semua terasa indah saat dia ada di dekatku. Sempat sesekali dia merogoh tasnya untuk mengambil permen. Di paling suka makan permen waktu di kelas, kalau dia nggak punya pasti dia sibuk nanya teman-teman ada yang punya permen nggak. Setelah dia makan permennya, dia ngeliat ke arah aku. Dengan tatapan judes seperti biasa "apa!?". Aku menjawab dengan bisikan kecil, "mau". :) dia mau aja repot-repot merogoh tasnya lagi buat menuhin permintaanku.

Waktu pulang, udah jam setengah sembilan malam. Di tangga Sabrina sempat nanya sama aku. "warung di depan udah tutup belum ya?" "Ya, belumlah, biasanya tutp jam setengah sepuluh. Tapi ya gitu, makanannya udah habis, mungkin kayak kemarin malam, kita cuma kebagian ayam goreng". Aku dan dia terdiam sejenak, lalu aku bertanya lagi. "kamu mau beli makan lagi?" "iya, tapi bukan aku. Teman kost ku nitip." Entah kenapa dari tadi aku ngrasa kurang nyaman. Rasanya kepengen banget ngobrol sama Sabrina. Waktu di teras kampus, aku lagi asik ngobrol sama teman-teman. Terus, sabrina tanya aku udah makan? Mau beli makanan nggak? Aku jawab enggak, soalnya aku udah kenyang. Lagian tadi waktu istirahatkan aku makan di sebelah dia. Kok dia malah lupa aku udah makan atau belum. Waktu aku palingkan muka kearah teman-teman ku, rupanya Sabrina udah pulang duluan. Jadi resah gini. Akhirnya aku pamit sama teman-teman. Aku berjalan cepat, aku liat sabrina masih ada di warung. Aku pengen banget singgah, tapi ngapain? Mau pesan makana, tapi aku udah kenyang. Pulsa, aku masih punya. Kalau mau to the point mau nemanin dia, sori deh aku bukan tipe cowok yang suka cari perhatian kayak gitu.

Waktu aku lewat di depan dia, dia bercandain aku, ngyun-ngayunkan tangannya seolah lagi ngusir aku, biar aku nggak datang ke tempat dia.

Uwh, gara-gara bingung, sampai juga aku di depan kost, tapi aku nggak rela rasanya masuk kamar gitu aja. Akhirnya aku duduk dengan gelisah di depan teras. Benar-benar nggak tenang, kenapa sih ini? Arrgghh... Akhirnya aku ke warung sebentar buat beli rokok. Kembali aku duduk di teras menenangkan diri dengan rokok. Satu batang habis, tapi masih aja dia belum kelihatan. Aku mulai panik, takut dia lewat waktu aku lagi beli rokok tadi. Akhirnya aku telpon dia.

"Assallamuallaikum.." suaranya halus terdengar, dia selalu berbicara dengan lembut kepada ku. "waalaikumsalam. Kamu masih di warung, Sab?" "Iya nih, masih di warung. Kenapa, Panca?" "Pantesan lama banget. Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu, aku tunggu kamu di depan kost ya?" "Iya, Panca. Ini bentar lagi aku ke situ." "oke deh. Daahh.. Sab." "Daahh.." Tut.. Tut.. Tut..

Nggak lama kemudian, dia datang dan berhenti di depan pagar kost, aku menghampiri dia. "Panca, persentasi kamu tadi, sip.. Bagus.." Sabrina mengacungkan jempolnya. "Bagus? Tapikan, tadi aku persentasinya eror." "Enggak, tadi itu bagus. Kamu udah berani ngomong sekarang." "emm, iya sih. Tapikan, tetap aja persentasi ku gagal." aku termakan gerogi lagi, tanpa sadar aku mulai garuk-garuk kepala ku, padahal nggak gatel. "Pokoknya pertahanin.. Eh, tadi kamu mau ngomong apa?" akhirnya, masuk ke topik utama juga. "emm, itu.. Aku harap kamu nggak risih. Tapi, aku udah nggak tahan, aku pengen ngomong ini ke kamu." "iya.." "Emm.. Aku sekarang yakin, aku sayang kamu, Sab" "Ya, aku juga sayang kamu, sama teman-teman lain juga.." Sabrina berhenti bicara karena aku langsung memotongnya. "I know that, kalau kamu dah bilang kayak gitu, aku ngerti maksud mu tanpa harus kamu lanjutin kalimatmu." "ya, ya, ya.. Ada lagi yang lain?" "Ada" "Apaan?" "Sebenarnya, aku ngrasa kurang nyaman kalau kamu natap aku dengan tatapan dingin. Selama ini kamu lebih sering natap aku kayak gitu" "lho, bukannya tadi waktu osjur, aku ada senyum sama kamu? Tapi kamu malahan manyun?" "aku, sbenarnya bukan manyun, aku gerogi bingung harus gimana." "yey.. Udah, ini aja?" "emm.. Untuk saat ini sih, ini aja." "Ya udah, aku boleh pulang kan?" "ok, boleh. Makasih ya?" "Iya.." dia mulai beranjak pergi meninggalkanku, dengan senyman. "Daahh.." ucapan pepisahan yang lama nggak ku dengar darinya. "Daahh..." :)

-------------------------------------------------------------------------

God Rest You

Wow, tanggal berapa ini? Tanggal 28 november. Artinya? Anggi ulang tahun.. :D Semalam sih udah sempat nyatain selamat dan mengeirimkan sedikit doa, tpi tetap kurang puas. Pagi ini ketemu dia langsung jabat tangan. Semoga kamu tetap sehat dan baik hati, my friend.

Rencananya sih, Ade ngusulin mau ngerjain Anggi, tapi nggak tau deh, idenya kayak apa.

Setelah kelas usai, kayaknya gk jadi ngerjain Anggi tuh. Malah pengen pergi nyantai bareng buat ngerayainnya, topping. But, ternyata hujan nih.. Wah, gmna mau pergi. Alhasil, satu kelas anak SK pada nongkrong di teras kampus, nunggu hujan nggak kunjung reda. Di sela-sela pembicaraan dan canda tawa, Hafsah bilang ke anggi "mumpung udan, apik kon guling-guling neng kono. Arep guling dewe opo tak gulingne?". Anggi cuma diam kebingungan sambil nyengir-nyengir, ngebayangin harus guling-guling di kubangan air bekas hujan di halaman kampus dan di lihatin sama mahasiswa lain. Teman-teman yang lainpun ikut-ikutan ngedesak Anggi biar nggak milih kedua opsi tadi. Gilak memang.. Bahkan ada yang tanya, mau traktir atau di traktir? Busyet.. Pertanyaan guendeng. Kalo traktir temen sebanyak itu, ya langsung bokek. Tapi kalo di traktir sama teman yang sebanyak itu, kiamat deh. Bayangin aja kalau satu anak traktirin Anggi satu porsi nasi goreng, seberapa banyak yang harus Anggi habiskan? Haha.. Jadi ingat pengalaman pertama ke kost Hafsah, aku di wajibkan minum nutri sari satu teko gede, harus habis. Sumpe, kembung gua..

Mungkin udah setengah jam kita-kita di teras kampus nungguin hujan yang nggak kunjung reda. Entah apa yang di ucapin sama Vicky, tiba-tiba Anggi ngelepasin sepatunya, ngosongkan segala isi kocek. Tiba-tiba yang lain langsung ngangkat badan Anggi, di gotong rame-rame. Dengan sorak-sorak gembira nggak perduli dengan orang di sekitar. Dan, oops.. :D Anggi digulingkan di kubangan air. Huhu.. Miris sekali.. Suasanapun jadi meriah dengan penuh tawa ngeliat Anggi yang jadi setengah basah digulingin di tengah hujan. Whatever deh, orang mau bilang apa, yang penting hepi rame-rame.

Nggak berselang lama, tibaktiba Sulaiman mendekap ku dari belakang. Teman-teman yang lain cepat tanggap megangin kaki sama tangan ku. "cepat-cepat" "lepasin sepatunya!" "hp-nya.. Hp-nya" mereka berteriak riuh sambil mengeksekusiku. Aku digotong terus di gulingkan ke kubangan air. Sial, aku nggak bisa ngelawan. Clup.. Ah... Bajuku basah, apalagi celanaku bagian belakang, basah sampai ke kolor. Aku cepat bangun dan berusaha menyipratkan air ke mereka. Sial, nggak ada hasilnya. Kagak nyampe.. Huh, basah juga deh.. Grrr... Nasib punya badan paling kecil di antara yang lain ya gini. Seneng lu, Nggi? Punya teman sekarang. Nggak sendirian sekarang basahnya..


Hari Yang Panjang

29 april ini aku terbangun sekitar jam setengah dua belas siang di kontrakkan Suleman. Sebenarnya jam tujuh pagi aku udah bangun, tapi karena masih ngantuk ku putuskan untuk melanjutkan tidurku, lagian udah telat kalau mau ikut ngumpul di basecamp untuk berangkat ke sekolah-sekolah menyebarkan brosur dan poster.

Sekitar jam dua belas aku bertiga sama Suleman dan Nengah berangkat ke basecamp, bisa di bilang kita bertiga di suruh jaga basecamp karena teman-teman yang lain pada berangkat nyebarin brosur.

Ouch!!! Siluman keberuntungan berpihak pada kami bertiga, baru aja sampai kita udah ditawarin makanan, isinya ayammgoreng, tempe, pergedel kentang dll. Kebetulan, ini sarapan di siang hari. Tanpa malu-malu, kita bertiga lahap tuh makanan. Pak Samsul sang kepala jurusan sampai nyinggung sambil bercanda ke Nengah, "Baloteli ini kerja nggak, makan iya..." Haha... Cuma Nengah yang di katain, aku sama Suleman kagak. Tapi perduli amat, yang penting kenyang, maklum anak kostan.

Ah, waktu beranjak sore, basecamp mulai sepi, dan kami kesepian. Bosan karena sudah dua hari ini wifi di basecamp eror, entah bagaimana dengan besok. Tapi sering berjalannya waktu, teman-teman pada datang dan suasana menjadi ramai. Entah kenapa kita jadi agak gila, foto-foto gitu...

Nengah sok imut (amit-amit!!!)

Queen Kiekie menguap karena sudah ngantuk (jam 2 malam)

Siang tadi
Bagus - Suleman - Anggi - Nengah

Aku yang sok ganteng

Nengah seharian pakai jaket Yuni, kayaknya lagi kangen berat

Nih, Kajur baru SK... Haha...

Cuap-cuapan. Yang sana tuh kepengen juga...

Suleman kalau aku yang fotoin, pasti bagus

Suleman waktu liat foto-foto 

Aku yang entah lagi apa

Masih dapat jatah, bersyukurlah masih kami sisakan

Gaya tidurnya mirip...

Suleman yang udah tidur di pojokkan (sekitar jam setengah dua malam)
Sesaat sebelum laptopnya ku rampok untuk update blog


Ceritanya panjang banget kalau di tulis semua, termasuk aku yang jalan sama Vicky kesana-kemari sampai jam sembilan malam. Jadi aku ceritakan dikit lagi deh tentang hari ini. Setelah melakukan banyak hal termasuk main kartu dan bengong, aku tidur jam setengah sebelas malam dan bangun jam sebelas (masih di basecamp). Waktu bangun, muncul lagi perasaan aneh yang selama ini sering aku rasain waktu bangun tidur.
Aku ngerasa kesepian, padahal aku lagi sama teman-temanku. Rasanya, sedih kepikiran nggak punya siapa-siapa di kota Malang ini. Mamak nggak ada, bapak nggak ada, rasanya semuanya nggak ada. Hahkan, kesedihan seperti inipun aku nggak tau harus curhat ke siapa biar aku bisa lebih tenang.

Kalian tau, waktu dalam keadaan labil kayak gitu siapa cewek yang pertama aku ingat? Yuni... Mantan yang dulu selalu ada untuk nemanin aku terutama waktu aku kesepian. Tapi sekarang, Yuni udah bukan milikku lagi. Waktu itu kita putus aku yang minta. Waktu itu aku juga mikir, aku pasti bakal menyesali keputusanku. Ternyata memang benar, aku selalu kangen dia dan semenjak kita putus aku jadi sering kesepian, nggak ada tempat berbagi. Tapi mau gimanapun, aku harus terima resiko ini. Mandiri tanpa dia, itu kewajiban.


Fotoku waktu sama Yuni, dulu...

28 April 2014

Open Diary Part 01

Perasaan Ini

Ini tgl 29 oktober 2013.
Aku bnr2 bangun jam 11 siang. Dpt sms dari piki, langsung deh mandi lalu ke kampus. Sampai di kampus, malahan di ajak ke kost eko. Ya udah rame2 k kost eko buat ngerjain tugas osjur. Di kost eko, rame2 main kartu, yuni, eko, ade pada sibuk dgn tugas. Yg lain main kartu. Gk tau juga sih sbnrnya knapa, wktu lagi asik main, riski kok sering becandaan, akhirnya tmn2 pada ngejek riski sama anis. Aku sih ikut2 ketawa juga. Soalnya lucu juga.
Akhirnya semua pada lapar, rame2 turun cari warung. Aku, piki, riski, anis, sama ade ke warung rujak. Sayangnya yuni malah sama hafsah sama eko juga malah makan di warung lain. Alhasil, aku gk bisa liat yuni sambil makan siang. -_-
aku makan dekat ade, anak ini orgnya baik. Perhatian sama teman. Oh ya, aku makan gk habis, soalnya pedes, selain itu juga porsinya trlalu banyak. Selama makan, aku sering banget liatin yuni lagi makan sama hagsah sama eko juga.
Habis makan becanda2 sama tmn2. Akhirnya piki manggil yuni, dia ngerti kalau aku pengen liat yuni. Piki memang temen yg super. ^ ^
udah balik ke kost, aku malah tiduran di samping ade, temen2 lanjut main kartu. Akhirnya aku ketiduran. Lalu pas bangun, udah pada mau pergi ke kampus lagi akhirnya. Aku di bonceng sama hafsah. Trus sampai di kampus, ngapain ya? Aku lupa. Intinya, aku di ajak alvin, dia pengen makan. Yaudah, sekalian ngrokok. Di warung, alvin bnyk crita  tentang masa lalunya. Ternyata dia bisa juga terbuka sama aku.
Akhirnya, magrib datang, aku pulang mau cuci muka sama solat. Alvin nunggu aku di warung. Waktu keluar dari warung, aku liat yuni, ade, sama anis lagi jalan ke arah kost yuni, mau mandi mungkin. Aku cuma liat sekilas, tapi rasanya seneng banget, bisa liat yuni.
 Habis solat, aku langsung balik ke warung. Di situ alvin mau siap2 ke kampus, udah bayar makanan. Ada anggi juga. Sampai di kampus, seperti biasa deh, ketemu mata kuliah yang terbilang susah buat aku. Oh ya, ada sesekali aku noleh kearah belakang, yuni di belakang ku. Lalu dgn muka agak2 sangar dia bilang "what?".. Kayaknya dia lagi bad mood, makanya dia nanya kyk gitu waktu aku ngeliat dia.
Mata kuliah udah selesai, rencananya mau ngopi bareng, dwi mau traktir. Maklum, kemarin dia ulang tahun. Yg lain pada pakai motor, aku sama yuni jalan kaki yg akhirnya eko juga ikut jalan kaki. Aku sempat ngobrol dikit sama yuni. Tanya kenapa tumben dia gk bisa lama2 mlm ini. Dia bilang dia lgi bad mood. Tuh kan benar kata ku tadi. Lalu wktu dia bilang gitu, aku bilang sama yuni, "pantesan muka mu jelek". :) dia ngrespon dgn kepalan tangan yg ke arah kepala ku. Tapi aku yakin dia ngerti kalau aku cuma bercanda. Setelah sampai ke lesehan dpn gerbang kampus, trnyata lesehannya gk buka. Akhirnya di tunda bsk aja.
Aku pulang brdua sama yuni. Dia tanya, aku udah makan belum. Setelah berpikir keras, akhirnya aku bisa ingat, aku belum makan. Lalu yuni bilang, "makan lah.. Harus makan pokoknya".. Gimana ya rasanya, aku senang banget dia bisa bilang kayak gitu ke aku. Sayang, perjalanan dari gerbang kampus ke kost ku trlalu pendek. Aku jdi cuma punya waktu sedikit buat ngobrol brdua sama yuni. Ya sudahlah. Akhirnya aku ngucapin salam perpisahan seperti biasa, "daahh..." dan dia jwb "bye".. :)
sampai di kos aku beli makan, lalu makan. Terus.. Aku sms piki, tapi dia bls nya cuek terus. Semalam sama tadi siang juga gitu smsnya. Tiba2 aku ngrasa gk nyaman. Aku jujur aja, aku gk pngen dia kurang respect sama aku. Dia bilang dia lgi bnyk masalah. Terus, aku bilang lagi kalau dia itu tmn yg paling akrab sama aku, paling ngerti aku selama ini. Kalau aku di cuekin yuni, aku masih terima, tapi kalau aku di cuekin piki, itu rasanya gk enak banget. Akhirnya, dia bilang gk apa2. Aku yakin, setelah ini, dia bakal lebih respect sama aku. Akhirnya aku lega. Menurut ku, piki teman yang paling pengertian. Aku sama dia juga cukup terbuka, aku sering cerita tentang apa aja yg menurut ku perlu di ceritain. Dia selalu kasi solusi.

Sebagai penutup, aku pengen kasi tau, aku nulis kayak gini, biar aku ingat kejadian apa aja yg pernah ku alami. Aku gk mau kayak dulu, gk mampu ingat apa2 tentang masa lalu. Selain itu, aku juga pengen nulis novel dokumentari, tentang kejadian2 yang pernah ku alami.

--------------------------------------------------------------------------------------

Rasa Sakit Hati

Hari ini, tanggal 30 oktober 2013, tepatnya hari rabu.
Aku bangun lebih awal, nyempatin diri buat solat subuh.
Liat jadwal, hari ini kuliah jam setengah 8 pagi. Repot juga sih, tapi apa boleh buat kan?
Begitu sampai di kelas, kok sepi? Cuma ada Dyan, Herwin, Anggi sama Bagus. Lalu aku tanya, yg lain pada kemana? "lagi makan di warung dekat kost Yuni"
kok mereka tega banget, makan sama-sama tapi nggak ngajak aku, minimal sms lah, bilang lagi makan di warung rame-rame. Hufftt... Pagi-pagi udah di bikin kecewa. Nggak lama dari itu, datang deh Vicki, Anis, Ade, sama Yuni. -_-
Dosen datang, belajar asrsitektur pemrograman. Suasana kelas dingin karena AC plus udara dari luar yang dingin gara-gara habis hujan. Alhasil, aku gk konsen belajar, malah ngantuk sambil kedinginan.
Pelajaran selesai sekitar jam setengah 10. Anak-anak gak langsung pulang, tapi masih ngumpul ngerjain tugas Osjur. Aku sama Rizky turun ke FO nyariin bu Vina. Rupanya bu Vina ada di atas, terpaksa naik lagi ke lantai 2. Setelah ketemu, bu Vina nggak ngasi surat yang di janjikan tempo hari, malahan nyuruh bikin surat sendiri, biar pak Rofik yg tanda tanganin. Oalah, kok masalahnya jadi bulet. Kemarin ke HRD, di suruh minta surat pengantar ke bu Vina, terus bu Vina nyuruh bikin surat dengan tanda tangan pak Rofik, nanti klo udah jadi baru balik ke HRD lagi.
Keluar dari ruangan bu Vina langsung laporan sama Vicki. Habis itu aku sama Hamzah, sama Rizky, sama Eko ke kantin buat istirahat ngopi. Satu jam kemudian balik lagi deh ke tempat Vicki dan kawan-kawan buat ngelanjutin rundingan tentang tugas Osjur. Ya, di situ aku sama Hamzah buat surat penyataan permohonan. Udah selesai, aku sama Eko pergi ke kampus Asia 2 buat ngeprint surat sama tugas yang lain sekalian ambil flashdisk yuni yang kemarin ketinggalan. Sampai lah di kampus 2, ini pertama kalinya aku ke kampus ini. Di sini isinya anak2 manajemen sama akutansi, sebagian besar cewek. Tapi sedikit tuh yang ku liat cantik-cantik.
Setelah print tugas n ambil flashdisk, balik lagi deh ke kampus utama. Dalam perjalanan, di dekat kampus aku liat Vicki lagi nemanin Yuni makan. :( kok rasanya gk enak ya liatnya. Jadi nyesal deh ikut Eko ngprint, coba aja tadi kalau yang ikut itu Vicki, pasti yang nemanin Yuni makan itu aku, bukan Vicki. Tapi masak sih aku harus cemburu? Bukan kah Vicki itu teman yang paling ngertiin aku? Nggak mungkin kan dia sampai punya hubungan spesial sama Yuni nanti. Aku coba berfikir positif aja.
Setelah sampai di tempat ade, sama anis di lantai 2, sekitar 15 menit kemudian Yuni sama Vicki datang. Aduh.. Betek jadinya..
Terus, Eko lagi menyendiri agak jauh, Yuni datang nyamperin Eko mau mintain flashdisk. "Ko, mana flashdisknya?". Eko malah becanda kalau flashdisknya hilang. Sedangkan Yuni percaya aja, mukanya jadi sedih tapi sambil senyum masem-masem gitu. Masemnya kayak ketiak ku waktu lupa pakai deodoran.
Akhirnya Eko ngaku, flashdisknya ada. Yuni yang girang campur kesal malah mukul-mukulin Eko. :/
Enak banget mereka bisa dengan mudah dekat sama Yuni. Rasanya makin lama aku makin iri sama teman-teman yang lain.
Berselang beberapa lama, aku lupa sih Vicki mau pulang atau mau pergi solat dzuhur. Tapi yang jelas dia mulai pamit nyalamin teman satu per satu. Sampai akhirnya dia pamit sama Yuni, waktu salaman dia malah nyium tangan Yuni. T_T
Aku cemburu liatnya. Rasanya aku pengen nabrak dinding kaca lalu loncat ke lantai bawah, biar mati ketimbang harus liat hal kayak gitu. "kenapa sih Vik, kon kok tega karo aku? Kon kan ngerti perasaan ku kayak gimana. Kalau kon mau ngelakuin hal kayak gitu, tolonglah jangan di depan aku. Aku lebih pilih di bohongi n selamanya gak tau, ketimbang kon harus jujur tapi nyakitne ati"
Akhirnya cuma ada aku, Ade, Anis, Yuni, Hafzah, Rizky, Dwi sama Eko. Entah udah berapa lama kita cuma berdelapan, akhirnya waktu udah nunjukin jam setengah 2 siang. Perutku laper, aku mau cari makan dulu. Sebelum aku pergi, aku minta rokok ke Dwi. "Wi, mintak rokok Wi.." "oh, rokok.. Kebetulan aku udah berhenti ngrokok, dilarang sama dokter". Waktu Dwi lagi ngerogoh tas, Yuni ngomong "gak boleh ngerokok di sini". What the fuck, bitch!? Aku juga tau lah, jangan sok ngajarin. "Aku mau makan, aku juga tau di sini gk boleh ngrokok!". Waktu aku bilang gitu, Yuni cuma diam, gk ngebalas omongan ku. Semntara itu, Dwi ngasi sebungkus sampurana ke aku. "nih Ca, bawa aja, aku udah berhenti ngerokok, dokter marah kalau aku ngerokok, ntar sore aja mulai lagi". Baik juga nih Dwi, mentang2 baru ulang tahun 2 hari yang lalu. Sambil nerima rokok, aku ngomong ke Dwi. "Kon ke dokter bayar kan Wi" "ya iya lah" "Kon bayar dokter, kok mau-maunya dimarahain sama dokter..". Spontan, mereka pada ketawa semua. Huhu.. Rupanya aku yang jarang ngomong ini bisa juga buat mereka ketawa. Senang juga sih.
Akhirnya Eko ikut aku makan. Sampai di lantai bawah, Eko Bilang "Oalah, mau huajan iki" "memangnya kenapa kalau hujan? Kalau hujan mesti gitu, kita gak bisa makan?" "ya maksudnya ntar kita balik ke sini malah hujan-hujan".
Akhirnya sampai di warung, pesan makanan deh. Rupanya bener, belum lama sampai di warung, hujan malah turun. Habis makan, aku ngeluarin rokok sampurna yang tadi di kasi Dwi, terus di ambil sama Eko. Tiba-tiba aja di balikin lagi ke aku. "Ca, buat kamu aja rokoknya". Waktu ku periksa, rupanya isinya cuma satu. Oalah, pantesan aja Dwi ikhlas banget ngasinya, rupanya tinggal satu batang. Koplak arek iku.
Nggak banyak yang aku omongin sama Eko selama di warung. Tapi ada satu topik yang aku ingat, aku tanya sama Eko "menurutmu, diantara tiga cewek di kelas kita, siapa yang paling baik? Ade, Anis, Atau Yuni?". Beberapa saat Eko mikir lalu jawab "menurut ku, yang paling baik itu Yuni. Soalnya bla.. Bla.. Bla.." (sorry, aku lupa apa alasan Eko kenapa dia bilang Yuni yang paling baik).
Udah jam 2 lewat nih, tapi masih hujan. Akhirnya aku sama Eko nekad balik ke kampus. Sampai di kampus, nggak begitu basah-basah banget tuh. Langsung aja deh, ke lantai 2. Sampai di lantai 2, rupanya anak-anak udah pakai hem putih semua. Maklum, jam 3 nanti ospek jurusan harus pakai hem putih. Baru aja sampai, Yuni tanya. "loh, kalian nggak sekalian ganti pakaian?" "enggak." aku jawab singkat aja. Yuni malah mukanya berubah jadi masem-masem. Mungkin dia takut aku sama Eko gak sempat ganti pakaian lalu nanti kena hukum. Tapi, aku nggak tau juga sih apa alasan sebenarnya Yuni sampai kayak gitu.
Akhirnya aku sama Eko pulang deh buat ganti pakaian. Di kost, habis ganti pakaian, aku mau langsung ke kampus. Tapi waktu aku liat kearah kost Yuni, aku ngeliat Anis di luar. Aku samperin aja, sekalian nanti berangkat sama-sama. Aku yakin di kost Yuni pasti ada Ade. Sampai di kost Yuni, Anis lagi perbaiki tali sepatu, sambil bilang "laki-laki nggak boleh masuk, kamu tunggu di sini aja". "Nis, aku ini SD, SMP, SMK, udah lulus semua. Aku pasti bisa lah baca tulisan di pintu itu". Anis cuma tersenyum nanggapin kalimat ku tadi, lalu masuk ke kost lagi. Aku duduk di kursi depan. Eh, rupanya ada Andi, teman Sekelompok ku waktu Ospek kemarin, satu kelompok juga sih sama Yuni. Dia lagi ngambil STNK di sepeda motornya yang di parkir di depan kost Yuni. Alhasil, aku ngobrol-ngobrol deh sama dia sambil nunggu Yuni Cs selesai dandan. Akhirnya Ade sama Anis keluar, nggak lama dari itu Yuni keluar juga. Dia ngeliatin aku dengan tatapan dingin, seolah-olah bosan ngeliatin muka ku. Beda lagi ekspresinya waktu liat ada Andi, raut mukanya langsung berubah ceria, dengan senyum tersimpul manis. "eh, Andi.. Ngapain?" " ini, ngambil STNK.. Aku nitip sepeda ya".. Bla bla bla.. Males aku dengerin percakapan mereka. Akhirnya aku berdiri di dekat pagar kost. Andi pun berlalu pergi. Aku noleh ke belakang ngeliat mereka bertiga udah siap atau belum. Ups.. Aku nggak sengaja liat resleting yuni yang belum dikunci. Secepatnya ku palingkan muka ku, mengalihkan pengelihatan ke arah lain. "maaf Yun.. Resleting mu belum dikunci" Haa.. (Ekspreasi terkejut, suara yang keluar dari mulut Yuni, tapi bukan keluar dengan udara yang di hembuskan, tapi dengan udara yang di tarik lewat mulut. Ngerti kan maksd ku? Kalau nggak ngerti, berarti otak mu dibawah standar).
Aku nggak tau, sebenarnya ekspresi Yuni kayak gimana, perasaan dia kayak gimana. Kaget? Malu? Atau dia marah karena aku nggak sengaja ngeliatnya. Sudahlah.. Akhirnya, berempat kita jalan ke kampus. Yuni pakai jaket ungu (aku rasa itu jaket kesukaannya). Aku suka banget ngejek dia, tadi juga. "Hai, ibu-ibu hamil..." "haah? Aku di panggil ibu-ibu hamil sama Panca?". Habis ngomong gitu, dia sama Ade, sama Anis ketawa kecil. Yah, kayak gitu lah ekspresi dia waktu aku katain.
Skip demi skip, aku udah di kelas sama teman-teman, Ospek jurusan. Selama jam Ospek, Vicki duduk di samping Yuni. Yah, akhir-akhir ini Vicki selalu duduk di samping Yuni. Semakin hari pun, aku perhatikan mereka berdua makin akrab. Sampai suatu ketika, aku yang satu garis lurus dengan Vikcki sama Yuni, aku lagi berdiri, terus aku ngeliat ke arah Vicki, entah karena dia lagi ngelakuin hal yang lucu atau apa, aku juga lupa. Sedangkan Yuni, salah paham. Dia kira aku lagi ngeliat dia, padahal aku lagi ngeliat Vicki. Dengan tatapan sinis, Yuni bilang "Apa liat-liat!?". Aku cuma bisa jawab "aku liat Vicki kok". Yuni cuma diam. Sementara aku, tiba-tiba emosi dan ngerasa sakit hati. Aku kan liatin Vicki, bukan dia. Lagian kalau memang aku lagi ngeliat dia, apa salahnya? Aku punya mata, hak aku mau ngeliat apa pun yang ada di sekitarku. Aku jadi keingat kejadian malam kemarin, waktu belajar di Lab C. Dosen lagi keluar ruangan, sedangkan Alvin di sebelahku lagi asik gambar di aplikasi corel draw. Aku benar-benar teratarik memperhatikan dia. Sesekali aku noleh kebelakang buat mastikan dosen belum balik dari FO. Eh, malah nggak sengaja aku ngeliat Yuni yang ada di belakang ku. Tatapan ku dan tatapan dia bertemu. Tiba-tiba raut muka Yuni berubah kayak nggak senang, lalu bilang "what!?" dia nggak suka kalau aku ngeliat dia. Apa sih yang salah dari aku? Kenapa aku didiskriminasi? Eko, Vicky, sama yang lainnya bisa enjoy dekat sama dia, sedangkan aku, liat dia aja udah di marah pakai tatapan sesinis itu. Dunia memang sering terasa nggak adil buat ku. Seiring berjalannya waktu, selama di kelas aku benar-benar bad mood. Mana Vicki sama Yuni makin akrab lagi, tuh. Pas pulangnya juga, mereka jalan bersebelahan tangan kanan Vicki di pundak yuni. Nggak lama aku jalan nyusul di samping kiri Vicki, Rizki di sebelah kanan yuni. Lalu, tangan kiri Vicki ke pundak kiri ku, sambil ngomong apa, aku juga lupa. Yang jelas aku marah karena itu. Apa yang di ucapin Vicki itu sekitar seolah-olah ngejodohin aku sama Yuni. Entah kenapa, kali ini aku nggak suka di jodohin atau di ejek sama teman-teman seolah-olah aku pacar Yuni. Sampai di depan  parkiran kampus, Yuni, Ade, sama Vicki langsung ke basecamp SK. Sedangkan aku lagi sama Dwi, Rizky, Eko sama teman-teman yang lain ngerokok di depan kampus. Nggak lama dari itu, aku pamit pulang. Begitu aku keluar dari lingkungan kampus, aku liat di belakang ku sekitar 1 meter, ada yuni. Yah, jadi seperti biasa, aku pulang berdua sama dia. Nggak lama dia manggil aku. "hey you..". Aku cuma diam aja, nggak nyhaut. Lalu dia manggil lagi. "hey, Panca.. Tunggu.." Aku cuma noleh ke arah dia, lalu tetap lanjut jalan. "Lima..." dia coba manggil aku lagi yang ke 3 kalinya. Akhirnya, aku berhenti nunggu dia. "besok, ingat. Jam 9 udah harus ada di kampus, kita lanjutin tugas Osjur besok". Dia berjalan di depan aku, sementara aku ngikutin langkah kaki dia dari belakang. "ingat ya, jangan bangun siang lagi" dia ngelanjutin kalimatnya tadi. "iya.. Iya!! Aku kemarin-kemarin bangun telat kan gara-gara aku nggak tau kalau harus ngumpul pagi-pagi.. Jangan nyalahin gitulah!!!". Untuk ke sekian kalinya, dia cuma diam nanggepin omongan ku. Entah apa yang kupikirkan, nggak biasanya aku ngomong kasar gini ke dia. Biasanya aku selalu ngomong dengan kata-kata yang lebih bertujuan untuk bikin dia ngerasa nyaman. Tapi nggak malam ini, aku terlalu banyak nyimpan emosi dari tadi pagi. Terlalu banyak perasaan nggak enak yang aku terima hari ini.
Akhirnya, aku dan dia berpisah tanpa kalimat perpisahan seperti biasa. Bye, daah, atau pun good night.. Semua berlalu dalam keadaan yang nggak baik.
Tapi sejujurnya, aku menyesal udah bersikap kayak gini. Aku benar-benar menyesal udah ngeluarin kata-kata kasar yang seharusnya nggak pernah ku lontar kan ke dia, meski pun sikapnya ke aku itu cukup menyakitkan hati.
Aku janji, besok kalau ada kesempatan yang bagus. Aku bakal minta maaf. Aku janji.

----------------------------------------------------------------

Potongan Fortune Cookies

Terbangun dari mimpi indah..
Ya, aku baru saja bangun dari mimpi bersama Yuni. Dalam mimpi itu, aku ngelakuin banyak hal sama dia. Dia terasa begitu akrab dan selalu senang saat ada di dekatku. Yah, aku tau itu hanya mimpi. Dan mimpi indah dalam hidup ku, itu berarti kebalikan dari kenyataan yang ada. Aku terbangun di pagi hari ini, tanggal 30 oktober, tepatnya hari kamis. Nggak ada jam kuliah pagi sih, tapi pagi ini aku ada janji sama teman-teman buat datang ke kampus lebih awal.
Aku beranjak bangun dan meninggalkan bayangan-bayangan tentang mimpi indah tadi. Setelah mandi, aku langsung mengenakan kemeja hitam panjang dan celan jeans hitam. Terduduk aku sendiri di atas tempat tidur, ku lirik sekilas jam di hp ku, udah jam 7 lewat. Huftt.. Dengan segelas kopi dan sebatang rokok, ku nikmati pagi hari ini. Dari hp terlantun lagu kesukaan ku, Fortune Cookie. Lagu yang mampu mewakili perasaan ku padanya. "meski pun diri ini menyukai mu, kau seperti tak tertarik kepada ku... Fortune cookie berbentuk hati, nasib lebih baiklah dari hari ini". Yah, aku begitu menyimpan rasa suka dan penuh harap padanya. Tapi entahlah, dia seperti tak pernah memperhatikan ku. Aku hanya berharap hari-hari yang ku lewati bersama dia dan teman-teman yang lainnya akan semakin lebih baik. Aku berharap akan ada lebih banyak peluang lagi untuk berada di dekatnya. Hingga dia mengerti tentang perasaan ku selama ini padanya.
Tiba-tiba, suara musik dari hp berhenti dan berganti dengan nada dering sms. Ada pesan dari Vicky. "Wes tangi a?". Dia menanyakan apa aku sudah siap atau belum, dan akhirnya aku secepatnya menyusul dia yang sudah ada di kampus. Sesampainya di kampus, Vicky, Ade, Anis sama Yuni udah siap dengan laptopnya masing-masing, mereka ngerjain tugas sambil buka fb. Aku salamin mereka satu per satu. Yang terakhir, aku salamin tangan Yuni. Seperti biasa, aku cuma menyentuhkan ujung jari ku saja. Nggak tau juga sih apa alasan ku seperti itu, hanya sedikit menggenggam jemarinya. Dan seperti biasa, dia selalu tersenyum karena itu. :)
Nggak lama dari itu, aku pergi ke FO buat nanyain keberadaan pak Rofiq, aku mau minta kejelasan tentang surat pengantar yang ku buat. Setelah ketemu pak Rofiq, katanya surat yang ku buat masih salah. Akhirnya dengan sedikit kecewa aku harus buat ulang suratnya.
Skip skip skip.. Akhirnya udah jam setengah 12. Aku udah siap dengan surat yang baru. Aku ditemani Eko pergi nemui pak Rofiq di kantin depan kampus. Ternyata masih salah juga surat yang ku buat. Akhirnya aku balik ke basecamp dengan muka yang lesu banget, di situ aku di bantu sama Hafsah memperbaiki surat yang salah. Udah selesai, akhirnya Vicky sama Yuni yang pergi ngeprint suratnya. Selama mereka pergi, Hafsah ngajakin aku buat solat di musola. Akhirnya rame-rame deh solatnya, teman-teman yang lain pada ikut.
Habis solat, teman-teman pada hangout dari basecamp, karena ada kelas jam setengah 1. Sedangkan aku, putusin buat nggak masuk kelas karena aku merasa bertanggung jawab atas tugas yang aku punya. Aku harus temui pak Rofiq nanti jam 1 di ruangannya. Tapi, sebelum teman-teman masuk ke kelas, Hafsah sempat bilang "semangat Ca".. :) dia memang teman yang baik, selalu kasih suport buat aku. Dia nggak mau kalau ada teman yang sampai nge-down cuma gara-gara ada masalah. Dia juga selalu bantu cari solusi setiap aku ceritain masalah ku. Aku jadi ingat, waktu pertama ngumpul bareng di kantin, dia pernah ngasi motifasi ke teman-teman, kalau kita ini harus semangat ngejalanin kuliah. Kalau orang tua masih mampu ngebiayai, kita harus fokus kuliah. Kalau kita harus kerja sambil kuliah, kita harus tetap semangat, harus pandai ngatur waktu.
Akhirnya, teman-teman masuk ke kelas dan aku langsung menuju ruangan pak Rofiq. Ini ketiga kalinya hari ini aku temui pak Rofiq, tapi masih aja tetap ada yang salah dengan surat yang ku buat. Setelah di perbaiki, aku langsung print lalu balik lagi ke tempat pak Rofiq. Akhirnya, thanks God.. Surat ku bisa di tanda tangani. Dengan hati senang, aku langsung menuju ruang HRD. Dengan surat yang ku pegang, aku mau ngambil data buat tugas ospek jurusan. Tapi apa daya, tulang ku terasa lemah, semangat dan keceriaan yang baru saja ku dapat tiba-tiba sirna. Gimana enggak? Ruang HRD di kunci n nggak ada staf yang biasanya ada di situ. Ku putuskan turun ke FO buat nanyain keberadaan staf HRD. Rupanya Staf HRD lagi ikut rapat dan nggak tau kapan selesai rapatnya. Oh my God.. Gimana jadinya kalau tugas datanya baru ku dapat jam tiga nanti. Apa aku sempat edit dan minta valisai? Kalau nggak sempat gimana? Aku benar-benar takut. Aku takut ngecewain teman-teman. Kalau tugas ku nggak kelar, itu artinya tugas teman-teman nggak bisa di terima. Mana deadline-nya jam 4 sore ini. -_-
Akhirnya, aku putuskan buat tenangin diri dulu, sambil ngisi perut yang udah dari tadi terasa panas karena isinya cuma asap rokok. Di warung setelah pesan makanan, aku sms Vicky sama Hafsah, laporan masalah yang aku hadapi. Nggak ada balasan dari Hafsah, mungkin dia lagi sibuk belajar. Sedangkan Vicky nyuruh aku masuk ke kelas. Tapi aku nolak karena ku pikir lebih baik aku nunggu kedatangan staf HRD di depan ruangannya. Tapi Vicky tetap maksa, dia nggak mau aku sampai aku nggak ikut kelas, setidaknya nongolin muka, lalu nanti minta izin keluar. Baiklah, aku turuti, habis makan aku langsung menuju ke kelas. Rupanya dosennya lagi keluar. Lama lagi, tuh, dosennya keluar. Akhirnya aku putuskan aku keluar kelas dan duduk di depan ruangan HRD, yang sebenarnya di depan ruang India, kelas yang tadi ku masuki. Udah jam 3, kelas udah selesai tapi staf HRD pun belum datang juga. Sambil nunggu, kadang aku ke kelas, di kelas masih ada Ade, Yuni, Anis, Rizky, Vicky, sama Hafsah, mereka masih ngerjain tugas yang belum selesai. Oh iya, ada obrolan antara Vicky sama Hafsah. Rupanya Hafsah lagi naksir sama teman Vicky yang lagi ada jam kuliah di ruangan Indonesia, tepat di depan ruangan India. Vicky ngenalin Hafsah sama cewek itu. Di situ, aku salut sama Vicky, mukanya tetap keliatan ceria. Walau pun sebenarnya cewek yang di kenalin itu cewek yang Vicky taksir. Sempat, waktu tadi aku lagi berdiri di pintu kelas, Vicky kirim sms ke aku yang isinya "Cinta itu, harus bisa merelakan orang yang dicintai kepada orang lain". Vicky memang teman yang hebat.
Hufft... Balik lagi ke masalah menunggu, akhirnya datang juga tuh, Staf HRD. Akhirnya aku bisa dapetin data yang ku perlukan. Secepatnya aku edit, pakai laptopnya Yuni. Ow, tidak.. Belum selesai tugas ku salin, rupanya udah jam 4, udah pada batas deadline. Tapi aku juga nggak tau alasannya apa, teman-teman mutusin buat ngumpulin tugasnya besok. Oh, God.. Engkau selalu menyertaiku. Akhirnya tugas ku kelar juga. Tapi, ada kejadian yang menurutku nggak masuk akal, tapi terjadi juga. Waktu aku minum pulpy , Yuni minta pulpy ku. Why? Mungkin dia haus dan lagi nggak punya permen seperti biasanya. Aku nggak nyangka, dia bisa minta sama aku. Senangnya aku, hal seperti ini bisa terjadi. Simpel sih, kejadiannya. Tapi teramat sangat ngefek di hati ku. Memang selalu saja ada fortune coockie datang di hari-hari ku. :)
meski pun ini hanya potongan kue kecil, tapi aku sangat bersyukur aku bisa memilikinya dalam hidupku. Aku yakin, potongan-potongan kecil seperti ini, suatu saat akan terkumpul menjadi cookie yang sangat besar, fortune cookie berbentuk hati. Dan tanpa tersadar, fortune cookie ini telah menghadirkan perhatiannya kepada ku, suatu saat nanti. ^_^

-----------------------------------------------------------------------------------

Menyebalkan

Mungkin, hari ini nggak banyak hal yang bisa ku ceritain. Ya, ini sudah tanggal 01 november.
Pagi ini, aku bangun jam 7. Suara alaram berhasil membangunkan ku. Entah kenapa, kali ini walau pun udah nggak ngantuk, tapi tetap aja aku malas untuk beranjak bangun. Padahal biasanya langsung capcus ke kamar mandi. Aku habiskan waktu dengan ngerokok dan dengarin beberapa musik kesayangan. Akhirnya aku beranjak mandi dan berangkat kuliah sama-sama Herwin.
Di kampus sambil nunggu dosen, aku ngobrol-ngobrol sama dwi. Ada Hermanto juga sih di dekat aku. Anak itu lucu. Rambutnya panjang banget. Maklum, seniman. Gambarnya juga bagus. Di lain hal, aku ngerasa ada yang kurang, tapi apa? Akhirnya aku sadar, Yuni nggak ada. Kemana dia? Akhirnya, tanpa di minta, Anggi kasih tau aku "Ca, pacar mu nggak masuk. Dia masuk rumah sakit semalam". Ya Allah, kenapa anak itu? "Rumah sakit? sakit apa dia Nggi?" "Sakit magh, tapi semalam ada yang ngantarin dia pizza. Kamu ya yang ngantar?" "bukan, bukan aku. Lagian kamu tau dari siapa?" "Ade yang cerita sama aku" akhirnya Anggi pergi dan berlalu. Magh nya kambuh pasti gara-gara kemarin telat makan. Kasian banget dia.
Waktu di kelas, aku duduk di kursi paling belakang, di sebelahnya Hermanto. Tepat di depan ku, ada Dwi sama Alvin. Pagi ini giliran Ade sama Anis yang persentasi. Dosennya malah keluar, nggak ngawasin. Jadinya, ruang kelas jadi ribut. Tapi tetap sih, persentasi berjalan lancar. Kelas selesai. Teman-teman lain pada pulang. Sisa Aku, Rizky, Hafsah, Dwi, Eko, Anggi, Anis, sama Ade masih di FO ngurusin validasi tugas. Nggak lama, datang Vicky sama Yuni. Kayaknya Yuni udah baikan, n baru aja dijemput sama Vicky. Syukur deh. Aku sama Ecko sempat tanya-tanya sama Yuni, tentang masalahnya semalam. Setelah itu, rame-rame pergi ke lantai atas, tempat kemarin.
Nggak seperti biasa, aku nggk mood mau ngobrol sama mereka, mngkin karena kemarin sore aku terlalu banyak nyimpan rasa kesal sama teman-teman. Kemarin sore pun aku nggak jadi minta maaf sama Yuni gara-gara aku di panggil sama Anggi dan bagus. Padahal udah susah payah aku ngumpulkan keberanian buat ngomong. Ah, ternyata ada yang ganggu. Bahkan, tadi aku menyendiri, duduk misah dengarin musik pakai headset. Buka fb, liat postingan di grup. Ada foto teman-teman yang di upld Vicky. Aku komen "kok foto ku nggak ada?" lalu Yuni balas komentar ku "yang sabar ya Panca..". Wah tumben banget, dia yang pertama nanggapin aku sekalian aja ku gombalin "aku akan selalu sabar kok, selama kamu ada di samping ku. Ahiyaks.. o_o". Rupanya, berani juga aku balas komentarnya kayak gitu. Lalu, sendirian aku turun ke lantai bawah. Aku ngerokok dan update banyak sekali status di fb. Salah satunya, Vicky ada komen "kon galau?" nggak ada ku balas, lalu aku naik lagi ke atas. Sampai di situ, Vicky tanya sama aku, "galau kenapa, kon?" aku hanya diam, nggak ngejawab apa-apa. Tiba-tiba yuni teringat dengan sms ku semalam. "eh iya, Panca.. Kamu mau ngomong apa semalam?". "ah, jangan sekaranglah Yun, nggak enak kalau nggak face to face". Hufftt... Dia bertanya di saat yang nggak tepat. Nggak mungkin aku minta maaf sama dia di depan teman-teman. Nanti malah jadi bahan gosip. Ku pikir, nanti aja. Deh, tunggu jam kuliah sore.
Akhirnya, udah jam 11, harus pulang biar bisa solat. Waktu di luar, Vicky tanya "kon opo'o diem terus? Cerita wae sekarang. Mumpung ra enk konco-konco.". "tuh, ada dua konco" aku menunjuk ke arah rizky sama Hafsah yang berjalan di belakang Vicky. "Ya uadah, nanti sms wae yo". Aku cuma diam dan nggak nanggapin apa yang dia bilang.
Pulang solat jumat, aku baring-baring di kamar. Lalu ada sms dari Vicky "nggak ada yang mau car info tentang tugasnya ya?" ha? Maksudnya apa ya?  Aku lansung aja ganti pakaian, niatnya mau langsung ke kampus. Mungkin aja Vicky perlu bantuan atau apa. Tapi waktu aku sms nanyain dia di mana. Dia malah jawab "di kampus". Ya ampun, bukannya aku udah pernah bilang sebelumnya, kalau aku tanya di mana, berarti aku perlu jawaban detil, biar aku nggak susah nyari mereka di mana. Lalu waktu aku tanya, sebenarnya tugas apa yang di maksud, dia malah jawab "T". Ya ampun, menyebalkan sekali. Aku sms Ade pun, jawbannya nggak jauh beda. Sumpah, kesal banget aku sama mereka. Akhirnya, ku urngkan niat baik mau berangkat ke kampus. Setelah update status "teman-teman kok kayak gitu?" aku langsung tidur. Kebetulan aku capek banget akhir-akhir ini.
Wow, jam 4 sudah, aku bangun. Dan waktu aku buka fb, ada komen dari Yuni di status ku, komen yang di tulis sekitar 2 jam yang lalu. "kamu kenapa Panca? Aku di kampus kok". Aku nggak balas komentarnya. Gimana ya, aku terharu. Di saat teman-teman nggak perduli sama aku, dialah satu-satunya teman yang masih punya perhatian buat aku. :'(

Aku semakin menyadari, walau pun dia cuek, tapi dia orangnya baik. Semoga, dia bakal selalu bersikap baik sama aku.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Keajaiban Yang Tak Terduga

Ow, Selamat pagi.. Selamat tanggal 2 november. Terbangun dengan mimpi buruk. Ya, ini adalah hal yang ku inginkan, aku suka kalau harus mimpi buruk, (asal nggak terlalu buruk, sih) soalnya aku percaya dalam hidupku, kalau mimpi itu berbanding terbalik dengan dunia nyata. Seandainya kalau semalam aku mimpi indah, berarti hari ini aku bakal banyak temui kejadian-kejadian nggak menyenangkan. Sedangkan kalau mimpi buruk, itu menandakan perasaan ku bakal lebih banyak bahagianya hari ini.
Sejujurnya, aku ngerasa sangat berat buat bangun pagi ini, soalnya smalam susah tidur gara-gara ada tikus mondar-mandir di dekat aku, dia selalu datang setiap lampu kamar ku matikan. Tapi kalau di hidupkan malah akunya susah tidur. Mana aku ada janji sama Ade jam 7 pagi, lagi tuh.
Akhirnya aku paksain mandi dalam keadaan ngantuk, jam setengah 8 aku udah selesai mandi. Di kampus udah ada Ade, Anis sama Yuni. Biasa.. Ku salamin semua, giliran Yuni, pakai ujung jari aja salamannya. Dia senyum sambil bilang "hu.. Sok alim.." :D haha... Ade juga sempat tanya "kamu habis potong rambut atau habis keramas?". Wow, padahal tadi aku cuma menata rambut agak lebih rapi (biasanya habis mandi nggak ku tanta, jadi berantakkan) tapi kok kayaknya perubahan rambutku terasa banget ya?
Beberapa jam pertama sih, aku cuma duduk nyantai aja, nggak ngapa-ngapain. Liatin mereka ngerjain tugas sambil buka fb. Sesekali aku memperhatikan Yuni. Dia cantik banget pagi ini. :) Lebih cantik dari yang kemarin, kemarin mukanya pucat lesu gara-gara sakit. Sekarang udah lebih fresh, tuh. You know that, seperti apa pun keadaannya, dia selalu terasa indah di mataku.
Akhirnya, Hafsah datang sama si Sulaiman (Eko, maksud ku. Sulaiman itu ama baru buat Eko, penemunya si Rizky. Ditemukan di jalan menuju kantin waktu aku, Hafsah sama rizky mau istirahat ngopi). Dan waktu mereka datang, aku mulai ngerjain tugas. Banyak banget tu nyatatnya. Sampai capek banget. Oh iya, waktu lagi sibuk nyatat, Yuni sempat tanya "eh, Panca. Kamu mau ngomong apa kemarin?" "oh itu.. Kamu inget hari rabu, malam-malam kita pulang osjur?" "iya, inget.." "kamu waktu itu ada manggil aku sampai 3 kali, tapi aku nggak nyahut" "ha? Manggil gimana?" "pokoknya, kamu manggil aku, tapi aku nggak hiraukan kamu. Terus, kamu ada bilang 'besok jangan lupa jam 9. Awas telat' ingatkan? Lalu aku jawab 'iya, iya.. Aku tau.. Aku biasanya telat juga karena aku nggak tau. Jangan nyalahin gitu lah.' Kamu ingat?". Yuni cuma diam aja, aku rasa dia nggak ingat kejadian itu. "intinya, aku ngerasa bersalah udah nyuekin kamu. Aku juga ngerasa kata-kata ku kasar. Mungkin kamu nggak ngambil hati dengan kejadian itu. Tapi aku tetap mau minta maaf. Mau kan, maafin aku?". Oh my God, gerogi aku ngucapin kalimat seserius itu ke dia. "ah, nggak mau, aku nggak mau maafin kamu" dia jawab kayak gitu. Tapi aku yakin sih, dia cuma becanda gara-gara bingung harus ngerespon gimana. Jadi, sekalian aja ku becandain. "kok gitu? Kamu udah nggak sayang lagi ya, sama aku?" haha... Hampir gagap aku ngeluarin kalimat kayak gitu.
Ah, tapi syukurlah, beban ku udah berkurang. Aku udah minta maaf sama dia. :)
aku baru tau kalau Vicky lagi di Blitar. Pantesan aja nggak keliatan. Padahal biasanya dia kan paling awal masuknya. Lumayan sepi sih kalau nggak ada dia. Rizky juga, entah kemana. Dia nggak masuk.
Akhirnya, tugas catat mencatat belum selesai, tapi udah jam setengah 12. Udah mau masuk. Dari pada nanti kelaparan, aku sama Alvin pergi makan. Lalu ganti baju, and go to class room. Di kelas di kasi kesempatan buat nyelsain tugas yang belum selesai sampai jam setengah 3. Begitu setengah 3, kita istirahat dan teman-teman pada langsung cau nyari kabel sama papan buat praktek nanti. Huwh... Sebel, waktu semua udah menghilang, aku nyamperin Hafsah, Alvin sama Eko yang udah duduk di motor. "jadi kalian kemana? Aku ngapain?" "kamu di kampus aja, bantu doa semoga dapet bahannya. Nanti kalau masuk, sms ya?" Hafsah bilang kayak gitu. Lalu mereka berangakat. :) aku di tinggal sendiri. Tapi ya nggak apa lah. Mereka memang lagi nggak bisa bawa aku. Seandainya Vicky masuk, pasti aku di ajak. Memang susah kalau dia nggak ada, aku nggak ada yang perhatiin.
Akhirnya, aku nggak sendiri lagi, Anggi datang. Langsung deh naik ke lantai 2, siap-siap. Kan bentar lagi masuk. Wah, teman-teman belum datang. Cuma aku sama Anggi aja nih. Lalu, Yuni sms aku "kamu udah di kampus?" "iya. Udah di kampus. Kamu masih lama?" "ini udah mau ke kampus". Nggak lama kemudian, dia datang. Entah kenapa keadaan hari ini rasanya lebih akrab sama Yuni. Entah kenapa juga aku berani buat lebih dekat sama dia. Bahkan, aku berani nyuruh dia duduk di samping ku. :) Senang banget bisa duduk di samping dia sedekat ini. Bisa ngobrol sama dia dengan jarak yang lebih dekat. Bahkan, pembicaraan kali ini pun sangat-sangat tidak kaku.
Tapi, semenjak teman-teman pada datang, keadaan jadi berubah. Jefri duduk di sebelah Yuni. Suka godain yuni lagi tuh. :( pengen ku bunuh rasanya orang itu. Arrrghh!!!! Aku cemburu....!!!!
Huh... :/ betek deh..
Eh, siapa tuh? Vicky datang? Waah.. Padahal tadi pagi masih di Blitar. Sekarang kok sempat-sempatnya dia masuk kuliah. Waktu salaman sama dia, aku sadar, ada yang nggak beres. Dia lagi galau mikirin sesuatu. Pasti dia punya masalah. Baru kali ini aku liat mukanya sesuram itu. Semoga aja dia baik-baik aja.
Akhirnya masuk, dan ada praktek belajar menyolder yang baik. Berjam jam rasanya cepat berlalu karena asyiknya. Selain karena asyik mainin solder, rasanya juga senang bisa dekat sama Yuni lagi. Selama praktek, aku banyak banget interaksi sama dia. Tapi, sebanyak-banyaknya aku ngobrol sama Yuni, Yuni pasti lebih banyak lagi ngobrol sama Vicky. Bahkan mereka nyolder sama-sama.
Oh, iya. Waktu udah mau habis. Vicky tanya aku, udah selesai belum. Waktu liat kerjaan ku terbengkalai, dia ambil kerjaan ku. Lalu dia yang ngerjain. Dia memang baik. Benar kan? Kalau ada dia, pasti ada yang perhatian sama aku. :)
Akhirnya, pulang juga. Yuni nggak langsung pulang, dia mau beli makanan dulu. Jadi, aku nggak bisa pulang bareng dia deh. Mau ikut dia, tapi aku lagi nggak punya uang. Laperr... Tapi, dia sempat tanya sama aku. "kamu udah makan, Panca?" "aku belum makan.". "lho, kamu nggak sekalian ikut?" "nggak ah, Yun. Aku pulang aja. Daahh.. Yuni.." "Daahh.."
Dia masih punya respect buat aku. Bahagia rasanya waktu dia jawab salam perpisahan dariku. Uwh.. Besok hari minggu. Jangan-jangan aku nggak ketemu dia besok. Pasti rasanya kangen sama dia.. Semoga aja ada kesempatan buat ketemu dia besok. Aku nggak betah sehari pun nggak ketemu dia. :/

Soalnya, aku sayang sama dia..

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Minggu

Hah, ini pertama kalinya aku buat catatan ku di hari minggu, tanggal 03 november 2013.
Hari ini mungkin nggak banyak cerita tentang kehidupan aku di luar kamar. Jadi, cerita apa aja? Baca aja terus, kalau mau tau.
Bangun sekitar jam 8 pagi. Tapi masih malas bangun, jadi tidur lagi sampai jam 9. Apa yang ku lakukan? Aku bikin kopi, ngrokok, hidupkan musik, smsan sama Yuni (Yuni pacar ku, bukan Yuni sabrina). Wow, enak sekali bisa malas-malasan kayak gini setelah 6 hari kemarin sibuk di kampus.
Saking malasnya, aku ketiduran lagi, bangunnya jam 11. Nggak sempat pamit aku sama Yuni. Waktu bangun, ada dua sms dan satu panggilan tak terjawab dari Yuni. Aku smsin aja, bilang kalau aku ketiduran. Lama banget dia balas. Begitu balas cuma satu kata. "Aok". Huh, mulai marah lagi anak ini. Baru kayak gitu aja udah marah. Ya udah, malas aku, nggk ku balas aja sekalian.
Beberapa jam kemudian, dia sms, nanyain Deby itu tmn aku kah? Aku jawab Deby teman ku waktu SMP dulu. Nggk percaya dia, aku malah di bilang bohong. Dia bilang dia tanya sama Angga, kata Angga nggk ada teman SMP ku yang namanya Deby. Emangnya teman yang ku kenal harus kenal Angga juga? Kalau nggak kenal angga bukan teman ku gitu? Parahnya lagi, aku di bilang bohong gara-gara pernah bilang Deby itu cowok. Sumpah, aku emosi banget di tuduh bohong, sementara aku nggak pernah bilang kayak gitu. Udah bodoh, ngotot benar lagi tuh. Akhirnya, nggak mikir banyak, aku putusin dia. Aku benar-benar udah nggak tahan dengan semua kelakuan dia selama ini. Selalu marah-marah, nuduh aku sembarangan, curigaan, nggak percaya sama aku, nganggap aku selalu salah, kalau di salahin selalu marah, mudah minta putus, akhirnya minta balikan lagi, dan kali ini dia marah-marah, nuduh aku, nganggap aku pembohong, dan dia nggak percaya sama aku. Di sini lah letak dari puncak emosi ku. Aku nggak bakal bisa lagi mempertahankan hubungan kayak gini, hubungan yang berjalan penuh kerusakkan.
Aku tau, dan aku sadar. Suatu saat aku bakal nyesal udah ngambil keputusan ini. Tapi, apa gunanya juga kan, terus menerus menuntun hubungan yang nggak pernah bisa berjalan baik.
Aku memang masih sangat sayang dengan dia, tapi dengan segala kerusakkan ini membuat aku ingin berjalan ke arah mimpi yang lain. Mimpi yang di mana nggak ada dia. Mimpi yang pemerannya hanya aku dan perempuan lain, bukan dia.

Sampai besok pun, aku masih dilema memikirkan dia, hubungan dua tahun itu bukan hal singkat. Banyak hal indah terukir selama aku menjalin hubungan itu. Dan sekarang, aku terpaksa harus menghapus kenangan-kenangan itu satu persatu. Taki ingin berharap untuk kembali. Tapi, aku apa pun yang terjadi, aku masih ingin kembali.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Alur Yang Lain

Senin malam, 04 november 2013.
Malam ini terasa sepi, dilema berkecamuk di hati. Perasaan ini semakin kelam saat aku mendapat kabar kalau Vicky tadi siang ngajakin Sabrina jalan.
Sungguh, emosi di dalam hati ku semakin beraduk dengan dilema berakhirnya hubungan ku kemarin.
Rasa marah yang mengebu-gebu tak beraturan, menyita segenap pikiranku.
Tapi aku tersadar, aku nggak boleh seperti ini. Aku harus benar-benar pastikan kebenaran berita itu. Aku putuskan untuk sms Vicky.
"Piki..
"Ono opo?"
"Tadi siang km kemana piki? Sama siapa?" tanya ku lagi.
"Aku tdi siang ngopi, trus tadi sore di kost yuni, dia ngopi filmku"
"Dan ada kabar lain piki, aku nggak tau tentang kebenarannya. Makanya aku cari tau langsung sama kamu. Biar nggak salah paham, dan aku harap km nggak marah. Katanya km jalan sama dia sekitar siang atau sore tadi."
"Iya cuma di kost yuni aku dari siang smpe sore,gak marah emang napa?" huh, dia bertanya balik padaku.
"You know what..? Kabar tadi sangat-sangat mengganggu pikiran ku. Tapi syukurlah nggak sepenuhnya benar. Aku masih bisa percaya kamu. Aku harap, dia nggak jatuh cinta sama kamu. Dan aku lihat kalian terlalu dekat akhir-akhir ini."
"Ya bisa di bilang begitu sih,bro. Tapi memang bener bro kabar itu"
ha? Aku bingung dengan maksudnya.. "Tolong, jangan buat aku bingung. Tadi kamu bilang, kamu cuma di kost dia. Lalu skarang kamu membenarkan kabar yang ku dapat."
"Kan emang bener aku di kostan yuni tadi, gimana sih?"
"Terus kenapa barusan bilang 'ya memang benar bro kabar itu'. Itukan artinya kamu menganggap benar kabar yang bilang kamu jalan sama dia"
"Ya bisa jadi" dia mulai balas sms ku dengan kalimat pendek. -_-
Akhirnya, hp ku yang sedang di charger ku tinggal untuk beli pulsa. Begitu aku lihat lagi, udah ada dua sms dari Vicky.
"Ada apa sob?". "Sebenernya ada apa masbro bilang'o"
Lalu, dengan waktu lumayan lama, aku balas "Aku nggak tau, dan mungkin aku nggak pernah tau tntang apa yang kamu pikirkan tentang Sabrina, tentang aku. Apa aku teman mu, atau sekedar teman kampus. Aku nggak tau.
Dan yang aku tau, bukan hak aku buat ngatur kalian berdua. Tapi, aku mohon pik, kamu teman yang benar-benar ku anggap. Aku nggak mau kalian terlalu dekat, aku takut nanti malah terjadi sesuatu yang nggak ku inginkan. Km pasti ngerti perasaan ku ke Sabrina itu kayak gimana. Dia itu satu-satunya harapanku saat ini. Aku nggak pengen kamu terlalu dekat sama dia smpai-sampai ngelakuin hal yang nggak aku suka kayak kemarin-kemarin. Berapa kali kamu salaman dengan dia dan selalu letakkan tangannya di dekat pipi mu? Berapa kali kamu gandeng tangan dia waktu kalian jalan? Itu buat aku cmburu, Pik. Aku nggk bisa ngelakuin hal yang kamu lakuin ke dia.
Satu hal yang aku plajari slama ini, di antara kita, kamulah yang paling bnyk peluang buat bisa lebih dekat sama dia. Sementara aku, aku baru aja mau mulai mendekatkan diri ke dia. Jadi tolong Pik, aku mohon, kasih aku kesempatan. Jgn buat dia suka sama km." aku terlalu jujur ternyata. Dan inilah kalimat yang udah hampir seminggu yang lalu pengen aku sampaikan secara langsung. Terpaksa aku harus menyampaikannya lewat sms.
"I'm confuse"
"Kenpa? Kamu suka dia?" aku bingung dengan apa yang dia bingungkan.
"Aku bingung baca smsmu -_- terlalu panjang banget" klimat yang sangat to do point, ya?
"Inilah knapa aku nggak pernah mau crita lewat sms. Ini yg kmarin-kemarin pngen ku ceritain ke kamu. Tapi nggak pernah ada waktu yangg benar-benar pas. Kita selalu sibuk di antara tman-teman yg lain"
"Mau kmu apa?"
"Mau ku, jangan terlalu dekat sama Sabrina. Kasih aku kesempatan buat ngambil hati dia."
"Sok atuh"
"Oke mamen... Tengkyu peri muce... Km udah mulai tau kan? untuk masalah ini aku memang egois dan cenderung jadi paranoit. Tapi, km nggak benci atau kesal sama aku kan?". Ya, sebenarnya aku juga takut, karena pembahasan ini hubungan ku jadi nggak baik sama Vicky, dimana aku memang menganggap dia teman baikku. Maka dari itu, aku menanyakan apakah dia kesal dengan aku atau nggak. Tapi tahukah? Balasan sms dari dia selanjutnya sangat membuatku terkejut, dan aku berharap dia hanya bercanda.
"Okey, kalau gitu besok atau lusa, Yuni minta kamu face to face bicarain tentang perasaanmu. Soalnya baru aku telfon dia". Ya tuhan, seriuskah dia dengan apa yang dia katakan?
"Oh my God... Vicky... Apa yang kamu lakukan? Aku belum siap. Nggak secepat ini. Aku belum genggam hatinya. Dia pasti nggak bisa nerima perasaan ku.." Detak jantung ku berdetak kencang saat ini. Ini situasi yang sangat mengerikkan.
"Langsung aja deh, bsk lusa kalau kamu nggak tatap muka sama dia, masalah ini clear.
Okey, done?"
"Tunggu, tunggu.. Baiklah. Aku ikut alur permainan mu. Tapi, aku pengen tau cara kamu ngomong sama dia tadi gimana?" aku mencoba setuju untuk berada di dalam permainan yang dia buat, dimana aku sebenarnya terpaksa. Seharusnya aku masih dalam jalur permainan ku. Mengatur strategi untuk memenangkan hati Sabrina secara perlahan.
"Itu rahasia. Aku udah telfon, pembicaraan singkat dan sekarang done"
"Kamu curang Pik... But, i say thanks, for you... Kamu udah maksa aku keluar dari jalur permainanku sendiri. Dan aku takut aku bakalan kalah dalam permainan ini. Karena kmungkinan terbesar, aku bukan siapa-siapa di hati dia. Tapi, tetap aja terima kasih banget... Dan kalau kamu mau tidur, met malam. This problem, is done..."
"Done" sms balasan yang terakhir dari Vicky.
Ini sangat mengejutkan, bahkan aku masih belum sepenuhnya percaya dengan semua ini. Aku harus memotong durasi permainan ku. Apakah aku bisa menang? Sejauh ini, aku belum dapat banyak respect dari Sabrina. Bagaimana jadinya kalau Sabrina benar-benar nggak punya sedikit pun perasaan untukku? Mungkin aku akan kecewa dengan keadaan ini? Mampukah aku tetap tegar saat kenyataan nggak berpihak padaku? Atau mungkin ini jalan yang menuntunku kearah mimpiku saat pertama kali aku menginjakkan kaki di kampus Asia? Ya, kembali ke masa lalu, sekitar dua atau tiga bulan lalu, dimana saat itu sedang berlangsung AMT calon mahasiswa baru periode ke empat. Di situ aku terduduk menunggu test dimulai. Satu-persatu calon mahasiswa baru berdatangan. Semuanya terlihat biasa-biasa saja, tak ada yang begitu berbeda dari mereka. Hingga akhirnya, datang seorang perempuan berkerudung putih masuk kedalam ruangan. Mata ku tak lepas memandangnya. Ada yang begitu menarik dari sosoknya. Bukan, bukan sekedar parasnya yang memukau. Tapi aku pun nggak tau apa sebenarnya yang ku maksud. Mungkin hanya hatiku yang mampu menjawbnya. Dia seperti mahadewi yang menghapus sepiku dengan cahayanya. Hari demi hari berlalu, dan bulan demi bulan pun berganti. Aku terus melihat dan memperhatikannya. Dan suatu ketika, aku melihatnya menangis, saat itulah aku berjanji pada diriku sendiri untuk bisa membahagiakannya, dan menjadi penjaga hatinya.
Hingga akhirnya di saat ini, dimana aku telah jatuh cinta padanya begitu dalam, dan harus mengakhiri permainan ini secepatnya.

Aku berharap, permainan ini bisa berakhir dengan indah. Berganti dengan kisah hidup berdamping dengannya. Melalui hari-hari dengan senyum di wajahnya. Menjadi cahaya mata ku, penuntun langkah ku di hari selanjutnya.

--------------------------------------------------------------------------------------

Satu SMS Kehancuran

Tanggal 6, aku bangun seperti biasa dan secepatnya menuju kampus karena udah janjian sama Sabrina mau ngerjain tugas fisika. Waktu berangkat, aku sama-sama Anis yang kebetulan habis dari warung beli air mineral. Sampai di lantai dua, Sabrina cuma sendiri lagi asyik dengan laptopnya. Ternyata ada hal nggak terduga, wifi di kampus nggak bisa dipakai. Jadi nggak bisa cari bahan buat ngerjain tugas fisika.
Selang beberapa lama, dwi yang satu kelompok dengan ku juga datang. Semenjak itu Sabrina jadi bad mood, mungkin karena tugas fisikanya nggak bisa di kerjain. Kalau gini ceritanya, gimana dong aku mau ngomongin face to face sama sabrina, bisa jadi bencana kalau aku ngomonginyya waktu dia lagi bad mood.
Akhirnya, aku sama Dwi putuskan buat cari warnet aja. Ternyata warnet terdekat malah nggak bisa juga. Ya udah, aku sms Sabrina, ngelapor keadaan di warnet kayak gimana.
Lalu, apa lagi ya? Emm.. Kalau nggak salah, bertiga sama Eko berdiri di depan kantin, ngobrol-ngobrol, dan akhirnya jadi berempat karena Vicky ikut gambung. Aku nggak nyangka, kedatangan Vicky bukan hanya menambah keriuhan obrolan, tapi juga sebagai awal dari kegalauan.
"Ikut aku sebentar" kata Vicky. "Mau kemana?" eko malah balik tanya. "Bukan, Panca aja maksud aku". Akhirnya aku aku sama Vicky jalan ke arah kampus dan berhenti di dekat parkiran. "Panca, Yuni bilang, jangan kejar-kejar dia lagi, dia udah punya pacar". Aku hampir nggak percaya dengan apa yang ku dengar. Ini kalimat yang susah di terima sama nalar ku. "Se.. Serius kamu Vick? Kamu serius?". "Nih, kamu baca sms dari dia tadi" Vicky sambil menyodorkan hpnya. (Vicky, kamu bilang sama Panca jangan kejar-kejar aku lagi. Aku udah punya pacar. Aku malas ngomong sama dia).

Ya Allah.. Kenapa kenapa bisa kayak gini. Kemarin-kemarin dia nyuruh aku ngomong langsung ke dia, sedangkan sekarang dia tiba-tiba nggak mau ngomong sama aku? Apa salah aku sama dia, ya Allah? Bahkan aku kalah sebelum perang dimulai.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

*Special Edition - In Class Room

Lagi duduk di kelas, di samping aku ada Anggi. Tapi dia cuma diam aja tuh, asikan main game. Mau ikut ngobrol sama Herwin, Bagus sama Dian rasanya gk enak, ada sabrina di situ. Mau ke tmpat Vicky, Rizky, Ade sama Anis juga sama, di sebelah Vicky ada sabrina. Udah tiga hari ini hubungan ku sama sabrina nggak baik. Dia marah sama aku kemarin-kemarin gara-gara aku bangun telat waktu janjian sama dia.
Mau sih ikut Vicky di depan dan pastinya jauh dari Sabrina, tapi liat aja tuh, Rizky lagi asik dekat sama Anis. Kalau terus di belakang gini, palingan aku cuma bisa liat Anggi main game, atau liat Hafsah belajar kalkulus. Bocenin ngett..
Eko mana? Lagi asik di jendela tuh. Ngapain ya? Mungkin dia lagi ngitungin jembut yang berterbangan di langit. Dwi mana Dwi? Nggak keliatan. Mungkin dia lagi ke bawah, asik mungutin jembut yang berjatuhan dari langit..

Sblum nulis ini, aku ngerasa bosen. Tapi sekarang, waktu tulisan ini hampir selesai, aku udah ngerasa baikan.

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Face To Face

On november 08th.
Semalam janjian sama Vicky datang ke kampus jam 08.30 tapi aku malah bangun jam 06.30. Bukan karena terlalu semangat, tapi memang aku nggak mau lagi kecewain teman karena bangun telat. Cukupalah aku diomelin sama Sabrina karena bangun telat waktu janjian mau ngerjain tugas fisika.
Tepatnya jam setengah sembilan pagi ini aku berangkat ke kampus. Ketemu sama Vicky di depan mushola. Selain Vicky ada juga Rizky, Anggi, sama Sabrina. Semuanya ku salamin, kecuali Sabrina. Aku memang belum teguran sih, sama dia.
Udah duduk sekitar sepuluh menit Sabrina ngajakin ke kelas, Rizky sama Anggi ikut Sabrina, sementara aku masih duduk di tempat yang sama, masih nungguin Vicky ngajakin ngomong.
Tik... Tik... Tik... Suara jarum jam berbunyi (gaya mu rek, pakai jam tangan aja nggak) akhirnya Vicky mulai ngebahas apa yang pengen dia sampaikan.
"Sebenarnya, Yuni nggak punya masalah karo kon. Dia cuma nggak suka kalo kon berangkat ke kampus telat." Vicky berhenti sejenak, dan aku cuma diam memperhatikan dia yang lagi ngomong serius. "Coba liat Dwi, dia udah bantu translate. Kon nggak ngerjain apa-apa kan?" "Iya, aku nggak ada ngerjain apa-apa." "nah, intinya Yuni nggak marah sama kon. Sekarang kon pergi ke kelas. Bersikap biasa-biasa aja, anggap nggak ada masalah." Sambil mengiyakan, aku berdiri dan mulai beranjak pergi. "Ingat, kuliah ya kuliah. Pacaran ya pacaran." itu kalimat terakhir sebelum aku ninggalin Vicky tadi pagi. Sejujurnya, aku nggak ngerti juga sih apa yang dia maksud dengan kalimat itu.
Sampai di kelas, aku duduk di belakanggerombolan anak SK, tapi di kanan kiri ku nggak ada siapa-siapa. Akhirnya Anggi mundur ke belakang dan nemanin aku. Ini pertama kalinya aku banyak ngobrol sama Anggi. Dia lumayan asyiklah, orangnya. Dia juga selalu menghargai aku setiap aku ngomong.
Jam pelajaran udah lewat satu jam tapi dosen ternyata nggak masuk. Satu persatu mahasiswa dari jurusan TI ninggalin kelas. Suasana semakin bebas karena cuma tinggal anak SK doang. Bahkan di jendela Eko bisa ngrokok.
Dan ternyata, eksekusi ku tadi pagi belum selesai. Vicky sama Sabrina keluar kelas, lalu Vicky manggil Dwi, dan aku juga di panggil di ajak keluar. Di luar, Vicky sama Dwi berdiri, sedangkan Sabrina duduk di kursi. Waktu aku datang, Sabrina nyuruh aku duduk di samping dia. Sepertinya ada hal penting yang mau diomongin. Waah... Ngerusak suasana hati, Dwi malah duduk di antara aku sama Sabrina. Memang koplak anak ini, mbot..
"Panca, sebenarnya aku nggak ada masalah sama kamu. Aku nggak marah sama kamu." Aku cuma diam waktu Sabrina bilang gitu, belum sempat aku ngomong apa-apa, dia udah lanjut lagi. "Aku cuma nggak suka kamu datang telat. Kemarin aku minta datang jam delapan, kamu malah bangun jam sembilan sementara tugas kita masih belum di kerjakan." "Ya, aku tau aku salah, dan aku belum ngerjain apa-apa." "jadi, kamu maunya ngerjain apa?" "Ya apa pun yang bisa ku kerjakan, pasti aku kerjakan." "Aku udah cari bahan, Dwi udah bantu translate. Kalo kamu yang ngeprint, kamu mau? Biar kita enak belajarnya waktu nanti kita persentasi." "Mau kalau ngprint." "Sip deh, kalau udah selesai nanti kamu yang ngeprint." Tiba-tiba teman-teman pada keluar dari kelas dan ribut-ribut di area dimana aku lagi serius ngobrol sama Sabrina. Akhirnya terganggu dan Sabrina ngambil tas. Yo wes, semuanya turun ke bawah, aku kirain langsung pada mau pulang. Rupanya mereka yang di depan belok ke arah tangga perpus. Aku yang nggak tau apa-apa sih ikut aja. Dan anehnya, semuanya nggak ke tangga perpus, malahan duduk di teras, kecuali Aku, Vicky, Dwi, sama Sabrina. Sabrina duduk di kursi dan aku duduk di tangga dekat dia. Berselang beberapa lama.
"Aku nggak punya masalah sama kamu, aku biasa aja selama ini" Sabrina mulai topik pembicaraan. Sementara Vicky lagi di tempat teman-teman yang lain, minta tolong biar nggak gangguin aku sama Sabrina. "Tapi kamu nggak pernah negur aku habis kamu marah-marah sama aku." "Aku nggak marah, Panca... Aku cuma nggak mau kamu datang telat. Liatlah Dwi, habis aku marahin dia langsung ngerjain tugasnya" "Aku juga bangun telat langsung telpon kamu, kamu marah-marah dan nyuruh aku datangnya jam dua belas aja. Ya intinya, aku tau aku salah, aku minta maaf." "kalau aku maafin kamu, gimana?" "kalau kamu maafin aku, besok-besok aku nggak bakal telat lagi" jawabku mencoba meyakinkan. "Kalau aku nggak maafin kamu?" "aku tetap berusaha berubah dan nggak ngulanginya lagi. Jadi kamu mau kan maafin aku?" aku berdiri dan menyodorkan tangan kanan ku. sabrina menyambutnya "iya, aku maafin. Besok-besok jangan telat lagi."
keadaan hening sejenak, security ku udah makin nggak ketat ngejaga area danger. Anis sama Ade di biarin lewat dan mereka duduk di tangga, di belakang ku.
"Masih ada lagi, Panca?" "Masih, aku masih belum terima masalah yang kemarin itu. Kamu nggak ngasi aku kesempatan buat ngomong" "Lho, aku nunggu kamu dua hari, tapi kamu nggak ada ngomong." "Dua hari gimana? Waktu itu ya, aku mau ngomong sama kamu, tapi kamu lagi bad mood. Jdi ku tunda sampai siang. Belum aku ngomong, kamu udah sms Vicky."
"Ya itu aku lagi malas ngomong sama kamu. Tapi benar, setelah itu aku nggak ada maksud nggak negur kamu."
Entah kenapa, otakku blank seketika. Bingung harus ngomong apa lagi.

"Aku juga minta maaf, Panca. Selama ini aku udah nyuekin kamu." "Ya, asalkan setelah ini kamu nggak gitu lagi, it's okay, nggak masalah buat aku." "Terus, sejak kapan kamu suka aku? Atau sejak pertama ujian dulu?" "Iya, dari pertama kita AMT dku memang udah suka sama kamu." "lalu, kenapa kamu suka sama aku? Bukan kerna nama aku dengan pacar mu sama kan?" "Bukan, bukan sama sekali." "Syukur deh. Kamu sama dia beneran udah putus?" aku mengangguk mengiyakan. "Kok bisa putus? Udah berapa lama sih pacarannya?" "Udah dua tahun pacaran, putusnya karena alasan internal juga. Terlalu banyak masalah" "kamu sayang sama dia?" "namanya pacaran pasti sayanglah." "Berarti kamu egois, kamu sayang sama dia tapi kamu malah suka sama aku." "Aku tau, Vicky juga pernah bilang kayak gini. Tapi hubungan aku udah lama nggak bagus sama dia. Aku udah lama nggak betah, pengen putusin dia tapi nggak tega. Sebelum aku tinggal di malang pun hubungan aku udah nggak harmonis, itu buat aku ngerasa kesepian, makanya aku bisa suka sama kamu." "Ya, oke.. Tapi maaf Panca, aku udah punya pacar. Kemarin aku udah bilang kan, ke Vicky? Lagian aku nggak pernah punya niat buat pacaran sama teman sekelas." "Ya, aku tau kok, Sab. Dari awal aku udah tau kalau kamu nggak punya perasaan lebih sama aku. Aku juga nggak pernah punya niat penuh untuk pacaran sama kamu. Aku cuma pengen bisa dekat sama kamu." "Lalu Panca, kenapa kamu ngelarang Vicky dekat sama aku?" "Aku nggak pernah ngelarang Vicky, aku cuma minta dia kasi kesempatan ke aku biar bisa dekat sama kamu.


To be continued